Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Saran Dari Arvin


"Saran untuk kembali berhubungan baik dengan Nyonya."


Mendengar perkataan itu, Tuan J terdiam sebentar. Memikirkan tidak ada salahnya untuk menerima saran dari Arvin. Pada akhirnya, Tuan J menganggukkan kepala.


"Kamu jatuh cinta pada istrimu! Benarkan?" Arvin mulai merubah tata bahasanya, menjadi lebih santai. Sekarang dia ingin memberikan saran sebagai seorang teman.


Tuan J terkejut mendengar tebakan Arvin yang tepat sasaran, lalu menatap Arvin yang terus memperhatikannya, "Dari mana kamu tahu?"


"Tentu saja terlihat jelas dari sikapmu akhir-akhir ini. Orang yang sedang jatuh cinta lebih terlihat berwarna merah muda!" celetuk Arvin yang benar-benar sudah mengenyampingkan batasan bawahan dan atasan.


"Berwarna merah muda? Jangan mengada-ada!"


Benarkan seperti itu? Tapi kenapa Renata tidak menyadarinya?


Padahal Tuan J sudah berusaha begitu keras untuk menunjukan rasa cintanya pada sang istri. Berharap jika Renata mengerti tanpa harus dia mengucapkan kata 'aku cinta kamu.'


Tuan J tidak tahu jika kata cinta sangatlah penting untuk kepuasan sebuah hubungan. Dan juga supaya perasaan cinta itu sendiri tersampaikan dengan baik.


Arvin menumpukkan kedua telapak tangannya di pinggir meja, lalu menatap Tuan J dengan seksama.


"Jujurlah pada istrimu. Katakan jika kamu mencintainya. Jangan siksa dirimu dengan terus menyembunyikan perasaanmu itu."


Tuan J tersenyum sinis, mendengar kata-kata Arvin, "Kamu tidak tahu apa-apa, Arvin. Aku dan dia sudah terikat dengan perjanjian, yang tidak memperbolehkan kami membawa sebuah perasaan dalam pernikahan."


"Perjanjian?" beo Arvin, begitu tidak menyangka jika di antara Tuan J dan Renata terdapat sebuah perjanjian.


Tuan J menarik napas pelan, lalu tubuhnya bersandar pada kursi, diusapnya kasar wajahnya, "Dialah yang pertama kali menodongku supaya menulis sebuah perjanjian. Kamu tahu? Perjanjian itu adalah pernikahan simbiosis mutualisme."


Kedua mata Arvin mengerjab lebar, benar-benar sebuah perjanjian konyol. Dia bahkan baru tahu jika ada sebuah pernikahan simbiosis mutualisme. Memangnya mereka bunga dan kupu-kupu? Buaya dan burung plover? Atau manusia dan bakteri E. Co li?


Lucu sekali!


"Hei, itu hanyalah sebuah perjanjian yang tidak masuk akal! Dengan adanya perjanjian itu, sama halnya kalian mempermainkan sebuah ikatan suci dari sebuah pernikahan!" Arvin menjadi geram sendiri, dia bahkan berteriak pada sang CEO.


"Ck, memangnya kamu tahu apa? Kamu bahkan belum menikah, pacar saja dirimu selalu ganti-ganti," sinis Tuan J pada Arvin.


"Setidaknya aku lebih berpengalaman dalam urusan wanita, daripada kamu yang baru merasakan cinta! Karena tidak adanya pengalaman, kamu menjadi kesulitan sendiri!"


Mendengar ucapan mengejek yang ditunjukkan padanya, Tuan J melirik Arvin dengan jengkel.


"Kamu ingin dipecat, ya! Atau ingin dikirim ke negara H?"


Negara H, sama halnya dengan Afrika. Tuan J ingin mengasingkan Arvin untuk mengurus cabang perusahaan di sana.


Arvin langsung bungkam dibuatnya, tentunya dia tidak mau jika harus diasingkan di negara gersang itu.


"Y-ya, maaf, Tuan."


Tuan J tersenyum sinis, penuh kemenangan. Memang tidak ada yang bisa mengejeknya. Kecuali Renata-nya. Dia mana mungkin mengancam Renata seperti mengancam Arvin, meski istrinya itu gemar meledeknya.


"Hmm," Arvin berdeham untuk menghilangkan rasa takut akan dikirim ke negara H, dia akan berhati-hati dalam berbicara kali ini.


"Lupakanlah perjanjian itu, Tuan. Jika kamu masih ingin tetap bersama dengan Nyonya," ujar Arvin kembali pada topik pembicaraan.


