
Kini jam menunjukkan pukul delapan pagi.
Terlihat Tuan J yang masih terlelap tidur dangan tangan dan kaki melingkar pada sesuatu yang terasa begitu hangat dan nyaman.
"Renata," gumam Tuan J semakin mengeratkan pelukannya.
Kelopak matanya perlahan terbuka. Melihat sesuatu yang dipeluknya itu, yang ternyata adalah guling putih empuk yang tersedia di atas ranjang.
Loh? Kenapa guling? batin Tuan J terkejut dalam tatapan sayu sehabis bangun tidur.
Tuan J menggeliat ke kiri merenggangkan tubuh dan menguap menenggelamkan bola mata hitam miliknya. Kemudian segera bangkit untuk duduk sempurna dengan bersandar di kepala ranjang. Padahal dia masih ngantuk. Tapi pria itu ingin mencari sang istri yang tidak didapati keberadaannya.
"Dear?" Tuan J mencoba memanggil Renata, ia masih menyematkan panggilan sayang untuk sang istri.
"Ke mana dia? Apa dia tidak lelah setelah melakukan 'itu' semalaman?"
Seketika Tuan J memerah karena membayangkan malam yang begitu panas bersama Renata. Bahkan mereka tidak hanya sekali melakukannya. Dan itu cukup membuatnya ketagihan. Rasanya seperti habis memakan buah segar kesukaan.
Tuan J mengusap wajahnya yang memerah, saat itu juga matanya bertemu dengan pergelangan tangan yang sudah terbalut perban dengan rapi. Teringat jika semalam lukanya tidak diperban.
Hati Tuan J terenyuh. Kenapa Renata begitu perhatian padanya? Sampai-sampai merawat lukanya seperti ini.
"Padahal dia sendiri sedang terluka," gumam Tuan J tatkala melihat bercak darah pada seprai ranjang.
Ada rasa bersalah hinggap di hati.
Cklek
Suara pintu kamar mandi terbuka mengalihkan Tuan J. Namun, detik itu juga matanya langsung terbuka dengan lebar.
Jefra Tjong terkejut melihat pemandangan di depan kamar mandi. Dia melihat Renata yang keluar hanya memakai bikini seksi. Tubuhnya terlihat begitu menantang dan terekspos dengan balutan kain berwarna merah mudah.
"Astaga! Apa yang kamu pakai itu, Renata!"
"Bikini," Renata menjawab pekikan sang suami dengan nyengir polos.
Jika ditanya dari mana Renata mendapatkannya, bikini itu adalah milik Angel. Dia menemukannya ketika membereskan koper. Mengabaikan rasa sakit pada area sensitifnya, Renata ingin sekali pergi ke pantai bersama dengan suami tercinta.
Tentu saja Renata tidak akan melewatkan bulan madu yang hanya berlangsung lima hari ini.
"Untuk apa kamu memakai itu? Kamu berniat menggodaku lagi, ya?" Tuan J bertanya dengan nada yang penuh tekanan. Ayolah, sesuatu telah bangkit di bawah sana.
"Enak saja, aku sedang tidak menggoda kamu!" bantah Renata seraya mendekat ke sisi ranjang. Lalu bertolak pinggang, "Aku memakai ini karena ingin pergi ke pantai untuk berenang dan mandi matahari. Ayo kita pergi ke pantai!"
Tuan J menelan saliva susah payah karena Renata justru berpose menantang. Apanya yang tidak menggoda?
Set
"Kyaaa!"
Bruk
Renata memekik tatkala tangannya ditarik Tuan J dan berakhir menubruk dada bidang suaminya. Kemudian segera mendongak untuk melayangkan protes. Namun, yang dilihatnya justru Tuan J yang sedang menatapnya lekat, begitu tajam, dan begitu... berga irah.
Oh, tidak. Siaga satu! Renata tahu arti tatapan itu. Bisa-bisa dia akan berakhir gagal pergi ke pantai karena tidak bisa berjalan.
"Le-lepas!" Renata mencoba memberontak namun sulit melepaskan diri karena tubuhnya seakan terkunci. Dapat dirasakan lengan kokoh sang suami yang memeluk pinggulnya.
Hembusan napas Tuan J menyapu wajah Renata. Aura panas menggema seketika. Wajah tampan Jefra Tjong memang begitu mempesona dari jarak seperti ini.
Renata mencoba memberanikan diri untuk membalas tatapan liar suaminya. Mencoba menyelam pada bola mata hitam memabukkan itu. Sepertinya Renata telah terhipnotis dengan sendirinya. Bahkan dia sudah tidak memberontak lagi.
