Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Si Penulis Novel


"Renata, kembalilah padaku..."


"Eh?"


Renata terkejut mendengar suara Jefra yang memanggilnya, pandangannya berkeliling, tapi tidak menemukan suaminya itu.


Apa hanya perasaanya saja?


Kemudian Renata kembali menatap Radion, yang sedang meletakan bunga tulip putih di depan batu nisannya.


Sungguh manis, Radion tahu jika bunga tulip putih adalah kesukaan sang Ibunda.


Ngomong-ngomong Radion telah berumur dua puluh lima tahun. Sedangkan Renata dalam wujud wanita dua puluh tahun. Bukankah kini mereka tidak pantas menjadi Ibu dan anak?


Renata terkekeh sambil menggelengkan kepala karena pikirannya itu. Mau bagaimanapun Radion adalah putranya yang paling tampan.


Lihat saja, putranya benar-benar gagah saat memakai seragam militer. Sejak kecil Radion memang bercinta-cita menjadi seperti Kakeknya. Dan sekarang dia sudah menjadi seorang abdi negara.


Renata senang karena putranya terlihat baik-baik saja.


"Rad, apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Renata meski tidak dapat didengar.


Namun, kedatangan seorang wanita yang berlari kecil menghampiri Radion menjawab pertanyaan Renata.


"Maaf, aku terlambat, Rad. Padahal kita sudah janji ber──" perkataan gadis itu berhenti karena melihat sosok Renata, matanya terbelalak dengan sempurna.


Ya, dia bisa melihat Renata.


"Elmeyra?"


Renata kenal dengan wanita bermata belo hitam cemerlang itu, yang memiliki kulit putih seperti tahu, dan lesung pipi yang begitu menggemaskan.


"Do-Dokter Renata?"


Elmeyra Felicia──si pasien yang memberikan Renata novel 'Suara Hati Sanaya', sekaligus penulisnya.


"Kenapa kamu masih bertanya, Eyra? Ini memang kuburan Ibuku."


Sepertinya Radion salah paham dengan reaksi terkejut dari Elmeyra.


"Kamu bisa melihatku, Elmeyra?"


Renata menatap Elmeyra dengan binar senang, pada akhirnya ada yang bisa melihatnya.


Elmeyra menelan saliva berat, lalu mengangguk dengan kaku. Terlihat sekali jika gadis itu sangat bingung dan ngeri bersamaan.


Tentu saja dia mengenali Renata meski terlihat lebih muda. Namun, masalah terbesarnya adalah tubuh Renata tembus pandang.


Apa dia sedang melihat hantu? Bolehkah dia pingsan sekarang?


"Kamu terlihat pucat, Sayang. Apa kamu sakit?" tanya Radion khawatir dengan Elmeyra.


Dan ternyata, keduanya adalah sepasang kekasih.


"Wow, putraku berpacaran dengan mantan pasienku," kagum Renata dengan hal yang tidak terduga itu.


"A-ah, aku haus, bisakah kamu membelikan aku minum?" ucap Eyra pada Radion.


"Baiklah, tunggu sebentar," Radion mengangguk, lalu berbalik pergi.


Kini, hanya ada Renata dan Elmeyra.


"Do-Dokter, Renata? Ka-kamu..." perkataan Elmeyra tercekat di tenggorokan.


Renata tersenyum dan memberikan anggukan kepala, "Ya, ini aku. Apa kabar, Elmeyra?"


"A-aku baik, berkat Dokter aku bisa menjalani hidup seperti wanita normal pada umumnya, da-dan aku sebentar lagi akan menikah dengan Radion," jawab Elmeyra sambil memainkan jari gugup, wajahnya yang pucat merona tipis.


Tidak menyangka, jika dia akan berbicara dengan arwah sang calon mertua.


"Itu bagus," ucap Renata tanpa melunturkan senyum, "Terima kasih telah mencintai Radion."


"Dokter tidak keberatan?" Elmeyra menatap Renata dengan mengerjap terkejut, "Padahal aku adalah pasien sakit──"


"Tidak apa, kamu jangan berkecil hati karena itu. Kamu adalah wanita yang kuat, aku tahu itu. Lagi pula kamu sudah kuanggap putriku sendiri. Jadi berbahagialah dengan Radion," sela Renata.


Kedua mata Elmeyra berkaca-kaca mendengarnya, dia juga sudah menganggap Renata sebagai orang tuanya sendiri, karena mantan Psikiater-nya lah yang memberikan semangat dan perhatian untuk sembuh dari penyakit psikis yang dulu dideritanya.


"Terima kasih, Dokter Renata."


Ketika Elmeyra ingin memeluk Renata, wanita itu tidak bisa melakukannya, hanya bisa memeluk udara yang terasa dingin. Seketika itu juga, bulu kuduknya meremang.


"Ja-jadi Dokter benar-benar hantu?"


Renata tertawa pelan, "Sepertinya, ya. Aku adalah hantu. Apa kamu takut?"


"Ti-tidak kok," dusta Elmeyra.


Elmeyra menggeleng cepat, "Aku benar-benar tidak takut."


"Baiklah, kalau kamu tidak takut, bisakah kamu membantuku?"


