Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Tuan J Cemburu


"Lepaskan tangan kotormu dari istriku," desis Tuan J menahan diri supaya tidak meninju Aslan. Sebagai gantinya, dia justru mencengkram pergelangan tangan Renata kencang.


Renata meringis kesakitan dibuatnya.


Menyadari kesalahannya, Aslan melepaskan tangan Renata.


"Jef, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," Renata mencoba menjelaskan.


"Pulang!"


Mengabaikan perkataan Renata, Tuan J langsung menarik istrinya itu keluar dari cafe.


"Arvin, kamu urus klien," titah Tuan J ketika melewati Alvin.


"Baik, Tuan."


Tuan J langsung menggiring Renata masuk ke dalam mobil.


"Tapi aku membawa mobil," tukas Renata, teringat dengan mobilnya yang terparkir di parkiran cafe. Bahkan, kopi yang tadi dia beli tertinggal di meja──tempat di mana berbicara dengan Aslan.


Namun, Tuan J tidak memberikan jawaban apapun. Dia diam.


Brak


Lalu Tuan J membanting pintu mobil dengan keras, ketika Renata sudah berhasil dia masuk ke dalam mobil. Membuat Renata terlonjak kaget hingga memejamkan mata.


Renata meneguk saliva dengan kasar, menoleh ke samping untuk menatap suaminya yang tidak sedikitpun menggubris ucapannya.


Tuan J mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Aku tidak selingkuh, aku hanya mengobrol dengan dia," Renata mencoba menjelaskan.


Meski sudah dari jarak sedekat ini. Tapi, tetap saja. Tuan J seolah menulikan telinga. Dia justru fokus memutar stir dan menatap ke depan.


"Jefra..." panggil Renata, sambil meremas jemarinya sendiri dengan gugup.


Berharap, Tuan J memberikan respon kecil. Tidak apa meski hanya satu kata saja, bergumam seperti biasa juga tidak apa, atau paling tidak memberi jawaban dari gestur tubuh.


"Jef──"


Perkataan Renata terhenti. Tepat, ketika Tuan J melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Jef, pelan-pelan..." cicit Renata, ketakutan karena Tuan J mengendarai mobil ugal-ugalan.


Tuan J tetap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa memperdulikan beberapa pengendara yang mengumpat karena hampir tertabrak. Di sepanjang jalan dia terus membunyikan klakson mobil, yang tandanya menyuruh para pengendara untuk menghindar dari jalannya.


"Jefra, Sayang, please...! Kita bisa mati konyol!" teriak Renata, berharap sang suami bersedia memelankan laju mobilnya.


"Jefra!"


Ciitttt


Dan benar saja, mobil yang mereka tumpangi hampir menghantam mobil lain dari arah berlawan. Beruntung Tuan J dengan cepat menghindar.


Namun, bukannya menekan kecepatan setelah kejadian barusan. Tuan J justru lebih ugal-ugalan.


"Ti-tidak, aku tidak mau mati lagi, Jefra!" pekik Renata dengan mata berkaca-kaca. Siapa yang tidak takut jika berada dalam situasi berbahaya seperti ini? Nyawanya dalam taruhan. Hanya ada dua pilihan, berhenti atau mati.


Tuan J masih tidak memperdulikan Renata. Seolah tidak mendengar teriakan-teriakan ketakutan yang istrinya lontarkan. Saat ini dia hanya ingin meluapkan emosinya dengan ngebut seperti ini.


"Jefra dengar tidak, sih!" Renata membentak sekencang mungkin.


Brak


Tuan J memukul stir dengan kencang. Mata hitamnya menyorot tajam Renata. Dari tatapannya menunjukkan jika betapa marahnya dia sekarang.


"Kamu pikir, kamu bisa seenaknya mengkhianati aku? Berpaling pada Aslan seperti itu? Hah!"


Renata menggeleng kuat, dan masih meras takut karena Tuan J belum juga memelankan laju mobilnya.


Ciitttt


Tuan J menepikan mobilnya tiba-tiba, hal itu sungguh membuat Renata hampir serangan jantung.


"Padahal sudah tertulis jika kamu tidak boleh selingkuh. Jika kamu memiliki laki-laki yang dicintai, lebih baik berterus terang dan segera bercerai!" dada Tuan J terlihat naik turun karena menahan emosi.


Renata tercekat mendengarnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, dan kepanikan itu semakin menguasai dirinya.


Cerai? Yang benar saja!


Renata dapat melihat, kedua tangan Tuan J yang mencengkram kuat stir mobil. Lalu mencoba meraihnya, tapi tangannya langsung di tepis.


