
Namun.
Seseorang itu bukanlah Alvaro, melainkan Jefra Tjong dan antek-anteknya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Sienna dengan panik.
Langkah Tuan J yang terkesan mengancam. Wajahnya datar dan tatapannya begitu menghunus seolah ingin membunuh Sienna saat ini juga.
Lalu tatapan Tuan J beralih pada Theo, terlihat jika keadaan pria itu semakin buruk. Seringai samar terukir bibirnya. Apa Ayahnya yang brengsek sudah mendapatkan karma? Yang pastinya, Theo tidak mungkin hidup baik dengan Sienna.
Tuan J memberi isyarat dua Bodyguardnya untuk meringkus Sienna. Menahan kedua tangan wanita itu, supaya tidak kabur.
"Lepas! Apa-apaan ini! Kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku, J!"
Sienna menjerit dan memberontak.
"Kamu bisa membakar kediaman keluarga Tjong, kenapa aku tidak bisa melakukan ini padamu?" ucap Tuan J seperti malaikat mau di telinga Sienna.
Kini, Sienna tengah ketakutan, tidak menyangka akan ketahuan secepat ini, padahal dia kira Tuan J tidak tahu aksinya semalam.
Yang bisa Sienna lakukan adalah berpura-pura bodoh, "A-apa yang kamu katakan?"
"Apa kamu bisa berhenti dari panggung sandiwaramu?" ucap Tuan J masih dengan aura membunuh.
Sienna menelan saliva dengan susah payah karena tidak bisa berkelit. Lidahnya langsung keluh ketika melihat Tuan J mengeluarkan pistol.
Kini, di pelipis Sienna sudah menempel pistol yang berisi lima peluru, "Seharusnya aku sudah membunuhmu sejak lama."
Kepala Sienna menggeleng kaku, mau bagaimanapun dia harus mencari cara supaya Tuan J tidak menarik pelatuk pistol, "Ku-kumohon jangan bunuh aku. Jika kamu membunuhku, bagaimana dengan Theo? Tidak ada yang mau merawat Ayahmu selain aku..."
Lagi-lagi, Sienna menggunakan nama Theo. Padahal selama ini dia tidak benar-benar tulus merawat pria stroke itu.
Tuan J tersenyum sinis, apa Sienna pikir alasan itu bisa menyelamatkannya lagi? Tentu saja tidak.
"Aku tidak perduli itu."
Mendengar itu, tubuh Sienna membeku. Dia sudah tidak bisa lolos dari kematian. Lalu ditatapnya Theo, berharap jika pria itu menolongnya. Berharap ada keajaiban yang membuat suaminya sembuh saat ini juga.
"Theo, selamatkan aku! Bukankah kamu berjanji untuk selalu melindungiku? Theo!"
Namun, Theo hanya bergeming.
"Alvaro! Alvaro! Alvaro, tolong Ibu!" teriak Sienna memanggil-manggil nama putranya.
Namun, Alvaro yang memang sudah pergi entah ke mana, tidak mungkin mendengar teriakannya.
Benar-benar Suami tidak berguna! Ke mana Alvaro di saat seperti ini?
Batin Sienna menjerit sangat panik.
Kini, tidak ada yang menolongnya.
Air mata sudah tumpah ruah. Berharap dengan menangis, Jefra Tjong akan mengampuninya.
"Benar-benar berisik!" bentak Tuan J yang membuat Sienna langsung bungkam, "Baiklah, aku tidak akan menembak kepalamu."
Tuan J menyimpan kembali pistol miliknya.
Perkataan yang membuat angin segar bagi Sienna, "Ka-kamu melepaskan aku?"
Namun, angin segar itu langsung hilang saat mendengar perkataan Tuan J selanjutnya.
"Siapa bilang?" kedua mata Tuan J memicing tajam, "Ikat dia! Dan bawa Theo Tjong keluar dari rumah ini!" titahnya pada para Bodyguardnya.
Sienna tidak berkutik saat dirinya diikat di sebuah kursi, keringat dingin bercucuran di dahinya.
"A-ap-apa yang ingin kamu lakukan, J? tanya Sienna terbata-bata.
"Menurutmu?"
Sienna dapat merasakan hawa yang mengerikan dari suara Tuan J. Mata hitam itu seakan melumpuhkan semua syaraf di tubuhnya.
"Berikan aku pisau," titah Tuan J pada Arvin yang selalu setia berdiri di belakangnya.
"Baik, Tuan," Arvin segera menyerahkan pisau yang ia ambil dari saku celana.
"Kamu tahu gunanya pisau ini, bukan? Selain memotong pisau ini berguna untuk menusuk!" Tuan J menempelkan pisau itu di pipi Sienna, "Kamu ingin tahu rasanya tertusuk pisau ini?"
Jleb
"Akh!" Sienna berteriak merasakan sakit di perutnya.
