Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Prinsip Kesetiaan


"Aku tidak selingkuh," Renata membantah dengan pasti.


Kini, Renata sudah berada di dalam mobil Lamborghini Hitam milik Tuan J, duduk di kursi belakang, berdampingan dengan si calon suami.


Tuan J terdiam. Bantahan Renata memang sejak tadi tidak dipedulikan. Hal itu karena Tuan J melihat bagaimana Alvaro menggenggam tangan Renata, serta ekspresi menangis, tersenyum, dan tertawa dari gadis itu saat berhadapan dengan mantan kekasihnya. Dia memang tidak bisa mendengar apa yang tengah keduanya bicarakan. Namun, entah kenapa Tuan J tidak menyukai itu.


Renata menarik-narik lengan jas yang dikenakannya Tuan J, "Kamu marah?"


"Siapa yang marah?" bantah Tuan J cepat. Ditepisnya tangan Renata karena teringat jika tangan itu habis dipegang Alvaro, "Jangan memegang aku dengan tanganmu yang kotor."


"Tanganku bersih, lihat!" bibir Renata mengerucut lucu seraya menunjukkan kedua tangannya pada Tuan J.


"Pakai ini, Nona," ujar Arvin yang menyodorkan tisu basah dengan tangan yang menjulur ke belakang, sedangkan tubuhnya masih tegak karena fokus menyetir, "Tuan tidak suka dipegang karena tangan Nona habis digenggam Alvaro."


Renata berkedip beberapa kali sebelum menerima tisu basah yang disodorkan Arvin.


"Tuan memang sering kali mengatakan sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan isi hatinya," sambung Arvin bermaksud menjawab kebingungan Renata.


"Tutup mulutmu, Arvin!" seru Tuan J.


Seketika Arvin langsung bungkam. Sungguh, Arvin tidak bermaksud apa-apa untuk ikut campur dalam hubungan asmara Tuan-nya itu, tapi dia hanya merasa gregetan karena Tuan J masih saja gengsi untuk mengakui rasa cemburunya.


Renata menatap Tuan J dengan takjub, "Kamu cemburu?" tanyanya agak ragu.


"Cemburu?" Tuan J bertanya seolah-olah itu adalah lelucon, "Yang benar saja," lalu membuang pandangan ke arah jendela mobil.


Renata mendengus sebal. Kemudian mulai membersihkan tangannya dengan tisu basah, "Kalau tidak cemburu kenapa menjadi mata-mata gadungan? Aku tahu kalau kamu mengawasi aku dari meja lain."


Tuan J terhenyak dan menoleh kembali untuk menatap Renata, "Aku yang sangat sibuk tidak mungkin melakukan hal tidak berguna seperti itu. Aku hanya mampir untuk membeli kopi dan melihatmu sedang berselingkuh."


"Sudah kubilang, aku tidak selingkuh. Kami hanya sekedar mengobrol saja tadi."


"Kami?" Tuan J kesal dengan kata itu.


"Aku dan Alvaro."


Tuan J mengusap kasar wajah tampannya.


Pria itu bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri, ada apa dengannya, kenapa dia sangat tidak menyukai jika Renata dan Alvaro bersama. Hal ini semakin membuat ia kesal karena mengingatkannya pada kejadian semalam, kejadian Renata yang menganggap dirinya Alvaro saat mereka berciuman.


Jefra Tjong sungguh tidak mengerti dengan perasaan aneh yang tengah ia rasa. Yang pastinya, hal ini sudah menyimpang dari perjanjian yang telah ditandatanganinya. Dia tidak boleh membawa perasaan apapun, begitu pula sebaliknya.


Aku harus menghilangkan perasaan aneh ini.


Jefra Tjong tidak mau memiliki perasaan mendalam pada orang lain karena akan membuat dirinya menjadi lemah. Kecewa, hancur berkeping-keping, kesengsaraan, dan air mata. Dia tidak ingin merasakan hal yang dulu Ibunya rasakan saat mencintai Ayahnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" pertanyaan Renata menyadarkan Tuan J.


Renata merasa bingung dengan Tuan J yang tiba-tiba diam, seolah-olah sedang berpikir keras. Renata tahu dari alis pria itu yang mengerut.