"Membantu apa?"


"Ini soal novel Suara Hati Sanaya."


**


Waktu bergulir berganti malam.


Kini, Ranata berada di apartemen tempat Elmeyra tinggal.


"Apa? Jadi Dokter Renata masuk ke dalam novel yang aku tulis?


Elmeyra menatap takjub. Sebagai penulis novel, memang sudah tidak asing baginya tentang seseorang yang masuk ke dalam novel.


"Jadi transmigrasi itu benar-benar ada?" sambung Elmeyra dengan menyatukan tangan di depan dada.


Renata mengangguk, dia sudah menceritakan semuanya pada Elmeyra, tentang dirinya yang sudah merubah alur di dalam novel. Dia juga memarahi Elmeyra karena sudah membuat Angel yang tidak bersalah menjadi tokoh antagonis, serta kejahatan-kejahatan Sanaya yang tidak pantas disebut pemeran utama wanita.


Elmeyra tersenyum kikuk, "Maaf, aku kurang memahami perasaan Angel saat menulis alur ceritanya. Aku hanya fokus tentang bagaimana Sanaya mendapatkan kebahagiaan, karena sejak kecil dia juga menderita."


"Sanaya memang pantas bahagia, tapi tidak harus mengorbankan orang lain. Apalagi Angel hanyalah gadis polos dan baik hati," Renata terlihat kesal, "Terlebih kamu membuat Angel sangat mirip denganku!"


Elmeyra menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Aku hanya ingin memasukan Dokter ke dalam novelku, karena novel itu memang sengaja aku buat secara khusus untuk Dokter yang sudah banyak membantuku. Tapi, karakter Sanaya yang lemah dan sering menangis tidak cocok dengan Dokter, jadi pilihannya adalah menjadi Angel."


Renata menghela napas panjang. Ternyata, si penulis novel tidak tahu sifat asli dari Sanaya.


"Kamu tidak tahu saja. Sanaya tidak seperti yang kamu bayangkan, dia begitu licik dan air matanya hanya senjata untuk mendapatkan simpati banyak orang."


Kepala Elmeyra mengangguk beberapa kali, "Aku juga cukup terkejut mendengar semua kejahatan Sanaya yang diceritakan Dokter. Aku jadi menyesal membuatnya happy ending dengan Alvaro."


Kemudian Elmeyra beranjak menuju rak buku yang berisikan novel-novel buatannya, jari lentiknya bergerak menelusuri barisan novel yang tertata dengan rapi.


"Ah, ini dia!" seru Elmeyra ketika mendapatkan novel bersampul kelabu yang dicari, "Aku masih menyimpan novelnya."


"Memangnya kenapa kalau kamu masih menyimpannya?" tanya Renata heran.


Wanita berlesung pipi itu diam tidak menjawab, dia mulai membuka novel dan membaca isinya. Dan ekspresinya seketika terkejut, "I-ini..."


"Ada apa?" tanya Renata mengeryit penasaran.


Elmeyra masih tidak menjawab pertanyaan Renata, dia membalik lembaran kertas novel dengan cepat, tidak lupa membacanya juga.


"Isi novelnya berubah semua, persis seperti yang Dokter ceritakan. Pemeran utamanya juga berubah menjadi Angel dan Jefra Tjong."


"A-apa?" Renata terkejut mendengar apa yang dikatakan Elmeyra.


Perbuatannya merubah alur novel, ternyata berujung merubah isi keseluruhan dari novel tersebut.


Tapi, bukankah novel itu sudah dicetak sebelumnya?


Benar-benar sesuatu yang mengejutkan, dan diluar nalar.


Elmeyra menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan kristal bening.


Renata menjadi panik dibuatnya.


"Cinta Angel dan Jefra Tjong begitu menyedihkan. Berakhir sad ending, dengan Angel yang koma dalam keadaan mengandung."


Renata membeku, matanya melebar dan tidak berkedip. Berkali-kali terlihat menelan salivanya sendiri.


"Tidak, tidak mungkin berakhir sad ending," gumam Renata menggelengkan kepala. Hatinya makin gundah. Jadi itulah penyebab jiwanya menjadi hantu di sini?


Napasnya mulai tersengal, terasa sesak. Menghentak tulang-tulang di dada, menjadikannya kembang kempis berdetik-detik.


Jika novel sudah menunjukkan sebuah akhir sad ending. Apakah dia sudah tidak bisa kembali bertemu Jefra yang masih di dalam dunia novel?


Namun, saat ini pasti Jefra sedang menunggunya terbangun dari koma.


"Apa ada cara supaya aku bisa kembali ke dalam novel?" Renata bertanya dengan pelan, tapi masih bisa didengar Elmeyra.


"Aku telah memikirkan sebuah cara."


Tiba-tiba Elmeyra memberi sebuah jawaban yang membuat hati Renata sedikit lega. Apakah wanita berlesung pipi itu benar-benar bisa membantunya kembali pada Jefra?


Ya, sepertinya bisa. Itulah mengapa hanya Elmeyra yang bisa melihat hantu Renata.


"Bagaimana caranya?" tanya Renata.


_To Be Continued_