Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Renata Menghilang


Esoknya.


Terlihat Renata yang sedang memeriksa surat dan paket yang datang hari ini.


Terdengar helaan napas lelah dari Renata. Dia belum juga menemukan foto-foto itu. Sebenarnya kapan foto-foto itu akan di kirim? Sayangnya, di novel tidak tertulis waktu pastinya.


Renata kembali membenahi surat-surat dan paket yang akan dikembalikannya pada Barnard.


Kemudian Renata beranjak keluar kamar untuk mengambil minum di dapur.


Terdengar sayup-sayup kedua wanita yang tertawa saat Renata melangkah menuruni tangga, terlihat Shanty dan Sanaya yang sedang terduduk di sofa.


Renata mendengus, bisa-bisanya Sanaya masih memiliki muka untuk datang ke sini.


"Ayah!" seru Sanaya saat Rendra datang bergabung, langsung bergelayut manja.


Renata memutar bola mata.


Bisa-bisanya Rendra sudah memaafkan Sanaya. Apa pria paruh baya itu tidak memiliki otak hingga bisa begitu mudah memaafkan seseorang yang sudah berencana membunuh putri kandungnya sendiri?


Oh, jangan lupakan jika Rendra memang tidak memperdulikan putri kandungnya, dan masih menganggap Renata sebagai penyebab kematian istri pertamanya.


Renata mulai beranjak karena tidak ingin melihat si keluarga cemara yang sedang menabur keharmonisan, selagi ketiga orang itu belum menyadari kehadirannya.


Namun, langkah Renata terhenti saat mendengar apa yang dikatakan Sanaya.


"Ayah, aku ingin menitipkan sesuatu pada Kak Zayn."


"Apa itu?" tanya Rendra.


"Hanya sebuah hadiah."


Sanaya menyerahkan kotak berukuran sedang yang telah dibungkus dengan cantik.


Kenapa Sanaya memberikan hadiah pada Zayn?


Jangan-jangan... foto-foto itu.


Akan tetapi, Ini tidak sama seperti di alur novel. Seharusnya Sanaya mengirimkan foto-foto itu dengan menggunakan nama orang lain.


Sepertinya, ini akibat alur novel yang sudah melenceng. Sanaya sudah tidak menyembunyikan rasa kebenciannya pada Renata. Dia ingin memberi tahu kepada Zayn secara langsung.


Tidak. Renata harus mengambil kotak itu sebelum jatuh ke tangan Zayn.


**


Sekitar pukul empat sore Sanaya meninggalkan kediaman keluarga Tan. Cukup lama wanita itu berkunjung. Renata sampai bosan menunggu Sanaya pergi.


Renata melihat Rendra masuk ke ruang kerja Zayn sembari membawa hadiah yang dititipkan Sanaya. Beruntung karena Zayn belum pulang dari kantor, hal itu membuat Renata masih memiliki kesempatan untuk mengambil kotak itu.


Tidak lama kemudian Rendra keluar dari ruang kerja Zayn. Kini giliran Renata yang masuk ke dalam.


Cklek


Hal pertama yang dilihat Renata adalah keadaan ruangan yang sedikit gelap. Lalu Renata masuk lebih dalam.


Di sana, di atas meja kerja milik Zayn kotak itu diletakkan, langsung diambilnya kotak itu.


Tap


Tap


Ketika Renata hendak keluar terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


Cklek


Beruntung Renata bergerak cepat bersembunyi di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang ketika tahu siapa yang masuk. Zayn dan Nikolas.


"Baiklah, hasil proyek ini cukup bagus."


Renata bisa melihat sepatu pantofel milik Zayn yang mendekat pada meja, dan mendengar bunyi sesuatu yang diletakkan di atas meja.


Semoga aku tidak ketahuan.


Keringat menetes di pelipisnya, Renata hanya bisa berdoa di dalam hati.


"Tapi, Tuan. Proyek ini membutuhkan dana yang sangat besar. Saya bersedia mengurus semuanya. Tuan bisa percaya pada saya."


Sepertinya Nikolas sedang mencoba membangkitkan kepercayaan Zayn.


Zayn terdiam sejenak.


"Tidak usah, untuk dana biar aku yang mengurusnya sendiri, kamu cukup mengawasi perkembangan proyek ini."


Renata tidak tahu tendang proyek apa yang sedang dibicarakan Zayn dan Nikolas. Tapi, jawaban Zayn dapat membuat senyum terukir di bibir Renata. Zayn mengikuti apa yang kemarin dia katakan. Dengan begini Nikolas tidak mungkin memiliki cela untuk melakukan perbuatan buruknya.


