
Kedua mata Tuan J terbelalak lebar, saat melihat siapa orang yang menggantikannya tertimpa reruntuhan.
"Re-Renata...? Renata!"
Segera Tuan J singkirkan puing bangunan yang menutupi sebagian tubuh Renata. Kemudian didekapnya tubuh mungil yang bersimbah darah.
Batin Tuan J menjerit melihat keadaan sang istri. Air mata tumpah ruah, dia bahkan sampai lupa bernapas.
"Ku-kumuhon bernapaslah," ucap Renata yang masih memiliki sedikit kesadaran, dengan susah payah.
Wajahnya kehitaman terkena abu dari barang-barang yang telah terbakar, darah mengalir dari pelipis, kepalnya terluka parah. Renata sengaja tidak melindungi bagian kepala karena kedua tangannya memeluk erat perutnya, lebih memilih melindungi sang bayi.
Otomatis tubuh Tuan J langsung melakukan apa yang dikatakan Renata, bau asap dari api yang masih berkobar langsung mengisi tenggorokannya. Ingin sekali dia terbatuk, namun tertahan.
Renata mencoba menarik sudut bibirnya, ingin tersenyum manis tapi justru tersenyum lemah. Lalu tangannya yang gemetar terulur untuk memegang rahang tegas Tuan J.
"Ka-kamu sudah pulang?"
Tuan J melesakkan wajahnya ke tangan kecil milik istrinya itu, "Hmm, aku pulang."
Apa ini? Niat ingin memberi kejutan, tapi justru berakhir seperti ini.
"A-ayo kita keluar dari sini, Je-Jef..."
"Kita pasti bisa keluar dari sini," bisik Tuan J mengecup kening Renata. Dilepasnya jas yang dia kenakan, lalu segera menutupi tubuh Renata.
Meski seluruh penjuru ruang sudah panas terbakar, Tuan J mencoba menenangkan diri, otaknya harus tetap dingin supaya bisa keluar dari keadaan berbahaya ini.
Tuan J terengah-engah, napasnya semakin pendek dan sesak. Sekian detik memandangi Renata yang berada di gendongannya.
Benar-benar panas.
Api semakin membara mengepung keduanya. Menjadikan udara semakin berbahaya untuk dihisap.
"Aku sangat mengantuk dan kepanasan," lirih Renata.
"Bertahanlah, sedikit lagi," ujar Tuan J dengan ekspresi luar biasa khawatir.
"Ja-jangan khawatir, aku tidak apa-apa, Jefra-ku," pandangan Renata mulai buram dan matanya perlahan tertutup, "Aku hanya ingin tidur saja..."
**
Malam yang dingin berubah menjadi malam yang panas dan penuh ketegangan. Sebuah rumah tiga lantai yang sangat besar dengan halaman cukup luas telah dibungkus oleh api. Kobaran api semakin bertambah besar karena tertiup angin yang sangat kencang.
"Pasukan! Di dalam ada dua orang yang masih terjebak! Tim penyelamat segera mencari cara untuk menerobos masuk! Cari korban! Saya akan menghubungi Dinas! Kita akan meminta bantuan tiga mobil kebakaran lagi!" seorang petugas pemadam kebakaran memberi arah kepada bawahannya.
Api yang sudah membungkus rumah besar seperti istana, membuat kesulitan para pemadam kebakaran untuk melakukan pencarian Renata dan Tuan J, maupun memadamkan api.
"Api sudah membakar semua jalan untuk memasuki bangunan!" lapor petugas yang memakai topi putih, yang merupakan tim penyelamat.
"Padamkan api di jalur yang resikonya lebih kecil! Segera mungkin langsung masuk saat apinya berkurang!" sang Komando dengan lantang memerintah para pasukan, "Siram di setiap sisi! Dan tim penyelamat segera temukan korban!"
Keringat yang membasahi tubuh para pasukan pemadam kebakaran, tidak menjadi alasan untuk menghentikan langkah mereka.
Terlihat Zayn dan Rendra yang keluar dari mobil, begitu panik saat mendapatkan kabar jika kediaman keluarga Tjong terbakar. Mereka khawatir dengan keadaan Renata.
"Mana Renata?" teriak Zayn berlari mendekat. Wajahnya memegang, begitu pula dengan Ayahnya.
"Nyonya dan Tuan J masih terjebak di dalam rumah," Arvin memberi jawaban yang menyayat hati.
