
"Penampilanku buruk?" tanya Renata, menunduk menatap kakinya karena mendadak merasa tidak percaya diri.
Tuan J menggeleng. Ayolah, kenapa bibirnya terlalu sempit untuk mengatakan satu kalimat pujian?
Renata benar-benar begitu cantik!
"Sebentar."
Setelah mengatakan itu, Tuan J masuk ke dalam kamar mereka. Berjalan menuju lemari. Menarik laci dan mengambil kotak berwarna merah.
Ditatapnya benda itu dengan lekat. Lalu membukanya, dan melihat sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk kupu-kupu.
Ini adalah sebuah kalung peninggalan Ibunya. Sang Ibu berkata, jika kalung ini bisa ia berikan pada wanita yang dicintainya.
Sudah Tuan J putuskan, pemilik kalung ini adalah Renata.
Tuan J menarik napas dengan pelan. Menutup pintu lemari dan pergi menghampiri sang istri yang terdiam di sisi pintu. Lalu berdiri di belakang Renata, yang membuat si wanita kebingungan.
Renata tidak paham dengan apa yang ingin dilakukan suaminya. Tapi rasa terkejut menghampirinya, ketika menyadari Tuan J memasangkan kalung di lehernya.
"Pakai ini, sebagai tanda jika kamu milik Jefra Tjong," ucap Tuan J tepat di belakang telinga Renata. Lalu memberikan kecupan pada daun telinga sang istri dengan lembut.
Renata sempat merinding sesaat. Dia meraba lehernya. Dan benar saja, ada sebuah kalung menggantung indah di sana.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Renata meski di dalam hati merasa begitu senang.
Tuan J menggeleng, dirangkulnya pinggul Renata dengan erat.
"Kupu-kupu merupakan salah satu hewan yang memiliki sayap dan warna yang indah. Kupu-kupu melambangkan sebuah keindahan awal baru di mana bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu beterbangan, daun-daun menguning, dengan suasana penuh perasaan hangat dan bahagia."
"Cantik sekali," gumam Renata kagum.
Renata menunduk, mencoba melihat liontin yang memang berbentuk kupu-kupu cantik. Di dalam hati bertanya-tanya, mengapa Tuan J memberi dirinya kalung yang memiliki makna indah seperti ini.
"Ini adalah kalung peninggalan Ibuku," sambung Tuan J seraya menyusupkan kepalanya pada perpotongan leher Renata. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan istrinya.
Oh, rasanya ingin sekali dia menarik Renata ke ranjang dan mencumbui istri cantiknya itu. Namun, Tuan J harus menahan keinginannya.
Kemudian Tuan J melepas rangkulannya, dan mengulurkan tangan.
"Ayo, kita berangkat."
**
Kediaman keluarga Tan terlihat ramai. Rumah mewah bergaya eropa itu didatangi oleh tamu undangan terpilih. Karena malam ini, merupakan pesta anniversary pernikahan Rendra dan Santy.
Taman luas sudah didekorasi sedemikian rupa. Terdapat meja yang berisikan bermacam-macam makan dan minuman, beberapa pelayan menyuguhi hidangan untuk para tamu.
Memang sebuah pesta yang berkelas.
Terlihat seorang wanita dengan gaun berwarna ungu terang. Dia adalah Santy, dan di sampingnya ada Rendra yang memakai jas berwarna serupa.
"Istriku, kamu sungguh cantik malam ini," ucap Rendra yang sudah benar-benar buta dengan cinta. Dikecupnya punggung tangan Santy dengan mesra, di depan para tamu undangan.
Santy merasa bangga dengan pujian itu. Karena seharian ini, dia dan Sanaya sudah menghabiskan banyak waktu dan juga uang di salon kecantikan.
Mudah bagi Santy untuk membujuk Rendra untuk memperbolehkan Sanaya hadir di pesta ini. Dia berkata akan merasa sedih jika sang putri tidak hadir. Seakan melupakan kelakukan busuk Sanaya, Rendra memperbolehkan putri tirinya itu berada di sini. Padahal Rendra sendiri yang mengatakan jika tidak ingin melihat Sanaya lagi.
Memang tidak ada yang lebih bodoh daripada Rendra. Bahkan, Zayn sampai menahan geram.
Kemudian Rendra menggandeng Santy, membawa istrinya itu untuk menemui para tamu, yang sudah bertepuk tangan untuk menyambut mereka.