"Suka dengan apa yang kamu lihat, Dear?" desis Tuan J karena ditatap terus-menerus. Kucing liar miliknya memang tidak ada takutnya sama sekali.
Tidak ada ekspresi yang berarti apapun pada wajah Tuan J ketika mendengar pujian itu.
"Lebih tampan siapa, aku atau mantan kekasihmu?" Tuan J bertanya dengan tersenyum sinis.
Renata mengeryit sesaat. Apa Alvaro yang dimaksud?
Kemudian Renata terkekeh, "Ya, jelas. Suamiku yang paling tampan."
Tuan J segera mencium bibir Renata tanpa aba-aba. Memberikan ciuman, lembut, perlahan, kemudian berhenti. Keduanya kembali bertatapan.
Tangan Tuan J menyelipkan helaian rambut Renata ke belakang telinga. Dapat dirasa kelembutan saat mengelus pipi kemerahan itu. Renata benar-benar cantik dan seksi pagi ini. Mana bisa ia membaginya dengan orang lain dengan membiarkan sang istri pergi ke pantai dengan memakai bikini sialan itu.
Kemudian mata Tuan J beralih menatap bibir buah persik milik Renata. Sungguh tidak bosan meski sudah berkali-kali menciumnya.
Tuan J menyentuh bibir milik Renata dengan usapan pelan dengan ibu jari. Sedangkan Renata memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut itu. Lalu mereka mereka kembali berciuman. Getaran menghajar kalbu keduanya.
"Sudah cukup," wajah Renata segera menjauh karena tidak ingin berlanjut ke step yang lebih gila lagi.
"Aku mau yang seperti semalam," Tuan J mulai menjelajahi tubuh istrinya. Gelora sudah membuncah.
Renata menggeleng cepat. Inilah yang dia takutkan. Setelah si serigala lepas kandang akan menjadi super mesum. Jefra memang tetap Jefra-nya yang dulu. Tabiat mesumnya tidak berubah!
"Kenapa menggeleng? Kamu menolak suamimu? Ingat, kita harus berusaha keras untuk menciptakan pewaris keluarga Tjong!"
Lagi-lagi Tuan J mengingatkan poin nomor empat untuk sebuah kamuflase dari perasaan sebenarnya.
"Itunya masih sakit karena semalam adalah yang pertama bagiku. Masih perih," bibir Renata cemberut, mengerucut ke depan.
Awalnya, Renata menduga-duga jika Angel telah melakukannya dengan Aslan karena foto-foto yang dilihatnya waktu itu. Tapi ternyata ia salah. Ada rasa bahagia karena Jefra-nya lah yang melepas segel itu.
Tuan J berpikir keras mendengar penuturan Renata.
Itunya sakit?
Kemudian dia teringat bercak darah yang sempat dilihatnya.
Tuan J menghela napas berat, merasa bersalah. Ia tarik tubuh Renata ke dalam pelukannya, "Apa semalam aku terlalu kasar?"
Pria itu merasa jika dia sudah gila sekarang. Ia merasa ingin terus memeluk istrinya itu. Bahkan dia telah membuka diri dan membiarkan Renata mengetahui masa kecilnya yang kelam. Timbul rasa percaya jika wanita itu bisa menyembuhkan sakit yang ia rasa selama ini.
Apa yang terjadi pada dirinya? Bukankah dia menolak untuk jatuh cinta pada Renata?
"Tidak kasar kok. Kamu begitu lembut semalam. Aku menyukainya," Renata menjawab dengan merona malu.
Tuan J menghela napa lega.
Suasananya menjadi hening. Namun, tidak terasa canggung sama sekali. Bahkan keduanya merasa nyaman dengan keheningan itu. Tuan J juga masih memeluk Renata seolah-olah tidak ingin melepaskannya.
"Mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Renata memecah keheningan.
"Entahlah."
"Aku ingin ke pantai. Lagi pula kamu juga perlu melakukan aktivitas menyenangkan untuk menurunkan stress hormonal dalam tubuh, itu mampu mengurangi kecemasan."
Taun J teringat jika Renata juga pernah menyuruhnya untuk pergi ke tempat-tempat hijau seperti taman, air terjun dan lain sebagainya.
Sesaat kemudian Tuan J berhenti memeluk.
"Baiklah. Tapi kamu tidak boleh memakai bikini sialan ini."
_To Be Continued_