
"Kenapa kamu menangis? Kita tidak akan mati, ini hanya turbulensi biasa," Tuan J mencoba menenangkan Renata. Dia tidak suka melihat air mata istrinya itu.
"Bisa kamu pegang tanganku?" pinta Renata dengan sesenggukan.
Tuan J sungguh tidak tega melihatnya, kini Renata terlihat seperti kucing yang ketakutan. Lalu tangannya bergerak untuk mengabulkan permintaan istrinya itu.
Renata segera menggenggam telapak tangan Tuan J dengan kuat, menyalurkan apa yang ia rasa pada tangan itu. Kemudian Renata menarik napas. Di dalam hati dia berdoa untuk keselamatan mereka. Matanya ditutup untuk menenangkan hati, ia berusaha untuk tidak melihat jendela lagi. Napasnya diatur sedemikian rupa hingga akhirnya bisa teratur kembali.
Sedangkan si empunya tangan yang menjadi pelampiasan hanya diam saja.
Pesawat perlahan menjadi tenang, tidak ada lagi guncangan hebat. Pesawat telah berhasil melewati badai.
Renata membuka mata dan berteriak kegirangan, mengucapkan syukur karena mereka berhasil selamat. Dipeluknya tubuh Tuan J yang duduk di sebelahnya.
"Oh, syukurlah. Kita selamat!" ungkap Renata semakin erat memeluk suaminya.
Tuan J yang dipeluk menegang seketika. Dia justru teringat dengan aktivitas mereka sebelumnya. Ditelannya saliva dengan susah payah.
Berhubung sudah tidak ada turbulensi, apa mereka akan melanjutkan aktivitas 'itu' lagi?
Oh, Tuan J masih saja memikirkan hal begituan padahal mereka hampir mati di tengah badai.
Sepertinya pria itu memang sudah gila betulan. Dan kegilaannya itu karena Renata!
"Hmm, syukurlah. Hampir saja telapak tanganku hancur karena kamu genggam begitu kuat," seloroh Tuan J dengan hiperbola.
Sontak Renata melepas pelukannya. Lalu diraihnya kembali tangan milik suaminya itu, menelitinya seolah-olah itu adalah sebuah benda yang berharga. Terlihat jika telapak tangannya memerah. Kemudian Renata menatap Tuan J tidak enak hati.
"Apa sakit sekali?" tanya Renata dengan hidung merah yang kembang kempis efek sehabis menangis.
Tuan J hanya mendengus menanggapi pernyataan Renata. Tapi, tidak dengan hatinya yang merasa gemas.
Si kucing yang ketakutan kini sudah berubah menjadi kucing yang imut.
Renata memberikan usapan lembut pada telapak tangan milik suaminya, lalu memijatnya dengan perlahan. Dia tidak menyadari arah tatapan Tuan J pada hidungnya.
Tuan J tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit hidung Renata.
Namun, bukannya mencubit tapi Tuan J justru menggigit hidung Renata.
"Aduh!" Renata memekik tatkala merasa sakit pada hidungnya, hidung yang merah semakin bertambah merah.
Tidak sampai di situ saja, kepala Tuan J bergerak untuk menelusup pada perpotongan leher Renata dan menancapkan giginya di sana.
Mata Renata terbelalak dengan sempurna. Kemudian suaranya tertahan di tenggorokan karena gigitan itu berubah menjadi hisapan, "E-eh, apa yang kamu lakukan?" tanyanya seraya mengigit bibir.
Ini gawat!
Sepertinya, hewan buas pada diri Jefra Tjong telah bangkit.
Apa Tuan J ingin melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda tadi?
Tangan Tuan J bergerak ingin melepas sabuk pengaman yang melilit tubuh Renata, karena berniat membawa tubuh mungil itu duduk di atas pangkuannya.
Namun, lagi-lagi hal itu harus terhenti karena suara pilot menginterupsi.
[ Penumpang yang terhormat, pesawat akan segera mendarat, jangan melepas sabuk pengaman. ]
"Damn!" Tuan J meloloskan makian.
**
Pesawat mendarat tepat pada pukul lima sore. Cuaca di bawah ternyata cerah, bahkan tidak ada tanda-tanda habis terjadi badai ataupun hujan.
