
Menginjak hari ketiga atas bangunnya Renata dari koma, semua terapi dia lakukan untuk mengembalikan jati diri dan kebugaran tubuhnya. Sang suami tidak pernah absen untuk menemaninya yang entah melakukan terapi jalan ataupun lainnya.
Jefra menunggu Renata dengan sabar dan tersenyum hangat, serta semangat yang luar biasa, dia sangat memprioritaskan Renata dari segalanya. Jefra Tjong yang seperti mayat hidup sudah hilang entah ke mana. Dia sudah kembali sehat setelah diobati.
Renata menatap Jefra yang tengah mengecupi jemari tangannya lembut dengan tersenyum. Hatinya tidak dapat berbohong jika saat ini sangat bahagia. Namun detik kemudian, senyumnya luntur terganti dengan tatapan sendu.
"Dear, kenapa?" tanya Jefra dengan suara berat magnetiknya.
"Aku hanya mengingat masa lalu saja," jawab Renata masih menatap sendu.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Jefra sambil membelai wajah cantik sang istri yang sedang terbaring di brankar.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Renata berkata dengan perasaan ragu.
"Apa yang ingin kamu ketahui, aku akan menjawabnya, Dear," jawab Jefra dengan cepat.
"Mengapa aku tidak pernah tahu? Tentang kamu yang menjadi seorang Intelijen?"
Mendengar itu, ketakutan mulai dirasakan Jefra. Dia tahu jika sang istri sedang menginginkan penjelasan, penjelasan tentang kebohongannya di masa lalu.
Namun, Jefra terdiam. Dia tidak mampu berkata-kata lagi.
"Baiklah, aku mengantuk ingin tidur saja," ujar Renata menutup mata, lalu menarik tangannya dari genggaman sang suami.
Jefra mengeryit tidak rela ketika tangan mungil itu diambil sang empunya. Merasa hampa tiba-tiba.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Jefra di tengah kesunyian di antara mereka.
Renata diam, pura-pura tidur lebih tepatnya. Menghindar memberi jawaban. Marah katanya? Asal tahu saja, Ini lebih dari kata marah, dia kecewa. Sangat kecewa, atas keputusan Jefra yang menyembunyikan identitasnya selama pernikahan masa lalu mereka. Bahkan, saat ini sang suami masih tidak jujur.
"Renata Sayang, aku tahu kamu belum tidur," ujar Jefra membuat Renata menghembuskan napas pasrah, lalu membuka matanya perlahan dan melihat langit-langit dengan tatapan kosong.
"Aku kagum padamu, Jef. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyimpan rahasia mengenai pekerjannya sebegitu lama, hingga baru diketahui sesaat setelah kematiannya."
Jefra tertegun dengan perkataan Renata. Terlebih dengan sorot mata itu, sama sekali belum pernah melihat sorot kosong sang istri semenjak mereka bersama. Terakhir dia melihat sorot itu ketika Renata dikhianati sahabatnya dan mantan kekasihnya. Dulu, ketika kehidupan sebelum di dunia novel.
Hening.
Jefra membisu, hanya meremas kuat tangannya yang bertautan di bawah. Jantungnya berpacu dengan cepat, seolah ingin meledak dengan rasa sesak yang menghantam tubuhnya. Raganya bagai ditusuk-tusuk jarum dari sebuah rasa bersalah dan penyesalan.
Kenapa Jefra masih takut untuk jujur? Bukankah dia meminta kesempatan kedua untuk bisa berkata jujur pada sang istri?
Lantas untuk apa dirinya kembali hidup, jika masih saja tidak bisa memperbaiki kesalahannya?
Renata kembali memejamkan mata, mencoba menghalau rasa kecewa atas kebisuan dari Jefra. Hingga pintu ruang rawatnya terbuka, menampakkan sosok Suster yang tengah membawa makan siang untuknya.
Jefra segera mengalihkan atensinya pada sang Suster. Dia hanya memberikan anggukkan kecil saat Suster itu tersenyum.
"Selamat siang, ini makan siang untuk Nyonya Tjong. Segera dimakan dan dihabiskan, ya. Supaya cepat sembuh. Selamat menikmati."
Suster memindahkan makanan di atas meja.
"Terima kasih, Sus," Renata menjawab perintah sang Suster.
Kemudian wanita berpakaian perawat itu keluar, setelah mengangguk.
Dengan mandiri, Renata mencoba duduk bersandar pada kepala brankar. Tanpa menghiraukan bantuan Jefra yang tengah memperbaiki posisi ranjang agar dalam tipe duduk.
Jefra sontak berdiri, menatap sendu Renata yang tengah mengatur bantal pada kepala brankar. Bahkan dia masih berdiri di tempat ketika Renata makan, tanpa menghiraukan keberadaannya yang bisa menyuapi istrinya itu. Padahal Jefra akan dengan senang hati untuk menyuapi Renata.
