
"Akan lebih baik jika Ayah mati karena penyakit jantung ini. Ayah sungguh malu dan menyesal."
Zayn masih dalam posisinya, tanpa menjawab ungkapan pilu sang Ayah.
Tiba-tiba seisi ruangan senyap. Bahkan, Rendra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga paham jika Zayn pasti juga kecewa padanya.
Selang beberapa detik, Zayn melepas jas yang dikenakan, lalu menyelimuti punggung Renata dengan menggunakan jas itu.
Setelah itu, kembali menatap Rendra, "Ayah, mau tahu sesuatu?"
"Tahu apa?"
"Dulu aku sering memergoki Adik menangis diam-diam saat Ayah mengatainya pembunuh Ibu. Bohong jika selama ini Adik bilang tidak apa-apa saat Ayah begitu sangat membencinya. Dia selalu menanti pelukan hangat atau minimal mendapat pengakuan dari Ayah."
Kali ini, air mata Rendra tidak bisa ditahan lagi. Air matanya meluruh. Selama ini dia memang bukanlah Ayah yang baik untuk putrinya itu.
"Tadi Ayah berkata menyesal, bukan? Apa penyesalan itu untuk perlakukan Ayah pada Adik selama ini?" tanya Zayn seolah kembali mengetuk hati nurani Rendra.
"Ya, Ayah menyesal karena telah memperlakukan Adikmu tidak adil," Rendra mengakui rasa sesalnya dengan gamblang.
"Tapi dengan Ayah mati, penyesalan itu tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Apa Ayah mempunyai muka bertemu dengan Ibu di akhirat? Ayah telah banyak menabur luka pada hati Adik. Ibu pasti sangat kecewa, atau mungkin membenci Ayah."
Arrrgghhhhh! Ingin rasanya Rendra berteriak dan mengutuk dirinya sendiri. Yang dikatakan Zayn memang benar. Lily pasti membencinya, terlebih dia sudah menikah dengan pembunuh istrinya itu. Kematian memang bukan keputusan untuk menunjukkan penyesalan. Setidaknya dia harus memperbaiki dirinya, sehingga bisa lebih percaya diri untuk bertemu dengan Lily di akhirat.
Batin Rendra riuh karena merasa salah dengan pilihannya yang ingin mati, "Ayah memang bodoh, Zayn."
Zayn tersenyum miring, "Sebuah mengakuan yang sangat terlambat."
Rendra menghela napas, dia tidak bisa marah atas apa yang dikatakan putranya.
"Ayah akan berusaha memperbaiki hubungan Ayah dengan Adikmu," Rendra berkata dengan menatap Renata yang masih terlelap, "Meski sudah terlambat."
"Hmm, mungkin Ayah akan menghadapi kesulitan. Aku ragu jika Ayah akan berhasil mendapatkan maaf dari Renata."
Rasa khawatir mulai bermunculan di hati Rendra. Ya, apakah Renata akan memaafkannya? Bagaimana jika sang putri menolaknya? Dia tidak mungkin bisa memiliki muka untuk bertemu Lily.
"Sebelum itu, Ayah harus sehatkan diri Ayah dulu. Penyakit jantung Ayah sudah lumayan parah, sekarang sudah berubah menjadi jantung koroner. Mulai sekarang rutinlah untuk minum obat."
"Ya," Rendra berkata dengan anggukkan, "Lalu bagaimana dengan... Santy dan Sanaya?"
"Kenapa Ayah menanyakan mereka? Apa Ayah akan memaafkan mereka? Itulah hal yang selama ini Ayah lakukan, bukan?" bukannya menjawab, Zayn justru bertanya dengan nada mengejek.
Helaan napas Rendra terdengar kasar, kemudian menggelengkan kepala, "Ayah hanya ingin jika mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Terlebih Santy yang telah membunuh Ibu kalian."
Seketika kedua tangan Zayn mengepal erat, wajahnya mengeras, yang tentunya dia sangat menaruh dendam pada wanita yang telah membunuh sang Ibu.
"Ayah tenang saja. Jefra Tjong sedang mengurus mereka."
**
Tuan J telah berhasil menangkap Santy dan Sanaya. Mereka kini tengah diseret untuk memasuki hutan lebat yang begitu gelap.
"Lepaskan kami!" Sanaya memberontak.
"Bawa mereka! Masukan ke kandang buaya saja," ucap Tuan J dengan nada yang begitu dingin.
