Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kamu Ingin Berdansa?


Saat situasi di antara kedua pria itu menegang dan saling melayangkan tatapan tajam. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, yang justru menambah kemelut.


Renata semakin beringsut ke belakang tubuh Tuan J. Dia sangat tidak menyukai perasaan takutnya ini, tubuhnya gemetar tanpa mengindahkan perintah otaknya untuk tidak takut pada pria bermata abu-abu itu. Renata meyakini jika rasa takut yang ia rasa hanyalah sebuah perasaan dari tubuh Angel. Dia mencoba sebisa mungkin untuk tidak membiarkan perasaan itu merenggut kendali dirinya.


Renata harus melawan rasa takutnya ini, karena dia yang telah mengatasi ketakutannya akan benar-benar bebas.


Bersama dengan Renata yang berusaha melawan rasa takut, situasi di antara Tuan J dan Aslan semakin menegang.


"Apa-apaan suasana tengang ini?" Aslan bertanya dengan nada yang sengaja dikeraskan, sepertinya dia ingin semuanya mendengarnya, "Sudah kubilang aku hanya ingin menyapanya saja dan memberikan ucapan selamat untuk pernikahan kalian."


"Pergilah, Aslan. Simpan saja kata selamat yang ingin kau sampaikan itu," Tuan J berkata dengan mendesis pelan.


Prok... Prok...


Aslan bertepuk tangan dengan menunjukan ekspresi menyebalkan.


Setelahnya suasana hening seketika.


"Apakah ini cara seorang CEO dari perusahaan nomor satu pada tamu undangannya? Padahal aku datang ke sini untuk memenuhi undangan yang kau kirim padaku, dan dengan seenaknya kau menyuruhku pergi setelah aku datang. Apa kau sengaja membuatku malu, sialan!"


Seketika semua berbisik-bisik tidak suka dengan sikap Tuan J yang terkesan tidak menghargai tamunya, menganggap jika pria itu terlalu arogan.


"Kenapa Jefra Tjong begitu arogan sekali?"


"Memang tidak sepantasnya dia memperlakukan putra keluarga Allansky seperti itu."


"Apa ini sebuah cinta segitiga?"


"Perlakukan Jefra Tjong memang keterlaluan."


"Ya, lanjutkan, Aslan. Buat imagenya jatuh, sejatuh-jatuhnya," Sienna yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan, rencananya berjalan sesuai apa yang ia inginkan. Dia memang sengaja mengundang Aslan untuk membuat keributan semacam ini.


Sedangkan Aslan menganggap jika undangan yang diterimanya adalah dari Jefra Tjong sendiri. Aslan berpikir jika Tuan J sengaja memanas-manasi dirinya dengan mengundangnya. Dia begitu kesal karena itu, dan kekesalannya semakin bertambah karena Tuan J menyuruhnya pergi.


Tanpa Aslan tahu, dia hanya sedang diadu domba oleh Sienna.


Tuan J hanya berekspresi datar seolah-olah tidak perduli dengan apa yang dikatakan Aslan.


"Kenapa diam saja kau, Jefra Tjong? Apa kau tidak ingin meminta maaf padaku karena sudah berbuat seenaknya? Hanya karena kau adalah orang yang paling berkuasa tidak berarti bisa merendahkan aku!" cerca Aslan.


"Bukankah kau memang rendah dan menyedihkan," Tuan J membalas dengan perkataan yang membuat Aslan semakin naik darah.


"Sialan! Apa Ibumu yang sudah mati itu tidak pernah mengajarimu tentang bagaimana menghargai orang lain, hah?" hardik Aslan semakin menjadi-jadi.


Tuan J mengetatkan rahang karena Aslan menyinggung Ibunya. Lalu tangannya terkepal berniat melayangkan pukulan.


Namun.


Plak


Sontak semua orang terbelalak tatkala Renata menampar pipi Aslan. Begitu pula pria yang mendapatkan tamparan, terlihat sangat terkejut hingga matanya melotot seperti ingin keluar. Sedangkan Tuan J juga tidak kalah terkejutnya, padahal tadi istrinya itu terlihat sangat ketakutan terhadap Aslan.


Hal itu karena Renata sudah berhasil melawan rasa takutnya.


Renata menatap Aslan dengan wajah yang merah padam. Ketakutan yang ia rasa sudah menguap, dan tergantikan dengan sebuah kemarahan karena pria itu sudah menekan Jefra-nya dengan kata-kata tidak pantas.


"Angel kamu menamparku?" Aslan bertanya dengan nada yang bergetar, sungguh tidak menyangka dengan apa yang telah ia dapatkan dari gadis yang dicintainya.


"Kamu memang pantas untuk mendapatkannya, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu pada suamiku. Bagaimana kamu ingin dihargai, jika dirimu saja tidak sopan terhadap orang lain," cerca Renata.


"Ya, tidak heran jika Jefra Tjong begitu."


"Kata-katanya tadi memang keterlaluan, sih."


"Kelakuannya memang tidak sopan."


"Memang setiap orang pasti punya salah tapi coba introspeksi dulu aja, barangkali dia sendiri yang salah."


"Apa dia sengaja datang ke sini hanya untuk mengacaukan pesta pernikahan ini?"


"Kudengar keluarga Tjong dan keluarga Allansky memang tidak akur."


"Lantas kenapa dia datang ke sini?"


Sontak semua orang berbalik menyalahkan Aslan.


