Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Apa Kamu Sudah Tenang Di Sana?


Siang ini, Renata dan Tuan J ikut bersama dengan Zayn, untuk menjemput Rendra pulang dari rumah sakit.


Dari perkataan Renata tadi pagi, dapat disimpulkan jika dia tidak membenci Rendra. Namun, merasa kecewa.


Aku kecewa pada Ayahmu, Angel. Aku tidak bisa memaafkannya begitu saja, meski dia sudah tahu kebenaran jika kamu bukanlah penyebab Ibumu meninggal. Aku butuh waktu untuk bisa memaafkan Ayahmu.


Di dalam hati, Renata berkata pada dirinya sendiri, berharap jika jiwa Angel yang entah pergi ke mana mendengarnya.


"Kenapa melamun?" tanya Tuan J yang sedang berkutat dengan stir mobil.


"Ah, ya?" Renata tersadar seketika, lalu menolah ke kursi sebelah, "Aku hanya sedang sedikit berpikir."


"Memang apa yang bisa kamu pikirkan dengan otak sekecil itu?"


Renata memiringkan kepalanya sambil mengerutkan alis, "Dari mana kamu tahu kalau otakku kecil?"


"Terlihat jelas," jawab Tuan J sambil memutar stir ke kiri, mengikuti mobil sedan yang ditumpangi Zayn.


"Kamu memang menyebalkan!" gerutu Renata.


Kepalan tinju dari tangannya yang kecil berniat memukul lengan Tuan J. Namun, langsung ditahan.


"Lepas!" Renata mencoba melepas tangannya yang kini dicengkeram sang suami. Terlihat sekali jika dia sedang jengkel.


Bukannya melepas, Tuan J justru menarik tangan Renata supaya sejajar dengan wajahnya, dan memberi satu kecupan di punggung tangan seputih keju itu.


Sedangkan wajah Renata? Sudah merona matang dibuatnya. Dia juga jadi teringat perkataan Tuan J saat pagi tadi.


"Hei, Jefra Sayang."


"Hmm."


Tuan J hanya bergumam untuk merespon panggilan Renata, padahal di dalam hati merasa desiran yang menggelitik ketika namanya 'Jefra' disandingkan dengan 'sayang'. Dia sangat suka itu.


Kedua mata dua insan itu bertemu.


"Apa kamu serius dengan perkataanmu tadi pagi? Membuatku bahagia dan menghapus kesedihanku?"


"Ya, aku selalu serius dengan apa yang kukatakan," jawab Tuan J, ada nada ketegasan di sana. Dia kembali fokus ke depan. Meski ingin terus-menerus memandangi wajah cantik sang istri, dia tidak bisa melupakan jika sekarang sedang menyetir.


Renata sangat senang mendengarkannya. Apa sekarang dia boleh menganggap Tuan J mulai membuka hati untuknya?


Oh, Renata tidak tahu saja, jika Jefra Tjong memang telah jatuh cinta padanya.


"Umm, apa kamu akan menghapus air mataku jika aku menangis?" tanya Renata tersipu malu.


"Tidak. Aku akan membelikan kamu stok tisu yang banyak."


Seketika suasana hati Renata langsung berubah, "Tidak romantis sekali," gerutunya sebal.


"Hmm," Tuan J berdeham sesaat, "Apa kamu menyukai pria romantis?"


Renata agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Jika ditanya seperti itu, maka dia akan menjawab.


Apa yang ada pada diri Jefra-ku lah yang aku sukai. Mau pria itu romantis atau tidak, aku tetap menyukainya. Yang penting dia adalah Jefra.


Renata membatin dengan gemas dan menggebu-gebu.


Renata melihat Jefra sempurna, jadi dia menyukainya. Lalu Renata melihat bahwa Jefra tidak sempurna dan dia bahkan lebih menyukainya.


Pokoknya hanya Jefra yang Renata sukai!


Namun, Renata tidak mungkin mengatakan itu dengan gamblang.


"Semua wanita menyukai pria romantis," jawab Renata sekenanya.


"Oh, begitu," ucap Tuan J lugas.


"Memang kenapa kamu menanyakan itu?"


"Aku hanya bertanya saja."


"Dasar aneh," cibir Renata.


"Kamu tidak boleh mengejek suamimu," tukas Tuan J memperingati Renata.


"Kata siapa tidak boleh?" Renata bertanya seolah menantang.


"Dasar suami kaku. Terserah aku dong, mau mengejek atau tidak," Renata kembali mencibir, tanpa ada rasa takut.


Tuan J menarik napas pelan, dan menoleh ke samping, "Sepertinya, kamu membutuhkan hukuman supaya menurut dengan apa yang kukatakan."