Kedua mata wanita itu terbelalak sempurna.
"Ka-kandang bu-buaya?" lirih Santy yang bersuara begitu lemah.
"Tutup mulutnya! Aku benci mendengarnya bicara!" perintah Tuan J, "Suara seorang pelakor benar-benar membuatku mual!"
Perlu digaris bawahi, Tuan J sangat membenci pelakor. Terlihat jelas, jika dia menantikan hari-hari di mana dia menghukum seorang pelakor
"Tapi, Tuan. Kita harus menutup mulutnya dengan apa?" tanya salah satu Bodyguard yang bingung, masalah mereka tidak membawa lakban atau sesuatu yang mampu menutup mulut si kedua wanita.
"Ck, gunakan kaos kakimu!"
Bodyguard itu langsung melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu menjejalkan kaos kaki itu ke mulut Santy. Tidak lupa kaos kaki yang satunya untuk Sanaya.
Kedua wanita itu menggelengkan kepala, berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang mereka punya. Mulut keduanya tidak bersuara lagi. Kaos kaki kotor dan bau milik si Bodyguard melesak masuk ke dalam mulut.
Bukankah itu menjijikkan?
Namun, itu bukan balasan yang setimpal untuk mereka. Yang pasti, sesuai dengan apa yang Tuan J katakan pada Renata sebelumnya, dia akan membuat kedua wanita itu menerima balasan dari apa yang telah mereka lakukan.
Pria itu akan benar-benar melempar wanita-wanita itu ke kandang buaya.
Jika ditanya siapa pemilik buaya itu, jawabannya adalah Theo Tjong.
Ayah dari Tuan J itu memang hobi dalam mengumpulkan hewan buas. Waktu Tuan J kecil, ia pun pernah dilempar ke kandang buaya namun dibekali dengan pistol. Hal itulah yang membuat pria itu mahir dalam menggunakan senjata api. Theo memang sangat ekstrim dalam mendidiknya.
"Kalian tinggal pilih, masuk satu-satu atau bersamaan," ucap Tuan J, sambil menjejerkan Santy dan Sanaya di pinggir sungai tempat buaya itu berada.
Ternyata Jefra Tjong adalah pria yang sangat mengerikan.
Sedangkan yang diberi pilihan hanya diam dengan rasa ketakutan, karena mulut mereka masih tersumpal. Kedua wanita itu melihat ke sungai, ada banyak buaya yang sedang kelaparan dan mulai menatap mereka seperti makanan enak.
Kemudian Tuan J memberi isyarat pada salah satu Bodyguard, supaya membuka sumpalan pada mulut kedua wanita itu.
"Ampuni kami!" ucap Santy dan Sanaya setelah dapat bicara kembali.
Namun, Tuan J tidak ada niatan untuk mengampuni mereka.
Pria bermata kelam itu melirik tajam Santy, "Sepertinya pelakor busuk yang harus masuk duluan."
Tanpa aba-aba Tuan J mendorong Santy memasuki sungai yang penuh dengan buaya.
"Tidak, Ibu!" teriak Sanaya.
Sedangkan Tuan J hanya berekspresi datar, saat melihat Santy yang kesakitan sambil meminta tolong, buaya-buaya itu langsung menyerang wanita paruh baya itu.
Hanya sekitar sepuluh menit sungai itu berubah menjadi berwarna merah, karena darah dari Santy yang telah disantap buaya kesayangan Theo. Melihat itu, Tuan J tersenyum sinis.
Nyawa memang harus diganti dengan Nyawa.
Sanaya tercekat melihat kejadian itu, jantungnya terasa sakit, dia bernapas tapi tidak terasa bernapas, kakinya gemetaran melihat air sungai berwarna merah karena darah Ibunya. Tangisannya pecah dengan menjerit kencang.
Kini, giliran Sanaya yang akan menjadi santapan buaya.
Drett... Drett...
Sebelum Tuan J mendorong Sanaya memasuki sungai, tiba-tiba ponselnya bergetar. Setelah mengambil benda persegi itu, bisa dilihat jika Renata yang menghubunginya.
"Ya?"
[ Kamu ada di mana? ]
"Renata tolong aku! Suamimu yang sakit jiwa ini akan membunuhku! Renata!" jerit Sanaya meminta tolong pada Renata.
_To Be Continued_