
"Aku masih mencintaimu, Renata. Bahkan aku tidak pernah bisa menghilangkan perasaan ini meski terus mencoba melupakanmu. Kamu juga masih mencintaiku, bukan? Kita telah bersama selama empat tahun, itu tidak mudah untuk melupakan satu sama lain. Aku akan segera menceraikan Sanaya dan kembali kepadamu. Ayo kita mulai kembali hubungan kita."
Dengan hati yang memar dan ego yang kempes, dengan jiwa yang sedih dan kepala yang menunduk. Alvaro mengakui sudah melakukan banyak kesalahan pada gadis yang berdiri di hadapannya ini, seandainya dia punya kesempatan lagi untuk memperbaiki dan menembus atas semua kesalahannya. Namun, pergerakan Renata yang melepas genggaman tangannya membuat harapan Alvaro koyak.
"Kenapa baru sekarang, Alvaro?" Renata menatap Alvaro seolah-olah itu sudah terlambat.
Seandainya Alvaro mengatakan itu sebelum Renata memasuki tubuh Angel, pasti Angel akan sangat bahagia, karena Angel yang asli sangat mencintai Alvaro.
"Maaf karena aku begitu lama menyadari semuanya," ucap Alvaro terdengar gamang.
"Dulu dengan penuh harap aku menunggumu, selalu mengejar kamu meski mendapat hinaan dan cacian semua orang, karena aku sangat mencintaimu. Tetapi aku sudah sadar, bahwa aku sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti dan tidak akan tergapai. Perasaan cintaku padamu sudah terkikis karena semua luka yang telah kamu berikan."
Alvaro menggeleng untuk membantah apa yang dikatakan Renata, "Kumohon cintai aku seperti dulu lagi, aku berjanji akan memperlakukan kamu lebih baik."
Renata tersenyum hambar, "Namamu sudah tidak lagi terukir di hatiku. Seperti waktu yang tidak bisa diputar kembali. Penyesalan kamu sudah tidak berarti apa-apa untukku."
Hati Alvaro seakan pecah berkeping-keping, terasa sakit sampai tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Lagi pula aku akan menikah dengan Kakakmu. Aku akan menghargai apa yang sudah kumiliki saat ini," sambung Renata memperjelas hubungannya dengan Jefra Tjong.
"Apa..." Alvaro menelan saliva berat sebelum melanjutkan pertanyaannya, "Apa kamu mencintai J?"
"Ya, aku mencintainya."
Renata melontarkan sebuah pengakuan yang begitu mencabik perasaan Alvaro.
Karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Renata berbalik meninggalkan Alvaro.
**
Brak
Renata menutup pintu kamarnya dan bersandar di balik daun pintu, dipegangnya dadanya yang terasa sesak. Air mana menetes di pelupuk matanya.
"Kenapa aku menangis?"
Ya, itu wajar karena sisa-sisa perasaan Angel masih dapat dirasakannya. Angel yang sangat mencintai Alvaro tentu saja merasakan sakit karena tadi Renata menolak pria itu.
Renata menghapus jejak air matanya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan. Renata tidak tahu di mana keberadaan jiwa Angel saat ini. Kenapa perasaan Angel yang sesungguhnya masih bisa dirasakannya?
Namun, kembali lagi pada kepentingan diri sendiri.
"Angel, setidaknya biarkan aku untuk hidup bersama orang yang aku cintai dengan ragamu ini. Lagi pula Alvaro sudah menyakitimu selama ini. Lupakan dia yang sudah menyakitimu," gumam Renata seolah-olah sedang berbicara dengan Angel.
**
Hari telah berganti.
Kemarin adalah kejadian yang begitu mengejutkan bagi keluarga Tan. Siapa yang menyangka, si putri tiri kesayangan akan melakukan hal yang tidak terpuji. Rendra sungguh merasa tertampar dengan kelakukan Sanaya. Niat untuk mengusir Sanaya benar-benar dilakukannya, bahkan dirinya sudah tidak ingin melihat wajah putri tirinya itu untuk seterusnya.
Pada akhirnya, dengan berat hati Santy membiarkan kepergian Sanaya, dan dia sendiri memilih tinggal karena masih memiliki sebuah tujuan.
