Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kembali Berhadapan


Flashback.


Kaki Jefra melangkah ke depan untuk menutupi Renata dibelakang punggungnya, berniat melindungi si gadis dari orang-orang yang sedang menodongkan pistol ke arah mereka.


Jefra dan Renata terlihat terpojok di sebuah gang buntu yang begitu sepi.


"Jef, siapa mereka?" tanya Renata dengan nada bergetar karena takut.


Jefra tidak mengatakan kalau sekelompok mafia lah yang sedang memojokkan mereka berdua, karena tidak mau membuat Renata bertambah takut.


Mata elang milik Jefra menatap tajam Alex yang berada di tengah-tengah kumpulan mafia.


"Hei, Boy."


Alex menampilkan senyum ramah.


Jefra langsung mengarahkan moncong pistol tepat pada Alex.


"Ett, apa itu pistol mainan?" Alex justru tertawa.


"Menurutmu?" Jefra justru bertanya balik.


Alex bersiul seolah meledek, "Oh, aku takut sekali jika itu adalah pistol asli."


"Ck," Jefra berdecak dingin.


"Tapi apa kamu tidak melihat kalau kami memiliki pistol yang lebih banyak dari pada dirimu?" Alex tertawa nyaring, diikuti para mafia yang lain.


Renata meremas ujung jaket denim yang Jefra kenakan. Mereka benar-benar terpojok saat ini.


Ekspresi Alex sekejap berubah menjadi dingin, "Buatlah ini menjadi lebih mudah, jangan melakukan perlawanan yang tidak berarti atau kamu dan gadis itu akan mati."


"Cih! Kamulah yang akan mati," ucap Jefra memincingkan mata tajam.


Wajah Alex mengeras karena ucapan berani dari pemuda yang menjadi targetnya itu. Lalu Alex menyeringai samar saat melihat Renata, sepertinya dia memang sudah tertarik dengan Renata sejak awal.


"Ikutlah bersamaku, Boy. Lalu serahkan wanita itu padaku."


Renata semakin merangsek di balik punggung Jefra.


Sedangkan Jefra mengeratkan pegangan pada pistol. Ingin sekali Jefra menembak Alex tepat di kepala. Namun, dia memilih untuk menahan emosi. Jefra sendiri tahu jika dia tidak mungkin menang melawan mereka semua. Saat ini dia hanya perlu mengulur waktu, karena para tentara sedang bersiap menyergap Alex dan anak buahnya.


"Jika aku tidak mau?" ucap Jefra mencoba bersikap tenang.


Jefra dengan begitu mudah mengatur emosi untuk bersikap tenang di situasi apapun, karena sudah cukup lama berperan sebagai mata-mata.


"Tentu saja kalian berdua akan mati dengan banyaknya peluru yang menembus tubuh kalian," Alex tersenyum dengan pongah.


[ Tikus hitam masuk.]


Jefra mendengar suara seseorang yang sedang mencoba menghubungi dirinya, lewat earphone kecil yang terpasang di belakang telinganya.


[ Tentara sudah siap di posisi masing-masing, lindungilah warga sipil yang sedang bersamamu. ]


Jefra tersenyum tipis menatap Alex, "Sepertinya kamulah yang akan mati sungguhan."


Mata Alex menyorot tajam, terlihat marah, "Hijo de puta!" makinya dengan bahasa spanyol.


Alex mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menembak.


Jefra segera berbalik badan untuk menutup ke dua telinga Renata.


Kemudian suara tembakan terdengar begitu nyaring.


Dor


Dor


Dor


Kedua mata Renata terbuka dengan sempurna, lalu menatap Jefra yang sedang tersenyum.


Apa yang sedang terjadi? Apa arti senyuman Jefra?


Setelahnya.


Dugh


"Akh!"


Flashback end.


**


Dan kini, Jefra dan Renata kembali berhadapan dengan Alex. Namun, dalam situasi yang berbeda.


Bagaimana bisa ada sebuah kebetulan yang benar-benar mencengangkan?


Apa pria itu adalah Alex yang mereka kenal di masa lalu, atau hanya mirip saja?


Tidak ada sapaan meski mereka saling mengenal. Begitu juga dengan Alvaro yang notabene Adik Tiri Jefra sekaligus Adik Ipar Renata. Namun, saling melirik tajam tidak luput.


Alex menatap sekilas Renata lalu melintas di samping Jefra. Sekejap dia terlihat berbisik, hingga membuat Jefra melebarkan pupil mata.


