Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Dijaga Oleh Dua Kesatria


Di dalam mobil, jantung Tuan J tidak henti-hentinya berdebar tidak karuan. Dia selalu mencuri-curi pandang pada sang istri yang tengah duduk di sampingnya itu.


"Sayang," panggil Renata menoleh ke samping, menatap Tuan J yang langsung memalingkan mukanya.


Sial! Kenapa aku menjadi seperti maling yang curi-curi pandang! batin Tuan J gusar dan gugup.


"Hmm, ada apa?" tanya Tuan J, kemudian fokus pada stir mobil.


"Terima kasih."


"Untuk?" Tuan J tidak paham alasan dari ucapan terima kasih itu.


"Untuk bunga, dress cantik, dan kalung yang kamu berikan. Padahal aku sedang tidak ulang tahun hari ini," ungkap Renata yang disertai tawa kecil di akhir.


"Baiklah, lain kali aku akan menunggu hari ulang tahunmu ketika ingin memberikan sesuatu."


Oh, My. Sepertinya, Renata salah bicara.


"Tidak seperti itu juga," alis Renata berkedut dibuatnya.


"Jadi seperti apa?"


"Tidak harus menunggu ulang tahunku dulu, ka-kamu boleh kok memberiku sesuatu."


Kenapa jadi terkesan Renata yang labil di sini?


Tuan J tersenyum tipis, "Jadi kamu sangat mengharapkan sesuatu dariku, ya?"


"Memangnya tidak boleh mengharapkan sesuatu dari suamiku sendiri?" Renata mencebikkan bibir sebal.


Tiba-tiba Renata merasa sentuhan hangat di punggung tangannya. Tatapnya langsung tertuju ke bawah, dan mendapati Tuan J yang meremas punggung tangannya yang bertengger di atas paha.


"Boleh, apapun untukmu," ucap Tuan J lebih mirip seperti gumaman, tapi masih dapat didengar oleh Renata.


Renata menatap Tuan J, tapi sang suami tidak memberi respon apapun. Tetap diam, dan fokus menatap jalan di depan.


Apa aku tidak salah dengar? batin Renata merasa tidak percaya.


Kemudian Renata kembali menatap ke bawah. Meski tidak tau alasan spesifik dari tindakan Tuan J yang menggenggam erat tangannya. Dia tidak keberatan dan membiarkannya.


Selama perjalanan, Tuan J terus menggenggam tangan Renata. Sesekali dia melepasnya, ketika ingin memutar kemudi ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, dia kembali menggenggam tangan istrinya itu.


Padahal Renata tidak mungkin hilang ataupun kabur.


Sampai akhirnya, mereka sampai di kediaman keluarga Tan. Tuan J menghentikan mobilnya di deretan mobil mewah yang sudah terparkir rapi.


Tuan J turun terlebih dahulu. Lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Renata.


Renata tersenyum kecil, merasa senang karena sang suami memperlakukannya dengan istimewa.


"Terima kasih," sudah kedua kalinya Renata mengucapkan terima kasih.


"Hmm."


Kemudian Renata berinisiatif memeluk lengan kokoh Tuan J dengan erat, ketika mereka melangkah ke tempat di mana pesta berlangsung.


Semua tamu undangan mendadak hening tatkala keduanya sampai.


Bagai menyambut seorang raja dan ratu, seketika semua tatapan tertuju pada Tuan J dan Renata. Keduanya benar-benar menjadi pusat perhatian.


Tidak heran, karena nama Jefra Tjong sudah dikenal banyak orang, dia adalah pemimpin perusahan nomor satu di dunia selama beberapa tahun terakhir ini. Dan sudah pasti, Tuan J merupakan orang yang sangat dipuja.


"Itu Jefra Tjong dan istrinya!"


"Putri pertama keluarga Tan memang benar-benar cantik."


"Putri pertama? Bukankah hanya dia putri satu-satunya keluarga Tan?"


"Oh, aku kira keluarga Tan memiliki dua putri."


"Bukankah mereka terlihat sangatlah mesra?"


"Oh, astaga! Pasangan yang sangat sempurna!"


Banyak gumaman yang mulai terdengar, hingga sampai di telinga Sanaya dan Santy.


Sanaya mengepalkan tangan dengan erat. Menyimpan amarah yang ingin sekali dia semburkan pada Renata.


"Sudah Ibu bilang, kamu salah menikah dengan Alvaro, seharusnya kamu menikah dengan Jefra Tjong. Lihatlah sekarang, kehidupan si jal*ng kecil itu benar-benar beruntung dibandingkan denganmu, Sanaya," bisik Santy yang seperti menyiram bensin pada kobaran api.