Kemudian Santy melirik sombong pada para ibu-ibu sosialita yang hadir. Sama halnya dengan Sienna, Santy juga masuk ke dalam dunia glamor perkumpulan Ibu-ibu sosialita. Setelah kabar Sienna telah diusir dari keluarga Tjong tersebar, Santy lah yang mengisi posisi Sienna menjadi ketua perkumpulan sosialita itu.
Santy tersenyum puas. Kini, kehidupannya telah dipenuhi begitu banyak harta. Apalagi setelah dia berhasil menguasai seluruh harta keluarga Tan nanti.
Memang tidak salah baginya, untuk membunuh Lily dan menikah dengan Rendra.
Suara riuh tepuk tangan masih terdengar. Kini, Santy dan Rendra di depan sebuah meja besar. Ada kue yang menjulang tinggi di sana.
"Ibu, happy wedding anniversary!"
Sanaya datang dengan menubruk Santy, memeluk Ibunya itu. Dia terlihat sexy dengan gaun berwarna merah terang.
"Terima kasih, Sayang," Santy membalas pelukan Sanaya.
Setelah itu, Sanaya menatap takut-takut Rendra yang berada di samping Santy. Dia berniat ingin memperbaiki hubungannya dengan Ayah tirinya itu. Supaya bisa kembali tinggal di kediaman keluarga Tan lagi.
"A-Ayah, a-apa masih marah padaku?" Sanaya berucap terbata-bata, dengan raut wajah minta dikasihani.
Rendra diam tidak menjawab. Dia memang masih marah dan kecewa pada putri tirinya itu.
"Suamiku, apa kamu melupakan permintaanku di hari jadi pernikahan kita? Aku berharap kamu dan Sanaya berbaikan," Santy mengusap lengan Rendra, menunjukan mimik muka memohon.
Dan pada akhirnya, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Rendra tersenyum pada Sanaya.
Sanaya yang melihatnya, langsung memeluk Rendra dan tersenyum bahagia.
"Aku senang Ayah tersenyum lagi padaku. Aku berjanji tidak akan membuat keluarga Tan malu lagi."
Benar-benar sangat manipulatif.
"Ya," jawab Rendra namun tidak berusaha membalas pelukan Sanaya. Teringat dengan foto-foto Sanaya dengan seorang pria paruh baya yang lebih tua darinya, membuat adanya perasaan jijik pada putri tirinya itu.
Namun, demi sang istri, apa boleh buat.
"Jadi Ayah, apa aku boleh tinggal di kediaman keluarga Tan lagi?" tanya Sanaya setelah mengurai pelukannya.
"Itu bukan Ayah yang dapat memutuskan. Jika kamu ingin tinggal, mintalah pada Zayn."
Seketika senyum bahagia Sanaya luntur. Minta pada Zayn? Kemustahilan jika Zayn memberikannya izin tinggal.
"Setidaknya kamu harus membujuk Zayn, Suamiku. Kamu tahu sendiri, bukan? Zayn tidak menyayangi Sanaya," ujar Santy.
Rendra menghela nafas berat, "Nanti akan aku bujuk Zayn."
Mendengar jawaban dari Rendra, Santy dan Sanaya saling tatap. Lalu senyum kemenangan terbit di bibir keduanya.
Kemudian giliran para tamu undangan yang memberi selamat.
"Tuan Rendra, ngomong-ngomong di mana menantu anda? Kami tidak melihatnya."
"Ah, ya, benar! Di mana Jefra Tjong? Malam ini adalah perayaan untuk Ayah Mertuanya. Kenapa dia tidak hadir?"
Pertanyaan itu dilontarkan dari dua orang pria, yang berdiri di hadapannya. Rendra tersenyum kecil mendengarnya. Dia tahu, orang-orang pasti menanyakan keberadaan Tuan J. Menantunya yang hebat itu.
Sejujurnya, Rendra juga menanti kedatangan Tuan J, karena pria itu pasti akan datang bersama Renata. Semenjak keduanya menikah, Rendra belum bertemu dengan Renata lagi.
Di dalam hati kecilnya, Rendra merindukan Renata. Putrinya yang dia benci. Memang benar, rasa sayang akan semakin terasa ketika kehilangan dan sadar bahwa betapa dia telah menyia-nyiakan putrinya itu.
"Hmm, mungkin sebentar lagi dia akan datang."
_To Be Continued_