
Pukul sepuluh malam Renata terbangun, dia merasa kehangatan di seluruh tubuhnya.
Ketika berhasil membuka kelopak mata, dia mendapati jakun yang bergerak naik turun, tepat di depan matanya. Detik itu, dia menyadari jika dirinya masih di dalam pelukan Tuan J, dapat dirasakannya detak jantung suaminya itu.
Setelah percintaan yang menggebu-gebu karena perasaan cinta yang sudah tersampaikan, mereka tertidur pulas dan melewatkan makan malam.
Renata sungguh bahagia, dan juga masih tidak menyangka jika selama ini Jefra Tjong memendam perasaan cinta padanya. Bahkan pria itu telah menaruh perhatian saat pertama kali mereka bertemu.
"Renata..."
Jantung Renata langsung berdebar tidak karuan, saat Tuan J memanggil namanya dengan mengerang. Lalu bergerak untuk semakin mendekap tubuhnya, agar semakin merapat, begitu posesif.
Bahkan dalam alam bawah sadar pun, Tuan J masih tetap berusaha memeluk tubuh Renata. Seolah tidak ingin melepas sang istri satu detik pun.
Renata menarik wajahnya ke atas. Walau sedikit susah, karena dia berada tepat di bawah dagu Tuan J. Namun, dia berhasil melihat wajah sang suami yang sangat tenang saat tidur. Bahkan dalam tidurnya pun, suaminya itu masih terlihat sangat tampan.
Bibir Renata membentuk lengkungan manis. Menatap wajah sang suami dalam posisi seperti ini, benar-benar disukainya.
Pandangan Renata mengitari setiap inci kulit wajah Tuan J.
"Jefra-ku yang tampan," gumam Renata memuji wajah sempurna sang suami.
"Hmm, aku tahu itu," ucap Tuan J terdengar parau, kelopak matanya bergerak, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Nampak lah bola mata hitam yang menghanyutkan.
Detik itu juga, pandangan mereka berdua bertemu. Saling menatap dan terdiam beberapa saat. Seakan terhipnotis.
Kemudian salah satu sudut bibir Tuan J terangkat. Tertawa pelan.
"Kamu juga sangat cantik dalam keadaan kusut seperti ini," bisik Tuan J sambil menyelipkan rambut Renata yang menjuntai ke belakang telinga.
Renata tersipu malu. Lalu mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona di perpotongan leher sang suami. Seketika itu juga, bibirnya tertarik lebar di kedua sisi. Renata tersenyum lebar.
Dan sepertinya, Tuan J dapat merasakan gerakan bibir sang istri di permukaan kulit lehernya. Terasa menggelitik.
"Apa yang membuatmu begitu senang?" tanya Tuan J yang membuat senyum Renata semakin lebar.
"Kamu," lirih Renata lembut. Lalu melingkarkan lengannya di tubuh Tuan J, membalas pelukan lelaki itu lebih erat lagi.
"Aku?" tanya Tuan J bingung.
"Ya," jawab Renata. Lalu telapak tangannya memegang dada Tuan J, tepat di mana jantungnya berada, "Dan suara detak jantungmu yang terasa lebih keras."
Tuan J tertawa kembali, tapi kali ini terdengar bebas, "Dan kamu tahu kenapa?" tanyanya dengan sedikit mendorong tubuh Renata agar dapat memandangi wajahnya.
"Karena aku?" ucap Renata dengan penuh percaya diri, dan senyum yang semakin lebar.
"Karena dirimu," angguk Tuan J membenarkan, "Kamu begitu sempurna. Kamu tahu itu, hmm?"
Astaga! Apa dia benar-benar Jefra Tjong? Dia sedang kerasukan jin romantis?
Namun, sepertinya itu bukan hanya sekedar rayuan atau gombalan.
Dapat dilihat dari pandangan mata Tuan J yang begitu tulus, yang menunjukan jika kata-kata itu sungguh dari dalam hati.
Momen-momen ini sudah Renata impikan sejak lama. Yang dapat menimbulkan perasaan penuh kerinduan. Akan tetapi, akan lebih baik jika ingatan masa lalu Jefra-nya kembali.
Tidak adil, jika hanya Renata yang mengingat kehidupan mereka sebelumnya masuk ke dalam novel.
