Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Dua Garis Biru


Pagi ini sebelum berangkat keluar kota, Tuan J menyempatkan diri untuk mengantar sang istri tercinta ke kampus.


Namun, sejak tadi wajah Renata terlihat ditekuk.


"Apa kamu begitu mencintaiku? Sampai tidak bisa ditinggal sebentar?" jemari panjang Tuan J membelai pipi Renata yang sedang duduk di sebelahnya, mengusap dengan lembut.


"Ya, aku memang sangat mencintaimu!" jawab Renata tanpa malu-malu lagi, "Tiga hari itu lama sekali! Apa tidak bisa dipercepat menjadi sehari?"


Tuan J tersenyum tipis, jujur dia juga tidak ingin jauh-jauh dari Renata, "Akan aku usahakan untuk segera menyelesaikan pekerjaanku."


Seketika raut wajah Renata cerah, "Bisakah seperti itu?"


Tuan J menghentikan belaiannya pada pipi Renata untuk memutar stir mobil, "Ya, semua bisa kulakukan jika menyangkut tentangmu."


Renata tertawa ringan, lucu saja ketika mendengar seorang Jefra Tjong yang menggombal dengan wajah datar.


Tidak memakan waktu yang lama, mobil Tuan J telah sampai di depan gedung Universitas tempat Renata menuntut ilmu.


Tuan J mencondongkan tubuhnya untuk membantu Renata melepas sabuk pengaman.


"Jangan melakukan sesuatu yang bodoh saat aku pergi," ucap Tuan J sambil mengecup pelipis Renata.


"Tentu saja tidak!"


"Jangan melakukan tindakan kriminal."


"Memangnya aku penjahat!"


"Jangan dekat-dekat dengan pria lain."


"Bagaimana bisa aku dekat dengan pria lain? Sedangkan hatiku, sudah sepenuhnya untukmu," Renata menggerling genit.


"Jawaban apa itu," tukas Tuan J, dicubitnya pelan pipi Renata.


"Jawaban tulus dari hati."


Tuan J mengangguk. Detik berikutnya, menyatukan kedua bibir mereka. Mema gut dengan hasrat yang tertahan. Tangannya merengkuh tengkuk Renata, menarik maju agar dua bibir mereka semakin dekat.


Tuan J melepaskannya dan tubuhnya kembali menjauh, dia tersenyum tipis dan mengusap pipi Renata dengan ibu jari, "Jangan melakukan hal-hal aneh yang membahayakan hidupmu."


"Kapan aku melakukan hal seperti itu?" protes Renata, masih dengan wajah yang memerah.


"Cosplay menjadi monyet, dan membuat seisi kediaman keluarga Tan heboh. Apa kamu mengingatnya sekarang?"


Mana mungkin dia lupa! Saat di mana Renata mencoba menggagalkan rencana Sanaya, yang ingin membuat Zayn kecewa padanya. Namun, dia justru terkunci di ruang kerja Zayn dan berakhir nekat keluar dari jendela. Lebih parahnya lagi, dia terjatuh menimpa Tuan J dengan bibir yang saling bertabrakan dengan kasar.


"Ke-kenapa kamu mengungkit-ungkit itu?"


Duh, sungguh memalukan!


"Aku hanya mengingatkanmu, karena sepertinya kamu sudah lupa," ucap Tuan J dengan nada datar.


"Aku masih ingat!"


Tuan J meletakkan tangannya di kepala Renata, membelainya dengan lembut.


"Jangan menangis saat aku tidak ada," bisik Tuan J.


"Aku berjanji akan menahan air mataku sampai kamu pulang," Renata berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa, hubungi aku segera."


Renata menganggukkan kepala, lalu memberi kecupan di pipi Tuan J sekilas.


"Aku akan menantimu pulang."


"Hmm, tunggu aku pulang."


Kemudian Renata keluar dari mobil dan melambaikan tangan. Tuan J pun berlalu dengan mobilnya.


**


Renata mengigit kuku jari. Memang seharusnya, sekarang dia sudah menstruasi hari ke lima, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda akan datang bulan, terlebih dengan gejala-gejala aneh yang dialaminya.


Dengan tidak sabar Renata memasuki pintu kamar mandi, setelah sebelumnya membeli test pack di minimarket dekat kampus. Lalu langsung melakukan instruksi yang tertera di petunjuk penggunaan.


Kini, dia menunggu hasil. Hatinya bergemuruh dengan kencang.