Astaga! Bulu roma Renata meremang dibuatnya, apalagi saat melihat seringai samar di bibir tipis Tuan J. Dia jadi menyesal karena tidak menurut apa yang dikatakan sang suami.


"Hu-hukuman?"


"Kebetulan aku sedang libur. Aku bisa mengurung kamu di kamar sepanjang hari."


"A-apa?"


**


Di ruang rawat Rendra.


Pria paruh baya itu menatap kedua anaknya yang datang, untuk menjemputnya pulang.


Rendra sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan kedua anaknya, dia tidak bisa hidup tenang jika dijauhi Zayn dan Renata. Dia tahu jika telah melakukan kesalahan, tidak pernah menganggap putrinya, bahkan untuk sekedar memeluk saja tidak mau karena alasan benci.


Benci? Sangat, Rendra sangat membenci putrinya karena kebodohannya. Namun, kini dia sangat menyesali perbuatannya dengan meminta maaf dan memulai hidup baru dengan keluarganya.


"Ayah sudah menanti kalian," Rendra menyambut dengan tersenyum tegas.


"Ya, Ayah. Ayo kita pulang," ucap Zayn.


"Sebelum itu, apa Ayah boleh berbicara dengan Renata?" ucap Rendra lirih sambil menatap Renata yang sedang berdiri di sebelah suaminya, dengan penuh harap.


Zayn dan Tuan J melirik Renata yang menggigit bibir bagian bawahnya, seperti sedang menahan perasaan. Kemudian kedua pria itu pergi meninggalkan Renata bersama dengan Rendra.


Dengan perlahan, Renata melangkah dan duduk di kursi sebelah brankar.


"Maafkan Ayah, Nak," lirih Rendra.


Renata terdiam. Gamang, entah harus menjawab apa. Apakah dia harus memaafkan Rendra? Tapi hatinya belum siap.


Kepala yang selalu menengadah angkuh kini menunduk. Air mata tumpah ruah karena tidak dapat ditahan lagi.


"Maafkan Ayah yang selama ini tidak becus menjadi Ayahmu."


"Maafkan Ayah yang telah membencimu selama ini."


"Maafkan Ayah yang tidak pernah mendengarkan kamu."


"Meski sudah banyak hal jahat yang telah Ayah lakukan ke kamu. Meski rasanya tidak pantas bagi Ayah untuk mendapatkan maafmu. Ayah akan tetap minta maaf. Tolong maafkan Ayah, Renata. Maaf...


Rendra tidak tahan lagi! Dia juga sadar pasti putrinya membencinya. Merasa gagal menjadi Ayah, dia gagal menjadi sosok kepala keluarga yang membahagiakan keluarganya. Mencoba mengulang waktu tapi waktu tidak mungkin bisa kembali. Kini, yang bisa dia lakukan adalah memperbaiki.


"Ayah ingin menebus semuanya. Ayah ingin menjadi Ayah yang baik untukmu, Renata. Ayah mohon izinkanlah Ayah untuk menebusnya."


Melihat Ayahnya dalam kondisi seperti sekarang, hati Renata merasa tidak tega. Dia bahkan mulai berkaca-kaca.


"Ayah sayang kamu, Renata. Tapi kamu pasti membenci Ayah. Pantaskah Ayah tetap menyayangimu? Rasanya tidak benar, maafkan Ayah."


Kata-kata Rendra begitu menyayat hati, membirukan dunia.


Batin Renata menjadi riuh. Dia paham jika Rendra telah merasa sangat bersalah. Namun, bukankah itu sudah terlambat? Kini Angel──putri Rendra yang sesungguhnya sudah tiada. Jiwa Angel sudah terlanjur pergi dan digantikan oleh Renata.


Rendra pasti akan bertambah menyesal saat tahu putrinya sudah tiada.


Seandainya, Angel masih hidup dan berada di sini. Pasti dia akan merasa sangat-sangat senang karena telah mendapatkan ungkapan 'sayang' dari sang Ayah.


"Kemarilah, Nak. Bolehkah Ayah memelukmu?" pinta Rendra, yang membuat Renata bergerak karena hati nuraninya telah terketuk.


Segera Rendra memeluk Renata diiringi dengan tangisannya. Dengan ragu, Renata membalas pelukan Rendra.


Hei, Angel. Apa kamu bahagia? Bukankah ini yang kamu impikan sejak kecil? Dipeluk dan disayang oleh Ayahmu, kini impianmu itu terwujud sudah... Apa kamu sudah tenang di sana?


Renata berkata pada hatinya, seraya ikut terisak dalam pelukan hangat sang Ayah.


"Maafkan Ayah, Putriku."


_To Be Continued_