Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Selalu Menjaga Dan Menemanimu


Cahaya putih yang menyilaukan sudah hilang, bersama dengan Renata yang masuk ke dalam novel.


Renata membuka mata. Namun, yang hal pertama yang dilihatnya adalah kegelapan, ruangan yang terasa hampa.


"Di mana aku?" gumam Renata bingung.


Sekarang dia harus ke mana? Kenapa di berada di kegelapan seperti ini? Apa sekarang dirinya benar-benar sudah berhasil masuk ke dalam novel?


"Hei."


Renata langsung menoleh ke asal suara itu. Dan seketika itu juga, matanya mengerjap lebar tatkala melihat sosok yang mirip dengannya.


"Ka-kamu, kamu...?" kata-kata Renata sampai tercekat di tenggorokan karena saking terkejutnya.


Sosok itu tersenyum manis, "Aku Angel. Aku yang akan menunjukan jalan padamu."


"Angel? Kamu Angel yang asli?"


Apa ini? Kenapa Renata bertemu Angel yang asli di tempat seperti ini?


"Ya," Angel mengangguk, "Ayo ikuti aku," ujarnya berbalik pergi.


"Eh? Tu-tunggu! Mau ke mana?"


Meski merasa bingung, Renata tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti, tubuh Angel bercahaya putih hingga membuat Renata tidak kesulitan mengikutinya.


"Angel kamu masih hidup? Selama ini kamu ke mana?" tanya Renata dengan rasa penasaran yang selama ini disimpan, karena keberadaan jiwa Angel yang tiba-tiba menghilang benar-benar misterius.


Angel menengok ke belakang untuk menatap Ranata, lalu kembali menengok ke depan, "Aku sudah tiada."


Renata segera mensejajarkan langkahnya di sebelah Angel, "Tapi bagaimana bisa..."


"Aku sudah menyerahkan hidupku padamu, kehidupan kedua yang kamu inginkan," beber Angel yang menyentak hati Renata.


"Kamu mengorbankan diri demi aku?" tanya Renata tidak percaya dengan pendengarannya.


"Bisa dibilang seperti itu. Lagi pula kita adalah satu."


"Maksudmu?" tercengang, masih tertegun dan terpana dengan apa yang dikatakan Angel.


"Aku adalah dirimu yang lain," jawab Angel tersenyum.


"Tapi kamu hanya tokoh di dalam novel."


"Ya, tapi aku adalah dirimu yang tercipta di dalam novel."


Langkah Angel berhenti, begitu pula dengan Renata.


Jari telunjuk Angel mengacung ke arah cahaya berwarna kehijauan di depan sana, "Itu jalan yang harus kamu lewati selanjutnya, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini saja."


"Tapi bagaimana denganmu?"


"Aku akan menghilang," jawab Angel tersenyum lebar, "Tenang saja, aku akan baik-baik saja."


Renata mengangguk. Lalu diam, tidak beranjak untuk pergi ke cahaya yang Angel tunjukkan.


"Apa yang kamu tunggu? Cepatlah pergi, kamu tidak boleh terlalu lama di sini, bisa-bisa kamu malah terjebak di tempat gelap ini."


"Kamu sungguh tidak apa-apa?"


Bukankah Angel terlalu baik? Bisa-bisanya menyerahkan kehidupannya untuk Renata begitu saja.


Renata merasa tidak enak hati, dan lagi Angel akan menghilang.


"Aku sungguh tidak apa-apa," Angel kembali tersenyum lebar, sejatinya dia adanya gadis yang ceria, namun keadaan membuatnya diselimuti kesedihan, "Aku justru sangat senang, karena kamu telah merubah takdir tragis dari tokoh antagonis seperti diriku ini. Terima kasih untuk semuanya."


Renata ikut tersenyum, syukurlah jika Angel merasa senang.


"Tolong jaga Ayah dan Kak Zayn untukku!" seru Angel sambil mendorong tubuh Renata ke arah cahaya.


"Ya..." jawab Renata.


"Benar, kamu memang sudah melakukannya dengan baik," sahut Angel.


Renata mulai melangkah ke arah cahaya kehijauan itu.


"Jaga dirimu, Kak Renata."


Bip... Bip... Bip...


Suara detektor jantung yang terpasang pada tubuh Renata, terdengar memenuhi ruangan. Suara yang mampu menyayat hati.


Sudah lima puluh tiga hari Tuan J menunggu sang istri di rumah sakit, selama itu pula Renata tidak kunjung membuka mata.