"Ada apa?" tanya Tuan J saat menyadari raut wajah Renata yang berubah.
"Tidak apa-apa, kok," Renata langsung menampik, "Apa kamu lapar?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tuan J mengangguk.
Renata mengetuk ujung hidung Tuan J dengan jari telunjuknya, "Kalau begitu aku akan memanaskan makanan, kamu mandilah dulu."
**
"Dear."
Suara berat magnetik mengintrupsi aktivitas Renata, yang sedang memanaskan makanan di dapur.
Rambut basah yang berantakan mengeluarkan aroma shampo menggelitik pipi Renata, ditambah wangi sabun yang khas dari seorang Jefra Tjong tercium menyegarkan.
Tuan J mendaratkan kecupan pada pipi Renata. Hingga membuat sang istri merinding karena merasakan sensasi dingin dari bibirnya.
"Ka-kamu sudah mandi?" tanya Renata retorik untuk menutup perasaan gugupnya.
Kenapa dia jadi gugup? Jawabannya adalah, bibir Tuan J yang menjalar untuk mengecup lehernya.
Ayolah, padahal Renata belum mandi. Badannya saja masih terasa lengket karena aktivitas mereka sebelumnya. Dia memang berniat mandi setelah ini, karena tidak mau membuat sang suami semakin kelaparan.
"Hmm, kamu wangi sekali."
Wangi? Bukannya terbalik? Renata tidak habis pikir.
"Jangan membual, aku saja belum mandi."
"Tapi aku tidak membual. Kamu memang selalu wangi. Aku sangat menyukai wangimu yang begitu lembut dan menenangkan. Bahkan, dapat menghilangkan mimpi burukku," jelas Tuan J dengan segala kejujurannya.
Renata tersenyum mendengarnya, "Apa kamu sudah tidak mimpi buruk lagi?"
"Ya, aku sangat berterima kasih padamu, Dear."
"Terima kasih untuk apa?"
Renata mematikan kompor karena sup sudah mendidih. Kemudian melepas pelukan Tuan J, untuk mengambil mangkuk porselen berwarna putih.
Seperti anak kecil yang mengikuti sang ibu kemanapun, Tuan J mengekor di belakang Renata. Sungguh lengket dan tidak ingin jauh-jauh.
"Aku hanya ingin berterima kasih saja."
Renata terkekeh. Ada-ada saja.
"Tunggulah di ruang makan, sebentar lagi aku akan selesai," ujar Renata yang lama-lama merasa risih dengan Tuan J yang mengikutinya. Sudah seperti memiliki buntut saja dirinya.
"Hmm."
Tuan J langsung menurut untuk beranjak ke ruang makan. Sang serigala sudah benar-benar jinak.
"Aku akan membantumu untuk menyiapkan peralatan makan di meja."
Bahkan pria itu berinisiatif membantu.
Lalu Tuan J mulai menyiapkan alat makan dan menatanya di atas meja.
Tidak lama kemudian, Renata selesai dan segera menyusul ke ruang makan. Lalu meletakkan makanan yang sudah dia panaskan di atas meja. Setelah itu, menarik kursi dan duduk di sebelah sang suami.
Kemudian mereka menyantap makan malam yang tertunda itu.
"Tadi aku ingin memasak sup daging, tapi tidak jadi karena merasa mual. Akhirnya para pelayan yang menggantikan untuk memasak sup tomat," Renata membuka suara untuk memecah keheningan.
"Apa kamu masih merasa mual?" tanya Tuan J setelah menyuap sup ke dalam mulut, lalu menatap Renata yang menggeleng kepala.
"Syukurlah," gumam Tuan J, lalu kembali serius dengan makanannya.
Tanpa Tuan J sadari, Renata tengah tersenyum dengan mengelus perut ratanya. Dia berniat mengeceknya terlebih dahulu. Setelah itu, baru bisa memberi tahu sang suami.
Semoga saja hasilnya positif.
"Besok aku akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan," ucap Tuan J tiba-tiba.
"Eh? Berapa hari?"
"Tiga hari."
"Oh," Renata menundukkan kepala, padahal mereka baru mengungkapkan perasaan masing-masing, masa sudah harus berpisah selama tiga hari.
_To Be Continued_