Rendra lemas dan jantungnya seketika nyeri. Wajahnya shock dan pucat pasi, "Putriku.... Putriku... Renata, Renata..." suaranya terdengar lemah.
"Ayah!" Zayn segera memapah Rendra. Lalu mencoba menenangkan, meski dirinya juga merasa cemas, "Adik pasti akan baik-baik saja."
"Zayn, Adikmu..."
Namun, Rendra tidak bisa tenang begitu saja. Padahal dia baru saja memulai hubungan baik dengan Renata. Kenapa putrinya bisa mendapatkan kemalangan seperti ini?
Zayn mengharapkan keberhasilan Tuan J membawa Renata keluar.
Tiba-tiba, bayangan terlihat menuju jendela. Sosok tubuh melompati jendela.
Tuan J melindungi Renata dengan memeluknya erat. Menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Sekujur lengan dan kaki tergores serpihan kaca, ada api di beberapa bagian tubuh.
Bersama dengan tubuh yang melompat di tengah bingkai jendela, meledak pula rumah tersebut. Menghempaskan Tuan J dengan sangat kencang karena terdorong daya ledak.
Kedua tubuh itu berakhir terguling di tanah. Tuan J masih setia mendekap erat sang istri, tidak membiarkannya terluka lagi. Meski hanya sedikit.
Petugas pemadam kebakaran dengan sigap menyemprot tubuh terbakar Tuan J, hingga apinya padam total.
"Renata! Renata!" seru Rendra segera menghampiri, tanpa memperdulikan sakit pada jantungnya.
"Tuan J!" Teriak Arvin, Sir. Matthew, dan para Bodyguard menghabur menuju Tuan mereka.
Tubuh Tuan J dilentangkan oleh petugas pemadam kebakaran, dalam pelukannya ada Renata, keduanya tidak sadarkan diri.
Kemudian tubuh mereka berdua ditaruh di atas tandu, dan segera dilarikan ke rumah sakit.
**
Kini, Tuan J sudah terbaring di atas brankar rumah sakit. Dari telinganya terlihat mengeluarkan darah, denyut jantung sangat lemah. Dokter segera mengambil tindakan.
"Satu, dua, tiga!" ucap sang Dokter, lalu menyentuhkan alat kejut jantung ke dada Tuan J.
Tubuh Tuan J kejang selama beberapa detik ketika aliran listrik masuk ke dalam dadanya. Menghentak jantung supaya berdenyut normal kembali.
Keringat menetes dari pelipis sang Dokter, karena denyut jantung justru menjadi berhenti.
"Satu, dua, tiga!" alat kejut jantung kembali digunakan.
Jefra, bangunlah. Bukankah kamu masih harus menjaga istri dan anakmu?
Suara sang Ibu yang dirindukannya menjadi pendorong Jefra Tjong untuk bernapas kembali. Seketika denyut jantung pria itu normal kembali.
"Hah!"
Napas panjang dan berat diambil Tuan J. Matanya terbuka lebar dan langsung terduduk. Dia bernapas dengan tersengal, menghirup udara berkali-kali, mengisi udara pada paru-parunya yang terasa perih.
Tuan J baru saja hidup kembali setelah jantungnya beberapa detik berhenti berdenyut.
"Renata..." kata yang pertama kali terucap adalah nama sang istri tercinta, seketika Tuan J teringat jika habis menembus kobaran api bersama dengan Renata.
Tuan J memandang sekeliling, ruang serba putih dan seorang Dokter dan tiga orang perawat. Seketika itu juga, langsung mengetahui jika sedang berada di rumah sakit.
"Di mana istriku?" tanya Tuan J.
Tanpa menunggu jawaban, Tuan J langsung meloncat turun dan berlari keluar. Mencoba mencari Renata-nya.
"Tuan, tunggu!" seru sang Dokter.
Sesampainya di luar, ada Arvin yang menghadang. Mencoba menghentikan, karena Tuan J masih harus menjalani perawatan.
Lihat saja, sekujur lengan Tuan J penuh luka akibat ledakan, serpihan kaca, dan bekas dijilat api.
"Tenanglah, Tuan. Nyonya sedang ditangani Dokter. Sebaiknya luka-luka Tuan diobati terlebih dahulu," ujar Arvin mencoba menenangkan.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Tuan J dengan menyentak.
Arvin diam, tidak menjawab. Dia sendiri juga tidak tahu keadaan Renata.
_To Be Continued_