
Di tempat lain.
Terlihat kedua pria yang sedang duduk berhadapan.
"Kau Alvaro Tjong?" tanya pria bermata biru dengan tatapan tajam.
Alvaro menyeringai samar.
"Aku ingin menikahi Adikmu. Setelah itu berkerjasama lah denganku, Alex Rudiart."
Alex meraih cangkir kopinya dan meminumnya hingga kandas, rasa panas pada kopi yang masih mengepul seperti tidak menyakiti lidahnya.
Prang
Cangkir kopi yang sudah kosong itu dia lempar ke belakang dinding Alvaro, hingga pecahan keramik berhamburan di lantai. Beruntung Alvaro dengan sigap menghindar. Jika tidak, kepalanya mungkin sudah pecah.
Pria gila! maki Alvaro di dalam hati.
Pria yang berada di belakang Alvaro──Marco, terlihat tangannya bergerak perlahan. Memasuki jaket lalu diam di sana, memang pistol miliknya. Ya, pekerjaannya memang melindungi Alvaro yang sedang berhadapan dengan seorang pria yang memegang perekonomian negara F.
Alex Rudiart.
Bukan hanya karena Alvaro memakai Daisy untuk membuat janji, dia tidak mungkin bisa menemui orang sehebat Alex.
Ya, Daisy Liana adalah Adik perempuan kesayangan Alex.
Gery──pria yang menjadi tangan kanan Alex melirik pergerakan Marco, memperhatikan dengan seksama. Dia bersiap memegang senjatanya sendiri. Siap jika nyawa majikannya terancam.
Terlihat Alex yang meledak dengan amarah, karena ada seorang laki-laki yang seenaknya berbicara ingin menikahi Adiknya.
"Apa kau kekasih Daisy yang menculiknya? Dan apa-apaan permintaan kerjasama itu? Kau sedang mengancam? Pasti si brengsek Jefra Tjong yang telah mengirimmu, kan!" Alex berseru keras.
Alvaro tersenyum miring. Dia sangat tahu jika hubungan Alex dengan Jefra tidaklah baik. Hal itu karena beberapa tahun yang lalu, Jefra menolak kerjasama antar perusahaan yang ditawarkan Alex secara tidak terhormat.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Jefra menolaknya. Dikarenakan Alex terkenal sangat licik dalam dunia bisnis. Terlebih pria itu merangkap menjadi seorang ketua mafia, yang banyak membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi jalannya.
Dan Jefra Tjong adalah salah satu orang yang ingin sekali Alex lenyapnya sejak dulu. Namun, usahanya selalu gagal karena banyaknya Bodyguard terlatih yang melindungi Tuan J ke manapun dia pergi.
Ya, itulah alasan banyaknya Bodyguard yang selalu mengawal Tuan J. Ancaman pembunuhan dari Alex Rudiart yang menaruh dendam selalu mengintai.
Dan Alvaro ingin memanfaatkan perselisihan antara Jefra dan Alex untuk mencapai tujuannya. Dia menganggap jika Dewi Fortuna sedang berpihak padanya, karena telah dipertemukan dengan Daisy.
Daisy adalah penghubung dari kerjasama ini.
"Ya, aku memang kekasih Adikmu. Oleh karena itu, aku ingin menikahinya, tapi bukan aku yang menculiknya," ucap Alvaro mulai melancarkan kebohongan.
Alex mengatupkan rahang dengan keras. Terlihat sekali jika dia sedang sangat marah, sampai-sampai matanya memerah, "Siapa yang menculik Adikku?"
"Lihat ini," ucap Alvaro sambil menyerahkan kertas yang terlipat ke hadapan Alex.
Namun, Alex tidak langsung menerimanya begitu saja. Dia menatap kertas itu dengan tatapan tajam.
"Apa itu!" serunya tidak sabaran.
"Buka dan bacalah. Itu adalah surat dari Daisy," ucap Alvaro dengan tatapan sendu.
Alex memberi isyarat pada Gery, dengan menggerakkan dagu ke arah kertas yang tergeletak di meja. Dia tidak ingin memeriksanya secara langsung.
"Apa isinya?" tanya Alex karena sang tangan kanan terdiam.
Kemudian Gery mendekat pada Alex untuk membisikan sesuatu. Saat itu juga, mata biru mendelik. Napasnya berhenti sekian detik lamanya. Bibirnya terbuka sendiri tanpa dia suruh. Segera diambilnya kertas itu dengan kasar, dan membacanya untuk memastikan lagi.
