
Renata menatap Zayn dengan ragu-ragu.
"Pftt!" Zayn justru terlihat menahan tawa.
"Apa yang lucu?" Renata jadi merasa bingung sendiri.
"Adikku yang manis inilah yang lucu," Zayn mengangkat tangannya berniat mengacak rambut Renata, tapi Renata berhasil menghindar.
"Jangan mengacak-acak rambutku yang cantik ini, Kak!" protes Renata dengan melotot seram namun justru terlihat menggemaskan di mata Zayn.
Renata sebal dengan Zayn yang ingin membuat rambut bersanggul berliannya berantakan, tentu saja dia tidak bisa membiarkannya.
Namun, Zayn justru mencubit kedua pipi Renata hingga siempunya mengerang kesakitan.
"Akh, sakhittt...." Renata berusaha berbicara dengan bibir yang tertarik membentuk garis lurus.
Zayn benar-benar kejam!
"Hahaha," hanya dengan sang Adik perempuannya Zayn bisa tertawa lepas seperti itu.
Renata mengusap kedua pipinya setelah Zayn melepas cubitan itu, ingin marah tapi wajah tertawa Zayn terlihat begitu tampan, ia jadi tidak sanggup memarahi. Renata akui jika Kakaknya itu memang tampan.
"Tampan sih tapi masih jomblo," seloroh Renata.
Seketika tawa Zayn terhenti, "Apa kamu bilang? Kamu sudah berani meledek Kakak?"
Renata nyengir kuda, "Tidak kok. Aku tidak meledek Kak Zayn. Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan."
Zayn melipat kedua tangan dengan menampakan jari-jarinya yang menunjukan gestur kepercayaan diri, serta kepala yang terangkat seolah-olah bangga pada dirinya sendiri, "Asal kamu tahu, meski aku jomblo tapi banyak wanita yang mengantre untuk menjadi Kakak Ipar kamu. Aku hanya sedang tidak memikirkan itu saja."
Renata berdecak sebal, "Dasar sombong."
"Hmm, setidaknya aku memiliki sesuatu yang bisa disombongkan."
Renata memegang dagu dengan ibu jari dan telunjuk. Lalu tatapannya meneliti Zayn dari bawah ke atas.
Memang ada benarnya juga, sih. Zayn adalah pewaris dari keluarga Tan. Pemegang saham terbesar Tan Group, sedangkan Rendra pemegang saham terbesar kedua.
Hal itu karena Tan Group adalah warisan mendiang Ayah dari Lily yang memang diwariskan untuk sang Cucu. Sedangkan Rendra mendapatkan sebagian saham karena telah menjadi menantu yang baik. Jadi tidak heran jika Zayn yang menjadi CEO pada usianya yang dua puluh tujuh tahun. Terlebih memiliki otak genius, wajah tampan, dan postur tubuh yang sempurna. Tentu saja menjadi idola para wanita.
Renata jadi penasaran siapa yang akan menjadi pendamping hidup Kakaknya itu kelak.
"Dengar, ya. Renata Adikku, jika kamu bertanya apakah aku percaya padamu atau tidak. Jawaban yang benar adalah aku tidak pernah tidak mempercayaimu," ucap Zayn yang membuat Renata terenyuh.
Zayn adalah Kakak laki-laki terbaik sedunia!
"Kak Zayn, jika aku bukan adikmu mungkin aku sudah jatuh cinta padamu," Renata berkata dengan terkeheh kecil.
Zayn pun ikut terkekeh, "Lantas bagaimana dengan suamimu itu?"
"Tentu saja aku ingin memiliki dua suami!"
"Dasar serakah," Zayn menggeleng dan tersenyum kecil.
"Kalau bisa memiliki dua, kenapa juga harus satu?"
"Hais, siapa yang mengajarimu seperti itu?"
"Hmm," Renata meletakan jari telunjuk di dagu seolah-olah berpikir, "Tidak ada yang mengajariku, lagi pula aku kan hanya bercanda."
Kemudian mereka tertawa bersama.
Sejujurnya, Zayn juga merasa aneh dengan perubahan drastis pada Adiknya itu. Namun, dia senang karena perubahan itu justru membuat Adiknya terlihat bersinar daripada sebelumnya. Zayn menjadi tidak pernah melihat raut kesedihan pada wajah Adiknya itu, dia juga tidak pernah melihat Adiknya menangis diam-diam lagi. Zayn sangat bersyukur tentang itu. Harapan terbesar Zayn memang melihat sang Adik bahagia.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang kepercayaan pada Kakak?" tanya Zayn yang merasa ganjil dengan pertanyaan Renata sebelumnya.
