
Alvaro tidak menyukai kedatangan Renata yang tiba-tiba, terlebih kemesraan yang suami istri itu tunjukan. Itu cukup membuatnya cemburu. Hatinya terasa panas.
"Maaf, jika kedatanganku menganggu rapat kalian. Aku hanya ingin memberitahu sebuah kebenaran," Renata kembali membuka suara.
"Kebenaran apa yang kau maksud, Kakak Ipar?" tanya Alvaro menekan kata terakhirnya. Mencoba menegaskan pada dirinya sendiri siapa wanita itu, dia tidak boleh terbawa perasaan dan berakhir mengacaukan balas dendamnya.
Sedangkan Salvina yang memperhatikan Alvaro, menyadari jika Tuan-nya masih memiliki perasaan pada Renata. Sekretaris Alvaro itu merasa iri dan kesal.
Si jal*ng Angel itu masih saja merayu Tuan Alvaro, batin Salvina menatap Renata benci.
Sudah lama Salvina menyimpan perasaan untuk Alvaro. Dia juga turut andil dalam merusak reputasi Angel dulu. Padahal dirinya berharap setelah Alvaro bercerai dengan Sanaya, dia bisa masuk ke dalam hati pria itu.
Namun, sang Kepala Manager justru mengabaikannya. Salvina menganggap jika Renata masih menggoda Alvaro meski sudah memiliki Jefra Tjong.
Salvina menyalahkan Renata untuk pembenaran atas dirinya sendiri. Padahal wanita itu hanya tidak mampu menerima jika Alvaro memang tidak pernah tertarik padanya.
Renata menyadari tatapan kebencian itu, "Sebelumnya, kenapa Sekretaris Salvina menatapku seperti itu?"
Salvina langsung menundukkan pandangannya. Menahan untuk tidak memaki Renata saat ini juga.
"Apa Sekretaris Salvina keberatan jika aku duduk di pangkuan suamiku?" tanya Renata dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
Renata pun tahu jika Salvina tidak menyukainya sejak dulu. Anggap saja jika wanita itu adalah versi kedua Anya.
Salah satu tangan Tuan J melingkari pinggang Renata, mencegah sang istri bangkit dari pangkuannya.
"Jika kau keberatan, kau bisa keluar dari ruang rapat ini," ujar Tuan J pada Salvina.
Angel sialan! maki Salvina menahan segala amarahnya.
"Maaf, Tuan J. Saya tidak keberatan."
"Bukankah kau juga harus meminta maaf pada istriku?" Tuan J memicingkan mata tajam.
Salvina mengigit bibir bawahnya sebelum berbicara, "Ma-maaf, Angel."
"Panggil istriku 'Nyonya'!" perintah Tuan J dengan penuh penekanan.
Bukannya gila hormat, Jefra hanya tidak ingin ada seseorang yang merendahkan Renata tercinta. Apalagi melihat tatapan Salvina yang kentara sekali tidak menyukai istrinya.
Tidak, Salvina tidak mau tunduk pada Renata yang sangat dibencinya. Dia melirik Alvaro berharap mendapat pembelaan, tapi sang Kepala Manager terlihat tidak memperdulikannya.
"Ma-maaf, Nyo-Nyonya," ucap Salvina pada akhirnya, meski dengan terbata.
Bagi Salvina, dalam kondisi seperti ini lebih baik dia menuruti perintah Tuan J. Permintaan maaf itu dia ucapkan dengan terpaksa. Meski harga dirinya runtuh saat melihat Renata yang mengedipkan mata padanya, sengaja melakukanya dengan ekspresi yang sangat sombong dan menyebalkan.
Awas saja kamu, Angel. Setelah aku menikah dengan Alvaro yang berhasil menjadi CEO, aku akan membuatmu membalas penghinaan ini, batin Salvina penuh dendam.
"Baiklah. Apa kalian semua tahu jika Nyonya Sienna merawat Tuan Theo dengan buruk?" Renata mulai mengungkap kebenaran.
"Kebohongan apa yang kamu katakan? Ibuku merawat Ayah dengan baik, tidak ada wanita setulus Ibuku dalam merawat Ayah yang terserang stroke," Alvaro menyangkal perkataan Renata dengan cepat.
Sebisa mungkin Alvaro mencoba mengharumkan nama mendiang Ibunya. Padahal dirinya pernah melihat perlakuan buruk Sienna pada Theo, tapi Alvaro memiliki menutup mata.
