Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Melewatkan Sesuatu


Tentunya, Renata tidak mungkin menemui Alvaro. Bahkan Renata lupa jika Alvaro mengatakan kalau ingin menunggunya di toko roti.


Terlihat Alvaro yang duduk di salah satu bangku di dalam toko roti, yang ditemani secangkir kopi yang tinggal setengah. Pria itu hanya dapat menahan pil pahit karena gadis yang ditunggunya sejak tadi tidak menampakkan diri.


Alvaro menyugar rambut pirang cokelat terang miliknya.


Ini adalah saatnya Alvaro begitu menyesal. Telah menyia-nyiakan orang yang tulus adalah sesalnya. Telah melakukan hal yang bodoh adalah sesalnya. Penyangkalan, kemarahan, berharap, depresi, penerimaan… Lima tahap kesedihan yang sedang dilewati Alvaro saat merasakan sebuah kehilangan. Ya, dia sudah kehilangan Angel.


Apa Alvaro ikhlas untuk melepaskan Renata untuk menikah dengan Jefra Tjong?


"Apakah kamu merasakan sakit seperti ini ketika aku menikah dengan Sanaya?" gumam Alvaro tersenyum getir.


Drett... Drett...


Diraihnya ponselnya yang bergetar. Lalu diangkatnya panggilan dari orang yang membuat hubungannya dengan Renata hancur.


"Halo."


[ Alvaro, kamu di mana? ]


Terdengar suara Sanaya di ujung sana.


"Kantor."


[ Jangan bohong, Asisten kamu mengatakan jika kamu tidak ada di kantor. ]


Hembusan napas Alvaro terdengar kasar.


"Di mana aku sekarang bukan urusanmu, Sanaya."


[ Al── ]


Alvaro mematikan panggilan sepihak, tidak lupa ponselnya juga dimatikan karena dia tahu jika Sanaya akan meneleponnya lagi.


Rasanya Alvaro sudah lelah dengan perilaku Sanaya akhir-akhir ini. Bagaimanapun dia berusaha untuk memaafkan Sanaya demi anaknya. Namun sayang, Alvaro tetap tidak bisa menahan rasa kecewanya pada Sanaya.


**


Tut... Tut...


"Bang sat!"


Sanaya melempar ponsel ke sofa sebelahnya.


Seberapa kali pun dia mencoba menghubungi Alvaro tetapi tidak dapat terhubung lagi.


Penyebab wanita itu terlihat gusar adalah karena telah mendengar kabar jika Renata berkunjung ke kantor, bahkan dia tahu jika Alvaro menaiki lift hanya berdua dengan Renata. Sanaya memang memiliki orang yang dapat memberitahunya tentang kegiatan Alvaro selama di kantor.


"Pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka."


Sanaya mengigit kuku jari.


"Jal*ng itu semakin dibiarkan akan semakin ngelunjak. Aku memang tidak bisa diam terus seperti ini. Aku tidak perduli tentang keberadaan Jefra Tjong yang di sisinya."


Hati pembenci tidak pernah damai. Pikiran pembenci tidak pernah bersih. Dan mata pembenci tidak pernah betul-betul terpejam. Sanaya tidak bisa menuruti perkataan Santy yang melarangnya berbuat macam-macam terhadap Renata lagi.


Pada umumnya, saat orang membenci orang lain karena dia menganggap orang itu sebagai ancaman, karena dia membenci dirinya sendiri atau karena dia ingin menjadi seperti orang yang dibenci.


Sanaya memang sangat iri terhadap Renata dari segi apapun.


**


Renata melajukan mobil dengan perasaan yang rumit, masih bertanya-tanya siapa pria yang tadi ditemuinya di gedung parkir Karyawan. Renata yakin jika pria itu bukanlah Karyawan Tj Corp karena tidak pernah terlihat di area kantor sebelumnya.


Satu hal yang Renata tahu, ketakutan adalah antisipasi dari jahat. Pria itu pasti telah melakukan sesuatu yang jahat pada Angel sebelumnya.


"Kamar hotel?"


Tunggu.


Apa Renata telah melewatkan sesuatu?


Sontak Renata menginjak rem saat teringat tentang sesuatu. Beruntung mobilnya berhenti di jalan yang sepi.


"Aku melewatkan sesuatu yang sangat penting."


Renata ingat sekarang.


