Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Sepasang Alien


Sepanjang jalan pulang untuk kembali ke kediaman keluarga Tjong, Renata tidak membuka suaranya sedikitpun. Dia masih sibuk dengan isi kepalanya, dan terus fokus menatap keluar jendela mobil.


Sedangkan Tuan J, hanya memperhatikan sang istri yang terlihat muram.


"Apa kamu masih ingin tinggal di kediaman keluarga Tan?" tanya Tuan J menerka keinginan Renata.


"Tidak," jawab Renata namun masih menatap ke luar jendela.


"Ingin makan sesuatu?" tawar Tuan J lagi.


"Tidak."


"Ingin jalan-jalan?"


Dengan berat hati, Tuan J membatalkan niatnya untuk menghukum Renata. Padahal dia ingin mengurung istrinya itu di kamar untuk menghabiskan waktu berdua, tanpa adanya gangguan.


Namun, suasana hati Renata terlihat sedang tidak baik. Sepertinya, masih sedih karena pembicaraannya dengan sang Ayah.


Pada akhirnya Renata menoleh, meninggalkan pemandangan sore di luar jendela, "Tidak mau jalan-jalan.'


Namun, dia masih berkata 'tidak'.


Keinginan seorang wanita memang sangat membingungkan, batin Tuan J agak frustasi, dia yang tidak pernah membujuk seorang wanita meras kesulitan.


"Aku ingin bertemu Sanaya," ungkap Renata.


**


Byurr


Air bertekanan tinggi yang terasa sangat dingin, dan perih ketika menyiram tubuh Sanaya yang dipenuhi luka-luka.


Sanaya gelagapan, langsung terbangun. Matanya mendelik dan terbatuk-batuk karena banyak air yang masuk dalam mulutnya.


"Bagus, kamu sudah sadar."


Sanaya melotot tatkala mendengar suara milik seseorang yang paling dibencinya, lalu mendongak dan memandangi orang itu dengan kebencian selangit.


"Re-Renata..." desisnya terasa lemah. Seluruh badannya sakit karena mengalami siksaan fisik ataupun jiwa, jadi Sanaya hanya bisa memberikan tatapan tajam.


Renata tersenyum miring melihat keadaan Sanaya yang sangat menyedihkan, begitu lusuh, dan terlihat tidak tertolong.


Dengan datang ke sini, Renata berharap bisa berdamai dengan perasaan rumitnya. Dia ingin meyakini jika dendam Angel pada Sanaya telah terbalaskan. Namun, sepertinya salah. Sanaya sama sekali tidak terlihat menyesal, atas perbuatan jahatnya selama ini.


"A-aku pasti akan membalas kematian Ibuku, aku pasti akan membunuhmu dan suamimu. A-aku tidak akan bisa tenang sebelum semua rasa sakit ini terbalaskan..."


Lihatlah, bahkan Sanaya sudah memunculkan tekad balas dendam.


Benar-benar tidak bisa mengintropeksi diri. Apa dia tidak sadar, karena ulahnya sendiri yang menyebabkan dia jadi seperti ini?


"Itupun, jika kamu bisa lolos dari tempat penyiksaan ini," ucap Renata menatap sinis Sanaya.


"Re-Renata, ka-kamu benar-benar iblis!" raung Sanaya dengan air mata yang sudah tumpah ruah.


Bola mata Renata memicing tajam mendengarnya, "Jika aku iblis, lantas dirimu apa? Berhentilah bersikap jika kamu adalah orang yang paling tersakiti di dunia!"


Sanaya benar-benar membuat orang kehabisan kesabaran. Kapan wanita itu sadarnya? Apa kepalanya terbuat dari batu?


"Semprot lagi dia!" Renata memerintahkan Bodyguard yang tadi menyemprotkan air pada Sanaya.


Air bertekanan tinggi kembali mengelontorkan kesombongan dan kejahatan si rubah wanita.


"Argh!" Sanaya berteriak kesakitan ketika wajahnya diterjang air secepat badai, seluruh wajahnya memerah, "Sakit! Ampun! Hen-hentikan!"


**


Malam hari telah tiba, udara terasa begitu dingin diluar. Namun, Tuan J justru menemukan Renata sedang berdiri di balkon kamar. Wajahnya diterpa angin, rambut panjangnya mengikuti angin yang berhembus.


Setelah bertemu dengan Sanaya, mereka kembali ke kediaman keluarga Tjong. Akan tetapi, suasana hati Renata masih terlihat buruk.


Tuan J menghela napas, apa yang harus dia lakukan untuk menghibur istrinya? Dirinya bingung. Benar kata Zayn, dia adalah suami payah.