Semakin geram lah Sanaya.


Renata menyadari tatapan sinis dan penuh rasa iri dari Sanaya, dia yakin sekali jika itu ditunjukkan padanya. Kemudian Renata memberikan senyum miring pada Sanaya.


Sungguh, Renata tidak perduli jika amarah Sanaya semakin menggila.


"Wanita itu terlihat sangat membencimu," ucap Tuan J dengan pelan, ternyata bukan hanya Renata yang sadar dengan tatapan Sanaya.


"Tidak apa-apa, dia memang selalu menganggapku musuh," sahut Renata.


"Aku bisa melubangi kepalanya saat ini juga, jika dia membuatmu terganggu."


"Hah?" Renata hampir tersedak salivanya sendiri.


Bisa-bisanya Tuan J mengatakan ingin melubangi kepala Sanaya, seakan sedang menawari Renata sebuah permen.


"Ja-jangan, biarkan saja," cegah Renata agak kaku.


"Hmm."


Mencoba mengalihkan kesadisan sang suami. Renata mengumbar senyum manisnya, menyapa balik orang-orang yang tersenyum padanya.


Namun, tindakannya justru menimbulkan kerutan ketidaksukaan si wajah tampan Tuan J.


"Tidak perlu senyum, Renata. Simpan senyummu untukku."


Spontan Renata langsung mengatupkan bibir dengan rapat. Dia tidak mengerti, kenapa Tuan J melarang untuk tersenyum.


Kemudian mereka memberikan ucapan selamat pada Rendra dan Santy. Tidak banyak yang mereka katakan. Untuk sekedar basa-basi saja tidak.


Rendra sendiri paham dengan jarak yang diciptakan Renata. Dan itu cukup membuat hatinya tercubit. Padahal dia merindukan putrinya itu.


Renata justru langsung menghampiri, dan memeluk Zayn.


Kini, yang bisa dilakukan Rendra hanya menatap Renata sendu. Sang putri sudah tidak perduli padanya, tidak ada lagi rengekan dari putrinya yang mengejar-ngejar kasih sayangnya.


Sepanjang acara. Rendra menerima ucapan dari orang-orang dengan senyum. Tapi, tidak dengan suasana hatinya yang kacau.


Tatapan pria paruh baya itu selalu tertuju pada Renata yang terlihat asyik mengobrol dengan Zayn, dan di sebelahnya selalu ada Jefra Tjong yang tampak sedang berbicara dengan beberapa orang. Renata seperti sedang dijaga oleh dua kesatria.


Rendra ingin sekali menghampiri putrinya itu. Tapi kakinya seolah-olah tertancap pada tanah.


Seketika kening Rendra mengerut tatkala melihat putrinya berjalan ke arah panggung, lalu mengambil alih mikrofon dari MC.


Tiba-tiba suara riuh tepuk tangan terdengar bersamaan. Para tamu sangat antusias melihat Renata berdiri di tengah-tengah panggung.


"Apa yang ingin dia lakukan?" tanya Santy pada Rendra.


"Aku tidak tahu," jawab Rendra.


"Mungkin Kak Renata sedang menarik perhatian Ayah," celetuk Sanaya tersenyum sinis.


Rendra diam. Jika itu benar, dia justru senang.


"Kamu tidak menghentikan putrimu itu, Suamiku? Bagaimana jika dia merusak acara perayaan kita?" ujar Santy yang entah kenapa merasa tidak enak hati.


"Biarkan saja," jawab Rendra.


"Ya, biarkan saja, Ibu. Memang apa yang bisa Kak Renata lakukan? Yang ada, dia akan berakhir mempermalukan dirinya sendiri," celetuk Sanaya.


Tiba-tiba seluruh lampu yang menerangi taman padam, sahutan terkejut dari para tamu undangan terdengar.


"Hei, kenapa lampunya bisa padam? Apa keluarga Tan tidak memiliki cukup uang untuk membayar tagihan listrik?" tanya Tuan J pada Zayn. Merasa tidak suka, karena kegelapan menganggu pandangannya untuk menatap Renata.


Padahal dia sedang menunggu apa yang ingin istrinya itu lakukan di atas panggung.


"Sebentar lagi juga akan nyala," jawab Zayn santai. Lalu tersenyum kecil, rencana adiknya cukup brilian.


Tidak beberapa lama, sebuah lampu menyorot ke atas panggung di mana ada Renata berada.


_To Be Continued_