
Knock... Knock...
Suara ketukan pada pintu kamar mengalihkan atensi Renata. Lalu dia segera bangkit untuk membuka pintu.
Terlihat Barnard yang membawa box cukup besar yang berisi beberapa surat dan paket.
"Taruh di atas ranjang saja," ujar Renata.
Barnard hanya menurut, diletakkannya box itu di atas ranjang yang berada di tengah-tengah kamar bernuansa peace.
"Apa Nona butuh bantuan lain?" tanya Barnard setelahnya.
"Aku akan memanggilmu jika sudah selesai memeriksa surat dan paket ini, setelah itu kamu bisa menyerahkannya pada pemiliknya."
"Baik, Nona."
Kemudian Barnard berlalu.
Renata mulai mengeluarkan surat dan paket dari box dan memeriksanya. Membuka dengan rapi agar bisa menutupnya kembali.
Kening Renata berkerut, bukannya menemukan foto-foto yang dicarinya tapi justru sebuah surat pembelian rumah.
"Untuk apa Tante Santy membeli rumah? Atas nama ...Nikolas?"
Renata tersenyum miring ketika menyadari sesuatu.
"Rendra pasti akan menangis darah saat tahu istri tercintanya bermain belakang."
Oh, Renata cukup puas dengan temuannya itu meski tidak menemukan foto-foto yang dicarinya. Tetapi itu tidak masalah, Renata bisa menyuruh Bernard untuk kembali membawa surat dan paket ke kamarnya.
Mungkin foto-foto itu akan dikirim esok atau lusa, yang terpenting Renata sudah antisipasi terlebih dahulu.
**
Dua malam kemudian.
Terlihat Renata yang sedang duduk di sofa ruang tamu karena sedang menunggu seorang Desainer yang akan membuat sepatu pernikahannya.
"Untuk sepatu saja harus memakai Desainer," cibir Renata.
Tidak menyangka jika menikah di dunia ini begitu ribet. Atau karena orang yang akan dinikahinya bukan pria sembarangan? Renata sudah seperti akan menikah dengan pangeran saja.
"Pangeran Jefra," Renata terkekeh geli.
Berpikir tentang Jefra, dia jadi mendadak rindu dengan pria itu. Kemudian diraihnya ponsel untuk mengirim pesan pada sang calon suami. Semenjak menandatangani kesepakatan pernikahan yang saling menguntungkan, Renata menjadi sering bertukar pesan tau saling mengobrol via telepon bersama Jefra Tjong.
Ya, meski harus dipaksa terlebih dahulu.
Seperti sekarang. Renata sedang melakukan bom chat karena Tuan J yang tidak kunjung membalas pesannya.
[ */* 15.42] Renata : P
[ */* 15.42] Renata : P
[ */* 15.42] Renata : P
Renata sampai berniat menulis sampai seratus 'P' sampai Tuan J membalas.
[ */* 15.43] Renata : P
[ */* 15.43] Jefra Tjong : Brisk? q sdg meeting.
Senyum merekah tatkala Tuan J membalas pesannya. Dia bahkan mengabaikan tulisan Tuan J yang begitu singkat.
[ */* 15.43 ] Renata : Kangen...
[ */* 15.43 ] Jefra Tjong : Ap km sdg mabuk?
Renata terkekeh.
[ */* 15.44 ] Renata : Tidak. Memangnya salah kalau kangen dengan calon suami sendiri?
[ */* 15.44 ] Jefra Tjong : Ingt, tdk blh bw prsaan.
"Ish, jahat sekali," Renata merengut.
[ */* 18.44 ] Renata : Cuman bercanda kok.
[ */* 18.45 ] Jefra Tjong : O.
"Sedang apa, Renata?" tanya Zayn yang tahu-tahu muncul.
Renata mendongak untuk menatap Zayn yang melangkah ke arahnya, "Aku sedang menunggu Desainer sepatuku."
Lalu tatap Renata teralih pada pria yang ada di belakang Zayn.
Si pria yang merasa ditatap segera memperkenalkan diri dengan sopan, "Selamat sore, Nona. Saya Nikolas, Sekertaris Tuan Zayn."
Renata mengangguk. Namun, raut wajahnya mendadak berubah.
Nikolas?
"Kak Zayn ganti Sekertaris?" tanya Renata pada Zayn.
"Ya, Sekertaris Kakak yang sering kamu lihat sudah mengundurkan diri karena hamil besar, Suaminya tidak mengizinkan untuk bekerja lagi."
Renata membulatkan bibir tanpa suara. Lalu tatapannya kembali pada Nikolas.
"Ingin ke kantor, mungkin Kakak akan pulang setelah makan malam," jawab Zayn.