Lidah Aslan mendadak keluh, tidak mampu membalas apa yang dikatakan Renata. Perasaan bersalah terhadap gadis itu tiba-tiba muncul. Terlebih melihat kemarahan pada wajah cantik Renata.


"Angel, aku..." kata-kata yang ingin disampaikan Alasan seakan tercekat di tenggorokan. Sejatinya dia ingin meminta maaf pada gadis itu.


"Aku apa?" tanya Renata masih tidak merubah ekspresinya.


Aslan kembali diam. Katakanlah dia pria pengecut.


"Tuan," ucap seorang pria dengan stelan jas formal berwarna hitam──Dannils, Sekretaris sekaligus tangan kanan Aslan.


Dannils mendekat dan berbisik pada Aslan, memberi saran jika sebaiknya Tuan-nya itu pergi, saat ini situasi tidak berpihak pada Aslan. Jika terus begini nama Aslan lah yang akan menjadi buruk.


Kemudian Aslan berbalik pergi dengan perasaan yang kalut.


"Memang tidak seharusnya aku takut padanya, ternyata di saat yang sama juga dia malah takut padaku," lirih Renata seraya menatap punggung Aslan yang menjauh namun masih bisa didengar Tuan J.


"Untuk apa kamu takut padanya? Aslan hanyalah seorang pengecut yang tidak berani minta maaf ketika dirinya sadar melakukan kesalahan," tukas Tuan J dengan nada yang terdengar datar.


Renata menengok ke samping untuk melihat wajah sang suami, "Oh, jadi namanya Aslan."


"Kamu tidak tahu namanya?" Tuan J merasa heran.


Renata tertawaan kikuk, "Aku lupa."


"Kalau begitu lupakan saja, jangan sebut namanya lagi."


"Eh?"


Renata bingung dengan maksud Tuan J berkata seperti itu.


Setelahnya, suasana mencair tatkala terdengar alunan musik pertanda acara puncak resepsi dimulai, yakni acara dansa.


Di tengah lantai dansa sedang berlangsung, beberapa pasangan sedang menari indah, meliuk lihai sembari tersenyum bahagia seakan tidak ada kejadian menegangkan sebelumnya.


"Kamu ingin berdansa?" bisik Tuan J tepat di sisi wajah Renata.


Renata yang sejak tadi fokus menatap kagum mereka yang tengah berdansa sedikit tersentak mendengar suara berat Tuan J, "Aku tidak bisa menari," jawabnya tersenyum masam.


"Ayo!" ajak Tuan J sudah mengulurkan tangan di depan Renata.


"Ayo apa?" tanya Renata kebingungan.


Tanpa pikir panjang Tuan J menarik lembut Renata ke tengah lantai dansa. Berkumpul di tengah-tengah pasangan romantis yang sedang berdansa dengan diiringi alunan lagu yang terdengar mirip dengan Perfect──Ed Sheeran.


Sesampainya mereka di lantai dansa secara tiba-tiba lampu sorot mengarah ke arah mereka berdua. Renata terkejut sekaligus malu karena mereka menjadi pusat perhatian.


"Kita adalah tokoh utama di sini, kamu harus tenang," ujar Tuan J.


Renata berdiri kaku, sungguh tidak bisa tenang. Ayolah, dia benar-benar tidak bisa berdansa!


"Kamu hanya perlu mengikuti langkahku, eratkan tanganmu seperti ini dan kamu bisa melangkah lebih dekat lagi jika kamu ingin," jelas Tuan J.


Detak jantung Renata sungguh tidak bisa dikontrol sekarang. Dia hanya pasrah tatkala Tuan J menaruh tangan kanannya di pundak kiri suaminya itu. Sementara tangan kiri Tuan J memegang pinggang Renata dan tangan kanan disatukan dengan tangan kiri Renata.


"Perlahan kamu pasti bisa, Renata. Kamu hanya perlu rileks," Tuan J mengusap lembut jari-jari Renata sebentar lalu kembali pada tugasnya.


Ayunan demi ayunan Tuan J membawa tubuh Renata agar mengikutinya. Hingga Renata merasa rileks dan bisa memahami gerak demi gerak untuk mengikuti tuntunan sang suami di dalam tarian dansa romantis itu.


"Tadi kamu memanggilku Renata?" tanya Renata dengan malu-malu, ini kali pertama Tuan J memanggil namanya, biasanya ia dipanggil 'Nona Angelica'. Sesuatu yang sederhana memang, tapi itu membuat Renata senang.


"Hmm," Tuan J hanya bergumam.


Kemudian Tuan J menarik Renata untuk mendekat seperti tidak menghasilkan jarak apapun, bahkan selebar kertas tidak mampu menembus jarak di antara tubuh mereka.


Renata menelan saliva kesulitan. Tatapannya tidak sengaja bertemu dengan bola mata hitam milik Tuan J yang membuatnya salah tingkah, darahnya berdesir merasakan hembusan napas yang menyapu kulit lehernya. Lalu Renata memejamkan matanya sebentar. Ini tidak baik untuk jantungnya yang terpompa begitu cepat.


Dan sedetik kemudian mata Renata kembali terbuka tatkala merasakan detak lain dari jantung yang bukan miliknya.


Jantung milik Jefra Tjong juga berdetak begitu keras.


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa detak jantungmu begitu keras?" tanya Renata yang diselimuti rasa penasaran.


_To Be Continued_