Salah satu yang sangat mendorong keinginan Angel bunuh diri. Foto-foto Angel bersama seorang pria di hotel yang dikirim ke kediaman keluarga Tan. Foto yang membuat Zayn sangat kecewa pada Angel. Di dalam novel memang tidak tertulis jika Angel hanya dijebak, karena alur novel hanya menceritakan dari sudut pandang Sanaya yang menjadi korban dari perbuatan Angel.


Kini, kejahatan Sanaya memang sudah terbongkar. Namun, Sanaya bisa menggunakan foto-foto itu untuk menjadi barang bukti jika Renata memang benar-benar suka bermain dengan pria di hotel. Terlebih tentang keberadaan si pria yang ada di pihak Sanaya.


Jika itu terjadi bukan hanya Zayn yang kecewa padanya, tapi pernikahannya dengan Jefra pasti akan batal.


"Benar-benar novel sampah. Bagaimana bisa mengorbankan orang yang tidak bersalah demi kebahagiaan tokoh utama?"


Renata mencengkram setir mobil dengan kencang. Kalau saja Renata bisa kembali ke dunia asalnya, dia akan menuntut habis-habisan Pasiennya yang telah membuat novel 'Suara Hati Sanaya'.


Apakah ini definisi sesungguhnya dari pena lebih tajam daripada pedang?


Yang lebih pastinya Renata tidak akan membiarkan itu terjadi. Enak saja jika dia harus berkorban demi kebahagiaan Sanaya. Dia sendiri pun juga ingin bahagia di dunia novel ini, dan tentunya bahagia bersama Jefra.


Kemudian Renata kembali melanjutkan laju mobilnya.


Lima belas menit kemudian, Renata telah sampai di kediaman keluarga Tan.


Renata segera mencari seorang Pelayan yang bertugas menerima semua surat atau paket yang dikirimkan untuk keluarga Tan.


"Apa apa, Nona?" tanya seorang Pelayan laki-laki dengan usia kepala tiga──Barnard.


"Apa hari ini ada surat atau paket yang datang?" tanya Renata.


"Ada, Nona. Surat dan paket biasa datang pukul delapan pagi," jawab Barnard.


"Bisa tolong bawa semuanya ke kamarku?" pinta Renata.


"Memangnya untuk apa, Nona? Bagaimana kalau ada surat dan paket yang penting untuk Tuan Zayn dan yang lainnya?" tanya Barnard tidak menurut begitu saja.


Renata mencoba memutar otak untuk mencari alasan yang tepat, memang tidak mudah baginya meminta semua surat dan paket yang bukan miliknya.


"Aku hanya khawatir dengan Kak Zayn," ucap Renata dengan raut wajah yang dibuat sendu.


"Memang ada apa dengan Tuan Zayn?"


"Kamu tahu sendiri, bukan? Kalau Kakakku itu adalah seorang CEO perusahaan besar. Saingan bisnis di mana-mana, banyak yang ingin menyerangnya di berbagai sisi. Aku hanya takut kalau surat dan paket yang diterimanya berisi ancaman, jadi aku hanya ingin memeriksanya sebelum diberikan pada Kak Zayn. Aku hanya ingin meringankan beban Kakakku saja. Apa itu tidak boleh?"


Sepertinya perkataan Renata mampu membuat si Pelayan terharu.


"Ternyata Nona begitu perduli dengan Tuan Zayn. Sejak awal aku percaya kalau Nona adalah gadis yang baik, tidak seperti gosip-gosip yang beredar."


Renata meringis mendengarnya. Ternyata gosip tentang dirinya sudah tersebar sampai ke para Pelayan di kediaman keluarga Tan.


"Baiklah, Nona. Aku akan membawa surat dan paket itu."


"Ya, begitu juga dengan milik Ayahku dan Tante Santy. Aku juga tidak mau mereka mendapat ancaman."


Renata hanya bisa menahan mual saat mengatakannya.


"Baik, Nona."


Kemudian Barnard beranjak untuk menuruti permintaan Renata. Setelah itu Renata melangkah menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar. Renata langsung menjatuhkan diri di atas ranjang.


"Dengan ini foto itu tidak akan jatuh ke tangan siapapun," gumam Renata seraya menatap langit-langit kamar.


"Tunggu saja, aku pasti akan mencari pria itu untuk memberikan perhitungan."


_To Be Continued_