
"Aku akan menemanimu, kamu tenang saja, Sayang. Aku akan tetap ada di sisimu. Selalu menjaga dan menemanimu."
Setelah melewati cahaya berwarna kehijauan, hal pertama yang Renata dengar adalah kalimat penuh kesedihan yang diucapkan Jefra-nya.
Namun, badan Renata tidak dapat bergerak, untuk membuka matanya saja sulit.
Apa dia telah kembali dengan selamat?
Isak tangis dari seorang Jefra Tjong meremukkan batin, membuat Renata yang mendengarnya ingin ikut menangis.
Jefra!
Renata hanya bisa memanggil nama suaminya di dalam hati.
Jefra!
Batinnya terus menjerit, berharap mulutnya bisa terbuka.
Aku sudah tidak apa-apa, Jef. Aku sudah kembali. Jangan menangis...
Ingin sekali Renata berkata seperti itu, untuk menenangkan pria tercinta.
Akan tetapi, mulutnya seakan terkunci rapat.
Renata tidak menyerah untuk berusaha membuka mata, dan jari tangannya terus mencoba bergerak.
Perlu menghitung beberapa detik dia membuka mata. Namun, belum terlalu jelas, penglihatannya masih buram. Sedikit demi sedikit Renata bisa melihat dengan normal.
Melihat Tuan J, yang sedang menangis dengan menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
Meski masih susah membuka bibirnya, Renata terus mencoba memanggil nama sang suami.
"Jefra?"
Pada akhirnya, Renata bisa bersuara meski terdengar sangat lirih.
Seketika itu juga, isak tangis Tuan J berhenti. Tubuhnya kaku. Oleh karena itu, hanya bisa mengangkat kepala memastikan.
"Jefra..." Renata mencoba memanggil kembali.
Tuan J segera mendongak, menampilkan wajah kaku untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. Mulutnya terbuka lebar dengan mata yang hampir keluar karena saking terkejutnya. Meskipun wajahnya masih berderai air mata, dia tidak perduli asalkan bisa melihat istri tercinta bangun.
Bola mata hitam dan cokelat beradu dalam satu tatapan.
Renata tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa wajahmu murung seperti itu? Membuatku juga ingin ikut menangis saja..."
Tuan J membeku, matanya yang melebar tidak berkedip. Hatinya terasa bergetar. Setelah menunggu cukup lama, pada akhirnya Renata berbicara padanya. Dia begitu merindukan mata cokelat bening yang sudah lama tidak terlihat itu.
Dia tidak sedang berhalusinasi, kan?
"Jef, aku haus," lirih Renata.
Tuan J tergesa bangkit untuk menuangkan air putih ke dalam gelas yang berada di atas meja, dia beri sedotan agar mudah diminum oleh sang istri. Tangannya bergerak untuk memegangi gelas tersebut. Bahkan air matanya tidak berhenti keluar, karena saking bahagianya mendapati Renata terbangun dari koma.
"Terima kasih," lirih Renata lebih bertenaga ketimbang tadi.
Tuan J tidak menjawab, ataupun mengangguk. Diletakkannya kembali gelas di atas meja.
"Jef?" Renata terhenyak ketika melihat Tuan J yang masih mengeluarkan air mata. Dia segera bangkit hendak memeluk suaminya itu.
"Tunggu," Tuan J seketika panik melihat Renata yang mencoba bangun, "Jangan memaksa untuk bangun, karena kamu sudah tidur lima puluh tiga hari."
Renata tertegun, ternyata jiwanya sudah cukup lama berkeliaran.
"Rambutmu sudah panjang, ya,"
Renata masih sempat-sempatnya mengomentari rambut sang suami yang terlihat menutupi mata. Dia kurang menyukainya, karena menutupi sebagian wajah tampan Jefra-nya.
Tangan Renata terulur, menyentuh ujung rambut berwarna hitam itu, menyibaknya ke samping. Lalu menghapus jejak air mata di wajah layu suaminya.
Apa sekarang dia sudah menjadi lelaki yang cengeng? Namun, persetan dengan itu.
"Jefra? Apa kamu baik-baik saja? Tanganmu sampai gemetar?"