Tuan J mengerutkan kening, dan detik kemudian dia berdecak, "Ck!" tersenyum sinis, lalu menggeleng kepala.


Melupakan perjanjian? Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana jika hubungan mereka semakin memburuk setelah itu? Hal terburunya, Renata akan berakhir meninggalkannya. Karena perjanjian itulah yang melandasi pernikahan mereka.


"Jujurlah sebelum kamu terlambat, cobalah katakan padanya jika kamu mencintainya. Perjanjian di antara kalian hanyalah selembar kertas, itu sangat mudah dirobek dan dibakar."


Tuan J terdiam dalam pikirannya yang berkecamuk. Apa dia harus benar-benar melupakan perjanjian itu? Sejujurnya dia memang ingin perjanjian itu hilang.


"Aku hanya memberi saran," ucapan Arvin, "Seorang wanita butuh kepastian. Apa kamu tidak takut, jika istrimu berakhir jatuh cinta pada pria lain, karena tidak merasa dicintai oleh suaminya?"


"Aku tidak ingin dia jatuh cinta pada pria lain," rahang Tuan J mengeras seketika. Melihat Renata berbicara dengan Aslan saja mampu membuatnya kesetanan.


**


Di lain tempat, saat waktu sudah bergulir hingga waktu sore hari. Di saat lukisan langit sore jelang senja.


Renata melihat isi kulkas. Masih banyak bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Ada sayur seperti tomat, wortel, paprika, bawang bombay, dan daun bawang.


Saat melihat persediaan daging ayam dan sapi, tiba-tiba perutnya bergejolak mual. Rasanya dia ingin sekali memuntahkan sesuatu yang membuatnya mual itu.


"Huueek," Renata menutup mulutnya, menahan supaya tidak muntah karena rasa mual itu.


Hingga tidak menunggu lama lagi, Renata bangkit untuk berlari ke wastafel dan muntah di sana.


"Nyonya?" Pelayan yang hendak membantu sang Nyonya Besar memasak makan malam langsung menghampiri, "Nyonya, kenapa?"


Renata tidak menjawab pertanyaan si Pelayan. Dia tetap menunduk, tidak sanggup mengeluarkan kata apapun dari bibirnya.


"Apa persediaan daging ayam dan sapi sudah memasuki masa expired? Kenapa baunya tidak enak sekali?" tanya Renata sesudah menyalakan kran wastafel.


Si Pelayan langsung tergopoh-gopoh untuk memeriksa kulkas.


"Tidak, Nyonya. Daging-daging ini masih segar," ucap si Pelayan dengan bernapas lega. Bisa kena marah dia, jika melakukan keteledoran dengan membiarkan daging expired di dalam kulkas.


Renata menutup kran wastafel, "Yasudah, tidak apa-apa."


Si Pelayan kembali mengalihkan atensinya pada sang Nyonya yang terlihat pucat, "Sebaiknya Nyonya beristirahat saja."


"Tapi bagaimana dengan makan malam?"


"Biar saya yang melanjutkan memasak. Nyonya tidak boleh terlalu lelah, karena akan berdampak buruk bagi bayi Nyonya."


"E-eh?" Renata mengerjap terkejut karena perkataan Pelayan itu.


Bayi? Tapi dia kan tidak benar-benar hamil.


Kemudian Renata mengelus perut ratanya, "Apa mungkin?" gumamnya terselip sebuah harapan.


Karena dia juga merasa lemas dan pusing, Renata tidak melanjutkan acara memasaknya. Dia kembali ke kamar untuk istirahat.


Renata meraih ponselnya. Apa tidak apa-apa jika menghubungi suaminya?


[ */* 17.31 ] Jefra Tjong : Hari ini aku tidak memasak. Aku mendadak mual dan pusing. Rasanya lemas sekali.


Dengan sabar, Renata menanti jawaban dari Tuan J. Namun, sepuluh menit berlalu dia tidak mendapatkan jawaban.


Renata cemberut karena tidak kunjung mendapat jawaban. Apa Tuan J masih marah? Apa suaminya itu tidak merasa khawatir padanya?


"Aku bodoh sekali karena berharap jika dia khawatir padaku."


Namun, bukan Renata namanya jika menyerah menarik perhatian suami kakunya.


Renata mulai mengetik, kembali mengirim pesan pada sang suami.


Brak


Suara pintu yang terbuka dengan kasar, menghentikan pergerakan jari Renata pada layar ponsel.


Renata membulatkan mata ketika melihat Jefra Tjong, datang dengan napas ngos-ngosan dan wajah yang terlihat panik.


"Kamu... sudah pulang?"


_To Be Continued_