Tuan J tidak menjawab, ditatapnya Renata, yang ditatap pun menatap balik. Keduanya saling menatap dengan intens, dan itu berlangsung cukup lama. Arvin yang melihat interaksi keduanya dari spion tengah merasa terheran-heran.


"Bicara saja jika ada yang ingin kamu katakan," Renata melipat tangannya. Oh, ayolah, dia itu bukan seorang cenayang yang mampu membaca pikiran dengan saling menatap seperti ini.


"Arvin, hentikan mobil dan keluarlah."


**


Mobil Lamborghini Hitam itu berhenti di pinggir jalan. Jalan kali ini cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melaju di jalan tersebut. Arvin sudah keluar dan memantau keadaan jalan bersama para Bodyguard.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Renata membuka suara terlebih dahulu.


Renata merasa agak canggung dengan suasana hening yang tercipta di dalam mobil yang hanya ada dirinya dan Jefra Tjong.


"Aku hanya ingin mengingatkan tentang perjanjian yang telah kita sepakati. Jika kamu masih ingin bersama dengan Alvaro sebaiknya kembali saja padanya. Aku tidak mau jika setelah kita menikah kamu diam-diam bermain dengannya di belakangku," ucap Tuan J.


Renata meremas rok sebawah lutut yang sedang ia kenakan. Merasa kesal dengan Tuan J yang masih saja menganggapnya mencintai Alvaro. Kenapa pria itu tidak mengerti dengan segala kode yang telah dia berikan? Padahal sudah sangat jelas jika Renata kerap kali mencari perhatian pada Tuan J karena pria itulah yang dicintai Renata. Sungguh tidak peka sekali.


Ingin rasanya dia mengatakan secara gamblang, tapi Renata takut kalau Jefra-nya menjadi menjauh. Terlebih dengan permintaan pria itu yang tidak ingin membawa perasaan dalam pernikahan mereka nanti.


"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Alvaro. Kamu tenang saja, aku tidak mungkin berselingkuh di belakangmu. Prinsip hidupku adalah setia dengan satu pasangan. Aku bahkan ingin pernikahan kita berlangsung selama-lamanya," ungkap Renata dengan tatapan serius.


Ya, setidaknya Renata akan meyakinkan Tuan J tentang prinsip kesetiannya.


Tuan J tertegun sesaat.


Prinsip kesetiaan? Apa itu benar-benar ada?


"Kesetiaan itu datangnya dari hati dan niat, bukan dari sebuah kata-kata," ucap Tuan J terselip adanya ketidak percayaan atas apa yang diungkapkan Renata.


"Ya, aku tahu itu. Apa yang aku katakan bukan hanya sekedar omongan saja. Aku akan membuktikannya agar kamu percaya," tukas Renata bersungguh-sungguh.


Tuan J tersenyum miring, masih tidak mempercayai Renata, "Jangan bohongin dirimu sendiri. Bahkan pernikahan kita bukan karena dasar cinta. Pernikahan kita hanya sebuah keuntungan satu sama lain."


"Lantas bagaimana jika..."


Aku mencintaimu, sambung Renata dalam hati.


"Jika apa?" Tuan J mendesak Renata untuk menyelesaikan perkataannya.


"Jika saja salah satu di antara kita memiliki perasaan," Renata melanjutkan perkataannya dengan hati-hati.


"Ingatlah poin terakhir yang aku tuliskan di surat perjanjian. Jangan membawa perasaan dalam pernikahan karena akan merepotkan."


Hati Renata seakan diremas dibuatnya, begitu ngilu dan sesak. Jefra Tjong benar-benar tidak ingin membawa perasaan dalam pernikahan mereka. Padahal Renata sangat berharap supaya Tuan J melupakan poin terakhir itu.


"Aku mengharapkan jika kamu tidak melanggar apa yang telah kita sepakati."


Tapi aku ingin melanggarnya, batin Renata bertolak belakang dengan harapan Jefra Tjong.


Renata menunduk dan menatap cincin yang melingkar manis di jarinya, lalu mengusap permata batu safir pada cincin itu.


Sett


"Cincin ini..." tiba-tiba saja Tuan J meraih tangan Renata, "Kenapa sangat familiar? Kamu mendapatkannya dari mana?"


_To Be Continued_