
Esok Malam, tepatnya malam di hari Minggu. Renata diajak Jefra untuk menghadiri pesta.
Pesta ini diadakan untuk merayakan kerjasama antar Tj Corp dan Alenka Corp, dihadiri pimpinan-pimpinan perusahaan yang tergabung dalam pengusaha-pengusaha mudah. Kebanyakan undangan datang berpasangan, hanya beberapa yang datang sendiri.
Meski dengan perut yang semakin membuncit, Renata masih terlihat menawan dengan balutan dress abu-abu gelap dan rambut yang digulung menjadi satu. Jefra juga terlihat gagah dengan tuxedo hitam. Pasangan itu berjalan beriringan memasuki ballroom hotel bintang lima yang memiliki interior nan indah.
"Ini pesta yang megah, Jef," bisik Renata.
"Ya, memang. Ini pesta dari klien yang baru saja bekerjasama denganku. Dia orang kaya."
"Para orang kaya memang punya cara tersendiri untuk pamer."
Jefra tersenyum mendengar perkataan Renata, "Hei, kamu melupakan jika suamimu juga orang kaya."
"Tentu saja aku tidak lupa, suamiku adalah Jefra Tjong yang sangat kaya raya dan juga tampan," kekeh Renata.
"Hmm," Jefra berdeham. Merasa senang dengan apa yang didengarnya.
"Tuan J."
Jefra menatap seseorang yang memanggilnya. Dialah si pembuat pesta.
"Oh, Tuan Lesham."
"Kupikir Tuan J tidak akan membawa istrimu," tukas Tuan Lesham memulai perbincangan dengan ramah.
"Hmm," Jefra hanya bergumam.
"Tidak menyangka jika Nyonya Tjong sangatlah cantik," puji Tuan Lesham yang belum tahu jika betapa posesifnya Tuan J pada istrinya.
"Ah, terima kasih," ucap Renata tersenyum.
"Namaku Lesham. Siapa nama Nyonya?" tanya si lelaki sambil mengulurkan tangan, berniat mengajak Renata berjabat tangan.
Namun, sebelum Renata menyambut tangan Lesham, Jefra terlebih dahulu mendahuluinya.
"Apakah aku juga harus berterima kasih karena Tuan Lesham sudah memuji istriku?" tanya Jefra menatap tajam Lesham, "Dan kurasa nama istriku tidak perlu diketahui Tuan Lesham."
"Y-ya."
Lesham langsung salah tingkah, melirik dengan pandangan serba kikuk pada Jefra Tjong. Ternyata sang CEO sangat posesif pada istrinya.
Kemudian Jefra mulai berdiskusi mengenai bisnis bersama Lesham dan para pengusaha lainnya. Banyak yang ingin membangun hubungan baik dengannya.
Renata pun meminta izin pada Jefra untuk beranjak mencicipi hidangan yang tersedia. Daripada dirinya berakhir kebosanan, karena mendengar pembicaraan seputar bisnis di antara Jefra dan rekan-rekannya, pembicaraan itu pasti lama untuk berakhir.
Ada banyak kue dan makanan ringan lainnya yang terlihat enak, makanan yang menjadi kesenangan bagi lidah. Renata mulai memakan sesuatu yang bisa dimakan dengan santai.
"Hei! Sepertinya kamu kesepian makan sendirian?"
Renata terkejut, seseorang yang paling ingin dihindarinya tiba-tiba saja menyapa ramah. Dia tidak tahu jika Alex juga hadir di pesta ini. Satu hal yang Renata tahu, dia tidak harus menjawab sapaan itu.
Terlihat jika Alex sedang bersama dengan seorang wanita yang mengapit lengannya manja. Wanita itu menatap sinis Renata.
Padahal sudah memiliki pasangan, tapi masih saja mendekati Renata.
"Nyonya Tjong, bukan? Apa kamu dibuang suamimu hingga tersesat di tengah-tengah pesta?" lanjut Alex bertanya konyol, "Oh, tenang saja. Dengan sangat senang hati, aku akan memungut kamu."
Mata indah Renata mengerjap lebar, melototi Alex. Tidak terima dengan apa yang dikatakan pria bermata biru itu.
"Jangan ganggu aku," Renata berkata dingin, mengabaikan perkataan Alex.
"Apa salahnya menyapa wanita cantik?" Alex nampak tidak acuh dengan pengusiran itu.
