Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Berbicara Dengan Aslan


Renata hendak memasuki cafe saat berpapasan dengan Aslan.


Ugh, kenapa aku harus berpapasan dengan si penjahat kelamin ini? batin Renata merutuki kesialannya.


Dan apa yang dilakukan pria bermata abu-abu itu di sini?


Untunglah Renata sudah bisa melawan rasa takutnya pada pria itu.


Lalu Renata melirik segelas kopi yang berada di tangan Aslan. Sebenarnya tidak ada yang aneh, di sini kan tempat orang-orang membeli kopi.


Keduanya hanya saling bertatapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Renata lalu melangkah ke samping, melewati Aslan begitu saja dan menciptakan jarak sejauh mungkin di antara mereka berdua.


Tidak ingin berlama-lama, Renata segera ke konter untuk memesan kopi untuk dirinya dan sang suami.


Namun siapa sangka, Aslan justru berdiri di depan pintu keluar, menunggu Renata.


Renata memesan Choco Frappuccino dan Espresso. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapatkan kopinya, dia beranjak menuju pintu keluar cafe.


Sebelum mencapai pintu, Aslan menghadang langkah Renata hingga terhenti.


"Senang bertemu denganmu, Angel."


Mata abu-abu Aslan mulai menatap Renata dari ujung kepala hingga kaki. Ingin sekali Renata mencoloknya. Bisa-bisanya menatap istri orang seperti itu.


"Ah sayang sekali, aku tidak senang bertemu denganmu," sengit Renata tanpa ingin beramah-tamah.


Saat ini, mereka berdua sedang berada di tempat umum. Apa yang bisa Aslan lakukan padanya? Jika pria itu macam-macam pun, Renata akan memukul wajahnya.


Bibir Aslan tersenyum, tapi matanya memancarkan kekesalan. Dia kesal karena semenjak wanita itu menikah dengan Jefra Tjong, jarak di antara mereka semakin membentang luas.


"Kamu terlalu jujur, aku benar-benar mengagumi itu," ucap Aslan, lebih tepatnya dia mengagumi semua yang ada pada diri wanita di hadapannya itu.


Renata mengangkat bahu, dia terlalu malas untuk berbicara dengan orang seperti Aslan. Pria pengecut yang hampir menodai Angel dulu.


"Apa kabarmu, Angel?" Aslan mulai berbasa-basi.


"Tidak ada urusannya denganmu," jawab Renata jutek.


Helaan napas Aslan terdengar berat. Dia cukup memaklumi respon Renata, yang terang-terangan tidak menyukainya, "Aku hanya ingin berbicara singkat. Apa kita bisa duduk sebentar?"


"Kenapa tidak bicara di sini?" Renata memicing mata tajam.


"Tidak baik bicara di sini, kita menghalangi pintu keluar," jawab Aslan mengingatkan Renata tentang posisi mereka berdiri.


Pada akhirnya, Renata bersedia untuk berbicara sebentar dengan Aslan.


Meraka menduduki kursi yang tidak jauh dari pintu keluar cafe. Itu adalah keinginan Renata, yang beralasan ingin segera pergi jika waktunya habis. Dia memang hanya memberikan sedikit waktu untuk memberi kesempatan Aslan bicara.


"Bicara pada intinya saja," ujar Renata to the point.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu ini?"


"Eh?"


Apa maksud pertanyaan Aslan?


Aslan tidak sanggup menatap langsung bola mata Renata, karena dia masih diselimuti rasa bersalah. Tatapnya bergerak ke bawah, pada jari-jarinya yang berada di atas meja.


"Seandainya kamu berpisah dengan Jefra Tjong, apa kamu akan sedih?"


"Tentu saja aku akan sedih!" jawab Renata dengan tegas.


"Kamu..." Aslan mencoba menguatkan hati untuk melanjutkan perkataannya, "Benar-benar mencintainya, huh?"


"Ya."


Itu memang kebenaranya. Renata mencintai Tuan J, bahkan sangat mencintainya. Dia tidak membantah.


Aslan tersenyum hambar, "Semoga kamu bahagia."


Renata mengangguk.


"Jika aku merusak pernikahan kalian, apakah kamu akan membenciku?" pria itu kini mencoba memberanikan diri menatap wajah wanita yang sejak dulu dicintainya.


Melongo, terbelalak, tertegun, sebut saja semua ekspresi terkejut yang ada. Itulah wajah Renata saat ini.


Apa Aslan berniat merusak pernikahannya? Renata sungguh tidak habis pikir.


"Aku pernah berencana ingin merebut kamu dari Jefra Tjong," tatapan Aslan berubah sendu, "Tapi aku membatalkan niatku itu."