"Lantas apa kamu bisa menjelaskan kondisi Tuan Theo yang semakin memburuk karena dirawat Nyonya Sienna?" tanya Renata.
Renata menarik napas panjang, lalu bola mata coklatnya berkilat tegas.
"Aku yakin jika kalian pasti tidak mungkin percaya dengan apa yang aku katakan. Oleh karena itu, aku telah mengundang Dokter yang telah ditugaskan Tuan J untuk memeriksa kondisi Tuan Theo selama dia terserang stroke."
Kemudian Renata memberi isyarat pada Arvin, untuk mempersilahkan Dokter yang sudah dihubungi sebelumnya.
Bersama dengan munculnya sang Dokter dari balik pintu yang Arvin bukakan, kedua mata Alvaro terbelalak. Tidak menyangka jika Dokter yang selama ini merawat sang Ayah adalah orang suruhan Jefra Tjong. Dia kira Dokter itu bekerja atas perintah Ibunya.
"Istriku pintar sekali, kamu sudah mempersiapkan semuanya?" bisik Jefra pada Renata.
"Tentu saja," bisik Renata mengerling pada Jefra.
"Tu-tunggu! Apa maksudmu? Bukankah Tuan J tidak memperdulikan Tuan Theo?" tanya salah satu Direktur.
"Suamiku hanya tidak memperlihatkan keperduliannya secara langsung," jawab Renata.
"Tuan J menyuruh saya supaya melaporkan kondisi Tuan Theo secara berkala. Namun, kondisi beliau memburuk karena Nyonya Sienna yang tidak merawat Tuan Theo dengan baik. Saya mempunyai bukti laporan kesehatan Tuan Theo selama ini," beber sang Dokter.
Para Direktur saling menatap satu sama lain, lalu menatap Alvaro meminta penjelasan. Terlebih rapat ini masih disiarkan secara langsung ke seluruh Karyawan Tj Corp.
Jika seperti ini, rencana mereka menjatuhkan reputasi Jefra Tjong bisa gagal.
"Berikan aku buktinya!" ujar Alvaro lebih terdengar seperti memerintah.
Sang Dokter memberikan sebuah berkas yang berisikan laporan kesehatan Theo Tjong. Alvaro menerimanya dengan kasar.
Pada laporan kesehatan itu, bisa dilihat jika kondisi Theo kerap kali memburuk setiap waktu.
Alvaro melempar berkas itu ke meja rapat.
"Apa yang menjamin jika laporan ini asli? Kau sudah dibayar Jefra Tjong untuk membuat laporan palsu, bukan? Tidak mungkin jika kondisi Ayahku memburuk karena perawatan Ibuku!"
"Saya berani mempertaruhkan profesi saya sebagi Dokter Spesialis Saraf, laporan itu benar-benar asli."
Mendengar perkataan sang Dokter yang terdengar bersungguh-sungguh, Alvaro mengepalkan kedua tangannya. Dia sudah salah langkah. Tindakannya saat ini, bukannya menjatuhkan reputasi Jefra Tjong, tapi justru menjatuhkan reputasi Ibunya yang sudah tiada.
"Tetap saja, tindakan Jefra Tjong tidak dibenarkan. Padahal dia tahu jika Ibuku memperlakukan Ayah dengan buruk. Tapi dia justru membiarkannya begitu saja," ucap Alvaro yang masih berusaha menyalahkan Tuan J.
Para Direktur yang masih berada di pihak Alvaro juga menyalahkan tindakan Tuan J.
"Kau sendiri, ke mana saja selama ini? Apa kau sudah merasa paling menjadi anak yang berbakti untuk Theo Tjong?" sindir Tuan J yang sejak tadi diam, "Bukankah kau juga tidak memperdulikan orang tua itu?"
Alvaro bungkam seketika.
Ya, selama ini dia memang tidak ikut andil dalam usaha penyembuhan penyakit sang Ayah sama sekali. Alvaro terlalu sibuk melarikan diri dari tekanan yang selama ini diberikan Kakek Ashton.
Tuan J tersenyum sinis melihat keterdiaman Alvaro, "Kurasa rapat ini cukup sampai di sini. Tidak ada yang perlu di bahas lagi, bukan?"
Pada akhirnya, perlawanan Alvaro berakhir sia-sia. Memang tidak mudah baginya, untuk menjatuhkan sang Kakak yang sejak dulu lebih unggul dari hal apapun darinya.
_To Be Continued_