
"Pasien sudah melewati masa kritis, kandungannya baik-baik saja, tapi──"
"Tapi apa, Dok?" sela Tuan J.
"Tapi, karena benturan keras di kepalanya, kesempatan untuk pasien sadar lima puluh persen. Jika dalam waktu dua puluh empat jam pasien belum sadar, maka kemungkinannya akan semakin kecil, dan kami akan memasang alat penunjang kehidupan untuk menjaga pasien dan bayinya tetap hidup."
"Maksud Dokter istriku bisa saja koma?"
Sang Dokter mengangguk, "Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
**
Dan kemungkin buruk itu telah terjadi.
Dua puluh empat jam sudah terlewat, tapi Renata belum sadar.
Renata koma.
Hari pun mulai berganti, bergulir dengan begitu cepat. Renata dengan wajah pucat pasi masih terbaring di atas brankar. Kali ini, ada yang berbeda dari sosok wanita itu, lebih kurus dengan tulang yang mulai menonjol. Namun, bagi Jefra Tjong tidak membuat cintanya hilang, tidak akan.
Kini Renata sudah dipindahkan ke ruang VIP sejak seminggu yang lalu karena kondisinya mulai stabil.
"Dear. Kamu masih tidak ingin bangun, hmm?" tanya Tuan J, yang terduduk di bangku sebelah ranjang Renata, "Sudah sebulan kamu tidur, apa mimpimu lebih indah daripada bertemu denganku?"
Tuan J tersenyum getir, sangat miris.
Penampilan pria itu kacau, tidak terurus. Bukan Jefra Tjong yang tampan dan sempurna, melainkan pria yang dihujam kesedihan. Kini pakaiannya terlihat lusuh karena tidak disetrika dengan baik, rambut hitamnya mulai memanjang menutupi mata, kumis mulai tumbuh meskipun tipis, kantung mata yang nampak jelas karena kurang tidur.
"Kamu sudah mengambil banyak waktu untuk tidur, Renata," lirih Tuan J, mengecup tangan mungil sang istri, "Bisakah kamu kembali, Sayang? Aku hancur, maafkan aku yang gagal melindungimu."
Tuan J mengadu seolah-olah dialah penyebab sang istri tidur cukup lama.
"Jika ini adalah hukuman untukku karena tidak mengingat masa lalu kita... cukup, Renata. Aku merasa sangat tersiksa dengan keterdiaman dan ketidakberdayaan kamu."
Dia telah ingat semuanya. Tentang kehidupan masa lalunya sebagai Jefra Annefall, suami dari Renata Carissa, dan Ayah dari Radion Isireilov.
Pada kehidupan yang lalu, Jefra adalah seorang anak laki-laki yang dilatih untuk merangkak melalui pipa beton ke penjara. Sejak kecil Jefra memang sudah hidup terlatih karena terlahir dari keluarga kemiliteran, dia sendiri anak bungsu dari seorang Jenderal Besar.
Jefra memilih menjadi seorang Intelijen, karena mengikuti jejak sang Ibunda yang seorang Intelijen wanita berbakat.
Pada akhirnya, pria yang tidak takut apapun itu bertemu dengan Renata──putri seorang Panglima TNI sekaligus Psikiater cantik, dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu.
Setelah melalui lika-liku untuk mendapatkan cinta sang pujaan hati, Jefra bisa menikah dengan Renata. Namun, ada syarat dari sang Panglima TNI, agar Jefra merahasiakan identitas aslinya sebagai Intelijen. Hal itu dilakukan karena Jefra memiliki banyak musuh di luar sana, mau tidak mau dia harus berbohong demi keselamatan wanitanya.
Rumah tangga keduanya berjalan dengan harmonis dan penuh cinta, semakin lengkap dengan kehadiran jagoan tampan di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, Jefra selalu dihantui rasa bersalah karena telah membohongi Renata selama itu.
Apa Renata akan pergi meninggalkannya saat tahu jika hidup dalam kebohongan? Apa Renata bisa memaklumi posisinya? Apa Renata bisa memaafkannya?
Jefra benar-benar takut dengan reaksi yang akan diberikan istri tercintanya.
"Apa yang harus aku katakan pada istriku?"
Itulah kalimat yang selalu Jefra ucapnya pada rekan sesama misinya. Dia ingin sekali jujur pada Renata. Namun, keadaan tidak mengizinkan. Sampai akhirnya, dia tidak bisa berkata jujur hingga ajal menjemput.