"Baik, Tuan."


Renata dapat mendengar ada sedikit nada ketidaksukaan dari sana.


"Kamu boleh pergi."


"Ya, Tuan."


Kini tinggal Zayn yang masih ada di ruangan itu. Renata mengigit bibir saat Zayn justru melangkah mengitari meja berniat duduk di kursi. Apakah dia akan ketahuan? Alasan apa yang nanti akan Renata pakai?


Aduh, bagaimana ini?


Knock... Knock...


Suara ketukan pintu menghentikan langkah Zayn. Lalu pria itu beranjak menuju pintu.


Renata bernapas lega dibuatnya, tetapi tidak berlangsung lama saat mendengar seorang pelayan yang menyebut namanya.


"Tuan, Nona Renata menghilang."


"Menghilang?" suara Zayn terdengar tertahan karena terkejut.


"Ya, Tuan. Padahal ada seseorang yang dikirim keluarga Tjong untuk melakukan relaksasi kulit pada Nona Renata."


"Apa mobil Renata masih ada?" tanya Zayn.


"Masih, Tuan. Padahal Nona Renata tidak terlihat keluar rumah sejak tadi."


Kemudian terdengar bunyi pintu tertutup. Sepertinya Zayn ingin mencari Renata yang nyatanya sedang bersembunyi di bawah meja.


"Gawat, aku harus cepat-cepat keluar dari sini."


Dengan panik Renata segera keluar dari tempat persembunyiannya.


Namun.


Krek... Krek...


"Loh? Terkunci?"


Oh, bertambah paniklah Renata. Zayn mengunci pintu dari luar. Mungkin karena barusan Zayn meletakan berkas perusahaan yang penting di atas meja.


"Haduh, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Renata sembari menggigit jari.


**


Pada waktu yang sama, di dalam mobil.


"Ada apa?" tanya Tuan J pada seseorang di ujung sana.


[ Tuan, Nona menghilang. ]


Seketika raut wajah Jefra Tjong mengeras.


[ Nona tidak ada ketika saya datang. Sekarang di kediaman keluarga Tan sedang sibuk mencari keberadaan Nona. ]


"Aku akan ke sana."


Setelah mengatakan itu dimatikan panggilan itu secara sepihak.


"Putar balik ke kediaman keluarga Tan," titah Tuan J pada Arvin yang sedang menyetir mobil.


"Ya, Tuan," jawab Arvin patuh, tanpa bertanya.


"Dia tidak mungkin diculik, kan? Atau dia sedang mencoba kabur dari pernikahan?" lirih Tuan J, tapi masih dapat didengar Arvin yang sedang menyetir di jok depan.


Arvin mencoba melihat ekspresi Tuan-nya dari kaca sepion tengah. Ekspresi... Khawatir?


"Tidak usah khawatir, Tuan. Mungkin Nona Angel hanya sedang jalan-jalan," celetuk Arvin mencoba menenangkan Tuan J.


Tuan J mendelik ke arah sepion tengah yang menampilkan setengah wajah Arvin.


"Siapa yang khawatir?" sangkal Tuan J.


"Tuan," jawab Arvin.


Tuan J menendang belakang jok yang sedang diduduki Arvin, "Jangan bicara sembarangan. Nyetir saja yang benar."


Ya, memang banyak cara untuk mengungkapkan perasaan hati. Contohnya saja Jefra Tjong ini, yang terus menyangkal apa yang dirasakannya, mungkin karena dia tidak pernah berurusan dengan seorang wanita sebelumnya, terlebih wanita itu adalah calon istrinya.


Tidak lama kemudian mobil Range Rover Sport yang ditumpangi Tuan J dan Arvin sampai di kediaman keluarga Tan.


"Kamu di sini saja. Aku hanya sebentar."


"Lama juga tidak apa-apa, Tuan."


Terdengar decakan kesal dari Tuan J.


Arvin tergelak saat Tuan J sudah keluar dari mobil, memperhatikan atasannya yang memasuki pintu gerbang. Namun tiba-tiba, Arvin menyipitkan mata tatkala melihat sosok wanita yang sedang berusaha keluar dari jendela di lantai satu.


"Itu kan... Nona Angel?"


Kemudian Arvin segera menghubungi Tuan J.


_To Be Continued_


Note : Lantai satu adalah lantai yang berada di atas lantai dasar.


Buat konflik nggak terlalu rumit kayak kelihatannya, ya. Nanti juga akan ada penyelesaiannya. Otor cuman pengin kasih tahu kalau Renata bisa tahu masa depan karena sudah tahu alur novelnya, jadi Renata bisa lebih antisipasi menyelamatkan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya.