
"Aku minta maaf. Aku khilaf. Semua yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan, tidak sama sekali. Aku mencintaimu, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku menyayangimu, Rendra," Santy memohon dengan memasang wajah memelas, yang selalu membuat Rendra luluh.
Rendra mengeram emosi. Tatapnya tajam dan panas, "Jika kamu tidak pernah berkhianat, lantas apa video itu! Kamu telah tidur bersama dengan Nikolas!"
"Tolong, percaya padaku! Aku tidak ada salah! Aku selalu setia padamu. Sudah kubilang, aku khilaf," Santy masih mencoba meyakinkan Rendra.
"Khilaf, heh? Nyatanya, selingkuh adalah pilihan bukan kesalahan. Apa bukti lainnya harus dikeluarkan? Dan aku yakin Tante Santy tidak bisa mengelak lagi," sela Renata dengan senyum sinis melintas di wajahnya.
Istri dari Jefra Tjong itu mendekat, bersama dengan suaminya dan juga Zayn.
"Jadi kamu yang telah merekamnya! Dasar jal*ng kecil pembawa masalah!" ternyata Santy masih memiliki nyali untuk membentak Renata.
"Kamu, Renata! Setelah menghancurkan hidupku, kini kamu berniat menghancurkan hidup Ibuku! Dasar jahanam!" Sanaya menuding Renata, dia yang sejak awal ingin memaki langsung lepas kendali.
"Apa-apaan kalian! Kalian yang berbuat jahat, kenapa menyalahkan Renata! Kalian sungguh percaya diri untuk bisa terus menyembunyikan bangkai. Apa kalian pikir keluarga Tan bisa dibodohi terus-menerus?" dengkus Zayn, sungguh tidak habis pikir dengan ketidaktahudirian Ibu dan anak itu.
Ya, kenapa juga jadi Renata yang disalahkan? Sikap tidak mau disalahkan, dan gemar menyalahkan orang lain demi menyembunyikan kejahatannya, benar-benar sudah melekat pada kedua wanita itu.
Namun, bukti-bukti nyata tidak bisa disangkal.
"Ayah, buka amplop ini dan lihat apa isinya," ucap Zayn seraya menyodorkan amplop berwarna putih pada Rendra.
Rendra menerimanya, lalu memasukan tangannya ke dalam amplop dan menemukan tiga lembar foto. Dikeluarkannya lembaran itu dan menatapnya dengan seksama.
Detik itu juga matanya terbelalak, napasnya berhenti sekian detik lamanya.
"A-apa i-ini?" gagapnya tidak mau mempercayai apa yang dia lihat, "I-ini semua hanya... Ini bohong, kan?"
"Kalau ada yang berbohong, aku jamin itu adalah Santy. Foto itu asli! Ayah bisa memanggil para ahli, dan kepastian mereka akan mengatakan. Jika foto itu... Asli!" Zayn berkata dengan penuh penekanan.
Prang
"Brengsek kamu, Santy!" teriak Rendra dibarengi dengan membanting gelas yang diambilnya dari salah satu pelayan.
Dadanya kembang-kempis, rahang mengeras, dan matanya memerah seperti benteng di tengah-tengah rodeo. Pundaknya naik turun tidak beraturan.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kamu... Kamu... " lirih suara Rendra begitu pilu, "Jelaskan ini!"
Rendra melempar lembaran kertas foto ke hadapan Santy, jatuh berserakan di depan kaki wanita paruh baya itu.
Yang membuat, semua orang yang menonton keributan itu bisa melihat foto-foto apa itu.
Mata Santy terbelalak kembali. Matanya mendelik. Begitu pula dengan Sanaya.
Di sana, di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan, foto Santy yang sedang bertransaksi dengan seorang pria untuk mengemudikan truk, yang menabrak Lily. Ada juga foto dirinya yang berada di tempat kejadian di mana Lily tewas. Dan foto bukti lainnya yang mengatakan jika Santy adalah dalang dari kematian Lily.
Rendra tidak percaya dengan kebenaran itu. Dia selalu yakin jika Santy adalah tambatan jiwanya setelah Lily. Segala perhatian wanita itu dapat menyelamatkan rasa terpuruknya atas meninggalnya Lily.
Namun, di samping penghianatan yang didapatkannya, ternyata Santy lah yang membunuh Lily.
"Suamiku, aku..." Santy sudah mati kutu, tidak bisa berkata-kata lagi. Semua bukti sudah jelas. Dia sendiri tidak menyangka, jika kejahatannya bisa difoto seperti itu.
Santy memang tidak tahu. Setelah menjadi pewaris sah keluarga Tan, Zayn yang curiga dengan kematian sang Ibu yang tidak beres. Mencoba menyelidik lebih lanjut lagi. Pria itu mulai mencurigai Santy saat Sanaya mencoba beberapa kali mencelakai adiknya.
Bisa-bisanya Rendra menikah dengan pembunuh istrinya sendiri.
"Padahal aku selalu percaya padamu, Santy! Sialan!" umpat Rendra tidak kuasa menahan ledakan di dalam dada.
"Aku tidak melakukannya!" sangkal Santy setelah berhasil mengendalikan diri.
Seketika semuanya bungkam, ketika Renata mulai mendekati Santy. Sampai pada saat tangan Rendra tiba-tiba mencekik leher Santy.
"Aku sudah tidak percaya satu patah kata pun darimu! Aku mau kamu mati saja!"
Rendra mendesis, semakin keras mencekik Santy, sampai membuat mata istinya itu melotot seakan hendak keluar dari kelopaknya.
Napas Rendra memburu. Hatinya sakit dan marah. Selama ini, orang yang dianggap Rendra berlian yang harus dia jaga justru adalah pembunuh Lily. Gara-gara Santy, dia menjadi membenci putrinya sendiri. Selama ini dia menaruh kebencian pada orang yang salah.
"Ugh!"
Tiba-tiba Rendra merasa sakit pada area dada sebelah kirinya, membuat tangannya perlahan mengendurkan cekikikan, sampai akhirnya lepas. Tangannya beralih meremas bagian yang terasa sakit.
Tiba-tiba penyakit jantungnya kambuh.
Santy langsung mengambil napas panjang begitu tangan Rendra lepas dari tenggorokannya. Dia terbatuk beberapa kali sambil memegangi leher. Hampir saja dia mati.
"Ayah, kamu baik-baik saja?" Zayn bertanya dengan mimik khawatir.
Bukannya menjawab, Rendra justru menatap Renata sendu. Tangannya mengepal ketika rasa sesak yang begitu hebat menghantam hatinya, seakan mematikan syaraf pernapasan, yang membuat dada Rendra naik turun seiring jatuhnya air mata penyesalan.
Rendra menutup mata, bayangan di mana dia menyakiti putrinya sendiri, tidak mengakuinya, bahkan menamparnya berputar bagai kaset di otak Rendra. Seharusnya dia sadar, setiap melukai hati putrinya itu selalu ada rasa bersalah di hati. Dan bodohnya, Rendra malah menampik rasa itu dan menganggap sang putri adalah penyebab istrinya meninggal. Dia menganggap putrinya sebuah kesialan.
"Maaf, maafkan Ayah," setelah mengatakan itu, Rendra tidak sadarkan diri.
"Ayah!"
Melihat jika semua orang fokus terhadap Rendra, Sanaya mencetuskan sesuatu pada Ibunya, "Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Ibu tidak mau di penjara, bukan?"
"Tapi harta keluarga Tan?"
Meski sudah terbongkar semua kebusukannya, Santy masih saja memikirkan harta.
Sanaya mendengus sebal, lalu langsung menarik Ibunya untuk pergi dari tempat itu.
Tuan J yang menyadari kepergian mereka, langsung memerintahkan para Bodyguard melakukan pengejaran.
"Kamu mau ke mana?" kejar Renata menjejeri langkah Tuan J.
"Mengejar Santy dan Sanaya, mereka tidak bisa dibiarkan kabur begitu saja. Mereka adalah penyebab dirimu menderita selama ini. Akan kubuat mereka menerima balasan dari apa yang telah mereka lakukan," ucap Tuan J menghentikan langkah dan menyentuh pipi Renata dengan belaian tangannya.
"Memang apa yang ingin kamu lakukan pada mereka?"
"Aku akan melempar mereka ke kandang buaya."
_To Be Continued_