
Renata terpaku karena melihat senyuman Jefra yang sudah lama sekali tidak dilihatnya. Dia begitu merindukan suaminya yang tersenyum ceria seperti itu.
Ketampanan Jefra berkali-kali lipat lah sudah. Bahkan lebam di muka tidak mengurangi ketampanannya.
Namun, mendadak hidung Renata mengendus sesuatu yang gosong.
"Oh, tidak masakanku!" pekik Renata langsung terlonjak dari posisinya, "Ah, sudah dulu, aku ingin melihat masakanku!"
Setelah mengatakan itu, Renata langsung berlari keluar kamar untuk menuju dapur.
Tuan J yang melihat tingkah istrinya hanya mengerling geli. Benar-benar lucu sekali.
Tanpa sadar, hatinya telah terketuk oleh Renata saat pintu cinta itu belum siap dibuka.
Renata yang hadir dengan senyum dan perhatian menghangatkan dinginnya hati.
Renata hadir seperti cahaya yang mengalahkan kegelapan yang ada di hati.
Tuan J tidak begitu yakin untuk mengatakan jika dia telah jatuh cinta. Tapi satu hal yang disadarinya, kehadiran Renata merubah hal-hal sederhana pada dirinya.
Ternyata bongkah es yang selama ini berada di hatinya telah mencair, dan kegelapan dalam dadanya kini telah diterangi.
Maka bolehkah dia bertanya, "Apa ini yang namanya cinta?"
Dan pada akhirnya, Jefra Tjong memilih untuk menjatuhkan seluruh hatinya pada Renata. Dia tidak sanggup lagi menahan perasaannya ini.
**
Tidak lama kemudian, Tuan J keluar kamar dengan keadaan yang lebih segar. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Didekatinya Renata yang masih berkutat di dapur.
Sepertinya masakan Renata benar-benar gosong. Lihat saja, wajah cantiknya yang terlihat murung.
"Masakanku gosong," Renata mengadu dengan mata yang berlinang-linang, "Padahal aku ingin menyiapkan makanan spesial untuk menyambut kepulanganmu. Tapi justru mengacaukannya sendiri."
"Memang kamu masak apa?" tanya Tuan J.
"Ayam goreng lada hitam," jawab Renata.
"Tapi lebih mirip dengan ayam goreng arang," celetuk Tuan J.
Mendengar sindiran itu, Renata mendadak lesu. Dia sungguh malu dengan masakannya ini.
Tanpa mengatakan apapun, Tuan J merebut piring dari tangan Renata yang berisi ayam goreng gosong, lalu membawanya ke meja makan.
"Tunggu!"
Renata mengejar Tuan J ke meja makan. Lalu duduk di sampingnya.
Tuan J mengambil piring dan nasi. Memotong ayam terlebih dahulu, kemudian memakan nasi dengan ayam goreng gosong itu.
Renata menatap penuh harap, seraya menggigit bibir bawahnya karena takut masakannya tidak enak.
Sudah gosong. Terus tidak enak? Gagal sudah aku menjadi istri, batin Renata dengan perasaan ketar-ketir.
Tuan J mengunyah, tatapannya masih datar. Seperti biasa, Renata tidak bisa menebak ekspresi suaminya itu.
Pria itu berhenti sejenak. Setelah itu, menelannya.
Renata yang sudah tidak sabar dengan rasa masakannya langsung bertanya, "Tidak enak, ya?"
"Enak," jawab Tuan J singkat. Lalu kembali memakan nasi dan ayam itu.
Karena kurang yakin dengan jawaban suaminya. Dengan berani, Renata menarik tangan Tuan J yang sedang menyendok makanan ke arah mulutnya, dan memakannya.
Belum selesai mengunyah, Renata langsung mengambil tisu dan memuntahkannya.
Rasanya sangat tidak enak. Rasa pahit karena gosong, ditambah rasa yang terlalu manis, sepertinya Renata salah mengira gula menjadi garam. Selain itu ada rasa sangat pedas karena terlalu banyak memasukkan lada. Perpaduan rasa yang sangat aneh.
Ini akibatnya, terlalu banyak melamun saat memasak tadi.
Sedangkan Tuan J, memperhatikan Renata dengan datar.
Renata langsung merebut piring dari hadapan Tuan J, "Jangan dimakan! Tidak enak rasanya, lebih baik aku buang saja, nanti aku buatkan yang baru."
Tuan J merebut kembali piringnya, lalu kembali menyendok nasi dengan ayam, "Tidak," jawabnya yang membuat Renata melebarkan mata.
