Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Menikmati Teh Hangat


"Ternyata kamu diam-diam memikirkan aku!" Renata tertawa lebih keras lagi, semakin gencar menggoda sang suami.


Untuk menghentikan tawa Renata, Tuan J kembali memberi sentilan di dahi.


"Apa yang kamu bicarakan itu," Tuan J berkata dengan memberi sentilan beberapa kali.


"Berhenti menyentil dahiku," protes Renata.


Tuan J langsung menghentikan tindakannya.


"Kamu akan membuatnya memerah!" Renata menunjuk dahinya sendiri, "Lihat!"


Tuan J memandangi dahi itu. Lalu tanpa diduga, dia mengecupnya lagi.


"Tidak merah," ucap Tuan J singkat, lalu jemarinya mengusap pipi Renata, "Tapi pipimu yang merah."


Kemudian Tuan J mengecup pipi kanan dan kiri Renata.


Renata tidak mampu berkata-kata lagi. Bagai bumerang, kini dia justru digoda balik oleh Tuan J. Lihat saja, senyum jahil terbit di wajah tampan sang suami.


"Wajahmu merah, lehermu juga merah," lalu tatapan Tuan J beralih ke leher Renata, "Hmm, sampai mana rona merah itu akan menjalar?"


"Dasar mesum!" teriak Renata.


Tuan J hanya mengangkat bahu, "Tadi kamu bilang jika aku memikirkan kamu. Ya, saat ini aku memang sedang memikirkan sampai di mana rona merah itu akan menjalar di tubuhmu."


"Ka-kamu...! Jefra!"


"Hmm," lalu Tuan J memainkan kerah baju Renata, "Aku sangat penasaran. Bisakah kamu melepas pakaianmu?"


Renata langsung menghentikan tangan Tuan J, yang tengah berusaha membuka kancing pakaiannya.


Dengan wajah memerah, Renata menuding Tuan J, "Ka-kamu... Kamu..."


Renata tidak mampu melanjutkan perkataannya. Jika soal kemesuman sang suami memang benar-benar super sekali. Padahal pria itu ingin berangkat ke kantor.


"Dear."


"Y-ya?" Renata menyahut panggilan itu dengan terbata. Dirasakannya jika pinggulnya di tarik, hingga dia merapat pada Tuan J.


"Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa, hubungi aku dengan segera."


Sebuah kecupan mendarat di bibir Renata.


Kedua kelopak mata Renata sampai terbelalak sempurna. Heran saja, kenapa Tuan J bersikap manis sekali pagi ini?


Tuan J melepas rangkulannya pada pinggang Renata dan bersiap untuk pergi, "Kamu akan menanti aku pulang lagi, kan?" tanyanya terdengar menuntut.


"A-ah, y-ya, aku pasti menantimu pulang," jawab Renata kaku.


"Hmm, tunggu aku pulang."


Renata tidak paham dengan sikap Tuan J. Kenapa dia bersikap, layaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya?


Kepala Renata segera menggeleng, dia tidak boleh berpikir jauh dulu. Kemudian diikutinya Tuan J yang melangkah keluar.


Sesampainya di luar.


Terlihat beberapa Bodyguard yang sudah berbaris rapi, menunggu sang CEO yang ingin memasuki mobil. Ada Asisten Arvin juga di sana.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya."


"Selamat pagi, Asisten Arvin," jawab Renata tersenyum.


Sedangkan Tuan J, hanya melirik Arvin sekilas.


Tuan J meletakkan telapak tangannya pada pipi Renata, dan mengusapnya dengan lembut.


Renata menutup matanya sambil membenamkan pipinya di telapak tangan Tuan J, sambil meresapi kehangatan yang dia dapatkan dari suaminya itu.


Kehangatan itu sampai ke hatinya.


"Jaga dirimu. Aku pergi," ucap Tuan J, lalu memasuki mobil yang sudah dibukakan pintunya.


"Hati-hati," ucapnya sambil melambaikan tangan, hingga mobil yang ditumpangi sang suami tidak terlihat lagi.


Lihatlah, dibalik sifat dingin dan kaku Jefra Tjong, sebenarnya pria itu sangat manis.


"Pagi ini dia terlihat berbeda."


Terdengar suara berat Kakek Ashton, yang datang dari arah belakang.


"Kakek? Selamat pagi," ucap Renata setelah berbalik.


Ashton mengangguk dan tersenyum.


"Bisa temani Kakek minum teh?"


**


Langit cerah namun terasa dingin. Angin berhembus lembut, membelai wajah Renata saat dia mengangkat cangkir teh dan menyeruput isinya pelan-pelan. Dia dan Kakek Ashton sedang menikmati teh hangat di gazebo kecil di tepi danau.


Renata baru menyadari, jika ada danau buatan di bagian belakang kediaman keluarga Tjong. Lalu fokus Renata teralih pada papan catur yang berada di ujung gazebo.