"Jangan sentuh aku, sebelum kamu menjelaskan semuanya!"


Renata terdiam, lalu menatap Tuan J dengan seksama. Dia tahu, suaminya hanya sedang cemburu.


Entah kenapa Renata justru merasa senang. Bukankah cemburu itu tandanya sayang? Jadi rasa cemburu Tuan J yang berlebihan ini, dapat diartikan jika rasa sayangnya juga berlebihan.


Jefra Tjong sayang padanya!


"Bagaimana aku bisa menjelaskannya, jika aku tidak bisa menyentuhmu untuk menenangkanmu?"


Di saat seperti ini, ketika dia mendengar suara lembut itu, Tuan J merasa jika pertahanan dirinya runtuh. Cengraman kuat pada stir mobil pun mengendur.


Bagaimana mungkin Renata masih bersikap lembut padanya? Setelah diajak ugal-ugalan di jalan raya?


Renata kembali meraih tangan Tuan J, lalu tersenyum ketika tidak mendapatkan penolakan lagi. Memberi usapan lembut pada telapak tangan besar itu.


Ditatapnya wajah Tuan J yang... Astaga!


Jadi, Jefra Tjong jika cemburu seperti ini? Dengan wajah ditekuk dan bibir manyun ke depan? Bukannya terlihat seram, tapi justru menggemaskan.


"Jadi, biarkan aku jelaskan dulu, ya?"


Tuan J tidak menjawab, dia mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Tadi aku ingin mengunjungimu ke kantor dengan membawakan kopi. Aku tidak sengaja bertemu dengan Aslan saat membeli kopi di cafe tadi."


"Kenapa kamu tidak pergi saja?"


"Memangnya tidak boleh memberi kesempatan seseorang untuk bicara sebentar?"


"Tidak bo──"


"Sttt, diam dulu. Aku belum selesai bicara, Sayang," Renata meletakan jari telunjuknya di depan bibir Tuan J. Meminta sang suami untuk diam.


Tuan J mendengus kesal. Kenapa dia jadi tidak berkutik seperti ini? Dan apa-apaan tatapan teduh sang istri yang berhasil menyejukkan hatinya yang panas.


"Aslan hanya meminta maaf padaku saja. Aku tidak selingkuh dengannya."


Tuan J mendengarkan dengan seksama, kali ini Tuan J menoleh ke samping. Menatap Renata yang sudah selesai dengan penjelasannya.


"Jadi kamu tidak memiliki laki-laki yang dicintai?" tanya Tuan J.


Laki-laki yang dicinta? Tentu saja dia memilikinya. Bahkan, dia mencintai laki-laki yang sedang duduk di sebelahnya itu.


Jika dia menjawab memiliki laki-laki yang dicinta, Tuan J pasti akan menceraikannya. Di perjanjian memang tertulis jika memiliki seseorang yang dicintai, lebih baik berterus terang dan segera bercerai.


Renata tidak ingin bercerai!


Terlebih jika dia mengatakan laki-laki yang dicintainya itu adalah Jefra Tjong sendiri. Yang pastinya pria itu tidak akan suka karena di perjanjian tertulis tidak boleh membawa perasaan.


Renata bingung harus menjawab apa!


Memang seharusnya perjanjian sialan itu tidak ada!


Renata menyesal, seharusnya dia dan Tuan J tidak membuat perjanjian pernikahan simbiosis mutualisme itu.


"Bolehkah jawabannya untuk PR saja?" Renata berkata dengan tersenyum kikuk.


Seketika itu juga, Tuan J mendelik karena tidak suka dengan perkataan Renata. Dia ingin jawaban sekarang juga.


Renata menarik napas dengan pelan. Apa boleh buat, dia harus berbohong. Padahal Renata ingin sekali mengatakan jika dia mencintai Tuan J.


"Aku tidak memiliki laki-laki yang kucintai."


Mendengar itu, seketika Tuan J merasa sakit bekali-kali lipat. Dia menggeleng kepala dengan kecewa.


Tidak memiliki laki-laki yang dicintai, huh?


Padahal Tuan J berharap jika Renata mencintainya. Apa perhatian yang dilakukannya selama ini, tidak bisa membuat wanita itu jatuh cinta padanya?


Tuan J mengepalkan tangannya dengan erat, dia berusaha menerima kenyataan jika jawaban Renata benar-benar meremukkan hatinya.


Ternyata, sebuah perjanjian yang Renata dan Tuan J tandatangani, menjadi bumerang bagi keduanya.


_To Be Continued_