"Salah besar. Akan lebih baik jika Tuan menyapa wanita lain yang belum bersuami," sengit Renata, memancarkan aura permusuhan.
"Jangan terlalu angkuh, masih beruntung Tuan Alex berinisiatif menyapamu," sahut si wanita pasangan Alex.
Alis Renata terangkat, "Beruntung matamu."
"Kam──"
Alex mendorong wanitanya yang hendak berteriak apa Renata, "Pergi!"
"Kubilang pergi, Lucy," ucap Alex penuh dengan penekanannya, tatapan sangat dingin.
"Ba-baik."
Sebelum berbalik pergi, si wanita menyempatkan diri untuk menatap Renata dengan penuh kebencian.
Apa aku mendapatkan musuh lagi?
Batin Renata memutar bola matanya. Ekspresi menjadi masam.
Alex memandangi wajah Renata, yang masih saja terlihat cantik. Tidak menyangka jika selera Jefra Tjong begitu baik dalam memilih wanita.
"Kamu memang sesuatu sekali, Nyonya. Seorang wanita memang akan lebih cantik jika sedang jengkel."
Renata melongo mendengar pujian yang dilontarkan Alex, dan mampu membuat bergidik ngeri. Benar-benar tidak nyaman.
"Pergilah, jauh-jauh dariku," sewot Renata.
Alex tidak ada tanda-tanda pergi, dia justru terus menggoda, "Kalau aku tidak mau, bagaimana? Aku hanya ingin menemanimu saja."
"Kalau tidak mau pergi, maka aku saja yang pergi," Renata mendengus semakin kesal.
"Nyonya takut Jefra Tjong marah, ya? Padahal dia sedang mengabaikan kamu. Atau kamu sedang takut padaku? Padahal aku tidak mengigit," ucap Alex.
"Untuk apa aku takut pada orang sepertimu?" jawab Renata ketus.
"Hei! Seperti apa maksudnya?" protes Alex tidak terima.
Renata tidak menjawab, memilih berjalan ke sisi lain meja yang dipenuhi makanan, menjauh dari pria yang menurutnya gila itu.
Alex kembali mendekati Ranata.
"Aku masih mau ngobrol. Jefra Tjong sedang sibuk sendiri, bukan? Jadi, kamu bebas bersama dengan siapa saja. Ya, kan?" rayu Alex penuh desakan.
Ingin sekali Renata meninjau muka Alex. Namun, dia tahan sekuat tenaga karena tidak mau merusak pesta. Kali ini harus bersabar.
"Minum?"
Kening Renata mengeryit, menatap minuman yang disodorkan Alex. Hanya menatap, dan tidak berniat menerimanya.
"Tenang saja, oke? Aku tidak memasukkan obat perangsang seperti yang ada di film-film!"
"Ha?"
Renata tercengang. Benar-benar tidak tahu maksud terselubung dari Alex yang tidak menyerah mendekatinya. Meski minuman itu tidak dimasukkan obat, tapi jangan dikira Renata mau menerima...
Namun, semua orang sedang memperhatikannya, berbisik jika Renata sangat sombong karena tidak mau menerima minuman yang disodorkan Alex.
Renata menghela napas berat. Lalu memutuskan untuk menerima minuman itu. Dia hanya tidak mau merusak citra sang suami.
"Bersulang?" pinta Alex mengangkat gelas minumannya.
Dengan terpaksa, Renata menuruti permintaan Alex untuk bersulang. Lalu meminum sedikit minumannya.
"Terima kasih sudah mau bersulang denganku, Nyonya."
Tiba-tiba Alex menarik tangan Renata dan mencium punggung tangannya.
Pada akhirnya, usaha Alex yang mencoba mendekati Renata terlihat oleh sudut mata Jefra. Dia yang tadinya berbicara bisnis dengan Tuan Lesham jadi terhenti mendadak.
"Si brengsek itu," geram Jefra.
Jefra marah melihat Alex yang dekat-dekat dengan istrinya. Darah panas langsung naik ke ubun-ubun melihat punggung tangan Renata dicium pria lain. Tangannya mengepal kuat. Pandangan tajam pada Alex, pandangan menghabisi lawan.
"Aku akan habisi dia!" desis Jefra.
Sontak Tuan Lesham mengikuti arah pandang Tuan J. Dia terkejut melihat yang menjadi sumber kemarahan Jefra Tjong. Sepertinya, akan ada keributan di pestanya ini.
_To Be Continued_