
"Turunkan aku di sini, Paman!" seru Daisy pada Alvaro yang sedang menyetir.
Kening Alvaro berkedut saat mendengar sebutan 'Paman'. Apalagi tingkah wanita itu yang seenak jidat memerintah.
Namun, Alvaro tidak menurut apa yang dikatakan Daisy, dia masih melajukan mobilnya.
"Berhenti, Paman!"
"Berisik!"
Daisy tersentak mendengar bentakan kasar Alvaro, seolah-olah jika dirinya baru pertama kali mendapatkan bentakan.
"K-kamu membentakku?" cicit Daisy.
"Ck," Alvaro berdecak melihat respon Daisy. Terlihat sekali jika wanita itu adalah Nona Muda kaya raya yang sepanjang hidup tidak pernah dibentak seseorang.
Bisa-bisanya wanita manja itu berkeliaran tengah malam seperti ini, apalagi asal masuk ke mobil pria asing. Tidaklah dia merasa takut?
Alvaro mulai gusar dengan kondisi tubuhnya, semakin bertambah panas dan agak pusing.
Ckitt
Mobil Alvaro berhenti di jalan yang cukup sepi.
"Keluar!" bentak Alvaro pada Daisy sekali lagi, dia memang harus menyuruh wanita itu pergi sebelum benar-benar lepas kendali.
Namun, Daisy diam tidak bergerak dari tempat duduknya. Padahal tadi dia memerintah untuk diturunkan. Lantas kenapa tidak mau turun?
Alvaro menjadi geram, lalu dia keluar dari mobil. Berjalan mengitari kap mobil dan membukakan pintu mobil untuk Daisy, hendak mengeluarkan wanita itu secara paksa.
Sungguh, Alvaro sudah tidak tahan dengan gejolak pada tubuhnya, dia tidak ingin jika berakhir memaksa wanita polos itu.
Dengan gerakan yang kasar, Alvaro melepas sabuk pengaman yang dikenakan Daisy. Ketika dia ingin mengangkat kepala, sebuah tangan justru meraih rahang Alvaro dan menariknya.
Betapa terkejutnya Alvaro saat merasakan sentuhan lembut pada bibirnya. Daisy menciumnya.
Alvaro yang memang sedang haus akan sentuhan langsung membalas ciuman itu. Bahkan, dia menarik tuas kursi ke belakang hingga posisi mereka benar-benar nyaman. Mereka saling melu mat dengan lembut, berciuman dengan intens.
Daisy menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum dengan kedua pipi yang memerah, "Hei, Paman. Sepertinya aku menyukaimu. Ayo kita membuat bayi."
Kedua mata Alvaro terbelalak. Mudah sekali wanita itu mengajak membuat bayi. Jika sedang tidak dalam pengaruh obat perang sang, Alvaro pasti menganggap Daisy gila.
Namun, Alvaro sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, dia ingin segera menyalurkan gairah yang sudah diujung kepala. Dia tidak perduli lagi jika Daisy adalah wanita asing. Yang Alvaro tahu, wanita itu telah memberikan lampu hijau padanya.
"Siapa namamu?" tanya Alvaro dengan parau. Setidaknya dia harus tahu namanya.
"Daisy."
"Baiklah, Daisy. Kuharap kamu tidak menyesal setelah ini."
Setelah mengatakan itu, Alvaro langsung menutup pintu mobilnya dan mengunci otomatis semua pintu mobil.
"A-apa kita akan melakukannya di dalam mobil, Paman?" tanya Daisy gugup.
"Panggil aku Alvaro, aku bukan Pamanmu."
Alvaro memulai aksinya dengan kembali mencium bibir Daisy, hingga Daisy pun mulai membalasnya. Sentuhan demi sentuhan membuat kedua insan yang hanya tahu sebatas nama saja semakin bergairah, hingga mereka berakhir dalam keadaan polos tanpa sehelai benang.
Dan saat ini posisi tubuh Alvaro sudah berada di atas tubuh Daisy.
Alvaro mulai memimpin permainan untuk melakukan aksi sesungguhnya. Mulai melesakkan sesuatu yang membuat Daisy menjerit kesakitan, pertahanannya sudah dijebol dan tidak terasa mengeluarkan air mata.
Namun, Alvaro benar-benar tidak bisa berhenti.
Setelahnya, berakhir geram dan de sah yang menjadi kesatuan. Pertanda permainan telah dimulai.