"Masuklah, kamu bisa masuk angin karena kedinginan," bisik Tuan J yang sudah berdiri di belakang Renata, kedua tangannya memegang pagar balkon, mengurung tubuh mungil Renata.


Renata yang sudah sadar dengan kehadiran sang suami dari bunyi langkah kaki yang mendekat, tidak merasa terkejut. Tatapannya masih ke atas langit.


Tuan J mengikuti arah pandang Renata. Saat ini bulan sabit, bintang-bintang terlihat jelas di langit malam yang sedikit berawan.


"Aku berasal dari sana," tiba-tiba Renata berkata sambil menunjuk bintang yang bersinar paling terang, anggap saja itu adalah dunianya yang dulu. Dunia tempat dia dan Jefra berasal.


Suara tawa dari seorang Jefra Tjong terdengar, memang hanya Renata yang mampu membuatnya tertawa.


"Maksudmu, kamu ini adalah alien?"


"Bukan alien. Lebih tepatnya mahkluk yang berasal dari dunia luar bumi ini."


"Itu disebut alien."


Renata bungkam, jika dia alien itu berarti Jefra juga sama. Apakah mereka sepasang alien yang terjebak di sini?


"Sudah kubilang jangan menonton film yang aneh-aneh. Bisa-bisanya kamu menyebut dirimu alien."


Renata mengerucutkan bibir kesal, siapa juga yang ingin disebut alien.


Detik berikutnya, Renata merasakan dagunya ditarik ke samping. Kedua matanya mengerjab tatkala mendapat ciuman singkat di bibirnya.


Setelah itu, Tuan J mencubit gemas pipi Renata, "Jangan menggodaku."


Renata menepis tangan Tuan J, lalu mengusap pipinya yang sedikit sakit, "Siapa yang menggoda? Aku sejak tadi diam."


"Tapi bibirmu tidak bisa diam."


Seketika Renata melipat bibirnya ke dalam. Kenapa jadi bibirnya yang disalahkan?


"Hari ini kamu pendiam sekali," ucap Tuan J sambil mengelus pipi Renata yang merona karena udara dingin dengan jari telunjuknya.


"Kamu sendiri jadi cerewet sekali."


"Itu karena aku bingung kenapa kamu terlihat muram."


Renata tersenyum kecil mendengarnya, "Ternyata kamu sangat memperhatikanku, ya..."


"Hmm," Tuan J berdeham karena tiba-tiba tenggorokannya terasa gatal, dia merasa malu untuk mengakuinya.


Renata meraih kedua tangan Tuan J untuk melingkarkannya pada pinggangnya. Memberi lampu hijau supaya sang suami memeluknya.


"Dingin," lirih Renata.


Kini, Tuan J memeluk Renata dari belakang dengan erat. Mencoba berbagi kehangatan. Dia menghirup kelembutan sang istri. Kepalanya dibenamkan di tengkuk Renata, menyatu dengan gerai halus hitam. Ketika bibirnya berhasil menyentuh tengkuk Renata. Dia mengecupnya pelan.


Tatapan Renata kembali ke atas langit, sambil menumpukan kedua tangannya di atas jemari milik Tuan J, "Apa keterlaluan menyiksa Sanaya hingga sampai seperti itu?"


"Apa sekarang kamu berubah menjadi gadis yang naif? Kamu ingin berbelas kasih pada orang yang telah berbuat jahat padamu?"


"Aku hanya merasa percuma menyiksanya. Dia tidak merasa menyesal, tapi justru semakin menumpukkan kebencian padaku."


"Kamu ingin dia dibunuh saja?" Tuan J berkata dengan entengnya.


"Entahlah."


"Dear," Tuan J berbisik di telinga Renata.


"Ya?"


"Berhentilah berpikir berlebihan. Kamu tidak bisa mengendalikan semuanya, biarkan saja."


Renata terdiam. Hatinya bergemuruh detik itu juga. Ya, benar. Dia memang tidak bisa mengendalikan semuanya.


Dia tidak bisa mengendalikan keterlambatan Rendra yang meminta maaf pada Angel. Dia tidak bisa mengendalikan rasa benci Sanaya yang kini sudah melebihi besarnya gunung. Dia juga tidak bisa mengendalikan alur novel yang benar-benar sudah melenceng.


Memang benar, over thinking hanya akan menciptakan masalah yang tidak pernah ada. Renata terlalu banyak berpikir, sampai melewatkan segala sesuatu yang berharga untuk dia rasakan.


Melewatkan Jefra-nya.


Bukankah dia harus berusaha untuk mengembalikan ingatan Jefra?


"Ya, aku tidak berpikir macam-macam lagi," ucap Renata seraya menarik sudut bibirnya, menciptakan lengkungan yang begitu manis.


_To Be Continued_