Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Salju Pertama


Masih berada di balkon. Udara semakin terasa dingin menusuk tulang.


"Sebaiknya kita masuk," ujar Tuan J memecah keheningan.


"Umm," Renata menurut.


Saat mereka berjalan mendekati pintu masuk, tiba-tiba sebuah gumpalan-gumpalan halus berwarna putih turun dari langit, mengalihkan perhatian keduanya.


"Salju...?"


Bola mata cokelat milik Renata berbinar melihat salju yang perlahan mulai turun. Senyum Renata merekah melihat salju pertama turun malam ini.


"Kamu terlihat sangat suka melihat salju," ucap Tuan J yang memperhatikan raut wajah Renata sejak tadi.


"Ya!"


"Kenapa?"


Renata terdiam sejenak. Dia selami dua manik hitam legam di hadapannya.


"Ketika salju pertama turun, berdoalah karena permohonan kamu akan terkabulkan, itu yang selalu orang-orang katakan," jawab Renata kemudian.


"Kamu percaya dengan yang seperti itu?" Tuan J bertanya seakan itu adalah kemustahilan.


Renata mengangkat bahu, "Apa salahnya untuk percaya?"


Kemudian mereka berdua menyaksikan salju bersama-sama.


Bersama dengan dinginnya udara, angin yang berhembus kencang, dan turunnya salju malam ini. Di dalam hati, dengan senyum di wajah dan penuh harap, masing-masing dari keduanya menyebutkan keinginan.


Sesuatu yang mereka syukuri saat ini, Tuan J dan Renata berharap akan tetap memilikinya di masa depan nanti. Mereka mungkin tidak menyadari, tapi harapan mereka serupa.


Ya, suatu hari nanti mereka berharap, bisa menyaksikan salju pertama setiap tahunnya.


Dan kemudian pada akhirnya.


Mereka juga akan bersama selamanya.


Sekian detik keduanya hanya diam dalam hening. Membiarkan alam menciptakan kenangan indah ini, dan tersimpan dalam memori.


Jemari Tuan J menelisik rambut panjang Renata. Merengkuh pelan leher jenjang sang istri. Membawa tubuh mereka semakin berdekatan, hingga bisa merasakan deru hangat masing-masing.


Kedua kening bersentuhan, begitu pula dua ujung hidup mancung. Senyum terukir di wajah cantik Renata. Jemari lentik menyugar rambut hitam tebal Tuan J. Lalu Mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Seperti adanya sebuah magnet yang manarik. Bibir mereka berdua perlahan mendekat, dan berakhir bersentuhan. Mereka berciuman dengan syahdu, mesra, intim, dan penuh cinta.


Dua jantung berdegup kencang. Memburu, tidak beraturan.


Kelembutan bibir Renata terasa menghanyutkan bagi Tuan J. Memabukkan jiwanya yang gersang. Yang sebelumnya hampa tanpa kasih sayang. Merubahnya menjadi rasa yang membuncah bahagia.


Renata terkejut saat Tuan J menggendongnya menuju masuk ke kamar.


"Tu-turunkan, aku masih ingin melihat salju!" protes Renata ingin diturunkan.


"Kamu sudah terlalu lama berada di luar, nanti bisa masuk angin," tanpa acuh pada protes Renata, Tuan J melangkah memasuki kamar.


"Apa kamu khawatir jika aku sakit?"


"Aku akan merasa kesulitan, karena kamu tidak bisa memasangkan dasi."


Wajah cantik Itu merengut dibuatnya. Benar-benar kata penghancur suasana. Renata hanya bisa menggerutu dalam hati.


Namun, tidak lama kemudian Renata tertawa geli saat Tuan J menciumi seluruh wajahnya.


Dia hanya bisa mengerjab ketika sang suami membuka pakaiannya.


"Ma-mau apa?"


Renata menelan saliva ketika melihat pandangan dalam Tuan J pada dirinya.


"Minta jatah."


Dan akhirnya hanya pasrah ketika jemari Tuan J membuka satu persatu pakaiannya dengan lihai.


Satu de sahan terdengar ketika Tuan J mengecup tengkuk Renata. Dan disusul melodi indah lainnya. Hingga akhirnya, mereka berdua bersama-sama terbang ke langit ketujuh.


Sampai tubuh Renata terkulai lemas di pelukan suaminya. Permainan Jefra-nya, memang selalu membuat kewalahan.


Napas mereka susul-menyusul, dalam posisi Tuan J memeluk Renata dengan erat. Lalu mencium pundaknya, "Maaf," bisiknya di telinga sang istri.