**
"Ugh..." Alvaro menggeliat karena terkena sinar matahari, membuat dia menutup kedua mata dengan tangan.
"Ke mana dia?" gumam Alvaro parau, dia yakin jika semalam bukanlah mimpi. Bahkan tubuhnya masih dalam keadaan polos, belum lagi aroma bekas percintaan yang memenuhi mobilnya.
Mata hijau Alvaro menemuka kertas yang tergeletak di dashboard mobilnya, segera diambilnya kertas itu. Yang ternyata adalah sebuah surat dan cek kosong.
Paman, terima kasih karena telah membuat bayi bersamaku. Kamu tenang saja, aku akan mengurus bayi kita sendiri. Kamu tidak perlu bertanggung jawab. Ini ada cek kosong untukmu, tulis saja berapapun nominal yang kamu inginkan. Aku menyukaimu.
Daisy.
Alvaro mengurut kedua alisnya yang mendadak gatal tatkala membaca surat yang Daisy tulis, bahkan ada cap bibir di sana.
Apa dia benar-benar dianggap gi golo?
"Wanita itu..." geram Alvaro meremas surat dari Daisy.
Kemudian Alvaro melihat adanya bercak darah pada jok mobilnya. Detik itu juga, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Dia sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dari seorang gadis.
Lantas apa yang harus dia lakukan sekarang? Mencari Daisy dan meminta maaf? Ayolah, kesucian wanita itu tidak mungkin bisa kembali hanya dengan sebuah kata maaf.
Lalu bagaimana jika Daisy benar-benar hamil anaknya? Alvaro ingat jika semalam keluar di dalam berkali-kali.
Ingin bertanggung jawab?
Bahkan, Daisy tidak menginginkannya, dia justru memberi sebuah cek kosong pada Alvaro.
Semakin bertambah saja beban yang harus Alvaro pikirkan. Padahal akan lebih baik jika Daisy memaki atau memukulnya, daripada menghilang seperti embun terkena sinar matahari.
**
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" tanya Jefra pada Renata yang sedang menyimpulkan dasi pada lehernya. Istrinya itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Renata berkedip beberapa kali setelah tersadar, bisa-bisanya dia melamun saat sedang memasangkan dasi. Namun, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Jefra, karena ingin menyelesaikan simpul dasi sang suami terlebih dahulu.
Dan setelah selesai, Renata menepuk bahu Jefra pelan, "Aku tidak memikirkan apa-apa."
Bohong.
Sebenarnya, Renata sedang memikirkan pertemuan dengan Daisy saat di mall kemarin. Tapi dia tidak mungkin memberitahu Jefra jika dia pergi ke mall, bisa-bisa kejutannya gagal.
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Jefra yang tidak percaya begitu saja. Dia memang tidak mudah untuk dibohongi.
"Tidak, Sayang," Renata langsung menggeleng. Lalu berjinjit untuk mencapai Jefra, mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya itu.
Jefra menunduk supaya sang istri tidak perlu berjinjit. Hidung keduanya bertemu dan saling bergesekan, Renata tertawa kecil dibuatnya.
"Sedang ingin dimanja? Aku memberimu waktu lima menit," ujar Jefra dengan napas hangat yang menerpa wajah Renata.
"Hanya lima menit?" protes Renata mengerucutkan bibir.
Jefra mengangguk, "Aku harus bergegas karena ada meeting penting."
Detik kemudian, Jefra mendekat dan menyambar bibir Renata dengan cepat. French kiss selama lima menit. Namun, mampu membuat Renata melayang.
Jefra melepaskannya, tersenyum tipis dan mengusap pipi Renata dengan ibu jari.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting. Kamu harus selalu menjaga kesehatan," ujar Jefra menatap lekat.
Renata menganggukkan kepala.
Kemudian Jefra mengecup kening Renata, dengan lembut.
Ya, memang seharusnya Renata tidak terlalu memikirkan pertemuannya dengan Daisy. Tapi, dia merasa bersalah karena membiarkan wanita itu pergi begitu saja, saat tahu apa yang akan terjadi pada Daisy.
Bertemu dengan Alvaro dan mereka... Ah, sudahlah. Renata tidak ingin membayangkannya.
Namun, Renata juga tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya juga ingin mengikuti alur novel yang telah tertulis. Jika dia mencegahnya kemungkinan alur novel akan berubah.
_To Be Continued_