Pasangan pengantin baru itu turun dengan diiringi beberapa Bodyguard. Mau di manapun dan kapanpun keamanan seorang Jefra Tjong memang selalu nomor satu, terlebih Kakek Ashton menganggap Renata sedang mengandung pewaris keluarga Tjong. Sebisa mungkin keselamatan keduanya harus tetap terjaga.
"Aku lapar. Tuan J lapar atau tidak?" Renata berkata dengan mengelus perutnya yang rata.
Tuan J melirik Renata dengan tajam.
Apa istrinya itu sedang bermain tarik ulur?
"Kenapa melotot? Memangnya salah kalau aku lapar?" tanya Renata dengan sensi.
"Salah!" jawab Tuan J dengan jengkel. Dia yang memang sudah kesal karena gangguan-gangguan di pesawat semakin bertambah kesal.
Namun demikian, Renata cuek saja dan melangkah ke tempat makan yang bertuliskan 'Sate Khas Senayan'. Restoran yang menyediakan aneka hidangan khas dunianya sebelum masuk ke dalam novel. Seperti gurame bakar, aneka sate, sayur lodeh, hingga sup iga. Renata juga tidak menyangka akan ada restauran seperti ini di sini.
Renata jadi semakin lapar.
"Mau ke mana kamu, hah?" tanya Tuan J dengan nada yang keras.
"Aku mau makan!" sahut Renata cuek, hanya sekali melihat ke arah sang suami yang berjalan di belakangnya, lalu ia melangkah lagi untuk menuju restauran yang menarik perhatiannya itu.
Pada akhirnya Tuan J dan para Bodyguardnya mengikuti Renata. Tidak mungkin juga dia meninggalkan istrinya begitu saja.
**
Tidak lama kemudian, keduanya sudah duduk berhadap-hadapan dengan beberapa hidangan yang telah dipesan Renata.
Renata berbinar-binar menatap sesuatu yang terlihat begitu lezat itu.
"Air liurmu menetes," celetuk Tuan J.
Renata mengedipkan mata lalu mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan, berniat membersihkan air liurnya. Tapi tidak ada.
"What the..." Renata bergumam setengah berteriak.
Jefra Tjong membohonginya!
Tuan J menutup mulut dengan telapak tangan untuk menahan tawa, ekspresi tertekan Renata terlihat lucu di matanya.
"Tertawa saja kalau mau tertawa!" seru Renata sewot. Seorang wanita yang sedang lapar memang sensitif.
"Hmm," Tuan J berdeham, "Silahkan makan, Nona."
Renata mendengus kesal, tentu saja dia akan makan tanpa disuruh. Lagi pula makanan ini dia yang memesannya sendiri.
Kemudian Renata mulai menyantap makanannya. Begitu lahap sehingga Tuan J tersenyum kecil dibuatnya. Padahal kebanyakan orang akan berakhir tidak napsu makan atau memuntahkan isi perutnya setelah melewati turbulensi pesawat. Tapi, istrinya itu justru kelaparan.
"Tuan J tidak makan?" tanya Renata yang melihat sang suami yang diam saja.
Suasana hati Tuan J kembali buruk.
Ditatapnya sang istri dengan tajam, "Jangan panggil aku 'Tuan', aku bukan Tuan-mu."
Renata menaikan salah satu alis karena bingung, tapi mulutnya tidak berhenti mengunya, "Terus kamu mau dipanggil apa?"
"Hmm," Tuan J kembali berdeham. Apa istrinya itu hanya berpura-pura tidak tahu? Kenapa juga masih bertanya? Tentu saja dia ingin dipanggil 'sayang'!
Namun, sepertinya Tuan J terlalu gengsi untuk mengutarakan keinginannya itu.
"Minumlah kalau tenggorokan kamu gatal."
Renata menggeser jus jeruk miliknya ke hadapan Tuan J. Tapi, hanya dilirik sekilas oleh suaminya itu, tidak ada minat sama sekali untuk meminumnya.
Apa, sih? Aku tidak paham!
Pikir Renata merasa bingung dengan Tuan J yang diam saja.
Renata menghentikan pergerakannya dan terdiam sebentar. Dia memikirkan tentang panggilan apa yang diinginkan sang suami. Sedikit membingungkan, tapi nampaknya Tuan J ingin panggilan yang khusus karena mereka sudah menjadi sepasang suami-istri.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu suamiku!"
_To Be Continued_