Positif, negatif, positif, negatif, positif, negatif


"Semoga hasilnya positif," Renata mengambil napas terdalam.


Perlahan membuka mata. Sedikit demi sedikit melihat ke arah arah test pack.


"Astaga!"


**


Malam ini, Renata terlihat begitu berseri-seri. Senyumnya terus mengembang dan wajahnya merona merah, karena saking senangnya.


Positif!


Renata memang sedang hamil. Ada penerus keluarga Tjong di dalam perutnya.


"Apakah aku tengah mengandung Radion lagi? Apa Jefra akan senang mendengar kabar ini?" gumam Renata, membelai perut yang belum terlihat membuncit.


Dertt... Dertt...


Seakan merasa sedang disebut, Jefra Tjong menelepon. Layar ponsel Renata menampilkan nama suaminya itu.


"Ha-halo?" jawab Renata berusaha terdengar biasa-biasa saja.


[ Sedang apa? ]


Tanya Tuan J terdengar datar.


Renata terdiam sesaat, kembali melihat sesuatu yang berada di genggamannya. Namun, dia tidak mungkin menjawab jika sedang melihat test pack.


Karena tidak mau merusak kejutan dengan mengatakannya sekarang.


Renata hanya ingin menatap wajah sang suami saat mengatakan bahwa dia tengah mengandung. Melihat langsung ekspresi Tuan J.


"Tidak sedang apa-apa. Aku ingin siap-siap tidur saja," jawab Renata sambil meremas ujung kaos piyamanya.


[ Hmm, ya, sudah. Kamu sudah makan, Dear? ]


"Sudah. Kamu sendiri sudah makan?"


Tuan J terdiam, tidak menjawab. Namun, mode panggilan telepon terganti dengan permintaan video call.


Renata buru-buru menyimpan test pack, menghindari Tuan J untuk melihatnya. Lalu diterimanya permintaan video call itu.


"Hei," ucap Tuan J begitu melihat wajah polos Renata di layar.


"Hei," jawab Renata tersenyum lebar. Ketampanan sang suami selalu sukses membuatnya terlena. Meski hanya lewat video call, dia sudah sangat senang karena bisa melihat wajah suami tercinta.


"Aku sudah makan. Bersama dengan Arvin di restauran."


"Hmm, jangan lupa makan, ya. Nanti kamu busung lapar," canda Renata.


Tuan J tertawa lepas. Ada saja ucapan Renata yang membuatnya terhibur.


"Aku... hmm... kamu sedang apa?"


Padahal Tuan J sudah menanyakan hal itu tadi. Kenyataannya, Tuan J sedang bingung, mau bilang rindu tapi kikuk.


"Sayang, aku rindu. Peluk aku, please?" rajuk Renata bermanja di layar ponsel. Sepertinya dia cukup memahami ekspresi sayangnya itu.


"Hmm, sama," Tuan J tersenyum.


"Sama apa?" goda Renata, matanya mengerjab, mencoba memancing supaya Tuan J juga mengucapkan kata rindu.


"Pokoknya sama," Tuan J tertawa kecil.


"Bagaimana jika aku menangis karena merindukanmu?"


"Itu tidak mungkin."


Renata mematung sesaat. Jawaban macam apa itu?


"Mengapa tidak mungkin?"


"Aku hanya pergi selama tiga hari. Tidak mungkin kamu merindukanku hingga menangis," jawab Tuan J dengan santai.


Memang masuk akal. Tapi, Tuan J tidak tahu jika perasaan seorang wanita hamil lebih sensitif.


Lalu mereka berdua diam, saling memandang hanya melalui layar ponsel. Seperti anak ABG yang baru saja jadian dan dilanda kasmaran tingkat tinggi.


"Jika aku pergi, apa kamu akan merindukanku?"


Mengapa Renata menanyakan hal ini? Dia juga tidak tahu pasti. Mungkin dia ingin tahu jika Tuan J akan merasa kehilangan jika dia tidak ada.


"Memangnya kamu mau pergi ke mana?" Tuan J masih menatap lekat. Namun, ada kerut ketidaksukaan di wajahnya.


Renata menggigit bibir bawahnya. Ya, memang dia mau pergi ke mana? Sebenarnya apa yang dia khawatirkan?


Sebelum Renata menjawab, Tuan J kembali berkata, "Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun."


Renata tersenyum, jadi Tuan J tidak akan membiarkannya pergi kemanapun, huh?


"Jefra," panggil Renata lembut.


"Ya?"


"Aku sayang kamu, sayang sekali."


_To Be Continued_