Renata terdiam sejenak untuk menimbang apakah dia akan memberitahu Zayn atau tidak.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan," ujar Zayn karena melihat raut keraguan pada wajah Renata.
"Aku ingin menyarankan Kak Zayn mengganti Sekertaris, karena Nikolas berniat mengkhianatimu."
Zayn terkesiap dalam diam mendengar apa yang dikatakan Renata.
"Nikolas dan Tante Santy sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkanmu."
Pada akhirnya Renata memutuskan mengatakannya pada Zayn. Dia tidak mau jika Kakak laki-laki yang menyayanginya itu terjebak rencana licik Nikolas dan Santy. Setidaknya Renata sudah memberitahu Zayn untuk mengantisipasinya.
Renata berharap jika Zayn benar-benar mempercayai perkataannya ini.
**
Kini Tuan J dan Renata sedang berada di pelaminan untuk melakukan resepsi pernikahan. Menyalami tamu undangan yang sangat banyak, rekan bisnis dari dua keluarga, teman dan saudara jauh, bahkan para Karyawan TJ Crop yang dulu menghina Angel pun datang memberi selamat. Oh, Renata hanya tersenyum miring tatkala bertemu dengan mereka yang dulu sangat suka membicarakannya di belakang maupun terang-terangan.
Renata telah memakai gaun berbeda. Gaun berwarna biru muda dan bertahtakan Swarovski, yang tampak menawan dengan siluet ramping yang menonjolkan lekuk tubuhnya, membuat Renata terlihat seperti ratu dalam resepsi pernikahannya. Tatanan rambut Renata kali itu juga digerai begitu saja karena tampilan gaunnya sudah maksimal.
Sedangkan, Tuan J mengenakan atasan warna biru tua dan celana panjang putih, tampil layaknya pangeran.
Penampilan keduanya sukses menarik banyak perhatian.
Namun, binar kebahagiaan Renata sekejap berubah menjadi ketakutan ketika melihat Aslan yang hendak memberi ucapan selamat padanya. Dia baru menyadari kedatangan pria dengan manik abu-abu itu di pesta pernikahannya.
"Angel, selamat untuk pernikahanmu," Aslan berucap dengan tersenyum ramah.
Renata beringsut ke belakang tubuh Tuan J dan memegang lengan suaminya itu, membiarkan tangan Aslan yang berniat menyalaminya menggantung tanpa terbalas.
Mendapatkan respon seperti itu senyum Alasan memudar, tangannya pun ia turunkan kembali.
Tuan J yang menyadari ketakutan Renata menatap tajam Aslan. Setahunya dia tidak mengundang pria itu. Apa Sienna yang mengundangnya? Ibu tirinya itu memang selalu bertindak seenaknya.
"Angel──"
"Apa kau sadar jika istriku tidak nyaman denganmu?" Tuan J menghentikan Aslan yang masih berniat mengajak Renata berbicara, "Sebaiknya kau pergi."
"Aku hanya menyapanya saja," Aslan beralih menatap Tuan J, ia merasa tidak terima dengan perkataan Tuan J yang mengusirnya itu.
"Tapi istriku tidak ingin disapa oleh tamu yang tidak diharapkan kehadirannya."
Tuan J berucap dingin dengan menekan kata 'istriku', yang bermakna memberi peringatan pada Aslan jika gadis itu sudah menjadi miliknya. Jefra Tjong tidak mungkin membiarkan jika miliknya diganggu oleh orang lain, terlebih oleh pria yang menjadi sumber ketakutan Renata.
Saat situasi di antara kedua pria itu menegang dan saling melayangkan tatapan tajam. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, yang justru menambah kemelut.
Di sisi lain, terlihat Sienna yang menerbitkan senyum sinis tatkala melihat situasi itu. Dia tahu jika sang Anak tiri tidak memiliki hubungan baik dengan putra dari keluarga Allansky. Hal itu ia ketahui dari orang suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Tuan J selama ini.
Saat di mana Tuan J bertemu dengan Aslan untuk meminum kopi bersama kala itu, si pelayan yang ternyata adalah orang suruhan Sienna lah yang melaporkan adanya sebuah cinta segitiga di antara Jefra, Renata, dan Aslan.
Wanita licik itu memang tidak bisa membiarkan pesta pernikahan Jefra Tjong berjalan dengan mulus. Setidaknya dia ingin melihat adanya sebuah pertikaian di acara ini.
Bagi Sienna itu adalah sebuah tontonan menarik.
_To Be Continued_