
Jefra turun dari mobil mewahnya, mengenakan setelan jas terbaik pilihan dari sang istri. Lelaki tampan dan gagah itu menatap lurus ke depan saat memasuki gedung TJ Crop.
"Tuan Alvaro sudah mengumpulkan seluruh Direktur dan mereka telah memasuki ruang rapat. Dan dia memiliki sebuah proposal di tangannya," lapor Arvin saat Tuan J keluar dari mobil.
Jefra sudah menduga sebelumnya jika Alvaro akan bertindak sangat cepat, bahkan Adik tirinya itu tidak memberikannya kesempatan untuk bernapas. Ini benar-benar sesuai dengan alur novel yang diceritakan Renata.
Ya, Renata sudah memberitahukan Jefra tentang alur novel yang ditulis Elmeyra.
"Ayo pergi," titah sang CEO.
**
Di ruang rapat.
"Sudah sejauh mana dia memimpin perusahaan ini? Apa ada perubahan yang signifikan atas kepemimpinannya?" Alvaro bertanya pada salah satu Direktur.
Pria yang sudah memiliki rambut putih berdecak, "Ck, dia memang baik dalam beberapa hal, tapi dia terlalu tegas dan menekan kita, hal itu membuatku muak."
Alvaro menyeringai samar, lebih dari setengah Dewan Perusahaan berpihak padanya, dia menyalahkan Jefra Tjong yang terlalu tegas dalam memimpin perusahaan.
Siapa yang akan mengikuti J jika dia tidak memberi balasan yang serupa? Mereka yang ditekan olehnya beberapa tahun ini, pasti berpikir bisa membalas dendam sekarang, batin Alvaro licik.
Cklek
Pintu masuk ruang rapat terbuka, menampakan Jefra Tjong yang memasuki ruangan.
Sekelompok orang-orang yang tidak berguna, kelihatan sekali jika mereka ada di pihak Alvaro, batin Tuan J sambil melihat para Direktur.
"Jadi ini kekuatan yang kau kumpulan itu?" tanya Tuan J pada Alvaro dengan datar.
Alvaro hanya tersenyum miring menanggapinya.
Tuan J menatap satu persatu orang yang mendukung Alvaro, "Baiklah, aku akan mengingat wajah kalian."
Seketika wajah orang-orang itu memucat.
"Oh, jadi seperti ini cara kepemimpinan Tuan J? Selalu mengancam bawahannya?" ucap Alvaro dengan senyum sinis.
"Aku tidak mengancam, aku hanya tidak menyukai orang-orang yang berkhianat," sahut Tuan J.
Sebenarnya, Jefra tahu jika orang-orang yang berada di pihak Alvaro tidak menyukai cara kepemimpinannya, tapi dia tidak ambil pusing.
Tidak menyangka saja, mereka berkerja sama dengan Alvaro.
Apa yang mereka harapkan dari anak seorang simpanan? Menjadikan Alvaro CEO?
Tuan J tersenyum miring.
Dia akan melihat perlawanan seperti apa yang ingin mereka lakukan, untuk menggeser posisinya menjadi CEO TJ Crop.
Yang pastinya tidak akan mudah.
Cklek
Pintu ruang rapat kembali terbuka, menampakan Salvina──Sekretaris Alvaro yang sedang mendorong kursi roda dari seorang pria paruh baya yang stroke.
Theo Tjong.
Tuan J menatap datar kehadiran Ayahnya, dia tidak terlalu terkejut.
Sedangkan para dewan perusahaan terlihat begitu terkejut, mereka baru mengetahui fakta jika CEO terdahulu mengalami stroke, memang kondisi sebenarnya dari Theo tidak di sebar luaskan. Orang luar hanya mengetahui jika Theo pensiun tanpa adanya alasan.
Alvaro bangkit dari kursinya, menghampiri dua orang yang baru masuk itu. Lalu mengambil alih kursi roda yang dinaiki Theo, mendorongnya hingga ke tengah-tengah ruangan.
"Pasti kalian terkejut dengan kehadiran Ayahku," Alvaro mulai membuka suara.
Para Dewan saling menatap satu sama lain, mereka memang terkejut.
Sedangkan Tuan J yang duduk di kursi kebesarannya, terlihat berekspresi datar.