"Untuk apa?" tanyanya Renata dengan lirih.


"Untuk hukuman yang selalu saja ingin aku jatuhkan padamu," kata Tuan J.


Renata memeluk Tuan J erat-erat, sementara hatinya menjerit mendambakan cinta dari suaminya itu, "Aku sama sekali tidak keberatan dihukum dengan cara seperti ini."


Sampai akhirnya, Renata mendengar Tuan J mende sah pelan.


"Ada apa?" tanya Renata merasa adanya sebuah keganjilan dari sang suami.


"Kamu membuatku merasa..." Tuan J menjawab, tapi kata selanjutnya seperti tercekat.


"Ya?" desak Renata supaya suaminya melanjutkan kata yang tidak dilanjutkan itu.


Tuan J menghela napas berat, "lupakan."


"Kamu selalu saja berkata 'lupakan', sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Jangan membuatku penasaran dan berakhir tidak bisa tidur," gerutu Renata dengan perasaan yang lelah.


"Nanti saja, kurasa bukan saat yang tepat," pungkas Tuan J ingin mengakhiri pembicaraan.


"Kenapa harus menunggu saat yang tepat?" Renata benar-benar bingung sekarang. Seharusnya tadi dia berdoa supaya bisa bisa membaca isi pikiran seorang Jefra Tjong.


"Tidurlah, nanti juga kamu akan tahu."


"Tapi──"


"Sttt, jangan bicara lagi," keputusan sepihak dari Tuan J memendam keingintahuan Renata.


Renata memang tidak bisa memaksa Tuan J untuk berkata jujur. Sepertinya dia memang harus menunggu saat yang dimaksud suaminya itu.


Tuan J memeluk Renata hingga terlelap. Pada akhirnya, Renata tidak bisa menolak kenyamanan dan kehangatan yang diberikan sang suami. Perkataannya 'yang akan berakhir tidak bisa tidur' ternyata salah.


"Kamu membuatku merasa tergila-gila setiap saat, aku mencintaimu," bisik Tuan J dengan parau, sambil terus memeluk Renata.


Renata hanya merespon dengan tarikan napa yang teratur.


Benar-benar pengecut. Hanya karena takut sebuah penolakan, pria itu tidak bisa mengutarakan perasaannya.


Tuan J beringsut untuk mencium perut rata Renata, "Hei jagoan, segeralah ada di perut ibumu. Supaya Ayah bisa memilikinya selamanya."


**


Satu bulan telah berlalu begitu cepat. Tepatnya, setelah kejadian terbongkarnya kejahatan Santy.


Wanita paruh baya itu dan juga putrinya sudah menghilang bagai ditelan bumi, semua orang tidak tahu ke mana keduanya pergi. Kecuali Tuan J dan juga Renata.


Rendra sendiri sudah tidak perduli dengan kedua wanita itu. Bahkan jika bisa, dia sendirilah yang ingin memberi pelajaran pada dua wanita yang telah membodohi dirinya selama ini.


Namun, dia sudah terlalu tua untuk itu. Yang sekarang menjadi prioritas utama Rendra, yakni memperbaiki hubungannya dengan kedua anaknya.


Hubungan Rendra dan Renata juga kian membaik. Terkadang Renata sering berkunjung ke kediaman keluarga Tan, untuk bertemu Kakak dan juga Ayahnya.


Renata sendiri, dia sudah mulai berkuliah di Universitas terbaik pilihan Tuan J. Karena ingatan masa lalu yang masih melekat di otaknya, Renata tidak merasa kesulitan di awal perkuliahan. Mungkin hingga dia mendapatkan gelar Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa. Dan pada akhir dirinya bisa menjadi seorang Psikiater.


Namun, seperti kehidupan rumah tangganya tidak semulus kehidupan perkuliahan.


Siang itu, sepulang dari kampus. Renata menyempatkan diri membeli kopi di cafe dekat gedung perusahaan milik suaminya. Dia berniat berkunjung ke kantor dengan membawakan kopi untuk Tuan J.


Namun siapa sangka, jika Renata justru bertemu Aslan. Pria itu menghalangi jalannya dan memaksa untuk bicara.


Dan di tengah-tengah pembicaraan mereka, Jefra Tjong tiba-tiba hadir dengan aura... kecemburuan?


"Padahal sudah tertulis jika kamu tidak boleh selingkuh. Jika kamu memiliki laki-laki yang dicintai, lebih baik berterus terang dan segera bercerai."


_To Be Continued_