Keadaan Jefra Tjong terlihat tidak lebih baik daripada Renata. Pria itu tidak pernah mengurus dirinya sedikitpun, Tuan J juga jarang memberi asupan makan untuk dirinya sendiri, dan urusan kantor pun diserahkan pada Arvin.


Karena dia hanya memikirkan Renata.


"Apa sebaiknya kamu makan malam dulu? Sudah seharian ini kamu belum makan apa-apa. Kakek khawatir kamu sakit, J," ucap Kakek Asthon dengan cemas pada Tuan J, yang duduk di kursi samping brankar


"Nanti saja. Aku masih ingin ada di sini. Aku rasa, Renata sebentar lagi akan bangun, jadi aku akan menemaninya sebentar lagi," jawab Tuan J tampa menoleh ke arah Kakek Ashton berada.


Ashton terdiam memandang Tuan J. Mata dengan garis-garis kerutan itu menatap sang Cucu dengan pilu. Wajah lelahnya terpasang sendu. Napasnya yang kian berat terdengar menghela. Entah itu helaan napas lelah atau pasrah dengan keadaan.


"Apa kamu mau dibelikan makanan? Biar kamu bisa makan di sini sambil menemani Renata?" sang Kakak mencoba membujuk Tuan J.


"Tidak perlu, Kek. Nanti saja, aku akan makan bersama Renata, saat dia sudah bangun. Kakek sebaiknya pulang saja. Sekarang sudah lewat jam lima sore, Kakek harus pulang, bukan?"


Ashton terdiam sesaat sebelum memberi jawaban, usai melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya. Kini, sudah pukul lima sore lewat sepuluh menit.


"Ya," jawab sang Kakek lemah.


Sinar senja dengan warna jingga yang sedikit kemerahan turun melewati jendela, menunjukan jika hari mulai petang.


Ponsel yang berada di atas meja diraih, lalu dikantungi oleh Kakek Ashton. Kemudian melangkah untuk membuka pintu. Berhenti sejenak untuk melihat ke arah Tuan J.


"Kamu jangan seperti ini terus, J. Pikirkan kesehatanmu. Justru di saat seperti ini, orang-orang disekitarnya harus berusaha untuk makan dan tidur dengan teratur. Kamu mengerti, bukan?"


"Ya..."


"Baiklah, Kakek pulang dulu. Besok Kakek akan datang lagi," pamit Ashton pasrah.


Tidak ada yang bisa Kakek Ashton lakukan selain pasrah dan berharap keajaiban benar-benar ada. Supaya hal yang menyediakan ini segera berakhir.


Blam


Suara pintu tertutup meninggalkan kesunyian. Tidak ada suara lain, selain suara detektor jantung yang berbunyi konstan.


Detik berlalu meninggalkan menit, menit berlalu meninggalkan jam. Malam merambat melalui keheningan.


Seperti hari-hari sebelumnya. Malam ini pun, Tuan J masih duduk di sisi Renata. Menanti dan terus berharap. Hatinya begitu yakin jika sang istri akan segera siuman, karena Renata adalah wanita yang kuat dan tegar. Tentu saja istrinya itu tidak akan menyerah dalam kondisi kritisnya saat ini.


Dan Tuan J, tidak akan menyerah untuk menanti Renata terbangun. Mau seberapa lama pun itu.


"Dear, ini sudah hari ke lima puluh tiga kamu tertidur. Harus berapa lama lagi aku menunggu, hmm?"


Tuan J mengelus jemari tangan Renata dengan lembut. Sangat berharap jika jemari lentik itu merespon dengan bergerak.


Namun, nihil.


"Aku akan menemanimu, kamu tenang saja, Sayang. Aku akan tetap ada di sisimu. Selalu menjaga dan menemanimu."


Suara Tuan J begitu berat saat mengatakan itu. Sampai bibir itu menjadi gemetar. Air mata meremas memenuhi bola mata hitam pekatnya.


Isak Tuan J menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan kehancurannya.


"Jefra?" lirihan kecil membuat isak tangis Tuan J berhenti.


Namun, tubuh pria itu kaku hanya untuk mengangkat kepala memastikan.


"Jefra..." kembali Renata memanggil namanya dengan lirih.


Tuan J segera mendongak, menampilkan wajah kaku untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. Mulutnya terbuka lebar dengan mata yang hampir keluar karena saking terkejutnya. Meskipun wajahnya masih berderai air mata, dia tidak perduli asalkan bisa melihat istri tercinta bangun.


Bola mata hitam dan cokelat beradu dalam satu tatapan.


Renata tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa wajahmu murung seperti itu? Membuatku juga ingin ikut menangis saja..."


_To Be Continued_