"Kondisi Theo Tjong disembunyikan karena keluarga Tjong tidak ingin menanggung malu. Selama ini, Ibuku yang telah merawat Ayah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan, keluarga Tjong bersikap tidak perduli. Bahkan Jefra Tjong tidak pernah melihat kondisi Ayah sekalipun."
Para Dewan mulai berbisik, mereka menganggap jika sikap Tuan J tidak sepatutnya seperti itu.
"Itu sungguh tidak pantas."
"Tidak seharusnya dia mengabaikan Ayah kandungnya sendiri."
"Nyonya Sienna sangat baik sekali."
"Ya, seharusnya putra dari Nyonya Sienna yang mewarisi kekayaan keluarga Tjong."
"Memang tidak pantas jika Jefra Tjong menjadi CEO."
Para Dewan yang justru menjawab pertanyaan Alvaro. Mereka semakin tidak menyukai Tuan J.
**
Terlihat Renata yang sedang memasuki gedung TJ Crop, bukan tanpa alasan di datang ke kantor suaminya. Namun, dia akan membantu sang suami yang tengah menghadapi masalah.
Dan benar saja.
Sesampai di lobi kantor, Renata melihat banyak Karyawan yang ribut karena mendengar pembicaraan di ruang rapat, yang ternyata sedang di siarkan ke seluruh karyawan.
Alvaro sudah menyiapkan semuanya, dia berniat menjatuhkan nama Tuan J di mata seluruh Karyawan Tj Corp.
"Aku tidak menyangka kalau Tuan Theo ternyata stroke."
"Kenapa Tuan J bersikap dingin pada Tuan Theo?"
"Bukankah dia bukan anak yang berbakti? Setelah mendapatkan segalanya, langsung bersikap jahat pada Ayahnya."
"Jika seperti ini, aku berharap jika Tuan Alvaro yang menjadi CEO."
"Alvaro? Bukankah dia selama ini berada di posisi Kelapa Manager? Dia ternyata berjuang menjadi posisi CEO?"
"Jangan konyol, dia marga Tjong juga, tentu saja dia mempunyai hak."
"Tapi dengar-dengar dia anak tidak sah."
"Kenyataannya Nyonya Sienna sangat disayang Tuan Theo."
"Nyonya sudah datang?" Arvin datang menghampiri sang Nyonya Besar.
"Ya, aku baru saja datang," jawab Renata.
Mendengar perkataan Arvin yang cukup kencang, seketika para karyawan yang ribut terdiam, mengalihkan atensi menjadi menatap Renata. Tentunya mereka tahu siapa Wanita cantik itu, mantan Karyawan yang sudah menjadi istri sang CEO.
Para Karyawan langsung menunduk hormat pada Renata. Mereka menjadi mati kutu, karena ketahuan membicarakan Tuan J oleh istri CEO itu sendiri.
"Kenapa diam? Lanjutkan saja obrolan kalian," Renata berkata dengan tersenyum manis.
Namun, senyum itu justru membuat para Karyawan menelan ludah dengan susah payah.
"Aku ingin ke ruang rapat," ucap Renata pada Arvin.
"Tapi, Nyonya──"
Perkataan Arvin terhenti karena Renata menyela, "Aku tahu keadaan ruang rapat yang pastinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja."
"Ya, Tuan J sedang terpojok oleh Tuan Alvaro dan para Direktur yang berada di pihaknya," ucap Arvin membetulkan.
Renata mengelus perutnya yang membuncit, "Bagaimana ini? Padahal anakku ingin bertemu dengan Ayahnya. Aku sedang ngidam bertemu dengan suamiku saat ini juga."
Arvin menggaruk kedua alisnya yang berkedut, jika sang Nyonya sedang ngidam, dia tidak bisa menghalangi lagi. Yang ada, dirinya yang berakhir disalahkan keluarga Tjong jika sang calon pewaris akan sering ngiler.
Arvin tidak tahu saja, jika sang Nyonya hanya beralaskan saja. Lihat saja, Renata sedang terkekeh di dalam hati.
Maaf, Ibu menggunakan kamu untuk bisa bertemu dengan Ayah, batin Renata seolah sedang berbicara pada bayinya.
"Baiklah, aku akan mengantar Nyonya ke ruang rapat."
Pada akhirnya, Arvin mengizinkan Renata.
_To Be Continued_