Untuk hubungan Alvaro dan Sanaya juga sudah diujung tanduk. Sepertinya Alvaro akan benar-benar menceraikan Sanaya. Tapi hal itu tidaklah mudah. Terlebih kebenaran jika Sanaya hanya berpura-pura hamil masih belum terungkap.
Biarkanlah, Renata sendiri tidak terlalu perduli dengan perceraian keduanya.
Terlihat Renata yang sedang bersantai di gazebo, tempat di mana Jefra Tjong pernah membersihkan lakinya yang keseleo. Tempat ini memang sudah menjadi favorit Renata untuk membaca bermacam-macam buku psikologi.
Renata duduk dengan bersandar dan meluruskan kaki, tatapannya fokus pada buku yang sedang dibacanya. Saking fokusnya sampai tidak menyadari seorang yang mendekat padanya.
Renata terkesiap tatkala mendengar suara berat yang begitu familiar. Dia segera mendongak, tapi yang dilihatnya adalah sebuah karangan bunga tulip putih yang begitu cantik dan wangi.
Deg
Jantung Renata seketika terpompa dengan cepat.
Karangan bunga tulip putih?
Kemudian tatapan Renata beralih semakin ke atas. Bola mata cokelat miliknya bergetar ketika melihat pria bermata kelam.
"Kenapa bengong? Ambil bunga ini," ucap Jefra Tjong datar.
Renata seketika tersadar, diambilnya bunga itu setelah meletakan buku yang tadi dibacanya. Ditatapnya kembali bunga itu. Kenapa Tuan J tiba-tiba datang dengan memberikan bunga? Terlebih bunga tulip putih.
Hal ini mengingatkan Renata pada masa lalu. Jefra sangat suka memberikannya bunga tulip putih setelah pergi bekerja cukup lama. Awalnya, Renata tidak tahu jika kepergian Jefra adalah untuk menjalankan misi sebagai mata-mata, dan dia juga tidak tahu maksud dari bunga tulip yang diberikan Jefra adalah sebuah permohonan maaf karena telah berbohong.
Bunga tulip putih sendiri memiliki arti sebagai permintaan maaf atau pengampunan.
"Kenapa memberiku bunga?" tanya Renata berusaha menahan tangisnya.
Sebenarnya tidak ada alasan apapun bagi Tuan J memberikan bunga. Dia hanya mengikuti saran dari para petinggi perusahaan. Hari ini juga dia berniat mengajak Renata pergi jalan-jalan, selagi dirinya sedang libur.
"Aku tidak sengaja membelinya diperjalanan. Kamu bisa membuangnya jika tidak suka."
Oh, seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Tuan J hanya merutuki mulutnya yang tidak bisa dikontrol dengan baik.
Renata memegang kelopak bunga tulip yang berwarna putih, "Aku memang tidak menyukai ini."
Apakah aku salah membawa bunga?
Pikir Tuan J menyalahkan dirinya yang membawa bunga, seharusnya tadi dia membawa cokelat saja. Ingatkan dia untuk mencoret bunga dalam catatan.
"Tapi aku tidak bisa membuangnya karena ini adalah pemberian darimu," sambung Renata dengan menarik sudut bibirnya, tersenyum manis.
Tuan J tertegun melihatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama.
"Hmm," pria itu berdeham sejenak, "Sebaiknya kamu bersiap-siap."
"Kenapa harus bersiap-siap?" tanya Renata heran.
"Aku akan membawamu──"
"Kencan? Kamu ingin mengajakku kencan, ya?" potong Renata sebelum Tuan J menyelesaikan perkataannya.
Renata terlihat begitu bersemangat. Terlebih dengan kedatangan si calon suami pada hari Sabtu ini. Kalau bukan mengajaknya kencan, lalu apa lagi?
"Bukan ken──"
"Baiklah, aku akan bersiap-siap setelah meletakan bunga ini di vas. Tunggu sebentar di sini. Jangan ke mana-mana."
Saking semangatnya Renata langsung ngacir masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan Tuan J yang speechless di tempat. Sepertinya dia takut jika pria itu akan berubah pikiran.
Tuan J menggeleng melihat kepergian Renata, tidak menyangka jika gadis itu akan terlihat begitu senang. Lalu tatapannya teralih pada buku psikologi yang habis dibaca Renata.
"Apa dia ingin menjadi Psikiater?"
_To Be Continued_