Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Dear, Kamu Sangat Cantik


18+


"Kamu sudah membuatku gila, jadi izinkan aku untuk melakukannya, Sayang," desis Tuan J.


Renata tertawa kecil melihat suaminya seperti orang kebingungan. Ciuman dari Tuan J membuat hatinya senang.


"Lakukan saja," Renata tersenyum lembut memberi izin. Melihat sang suami yang mematikan lampu agar tidak terang benderang──hanya meninggalkan sebuah cahaya remang dari lampu kecil dekat tempat tidur, lalu melompat ke atas tubuhnya hingga kasur bergetar menggerakkan manusia di atas sana.


Dasar mesum.


Wajah Renata masih dihiasi senyum tatkala melihat penampakan indah Jefra Tjong yang berada di atasnya, mengungkungnya namun berusaha menahan tubuh dengan lengan agar Renata tidak merasa berat. Renata sama sekali tidak keberatan.


"Salahmu sendiri yang menggodaku. Kamu harus tanggung jawab karena telah membangkitkan hewan buas yang sedang tertidur," Tuan J berkata dengan hasrat yang sudah diujung kepala.


Renata memberi cengiran lucu, "Aku kira kamu tidak tergoda."


"Aku adalah pria normal, tentu saja tergoda! Bahkan aku mencoba bertahan sejak kamu selesai mandi!" pada akhirnya Tuan J mengakui apa yang dirasakannya.


Sudahlah, dia sudah tidak perduli dengan gengsi.


Yang Renata tahu, Jefra-nya sangat pandai menahan hasrat. Di masa lalu, Jefra sangat menjaga kehormatannya ketika mereka masih pacaran, itulah mengapa dia begitu berani menggoda suaminya itu. Renata ingin menguji sampai sebatas mana pria itu bertahan.


"Kamu hebat karena bisa menahan──"


Suara Renata terhambat, digantikan dengan de sahan halus ketika tangan nakal milik sang suami menyapa kulit pahanya, membuat gerakan halus seperti ombak menabrak pasir di pantai.


Sejak tadi Tuan J memang sudah ingin menjelajahi paha mulus sang istri. Sudah dia duga, rasanya begitu halus. Telapak tangannya meraba paha Renata yang sedari tadi sudah merayu manja. Menekan gemas hingga merambat naik ke atas.


Namun, Renata menahannya.


"Kenapa?" tanya Tuan J mengeryit bingung.


Apa Renata tidak memberi izin untuk menyentuh lebih jauh lagi?


"Sayang," Renata meraih rahang sang suami, kembali mencari segala perhatian mata hitam yang begitu memabukkan, "Bukan seperti itu caranya. Jangan terburu-buru."


Tuan J menatap tepat pada bola mata cokelat Renata yang baru ia sadari sangat indah.


"Kamu sebenarnya ingin melakukannya denganku atau tidak sekarang? Jangan membuat suamimu yang sudah kepanasan ini menjadi tidak sabar. Aku memang harus melakukan ini dengan cepat supaya tidak ada yang mengganggu lagi."


Ada tawa keras keluar, sesaat Renata memberi senyum dan tatapan jahil. Mendengar keluhan dari Tuan J semakin membuatnya gemas pada suaminya itu.


"Tenang saja, tidak ada yang akan mengganggu kita lagi. Jadi tidak usah terburu-buru. Bukankah ini malam pertama kita?"


Bagi Renata, ini bukanlah malam pertama mereka. Tap sayang, hanya dia yang mengingatnya. Oleh karena itu, Renata ingin malam ini menjadi kenangan yang tidak kalah mengesankan dari malam pertama mereka yang sebelumnya. Renata berharap jika ingatan Jefra akan kembali setelah ini.


Walaupun kemungkinannya sangat kecil.


"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati," ucap Tuan J yang setuju dengan permintaan Renata.


Kemudian Tuan J meraih tangan kanan Renata. Membuat si empunya tersentak saat merasakan sensasi basah ketika sang suami mengulum jari-jarinya, lalu telapak tangannya dikecup, kecupan itu beralih ke pergelangan, dan menjalar hingga semakin ke atas.


"Dear, kamu sangat cantik," bisik Tuan J ketika sampai di depan daun telinga Renata, dan memberi kecupan di sana.


Seketika itu juga wajah Renata yang sudah merah semakin memerah. Oh, ini adalah pujian pertama yang ia dapatkan dari suami kakunya.