"Tapi ayam gorengnya benar-benar tidak enak. Aku buatkan yang baru, ya."
"Mubazir."
Renata tersenyum kikuk. Tapi mau bagaimana lagi, rasa ayam goreng yang dia buat memang tidak enak.
Helaan napas berat dihembuskan Renata, "Chef Juna pasti menangis mencicipi ini," gumamnya.
Seketika mimik wajah Tuan J berubah, menjadi muram. Tatapannya terlihat marah. Dan kelopak matanya menyatu dengan alis. Menunjukan ketidaksukaan akan gumaman Renata yang masih dapat dia dengar.
"Siapa?" tanya Tuan J yang memperjelas kembali.
"Siapa apanya," Renata sendiri merasa bingung.
"Chef Juna siapa?" tanya Tuan J dengan penuh penekanan.
Mata Renata mengerjap beberapa kali, "Ah, itu orang yang kukenal," jawabnya kikuk.
Yang pastinya Tuan J tidak mengenal Chef Juna. Lagi pula, orang yang dimaksud Renata adalah Chef terkenal di dunianya dulu. Salahkan dirinya yang keceplosan bergumam.
"Sejak kapan kamu memiliki teman laki-laki? Kenapa aku tidak tahu?"
"Tidak! Aku tidak memiliki teman laki-laki, teman perempuan saja tidak ada!" Renata menyangkal dengan cepat.
Astaga! Kenapa justru berakhir menjadi kesalahpahaman seperti ini? Apa suaminya itu cemburu dengan seseorang yang bahkan keberadaannya tidak ada di dunia ini?
"Apa kamu cemburu?" tanya Renata menyuarakan isi hatinya.
"Hmm," Tuan J berdeham, dia seperti tersedak napasnya sendiri, "Tidak."
Percayalah, Jefra Tjong benar-benar cemburu.
Senyum jahil terbit di bibir pualam Renata, "Mengaku saja. Cemburu pada istri sendiri ini," ucapnya sambil mengedipkan salah satu mata.
"Hmm," Tuan J kembali berdeham, sambil memejamkan mata dan kepala yang disandarkan di bantalan kursi. Dia menggerakkan jarinya, seolah meminta Renata berhenti untuk menggodanya.
Bukan Renata namanya, jika menyerah untuk menggoda sang suami.
"Yasudah kalau tidak cemburu. Kalau begitu aku akan berteman dekat dengan Chef Juna."
Sontak mata Tuan J kembali terbuka, lalu menoleh dan memberikan tatapan tajam pada Renata, "Jangan berani-beraninya."
Tuh, kan! Tuan J memang cemburu!
Renata tertawa dibuatnya. Jefra-nya memang sungguh menggemaskan. Bisa-bisanya cemburu dengan Chef Juna.
"Jangan tertawa, Renata. Ini tidak lucu!" sengit Tuan J menjadi kesal.
Tapi, ini sangat lucu bagi Renata. Bahkan wanita cantik itu tidak berhenti tertawa.
Tua J mendengus kesal karena menyadari jika sang istri sedang menggodanya. Benar-benar nakal sekali kucing liarnya ini. Sepertinya dia harus memberi hukuman.
"Senang sekali kamu menggodaku, ya? Rasakan ini."
Renata tergelak, tatkala Tuan J menggelitiknya hingga air mata menetes diujung matanya.
"Hahaha, ampun!"
"Tidak ada ampun, ampun!" Tuan J terus menggelitik Renata di tempat yang menurutnya sensitif, seperti ketiak dan pinggang.
Renata hanya bisa tertawa, mencoba menghindar tapi sulit. Tuan J sungguh tidak tanggung-tanggung dalam memberi hukuman.
"Hahaha, sudah... sudah, aku tidak kuat. Ampun, Sayang," rengek Renata di sela-sela tawanya.
Pada akhirnya, Tuan J menghentikan aksi menggelitiknya.
"Rasakan, siapa suruh mencari masalah," tukas Tuan J, lalu tertawa renyah.
Renata bengong dibuatnya. Setelah tadi tersenyum ceria, kini Tuan J tertawa lepas seperti anak kecil.
Apa dunia ini sedang tidak baik-baik saja? batin Renata yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Brak
Dan sepertinya, bukan hanya Renata saja yang tidak percaya. Kakek Ashton yang baru saja muncul untuk makan malam, juga dibuat terkaget-kaget dengan sang Cucu yang tertawa. Bahkan sampai menjatuhkan ponselnya.
"Aku sedang tidak mimpi, kan?" tanya Kakek Ashton entah pada siapa.
_To Be Continued_