"Sayang?" tanya Renata saat Jefra hanya bergeming, padahal pintu lift ingin kembali tertutup.


"Hmm."


Kemudian keduanya memasuki lift. Hanya mereka berdua yang berada di dalam. Renata menoleh pada Jefra yang terlihat... marah?


Kenapa Jefra berekspresi seperti itu setelah bertemu dengan Alex dan Alvaro?


Di sisi lain.


"Apa wanita tadi istrinya?" tanya Alex pada Alvaro yang berjalan di sebelahnya.


"Ya," jawab Alvaro mengerutkan dahi, bingung karena Alex bertanya tentang Renata.


Sebenarnya dia tidak ingin melibatkan Renata, tapi Alex sudah terlanjur melihat Renata.


Semoga saja Alex tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap Renata. Mau bagaimanapun, Alvaro masih mencinta wanita itu.


Namun, melihat bibir Alex yang menyeringai lebar, membuat perasaan Alvaro tidak enak. Terlebih dengan perkataan yang Alex lontarkan selanjutnya.


"Cantik juga."


Alvaro memperhatikan Alex yang mengusap dagu. Apa pria itu tertarik dengan Renata?


**


"Pelan-pelan, Dear."


Jefra membantu Renata naik dengan hati-hati ke tempat tidur, membaringkan Renata sampai nyaman dengan posisi terlentang. Lalu Asisten Dokter menutup kaki sampai pinggang Renata dengan selimut, karena dress yang dikenakannya diangkat untuk memeriksa perutnya. Kini, Renata akan melakukan USG.


Jefra menggenggam jari istrinya lembut, tatkala Dokter mulai melakukan pemeriksaan. Mata mereka fokus ke monitor, menatap gambar hitam putih di sana.


"Lihat, ukurannya semakin berkembang," Dokter berkata dengan sumringah.


Renata berkaca-kaca di sela senyumannya. Dia bisa melihat dengan jelas apa yang ditunjukkan Dokter. Bayi mereka sudah terbentuk sekarang. Bahagia tidak bisa melukis perasaannya, selalu begitu setiap kali cek up, meski ini bukanlah kali pertama baginya mengandung.


Jefra mencium jemari Renata. Sungguh berterima kasih, karena telah membawa seorang bayi di dalam kandungannya, hidup di sana dengan baik, dan itu adalah anak mereka berdua.


"Itu bayi kami Dokter?" tanya Jefra dengan tatapan di antara kagum dan tidak percaya.


"Benar, Tuan. Dia sudah berbentuk sekarang."


Jefra masih menatap monitor yang memperlihatkan gambar bayi yang baru berbentuk itu. Dulu dia memang tidak pernah menemani Renata setiap cek kehamilan karena misinya. Kini, dia sangat bersyukur karena dapat mengulang waktu.


"Saat ini, ukurannya sebesar buah jeruk, berumur sekitar dua belas sampai tiga belas minggu. Dia sudah mulai bergerak di dalam, meski Nyonya belum merasakan pergerakannya sama sekali. Dia juga sudah mulai bisa mendengar di usia ini. Menyerap makanan dari ibunya dan buang air."


Jefra terpesona mendengar penjelasan dari Dokter. Ini benar-benar anugrah, dirinya bisa menciptakan sesuatu yang begitu suci dan terang.


"Berarti dia mendengar setiap kali aku berbicara padanya? Oh, astaga, dia pasti mendengarnya," gumam Jefra yang masih dapat didengar Renata.


"Ya, Sayang. Dia pasti mengenali suaramu, dia akan menjadi bayi yang hebat seperti Ayahnya," ujar Renata tersenyum senang.


"Keadaan bayinya sehat. Bahkan, kukunya juga sudah tumbuh, perkembangannya bagus dan ototnya juga mulai berbentuk begitupun syarafnya. Artinya, masa krisis untuk keguguran sudah terlewatkan, tapi Nyonya harus tetap menjaga diri dan tidak boleh lelah," jelas Dokter panjang lebar.


Batin Jefra bergemuruh. Ya, dia juga akan selalu menjaga Renata dan bayi mereka. Detik itu juga, Jefra teringat dengan apa yang dibisikkan Alex padanya saat berpapasan di pintu lift.


"Kenapa ekspresimu kaku sekali? Tersenyumlah selagi bisa. Karena aku tidak akan membiarkanmu tersenyum lagi setelahnya."


Wajah Jefra mengeras, tentu saja dia tidak akan membiarkan Alex begitu saja. Entah pria itu Alex Rudiart yang mengalami transmigrasi atau bukan.


_To Be Continued_