"Dear, sini aku suapi," ujar Jefra ingin mengambil mangkuk yang berisikan bubur.
Namun, gerakan Jefra berhenti ketika tangannya ditahan Renata cukup kuat. Kedua bola mata itu saling menatap, dengan sorot masing-masing.
Sedangkan Jefra dengan sorot prihatin yang lara.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
Renata mencoba tersenyum manis, lalu melepas tangan Jefra dan melanjutkan makan tanpa menghiraukan tatapan terluka sang suami.
"Maaf, Renata. Maafkan aku yang brengsek ini. Kumohon. Aku bisa jelaskan semuanya, Sayang. Tolong dengarkan aku."
Mendengar perkataan lirih sang suami, pergerakan tangan Renata yang ingin menyuapi dirinya sendiri terhenti. Kemudian meletakkan kembali sendok pada mangkuk dan menatap Jefra, menandakan jika dia akan mendengarkan suaminya itu.
"Sejujurnya, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Seorang Agen memang tidak boleh membuka dirinya sebagai Agan Intelijen," ucap Jefra menatap lekat.
"Termasuk pada istrimu?" tanya Renata tersenyum dingin.
"Ya, termasuk istriku, anakku, keluargaku, dan teman-temanku. Aku harus membohongi mereka semua. Itu adalah tuntutan dari pekerjaanku. Apalagi aku memiliki banyak musuh diluar sana, aku tidak boleh gegabah dengan menempatkan kamu dalam bahaya. Aku ingin kamu merasakan kehidupan yang tenang tanpa memikirkan bahaya apapun."
Renata diam, menatap kosong dinding di depannya. Hatinya seorang mati rasa, ketika sang suami menjelaskan alasan berbohong selama dua puluh lima tahun pernikahan mereka.
"Aku juga tidak mau membuatmu dihantui rasa khawatir saat aku menjalankan misi, karena seorang Intelijen memiliki peluang kematian yang begitu besar," beber Jefra.
Semua perkataan Jefra menyusup dalam relung hati Renata.
Terhentak. Di antara kebenaran, tetapi juga tidak menginginkannya. Apapun yang bersangkutan dengan seorang Agen Intelijen memang kerahasiaan. Namun, bertahun-tahun dibohongi sang suami tidak pernah ada dalam keinginan Renata.
Tidak ada orang yang senang dibohongi.
"Sayang, aku benar-benar merasa bersalah. Apa kamu bersedia memaafkan aku? Tolong maafkan aku. Aku mencintaimu," perkataan Jefra terdengar sangat memilukan.
Mata Renata mulai berair dan berkaca-kaca, lalu mengangguk, "Ya, aku memaafkan kamu, Jef. Tapi jangan pernah membohongiku lagi."
Jefra mendekat untuk meraih tubuh Renata ke dalam pelukannya, "Aku berjanji tidak akan membohongimu lagi, aku siap menerima hukuman apapun jika aku melanggar janjiku ini."
Renata melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Jefra, lalu tersenyum, "Aku pegang janjimu."
Beberapa menit mereka berdua berpelukkan. Kemudian Jefra melepaskan pelukannya, menatap wajah sang istri lembut dan menyematkan helaian rambut hitam ke belakang telinga.
"Apa sekarang aku sudah boleh menyuapi kamu?" pinta Jefra dengan nada menuntut.
Senyum Renata mengembang sangat lebar, "Boleh."
"Hmm, ayo buka mulutmu," Jefra menyendok sesuap bubur, dan meletakkan di depan mulut Renata.
Renata langsung membuka mulut dan menerima suapan itu. Dua mata bertatapan. Mereka sangat paham maksud tatapan itu. Terdapat sebuah cinta di sana.
Tidak banyak berbincang ketika Jefra menyuapi Renata. Mereka hanya saling pandang dengan jantung masing-masing yang berdebar.
Sesekali Jefra membelai pipi Renata, dan si wanita merengkuh kemari suaminya. Mereka berpegangan tangan, saling bermain di antara jemari satu sama lain.
"Sebentar, ada kotoran."
Jefra mengambil tisu yang berada di atas meja, lalu mengelap bibir Renata. Bubur telah habis.
"Terima kasih, Sayang. Kamu perhatian sekali."
Renata meraih rahang tegas Jefra untuk mendekat padanya, dia memberikan ciuman di pipi dengan lembut.
Jefra tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya pada Renata. Menyentuhkan kening mereka berdua, lalu berbisik tepat di depan wajah Renata, "Cepatlah sembuh, Dear."
"Kalau terus disayang kamu seperti ini, aku pasti cepat sembuh," ucap Renata dengan manja, kedua tangannya melingkar di leher sang suami.
_To Be Continued_