Jefra gugur dalam misi sebelum jujur pada Renata. Sebuah penyesalan terberat dalam hidupnya.
Saat sebelas peluru menghujam tubuhnya, Jefra berharap jika diberi kesempatan untuk berkata jujur pada Renata. Ingin meminta maaf pada sang istri atas kebohongannya.
Pada akhirnya, Jefra diberi kesempatan untuk hidup kembali dan bertemu dengan Renata. Tuhan mengabulkan harapannya ketika detik-detik napas terakhir.
Renata telah menjadi istrinya kembali, tapi dengan bodohnya Jefra melupakan kehidupan masa lalunya.
Jefra teringat dengan Renata yang sempat mengenakan cincin batu safir, dia bahkan tidak ingat jika cincin itu adalah tanda cinta mereka berdua. Serta perkataan Renata yang memberitahu jika berasal dari dunia lain, tapi dia malah menganggapnya lelucon.
"Aku berasal dari sana," tiba-tiba Renata berkata sambil menunjuk bintang yang bersinar paling terang.
"Bukan alien. Lebih tepatnya mahkluk yang berasal dari dunia luar bumi ini."
"Itu disebut alien."
Dan dapat disimpulkan jika Renata juga sama seperti dirinya, istrinya juga hidup kembali di dunia ini. Tapi, kenapa baru sekarang dia mengingatnya?
"Maaf, maafkan aku karena tidak ingat padamu, Renata. Aku harap kamu cepat kembali, kamu ingin memukuliku dengan keras tidak apa-apa, asal kamu bangun."
Kembali Tuan J bersuara, kini dengan mata memerah dan menahan tangis. Kepalanya menggeleng sambil memeluk lengan sang istri.
"Sudah cukup, aku tidak kuat lagi, Sayang."
Isak tangis mulai terdengar.
**
Dengan membawa beberapa kuntum bunga tulip putih di tangannya, pria itu berjalan menyusuri pemakaman.
Dia memakai baju tentara musim panas, kemejanya terselip di celana tentara besi dengan rapi. Ikat pinggang cokelat melilit di pinggangnya, memperlihatkan lekuk tubuh maskulin dari pria dua puluh lima tahun itu.
Radion Isireilov.
Tidak lama kemudian, Radion bersimpuh di depan batu nisan yang bertuliskan.
Jefra Annefall.
Renata Carissa.
"Ayah, Ibu, putra kalian datang berkunjung."
"Eh, Radion?"
Renata yang sedang terduduk di samping batu nisan dengan memeluk lutut, langsung berdiri ketika mendengar suara putranya.
Meski sudah lama sekali tidak bertemu dengan Radion, tapi Renata ingat sekali suara berat putranya yang hampir mirip dengan Jefra.
"Kenapa ada Radion di sini?" gumam Renata sambil menatap Radion yang sedang membaca doa dengan khidmat.
Sayangnya, Radion tidak bisa melihatnya. Berkali-kali Renata mencoba menggerakkan tangan di depan wajah putranya, tapi tetap bergeming. Saat ingin menyentuhnya, tangan Renata justru menembus tubuh Radion.
Kemudian Renata menatap lekat wajah Radion yang seperti replika Jefra, hanya saja warna matanya berwarna cokelat. Putranya itu sudah menjadi pria dewasa.
Ke mana bocah laki-laki yang suka menangis saat meminta dibelikan robot mainan?
"A-apa aku kembali ke dunia asalku? Dan sekarang aku menjadi hantu?"
Selama ini Renata memang seperti jiwa yang tersesat, duduk berhari-hari dan berminggu-minggu di sebelah batu nisan yang tertuliskan namanya. Dia tidak mengingat apapun.
Namun, saat mendengar suara Radion seketika ingatannya kembali.
Renata mengigit bibir bawanya.
Bagaimana dengan Jefra-nya yang berada di dunia novel? Apa dia sudah mati karena insiden kebakaran? Tapi kenapa dia kembali ke dunia asalnya dalam bentuk hantu?
"Renata, kembalilah padaku..."
"Eh?"
Renata terkejut mendengar suara Jefra yang memanggilnya, pandangannya berkeliling, tapi tidak menemukan suaminya itu.
_To Be Continued_