Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kado Spesial


Pesta ulang tahu sudah selesai.


Sesampainya di kediaman keluarga Tjong, Jefra melihat sudah ada mobil mewah berwarna merah dengan pita cantik menantinya.


"Apa ini?" tanya Jefra pada Renata.


"Kado dariku!" jawab Renata dengan senyum ceria.


Namun, respon dari sang suami yang menggelengkan kepala membuat senyum itu luntur.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Renata.


"Bukan begitu, kamu tidak perlu memberikan aku kado mahal seperti ini," jawab Jefra sambil mendekat pada Renata.


Keduanya saling berhadapan dan saling tatap. Telapak tangan Jefra membelai lembut pipi Renata yang merona. Ibu jarinya membersihkan sehelai bulu mata yang jatuh di bawah mata istrinya.


Siapa yang telah merindukan Renata? Apakah Ayah Rendra? Zayn? Radion? Atau pria lain yang menyukai Ranata?


Pemikiran terakhir mampu membuat dahi Jefra berkerut. Ayolah, padahal hanya karena sehelai bulu mata, tapi Jefra sudah berpikir ke mana-mana.


Renata merengut, "Apa karena kamu sudah memiliki banyak mobil?"


Jefra menggeleng, membantah pertanyaan sang istri. Lalu memeluk dan memberikan kecupan di bibir yang cemberut dengan mesra.


"Sudah kubilang, bukan? Dirimu sudah menjadi kado terindah untukku."


Oh, apa ini? Kenapa Jefra jadi menggombal?


Meski begitu, Renata begitu bahagia mendengar perkataan Jefra.


"Masih ada kado satu lagi," ujar Renata memberitahu.


Jefra heran melihat sang istri yang tersenyum misterius. Apa dia akan diberi kejutan lagi?


"Apa itu?"


"Ayo kita masuk!" Renata narik tangan Jefra untuk masuk ke dalam rumah.


**


Kini, Jefra sudah berada di dalam kamar. Dia sedang menunggu sang istri yang entah sedang berbuat apa di dalam kamar mandi. Hampir satu jam istrinya itu belum keluar.


Renata berkata, jika akan memberikan sebuah kado spesial untuknya. Namun, kenapa begitu lama di dalam kamar mandi?


"Dear? Kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali?" tanya Jefra, hanya memastikan jika sang istri tidak tidur di dalam kamar mandi.


"Sabar, Sayang!" jawab Renata berteriak ceria.


Beberapa menit kemudian, pintu berwana putih itu terbuka. Jefra menolah dan terpana.


Renata keluar dari kamar mandi dengan riasan wajah tebal. Memakai lipstik merah cabai. Eyeshadow dengan warna-warna terang. Cantik. Terlihat dewasa dan begitu seksi.


Apalagi dengan lingerie berwarna merah terang yang begitu transparan, sehingga lekuk tubuh terlihat jelas.


Mata Jefra tidak mampu berkedip meski hanya sebentar. Jujur, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, untuk mengeluarkan suara saja sulit.


Renata menaikan lengan kanan ke tembok sementara tangan kirinya berkaca pinggang, kaki dibuka lebar, dan membusungkan dada.


Kedua mata Jefra terbelalak lebar.


Dari mana Renata belajar pose menantang seperti itu? Istrinya yang imut dan menggemaskan berubah menjadi... sangat menggoda.


Seketika jantung Jefra berdetak tidak karuan, merasa jika ini hanyalah sebuah mimpi.


"Selamat malam, Tuan J. Apakah anda sudah siap membuka hadiah spesial?" ucap Renata dengan suara centil.


Jefra menelan saliva dengan susah payah, "Jadi ini hadiah sepesial untukku?"


Renata melangkah ke arah Jefra seperti berjalan di atas catwalk. Detik itu juga, Jefra menyadari jika tubuh bagian bawahnya telah menegang.


Kaki jenjang Renata berhenti di hadapan suaminya, mendekati Jefra yang mematung tidak bergerak di sana.


Jefra tahu apa maksudnya, tanpa disuruh pun dia ingin menerjang Renata ke tempat tidur. Lalu.... Ah, sudahlah, tidak perlu diperjelas lagi. Terlebih semenjak istrinya mengandung, dia selalu berusaha menahannya.


Padahal Jefra sangat rindu dengan Renata.


Namun.


"Aku tidak ingin menyakiti anak kita," ucap Jefra, tidak bermaksud menolak.