"Bagaimana rasanya? Sakit?"
"Apa salahku padamu..." lirih Sienna.
Jleb
"Akh!" Sienna berteriak kembali, saat pisau itu menancap di perutnya untuk yang ke dua kali.
"Kamu masih bertanya apa salahmu? Apa kamu lupa karena memiliki begitu banyak kesalahan?"
Pandangan Sienna sedikit memburam, tapi dia masih memiliki kesadaran. Tiba-tiba matanya membulat sempurna, menyadari bahwa tempat di sekelilingnya disiram bensin oleh para Bodyguard Tuan J.
"Lepaskan aku!" raung Sienna seperti orang pesakitan.
"Apa dengan melepaskan kamu, istriku bisa melewati masa kritisnya?" Tuan J tersenyum sinis sambil memainkan korek api, "Bukankah kematian seperti ini lebih cocok untukmu?"
Kemudian Tuan J membuang pisaunya, lalu mengambil sisa bensin untuk disiramkan ke tubuh Sienna.
Byur
"Dan ini permainan terakhir!"
Dia mulai menyalakan korek api dan melemparnya tepat di bawah kaki Sienna.
Sienna menangis lebih keras lagi. Dia merasakan panas api di seluruh tubuhnya. Api itu merayap di semua bagian dari dirinya, bahkan jiwanya pun terasa terbakar seperti bara api.
"Panas! Panas! Panas!"
Itu adalah jerit yang diulang Sienna setiap kali. Dia berteriak keras meminta ampunan, memohon untuk langsung dibunuh saja. Tapi, Tuan J enggan dan memilih membakarnya hidup-hidup.
Tuan J berbalik pergi bersama dengan antek-anteknya. Membiarkan Sienna dilahap kobaran api.
Katakanlah, Jefra Tjong kejam dan tidak mempunyai perasaan.
Namun, dia melakukan ini semua demi orang-orang terdekatnya. Tuan J tidak mau jika Sienna kembali berulah dengan berusaha mencelakai orang-orang terdekatnya lagi, terutama Renata.
**
"Apa kalian tahu? Mitos dari jembatan kuno Italia?"
"Mitos apa? Jangan bercerita horor."
"Bukan horor."
"Terus?"
"Pasangan yang mengarungi sungai di Venesia dengan gondola kemudian berciuman di bawah jembatan kuno saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng di St. Mark Campanile berdentang cintanya akan abadi dan diberkahi."
Terlihat empat orang yang sedang menaiki gondola melalui kanal. Menyusuri sepanjang jalur air yang sanggup menciptakan suasana yang syahdu nan romantis.
Jefra mengalihkan tatapannya pada Renata yang sedang duduk di sebelahnya. Gadis itu terlihat senang dan terkesan, ada binar kebahagiaan di bola mata cokelat kekasihnya itu.
"Renata," panggil Jefra mengalun dengan lembut.
Renata menatap Jefra tanpa melunturkan senyum dari wajah cantiknya, "Ya?"
"Kamu benar-benar percaya dengan mitos itu?" tanya Jefra.
Renata mengangkat bahu, lalu terkekeh pelan.
Ketika perahu gondola sampai di sebuah jembatan dari batu kapur berwarna putih yang melintang, tepat pada matahari terbenam.
Renata dengan inisiatifnya menarik dasi yang Jefra pakai, dan langsung mencium bibir pria tampan itu.
"Jefra, kamu tidak mau mengucapkan kata-kata romantis?" tanya Renata setelahnya.
Jefra tertawa, Renata benar-benar menggemaskan dengan sesuatu yang selalu membuatnya terkejut.
"I love you seribu kali, Renata."
.
.
"...an, Tuan!"
Tuan J tersadar dari lamunannya, ketika Arvin yang duduk di bangku pengemudi memanggilnya. Lalu langsung menolah ke samping.
"Ya, ada apa?"
"Tuan, bagaimana dengan Theo Tjong?" tanya Arvin tentang keberadaan Theo yang duduk di bangku belakang.
"Bawa dia ke rumah sakit."
Terlepas dari perilaku Theo di masa lalu, Tuan J tidak bisa mengabaikan sang Ayah karena wasiat Ibunda.
"Baik, Tuan," patuh Arvin.
Tuan J kembali hanyut dalam pikirannya. Ingatan-ingat di kehidupan sebelumnya terus berdatangan, seperti sebuah film yang terputar di otaknya.
"Arvin," panggil Tuan J pada sang Asisten.
"Ya, Tuan?"
"Apa kamu percaya dengan Reinkarnasi?"
"Reinkarnasi?" beo Arvin terheran-heran.
"Sebuah kehidupan kedua?" ucap Tuan J bingung dengan sesuatu yang tengah dialaminya.
Reinkarnasi atau apalah itu. Tuan J tidak mengerti.
_To Be Continued_