
Sabtu pagi, Tuan J keluar dari kamar. Sambil menjawab panggilan dari Arvin.
"Hmm, Atur saja sesuai dengan jadwal!"
Setelah selesai, Tuan J memutuskan panggilan. Dan ketika dia mengangkat kepala, sudah ada Renata di ruang makan bersama dengan Zayn.
Renata menyambut suaminya dengan senyum cerah, "Good morning!"
Tuan J tersenyum kecil. Lalu duduk di kursi sebelah Renata, "Good morning, Dear."
Renata mencondongkan wajahnya untuk memberikan kecupan di pipi Tuan J, "Hari ini sarapan roti bakar bersama segelas teh."
Kening Tuan J mengerut. Sebenarnya, dia lebih suka segelas kopi hitam daripada teh.
"Teh hijau, jauh lebih baik daripada kopi," ucap Renata yang sadar ekspresi ketidaksukaan suaminya, "Karena dapat lebih menghangatkan kamu di musim dingin seperti ini."
"Hmm," gumam Tuan J seraya mengangguk. Meski tidak suka, dia tidak marah, ataupun menolak hal yang diberikan Renata untuknya.
"Ehmm," Zayn berdeham, mencoba memunculkan atensinya di meja makan yang seakan tidak terlihat, "Pasutri dilarang bermesraan saat sarapan pagi."
Oh, ayolah, keduanya tidak mengingat jika ada lelaki lajang di sini.
Tuan J melirik Zayn sinis, sama seperti dirinya, Iparnya itu sepertinya sedang libur bekerja, "Siapa dirimu yang melarang."
Zayn mendelik dibuatnya, "Kau tidak ada takut-takutnya, ya."
"Takut?" Tuan J bertanya seolah-olah itu adalah lelucon, lalu tersenyum sinis, "Yang benar saja."
Itulah Jefra Tjong, tidak ada sesuatu yang ditakuti. Kecuali, takut Renata-nya pergi. Pria itu memang sudah sangat mencintai sang istri. Tinggal bagaimana dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan.
Suara tawa Renata menderai di udara, "Kalian memang benar-benar akrab."
"Akrab dari mananya!" bantah Tuan J dan Zayn secara bersamaan.
"Benar-benar akrab dan kompak," kekeh Renata seraya bertepuk tangan.
Kedua pria itu melengos dibuatnya.
Kemudian mereka bertiga memulai sarapan pagi itu dengan tenang.
"Kak Zayn tidak ke rumah sakit?" tanya Renata setelah menghabiskan sarapannya.
"Habis ini ingin ke rumah sakit. Ayah akan pulang siang ini," jawab Zayn setelah menyesap teh hangat miliknya.
"Apa Ayah Mertua sudah baik-baik saja?" tanya Tuan J, yang belum sempat mengunjungi Rendra di rumah sakit.
"Kini penyakit jantung Ayah sudah lumayan parah, sekarang sudah berubah menjadi jantung koroner," jawab Zayn.
"Apa itu berbahaya?" tanya Renata.
"Tentu saja berbahaya," jawab Zayn seraya memperhatikan ekspresi Renata. Perkiraannya memang benar, Adiknya itu masih perduli dengan sang Ayah, "Tapi itu masih bisa diatasi dengan obat-obatan yang sudah diresepkan Dokter. Jika obat-obatan itu tidak efektif, Dokter akan menjalankan tindakan operasi."
Renata terenyuh, perasaan tidak enak menyerang relung hatinya. Mau bagaimanapun, Rendra adalah Ayahnya di dunia ini. Ada ikatan darah yang tidak bisa diputus begitu saja. Meski berkali-kali Renata mengutuk perlakuan Rendra selama ini.
Tiba-tiba Renata merasakan sentuhan lembut pada tangannya, Tangan dengan jari-jari solid milik Tuan J tengah mengungkung tangannya. Seolah-olah memberi kekuatan. Sepertinya, sang suami sadar dengan kekalutan yang dia rasa.
"Renata, apa kamu membenci Ayah?" Zayn memberikan pertanyaan tiba-tiba.
Renata terdiam, tidak langsung menjawab. Namun, mengulang pertanyaan Zayn dalam batinnya.
Membenci Rendra?
"Marah, kecewa, dan benci memang sekilas sama namun juga berbeda," ucap Renata tersenyum getir.
"Ya," ucap Zayn membetulkan.