Meski sangat menginginkannya, tapi dia tidak ingin membahayakan kandungan sang istri.


"Sudah boleh, kok. Usia kandunganku sudah memasuki trimester kedua. Asal kamu berhati-hati, bayi kita tidak apa-apa."


Mendengar itu, raut wajah Jefra menjadi cerah. Dia mulai bersemangat. Jika seperti itu, dia tidak akan menahan diri lagi.


Renata merapatkan bibirnya ke dada bidang Jefra dan meninggalkan sebuah kecupan di sana, meninggalkan sebuah cap bibir dengan warna merah merekah di kemeja.


Menyadari hal itu, jantung Jefra semakin berpacu cepat. Bahkan kini, napasnya sudah memburu dan seluruh tubuhnya terasa panas.


Renata benar-benar telah berhasil memancingnya. Jefra sangat menyukai sang istri yang sedang dalam mode agresif.


"Dear, kenapa kamu meninggalkan jejak merah di kemejaku? Bukankah lebih baik jika kamu membukanya?" ujar Jefra dengan suara berat magnetiknya.


Renata menggeleng, "Tidak, saat ini akulah yang menjadi kadonya."


"Bila aku sudah berhasil membuka kado ulang tahunku, apa yang akan kudapat?" tanya Jefra menundukkan wajah, mendaratkan bibir pada pucuk kepala Renata.


Renata memeluk suaminya, menyadarkan pipinya di dada Jefra dan jari lentiknya meraba otot-otot perut yang masih terbungkus kemeja.


"Kalau begitu, silakan menikmati hadiahmu."


"Kalau begitu, bersiaplah menerima kegilaanku, Dear."


Sorot mata mereka bertemu. Saling tersenyum manis. Tangan kekar Jefra memeluk pinggang Renata. Lalu tubuh Renata didorong dengan perlahan ke atas ranjang oleh Jefra.


"I love you, Renata. Sangat. Lebih dan tidak terhingga," bisik Jefra dengan mesra, mengecup daun telinga Renata.


Jefra mulai menyentuh tiap lekuk dengan seksama. Kecupannya menjalar di setiap inci tubuh. Menimbulkan sengatan-sengatan mungil. Aroma feminim yang lembut, membuatnya semakin tergila-gila pada Renata.


Tidak ingin berlama-lama, dia tarik tali mungil yang ada di perut. Ketika dilepas, makan terekspos pula apa yang ada di balik baju transparan itu.


"Kado sudah dibuka dengan sukses. Ini adalah hadiah ulang tahun terindah. Aku tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan hadiah seperti ini," bisik Jefra memeluk erat dan mencium pundak Renata dengan lembut, lalu berjalan menuju leher, "Terima kasih karena telah memberikan segalanya untukku, Dear."


Ciuman itu berjalan menuju rahang Renata, meninggalkan kecupan kecil di sana. Hingga akhirnya, Jefra berhenti tepat di depan bibir mungil yang selalu membuat candu.


Dengan gerakan kilat, Jefra mencium bibir Renata. Melahapnya persis seperti makanan kesukaan.


Malam ini, mereka melepas semua rasa. Menunjukan betapa keduanya saling terbakar olah api cinta yang membara. Mendaki puncak bersama. Dengan sentuhan lembut yang merasuki kalbu.


**


Tatapan mata itu menatap lurus kobaran api di depannya, tepat pada seorang pria dengan mata biru penuh dendam. Saling menodong pistol satu sama lain.


"Menyerahlah, Alex! turunkan senjata!"


Bukanya takut karena sedang dalam keadaan terdesak, pria itu justru tertawa, "Menyerah? Dan membiarkanmu menangkapku lagi? Lebih baik kita mati bersama saja!"


Dor! Dor!


Jefra terbangun dengan napas yang memburu. Mimpi ketika dia gugur di misi terakhirnya dulu. Masih teringat jelas bagaimana menyakitkannya ketika beberapa peluru yang menembus tubuhnya.


Kenapa dia tiba-tiba bermimpi seperti itu? Dan perasaan Jefra menjadi tidak enak setelahnya.


Kemudian Jefra berkali-kali mencium kening Renata yang sedang dia dekap.


"Apa ada, Jef?" Renata ikut terbangun, lalu merasa berbeda pada kecupan Jefra, "Ada masalah?"


"Maaf membuatmu terbangun," ucap Jefra semakin mengeratkan dekapannya, "Ayo tidur lagi, aku hanya bermimpi buruk."


_To Be Continued_