Renata menghela napas setelah menahannya beberapa detik. Untunglah, Aslan membatalkan niatnya itu. Oke, baiklah! Dia tidak jadi mencekik leher pria itu!


"Apa yang membuatmu membatalkannya?" tanya Renata dengan raut wajah serius.


"Ini karena aku menyadari niatku itu salah. Aku sempat berusaha melaksanakannya karena mendapatkan provokasi dari Ibu tiri suamimu. Dan untuk sesaat aku mempertimbangkan hal itu."


Sienna benar-benar gemar sekali memprovokasi orang. Beruntung wanita itu sudah diusir dari kediaman keluarga Tjong.


"Dan kamu mempertimbangkannya?" selidik Renata.


"Ya, tadinya. Itu karena aku sangat marah ketika merasa terhina di hari pernikahanmu," bola mata Aslan kembali bergerak ke bawah, memutus tatapannya, "Terlebih aku mencintaimu."


Renata terkejut dengan ungkapan cinta dari Aslan. Di dalam pikirannya kini, lelaki itu sangat mencintai Angel sampai berbuat apa saja untuk mendapatkan cintanya. Termasuk berbuat jahat, dan pada akhirnya menyesal karena telah salah langkah. Ternyata Aslan tidak sepenuhnya jahat.


"Tapi aku sadar, pasti kamu akan bertambah membenciku. Aku tidak ingin kembali menyakitimu. Dulu aku sudah termakan ajakan Sanaya untuk berkerjasama menghancurkan hubunganmu dengan Alvaro. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti saat itu."


Sanaya memang benar-benar licik!


"Terima kasih karena sudah jujur," ucap Renata menghargai kejujuran Aslan.


"Ya," jawab Aslan sambil mengangguk.


Lalu pria itu menelan saliva untuk bersiap kembali membuka mulut.


"Angel, aku... minta maaf," sesal Aslan mantap, memohon pada wanita yang hampir dia nodai.


Sekian lama menjadi seorang pria pengecut. Pada akhirnya, Aslan berani meminta maaf. Dia tidak mau rasa bersalah terus mengerubungi batin, layaknya lebah berkerumun di bunga paling wangi.


Renata tersenyum, "Ya, aku memaafkan kamu."


Tidak ada salahnya untuk memaafkan Aslan, bukan? Pria itu juga sudah sangat menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Terkadang seseorang tidak bisa luput dalam melakukan kesalahan.


Kini, raut wajah Aslan terlihat lega.


Aslan juga ikut tersenyum, "Kurasa aku harus mencari istri supaya bisa cepat melupakanmu."


Meski, melupakan adalah hal yang sulit. Tapi Aslan akan berusaha melepaskan wanita yang dicintainya itu.


Renata tertawa, "Kamu harus mencari wanita yang baik dan cantik untuk kamu jadikan istri."


"Hmm, apa kamu memiliki teman yang bisa dikenalkan padaku?"


"Kamu salah meminta dikenalkan seorang wanita padaku. Karena aku tidak memiliki teman," Renata berkata dengan bangga.


"Kasian."


Kemudian mereka berdua tertawa.


Sett


Renata terkejut ketika tangannya ditarik oleh seseorang, hingga membuatnya berdiri dengan paksa. Dan terbelalak ketika tahu siapa yang menariknya.


Jefra Tjong tiba-tiba hadir dengan aura... kecemburuan?


"Je-jef?"


"Apa yang kamu lakukan bersama Aslan di sini? Kamu selingkuh di belakangku?"


Kebersamaan Renata dengan Aslan terlihat oleh sudut mata Tuan J. Tadinya, dia sedang berbincang bisnis dengan seorang klien yang mengajak singgah ke cafe, menjadi terhenti ketika melihat pemandangan yang memanaskan hati. Dengan segera dia mendekati Renata dan menarik tangan istrinya itu.


Tuan J marah melihat sang istri dekat-dekat dengan pria lain. Lebih marah lagi karena melihat Renata tersenyum ramah, bahkan tertawa dengan Aslan.


Dia tidak tahan melihat itu semua, tidak ada lelaki yang boleh mendekati Renata-nya, wanita itu hanya miliknya! Istrinya!


"Calm down, jangan menariknya dengan kasar."


Aslan justru memperparah keadaan dengan menarik tangan Renata yang satunya.


Darah panas langsung naik ke ubun-ubun melihat tangan Aslan memegang tangan Renata. Pandangan tajam langsung diarahkan pada Aslan. Ingin sekali menghabisi pria itu.


"Lepaskan tangan kotormu dari istriku."


_To Be Continued_