Sontak Tuan J melepas tangan Renata, lalu melihat kedua tangannya yang gemetar, "Ah, ya. Kenapa aku gemetar?"
"Apa kamu tidak enak badan?" tanya Renata dengan mimik khawatir.
Sruk
Tubuh Tuan J limbung ke belakang hingga terduduk paksa di kursi. Terasa begitu lemas dan tidak bertenaga.
Renata langsung terduduk di pinggir brankar dengan kaki yang menjuntai ke bawah, "Sayang..."
Tuan J menunduk dengan memegang keningnya yang sedikit pening, sepertinya ini adalah efek karena dia kurang memperhatikan kesehatan dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing. Sungguh. Mungkin dengan tidur sebentar aku akan sehat kembali. Tapi, aku tidak ingin tidur karena takut kamu menghilang," lirih Tuan J begitu menyedihkan.
Kedua bola mata Renata bergetar melihat Tuan J, merasa begitu jahat karena tanpa sadar telah meninggalkan sang suami cukup lama.
"Aku masih tidak percaya kamu bangun," Tuan J kembali mendongak menatap Renata takut-takut dan tidak percaya, "Apa benar kamu sudah bangun? Bukan aku yang berhalusinasi?"
Kepala Tuan J kembali menunduk, napasnya menjadi berat, pundak naik turun, dan dada kembang kempis. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya lagi. Dia semakin didesak oleh buncahan rasa di dalam tubuhnya.
"Tapi meski hanya mimpi atau berhalusinasi, tidak apa, aku hanya ingin mendengar suaramu lagi."
"Jefra, lihatlah aku," Renata menyentuh ke dua tangan Tuan J supaya terlepas dari menutupi wajah.
Tuan J tersentak saat Renata mencium keningnya.
Lalu Renata menumpukan keningnya dengan kening Tuan J, mata keduanya kembali beradu namun dalam jarak yang sangat dekat.
"Biarkan aku membuktikan jika ini bukan mimpi," bisik Renata mengalun lembut.
Wajah Tuan J dibingkai oleh jemari lentik. Bibir dikecup perlahan.
Lalu Renata kembali berbisik, "Tenanglah, aku benar-benar sudah bangun. Aku di sini, bersamamu."
Renata memeluk Tuan J, membelai punggungnya. Dikecupnya leher sang suami yang tegang. Mencoba menenangkan hati yang sedang dilanda rasa kalut.
"Sekarang sudah yakin, kan? Aku sudah kembali padamu, Jefra," ucap Renata meyakinkan dengan air mata yang mendesak keluar.
Tidak ada jawaban dari Tuan J, hanya lirih suara tangis kecil yang terdengar. Dalan pelukan Renata dia mulai menangis lagi, tapi itu adalah tangisan bahagia.
Tuan J menekan lembut kepala yang ditumbuhi helaian hitam panjang, sehingga keduanya semakin berpelukan dengan erat. Dia kecup berkali-kali pucuk kepala Renata.
"Sssh, Sayang. Sudah, sudah. Ayo kamu harus tenang. Kamu adalah Jefra Tjong, pemimpin perusahaan nomor satu di dunia. Kamu tidak boleh menangis lagi," suara lembut Renata bagai musik merdu di telinga suaminya.
Tuan J mengambil napas panjang untuk menghentikan isak, "Bukan."
Renata mengurai pelukannya. Menatap sang suami dengan hidung merah, yang kembang kempis karena habis menangis. Padahal dia sendiri juga menangis, tapi menyuruh orang lain tidak boleh menangis.
Benar-benar menggemaskan sekali.
Tuan J mengusap jejak air mata Renata dengan lembut. Begitu pula dengan Renata yang melakukan hal yang sama pada wajah suaminya itu.
"Apa yang bukan?" tanya Renata bingung.
Tuan J tersenyum, lalu mengecup kedua mata Renata secara bergantian. Kedua kening kembali bersentuhan.
"Lebih tepatnya Jefra Annefall, suami dari Renata Carissa."
"A-apa?"
Sebuah fakta baru yang membuat Renata terkejut. Ingatan sang suami telah kembali.
_To Be Continued_