Dengan jantung yang berdetak menggila Renata mengalungkan ke dua tangannya pada leher Tuan J, dia membuka bibirnya memberi akses sang suami untuk melumαt lebih dalam, lalu Renata mencoba membalas dengan mengecap bibir suaminya dengan gerakan yang sama.


Mereka berdua hanyut dan tidak bisa berhenti, ciuman yang begitu sensual dengan tubuh yang semakin merapat satu sama lain.


Tuan J melepas tautan bibir mereka hingga menciptakan benang saliva di antar bibir keduanya.


Tatapan mereka bertemu dan saling mendamba.


"Dear."


Renata sangat menyukai suara berat magnetik yang mengalun lembut itu, "Ya," jawabnya.


"Kamu membuatku ingin balas dendam."


Ya, Tuan J ingin membalas sang istri yang sudah menggodanya duluan, membalas dengan sesuatu yang memabukkan tentunya. Dia akan mempraktekkan langsung tips malam pertama yang panas saat ini juga. Ingin sekali dia menjadikan kucing liar miliknya itu tidak berdaya.


Kemudian Tuan J menyibak gaun tidur itu untuk lepas dari tubuh indah Renata, melemparnya ke lantai. Sudah tidak perduli dengan gaun tipis itu, sebab yang ia cari adalah ini──penutup terakhir berwarna hitam yang sungguh seksi. Tidak ingin repot melepas, hanya menyingkap ke atas. Kemudian mulutnya menangkap apa yang ada di dalam sana, menghisap dengan gemas.


Membuat de sahan sang istri menggema lembut, menyebar di suasana remang kamar.


Pada akhirnya Renata sendiri yang melepas penutup terakhir yang dikenakannya. Begitu pula dengan Tuan J yang melepas celana. Kini tidak ada lagi kain pengganggu di antara aktivitas panas mereka.


Permukaan tubuh tanpa penghalang yang bergesekan tentunya membuat keduanya kian bergelora.


Renata menikmati mulut lihai Tuan J yang mengulum setiap kulit di antara dada dan leher, setiap napas membuat bulu halus meremang, membuat Renata tidak tahan. Terlihat Tuan J kini sudah semakin nakal dengan memainkan yang ditengah sana tanpa berniat memasukkan, yang membuat gerak tubuh Renata kian tidak sabar. Sungguh tidak kuasa untuk menerima segala serangan sana-sini dari tangan dan mulut dari suaminya yang ternyata begitu ahli.


Melihat betapa tidak berdayanya si kucing liar membuat Tuan J tersenyum bangga.


Namun, tangan lembut Renata meraih kelemahannya. Tuan J mendesis sebagai reaksi. Lalu melirik tajam Renata, yang saat ini tersenyum seduktif sebagai bentuk godaan.


"Kamu menggodaku lagi, hmm? Benar-benar tidak kapok!"


Tuan J melepas tangan sang istri dari cengkraman lembut dari pusat hasratnya. Menggenggam erat kedua tangan kurus Renata naik ke atas kepala agar tidak bertingkah. Karena ini saat dia melakukan aksi sesungguhnya


Mulai melesakkan sesuatu yang membuat Renata menjerit kesakitan.


Setelahnya, berakhir geram dan de sah yang menjadi kesatuan. Pertanda permainan telah dimulai.


De sah kenikmatan sang istri menjadi sebuah benang penarik bagi Tuan J, memancing gerak tubuh kian memburu, hingga membuat seolah-olah mematahkan pondasi ranjang di mana keduanya berada. Perut mulai menekan otot, panggul membentur keras, terasa sakit namun nikmat itu bertemu dalam satu pencapaian.


Tuan J mencengkram tubuh Renata dengan pelukan hangat, saat semua hasrat berasil dia lampiaskan yang berakhir dengan keringat. Panas membuta kini menjadi panas lega.


Renata menyambut pelukan hangat sang suami dengan memejamkan mata.


Pria itu tersenyum dan mengecup kedua mata yang ditumbuhi bulu lentik, "Terima kasih, Dear."


"Hmm."


"Jangan tidur dulu, aku masih mau," ujar Tuan J membuat Renata langsung membuka mata lebar.


Tentu saja Jefra Tjong tidak akan menyia-nyiakan malam tanpa gangguan ini.


_To Be Continued_