Tatapan Renata menerawang dan kembali berkata, "Marah dan kecewa adalah dua emosi manusia yang nyaris sama. Namun, sangat berbeda. Marah adalah luapan emosi dan bentuk pelepasan dari ketidaksesuaian dengan apa yang diharapkan. Marah hanya ekspresi, reaksi, dan respon yang muncul secara spontan. Tapi, biasanya masih bisa untuk dimaafkan..."
"...Sedangkan kecewa, level dari marah itu sendiri. Memang seperti tidak ada bedanya. Namun, ada satu hal yang membuat kecewa adalah sesuatu yang lebih mengerikan daripada marah. Yaitu, rasa kecewa sulit dimaafkan. Butuh waktu dan membekas lama."
Renata menarik napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya, "Lalu benci, itu adalah emosi yang kuat dan bentuk ketidaksukaan. Ada rasa ingin menghindar dan menghilangkannya. Benci adalah level tertinggi dari marah."
"Jadi, kamu sedang berada di level mana?" kini Tuan J yang bertanya pada Renata.
Renata mencoba mengutarakan apa yang kini dirasakannya.
"Aku pernah marah dengan Ayah, Aku sering kecewa dengan Ayah, dan aku benci dengan Ayah. Tapi, rasanya aku tidak bisa melakukan itu dengan benar."
Zayan terdiam mendengarkan semua yang Adiknya katakan.
"Jujur, atas semua yang Ayah lakukan padaku, aku langsung mendeklarasikan bahwa aku membenci Ayah."
"Tapi, entah kenapa hatiku tidak sejalan dengan otakku. Hatiku mati-matian menolak untuk membenci Ayah, di saat otakku mengatakan bahwa Ayah patut dibenci. Hatiku mengatakan, biar bagaimanapun juga dia tetap Ayahku, sosok pertama yang seharusnya dijadikan figur, dan nyatanya aku masih sayang Ayah."
Tuan J tertegun mendengar pengakuan Renata. Begitu pula yang dia rasakan pada Theo. Ya, biar bagaimanapun juga Theo adalah Ayahnya, itulah mengapa sang Ibu memberi pesan supaya tidak membenci Ayahnya.
Kenapa mereka memiliki perasaan yang sama seperti ini? Sama-sama menderita karena ketidakadilan sang Ayah.
"Oleh karena itu, otakku mengalah dan aku sadar jika aku bukan membenci Ayah. Tapi aku kecewa dengan apa yang dilakukannya selama ini," lanjut Renata, setelah memberi jeda perkataannya beberapa detik.
Kemudian Renata menolah pada Zayn yang sedang memandangi bagian sisi wajahnya, sehingga pandangan mereka bertaut hingga beberapa saat.
"Terlepas dari sikapnya yang angkuh dan tidak punya hati, aku justru memiliki sudut pandang sendiri sebagai anak perempuan. Aku menangkap bahwa Ayah itu aslinya berhati lembut karena masih mencintai Ibu sampai sekarang."
"Sebenarnya, dia hanya menganggap Santy untuk pelarian rasa terpuruk sepeninggal Ibu. Ayah hanya hilang arah setelah kehilangan belahan jiwanya, dan tidak terima sesuatu yang membuat cintanya pergi, yaitu aku."
Renata sangat tahu bagaimana rasanya jika orang yang paling dicintai pergi untuk selama-lamanya. Hal itulah yang dulu pernah dirasakannya saat Jefra gugur dalam misi. Hati terasa remuk menjadi berkeping-keping, bahkan dia sampai sakit keras dan berakhir meninggal dunia. Meninggalkan putranya yang menangis tersedu-sedu kala itu.
"Aku kagum dengan rasa cinta Ayah pada Ibu, yang benar-benar besar dan mungkin tidak terhingga," Renata berkata dengan menoleh ke samping untuk menatap Tuan J.
Sedangkan Tuan J, entah kenapa merasa hatinya dihujam seribu belati. Dia juga merasa telah melupakan sesuatu yang begitu berharga. Tapi, apa?
Lalu Renata kembali menatap Zayn, dan memberikan senyum terbaiknya.
"Renata..." Zayn memanggil nama Renata dengan suara yang bergetar, "Maafkan Kakak. Dari dulu Kakak janji ingin membuatmu bahagia. Nyatanya, kamu selalu sedih dan menangis. Kakak berharap setelah ini kamu tidak akan merasakan kesedihan itu lagi."
"Kau tenang saja, Zayn. Kini sudah ada aku yang akan membuat Renata bahagia dan menghapus kesedihannya," pungkas Jefra Tjong.
_To Be Continued_