Renata bangkit dari duduknya. Lalu meraih lengan kiri Zayn, "Aku ingin bicara dengan Kakak sebentar. Hanya berdua saja."
Zayn terlihat ragu untuk menuruti permintaan Renata. Sebenarnya dia sedang terburu-buru.
"Sebentar saja," rengek Renata.
Pada akhirnya Zayn tidak tega jika Renata sudah merengek, "Baiklah."
Kemudian Renata segera menarik Zayn untuk menjauh dari Nikolas, ke arah pintu menuju kolam renang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, hmm?" tanya Zayn setelah Renata berhenti menariknya.
"Bagaimana Kakak mendapatkan Nikolas? tanya Zayn.
Zayn mengerutkan kening karena tidak paham dengan maksud pertanyaan Renata.
"Maksudku, bagaimana bisa Nikolas menjadi Sekertaris Kak Zayn?" jelas Renata.
"Dari Ayah," jawab Zayn.
Sudah Renata duga. Instingnya memang tidak pernah meleset.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Aku hanya merasa jika Nikolas tidaklah baik."
Zayn agak terkejut mendengarnya.
"Dari mana kamu tahu jika Nikolas tidak baik? Bukankah kamu baru bertemu dengannya?"
"Dari perasaan," jawab Renata dengan mimik serius.
Zayn mengacak rambut Renata, "Kakak kira Nikolas sudah berbuat jahat padamu."
Renata merengut karena kebiasaan Zayn yang suka sekali mengacak rambutnya. Sedangkan Zayn tertawa pelan melihat ekspresi Renata.
"Aku hanya ingin Kakak berhati-hati pada Nikolas," ungkap Renata.
"Berhati-hati? Memangnya Nikolas akan berbuat apa?"
"Pokoknya Kakak harus berhati-hati. Jangan mudah percaya padanya, ya."
"Baiklah," pungkas Zayn.
Renata tersenyum puas karena Zayn mendengarkan kata-katanya.
Kemudian pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, "Kakak harus pergi."
Zayn langsung berbalik pergi setalah mendapat anggukan dari Renata.
Renata menatap punggung Zayn yang menjauh hingga tidak terlihat lagi.
Bukan tanpa alasan Renata memperingati Zayn supaya tidak mudah percaya dengan Nikolas. Hal itu karena Nikolas adalah pria yang dibelikan rumah oleh Santy. Itu terbukti kalau Rendra yang merekomendasikan Nikolas untuk menjadi Asisten Zayn. Pasti Santy ikut andil dalam keputusan Rendra. Wanita rubah itu telah memasukan duri dalam daging.
Renata ingat dengan alur novel yang menceritakan jika Tan Group akan mengalami pailit, ada seorang Karyawan yang membawa kabur uang perusahaan, perusahaan mengalami kebangkrutan karena itu, serta Zayn dijebloskan ke penjara karena dituduh korupsi gaji Karyawan.
Renata yakin, Nikolas pasti adalah orang yang akan membawa kabur uang perusahaan. Setelah itu Santy dan Sanaya bisa menguasai harta keluarga Tan dengan menjadikan Alvaro CEO yang menggantikan Zayn.
Tentu saja Renata akan menghalangi rencana kedua rubah betina itu. Mau tidak mau Renata harus menyelesaikan dua masalah sekaligus.
Bisakah Renata melakukannya?
**
Beberapa saat sebelumnya.
Terlihat para petinggi perusahaan Tj Corp sedang berkumpul di ruang meeting.
Drett... Drett... Drett... Drett... Drett... Drett...
Getaran dari ponsel milik sang CEO seketika menginterupsi suasana serius dan menegangkan itu, bahkan Arvin yang sedang menjelaskan materi langsung terdiam. Lalu semuanya saling tatap tidak berani untuk membuka suara.
Sedangkan si pemilik ponsel segera melihat siapa gerangan yang mengirimkan bom chat yang begitu mengganggu itu.
Si calon istri.
Tuan J menghembuskan napas berat, rasanya ingin sekali memblokir nomor Renata yang selalu menganggu dirinya. Namun, dia urungkan karena teringat dengan perjanjian yang telah disepakatinya.
Semua yang di ruang meeting memperhatikan Tuan J, cukup takjub karena raut wajah kaku yang menjadi image sang CEO bisa berubah-ubah ketika bertukar pesan dengan Renata.
"Ck."
Seketika semua yang di ruang meeting menahan napas karena takut dengan decakan kesal sang CEO.
"Ada apa, Tuan?" Arvin mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku lagi?"
"A-apa?" beo Arvin.
_To Be Continued_