Renata tersenyum simpul. Dia sudah tahu dari cerita suaminya, jika sejak sepeninggal Aruna, Kakek Ashton lah yang merawat Jefra. Lelaki paruh baya itu yang telah menyelamatkan Jefra dari kekejaman Theo.


Renata sangat berterima kasih pada Kakek Ashton. Jika tidak ada sang Kakek, entah akan jadi seperti apa Jefra-nya.


"Terima kasih, Kek," ucap Renata bersungguh-sungguh untuk mengucapkannya.


"Hmm? Terima kasih untuk apa?" Ashton terlihat bingung.


"Karena Kakek telah ada untuk suamiku selama ini. Aku sudah tahu tentang masa kecil Jefra yang buruk," ungkap Renata.


Kakek Ashton terkesiap sejenak. Tidak menyangka, jika Renata sudah mengetahui masa lalu Cucunya yang buruk.


Ashton Tjong hidup beberapa tahun ini, hanya dihabiskan untuk menghawatirkan keadaan sang Cucu, yang kehilangan arah semenjak Ibunya meninggal.


Pada waktu itu, Ashton sangat marah dengan Theo yang memperlakukan Jefra layaknya seekor binatang, dan memutuskan untuk merawat Jefra hingga Theo tidak dapat bersikap seenaknya lagi.


Setelah itu, sang Cucu tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan, Jefra menghindarinya. Meninggalkan kediaman keluarga Tjong untuk hidup sendiri di apartemen. Cucunya itu seolah-olah menghindar.


Asthon tidak tahan dengan keadaan Jefra. Dia tahu jika masa lalu telah meninggalkan trauma, dan membuat Cucunya sangat tertekan hingga lebih memilih menghindar. Namun, Asthon sendiri juga merasa tertekan, karena tidak tahu bagaimana membujuk Cucunya itu.


Membujuk supaya Jefra kembali menjadi anak yang ceria, seperti sebelum Aruna tiada.


Tapi sekarang, Ashton merasa bersyukur, karena Cucunya telah menikah dengan seorang wanita yang mampu membuatnya tersenyum, tertawa, bahkan merasa dicintai.


Kemudian Ashton meminum teh dalam satu tarikan napas. Setelah itu, menatap Renata dengan tersenyum hingga keriput di sudut matanya nampak jelas.


"Seharusnya, Kakek yang berterima kasih padamu. Terima kasih, karena telah mencintai J."


Yang Kakek Ashton ketahui, Renata dan Tuan J saling mencintai. Pria paruh baya itu sungguh tulus saat mengatakannya.


"Ya, Kakek," jawab Renata membalas senyuman Kakek Ashton.


Situasi seperti ini, benar-benar membuat Renata terharu. Dia dapat merasakan, rasa kasih sayang yang teramat dalam dari Ashton untuk Cucunya.


Kemudian suara tawa dan obrolan ringan memenuhi gazebo.


"Kamu tahu? Kakek hampir saja jantungan saat kemarin melihat J tertawa. Cucu menantuku memang sungguh luar biasa, karena dapat mencairkan bongkahan es."


Renata tertawa kecil. Ternyata, mengobrol santai sambil minum teh bersama Kakek Ashton tidak buruk juga.


**


Waktu bergulir.


Terlihat Renata yang sedang menyambut kepulangan sang suami.


"Sayang, kamu sudah pulang?"


"Hmm," Tuan J melonggarkan dasinya.


"Kamu lelah? Apa kamu lapar? Aku sudah memasak sesuatu untukmu."


Langkah Tuan J terhenti. Lalu menatap Ranata. Sang istri terlihat lebih ceria dan bersemangat.


"Apa kamu memasak ayam goreng arang lagi?"


"Tentu saja tidak!" bantah Renata cepat, "Masakanku tidak gosong dan aku jamin rasanya enak!"


"Sungguh?"


"Ya! Bukankah aku istri yang baik?"


Renata menghampiri Tuan J. Lalu dengan berani mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.


Cukup membuat Tuan J terkejut sejenak.


Tanpa menunggu, Renata langsung mencium bibir Tuan J dengan lembut.


Dan Tuan J membalasnya.


Bibir mereka saling bertaut, kecupan lembut berubah menjadi panas.


Renata mengeratkan pelukannya di leher suaminya itu. Sedangkan Tuan J, memegang pipi Renata dan tangan satunya memeluk punggung istinya itu.


Mereka baru melepaskan ciuman itu ketika napas mereka habis.


Renata membenamkan wajahnya yang kini memerah di dada Tuan J. Kini kedua tangannya memeluk punggung suaminya.


Tuan J juga tidak melepas pelukannya.


Napas keduanya susul-menyusul. Renata dapat mendengar dengan jelas detak jantung Tuan J yang berdetak kencang.


"Selamat datang."


"Hmm," Tuan J mengecup pucuk kepala Renata dengan lembut, "Aku pulang, Dear."


"Ngomong-ngomong, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Tuan J.


Jujur, dia sangat senang dengan keagresifan sang istri yang tiba-tiba ini.


_To Be Continued_