Alvaro yang sangat kucintai. Aku kabur dari negara F hanya untuk bisa bersama denganmu, aku telah menghindar dari perjodohan bisnis yang telah diatur oleh Kakak Alex. Namun, saat aku datang ke kediaman keluarga Tjong, aku diusir secara paksa, mereka bilang jika kamu tidak tinggal di sana. Aku sangat takut karena Kakakmu mengancam aku untuk meninggalkanmu. Saat aku membantah untuk pergi darimu, dia menyuruh orang untuk menangkapku. Aku benar-benar takut jika dibunuh. Tolong selamatkan aku dan anak kita.
Daisy.
Alex membaca surat yang diyakini dari Adiknya. Dilihat penulisannya, begitu mirip dengan tulisan tangan Daisy.
"A-apa i-ini? Dari mana kau mendapatkan surat ini?" gagapnya tidak mempercayai apa yang dia baca.
Sang Adik kesayangan telah diculik musuhnya. Terlebih, sedang mengandung. Lebih parahnya, mengandung anak dari Adik musuhnya.
"Daisy mengirim surat itu ke alamat kantorku. Aku juga baru mendapatkannya hari ini. Surat itu selama ini telah disembunyikan dariku," dusta Alvaro dengan sangat lancar.
"Bangsat! Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Daisy? Beraninya kau merusaknya!" teriak Alex menggebrak meja. Dadanya kembang kempis, rahangnya mengeras, dan matanya semakin memerah bagai banteng di acara rodeo. Berkali-kali menggelengkan kepala.
"Hari, Sabtu. Satu bulan yang lalu. Di Hotel Moonlight. Acara reuni kampus Daisy."
"Sialan! Jadi kau menyeretnya ke hotel?" Alex mengepalkan tangannya di atas meja.
"Tidak, kami saling mencintai," ucap Alvaro tidak ragu-ragu.
"Bukankah kau sudah menikah? Bisa-bisanya kau menipu Adikku!"
"Istriku sudah meninggal. Jefra Tjong yang telah membunuhnya. Bahkan, Ibuku juga dibunuh olehnya. Dan sekarang, dia kembali menyakiti orang yang kucintai. Dia sangat membenciku karena menganggap jika Ibuku yang telah membunuh Ibunya. Padahal Ibunya meninggal karena sakit keras," jawab Alvaro semakin semangat menyebar bisa racun ke otak Alex.
"Bangsat! Jefra Tjong bajingan! Beraninya dia menyeret Adikku dalam dendam sialannya itu!"
"Aku akan segera menemukan Daisy bagaimanapun caranya. Setelah itu, izinkan aku menikahinya. Aku berjanji akan selalu melindunginya," tukas Alvaro dengan mimik wajah bersungguh-sungguh.
"Melindunginya? Kau bahkan telah membiarkan dia diculik! Kau hanyalah sampah keluarga Tjong yang tidak memiliki kekuasaan apapun! Bisa-bisanya kau ingin menikahi Daisy! Adik perempuan dari Alex Rudiart?" amuk Alex tidak segan menghina Alvaro.
Alvaro hanya bisa bersabar, meski ingin sekali merobek mulut Alex yang seenaknya mengatainya 'sampah'.
"Maka dari itu, aku ingin mengajakmu bekerjasama. Jika aku sendiri memang tidak mampu melindungi Daisy. Begitu pula denganmu. Selama ini kamu hanya menyerang Jefra Tjong secara diam-diam, karena masih tidak yakin bisa mengalahkannya, bukan?"
Mendengar perkataan Alvaro, Alex diam dalam kemarahan yang belum mereda, bahkan semakin memuncak.
"Bukankan berdua lebih baik? Kita bisa bersama-sama melindungi Daisy. Meski aku berhasil menemukannya, tidak ada yang menjamin jika Jefra Tjong tidak berusaha menyakitinya lagi. Dia pasti akan terus berusaha menyakiti orang yang aku cintai. Terlebih, saat ini Daisy sedang mengandung," hasut Alvaro semakin memanasi hati Alex.
Di dalam hati Alvaro bersorak. Yakin sekali, jika Alex akan berkerjasama dengannya demi sang Adik tersayang. Wajahnya telah memamerkan senyum kemenangan.
"Sialan!" teriak Alex membalikkan meja hingga terguling. Suara pecah belah menggema. Gery hanya bisa terdiam melihat Tuan-nya mengamuk.
Ayo teruskan, Alex! Banting semua! Saat ini kau pasti sangat ingin membunuh J, bukan? Tapi, kamu tidak tahu jika surat itu adalah palsu karena aku hanya meniru tulisan Daisy, Alvaro terus bersorak di dalam hati.
"Beraninya dia menyentuh Adikku yang sangat berharga! Sialan! Sialaaaaann!" umpat Alex tidak kuasa menahan ledakan amarah di dalam dada.
"Aku akan membunuh Jefra Tjong! Aku akan membunuh dia!"
_To Be Continued_