Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Aslan Memilih Jujur


"Apa seorang Jefra Tjong memiliki waktu senggang hanya untuk sekedar minum kopi bersamaku?" tatapan Aslan menghunus tajam.


Tuan J dan Aslan sedang duduk berhadap-hadapan, dengan ditemani dua cangkir kopi di atas sebuah meja yang menghalangi keduanya. Kini mereka sedang berada di coffee shope yang sudah dipesan secara khusus oleh Tuan J.


"Ternyata kau cukup pintar," tatapan Tuan J tidak kalah tajam.


Aslan memainkan jari-jarinya yang disatukan di atas meja, "Pada intinya saja. Ada keperluan apa kau membuat janji bertemu denganku?"


Tuan J memberi isyarat pada Arvin yang sejak tadi berdiri di belakangnya dengan gerakan dagu. Arvin yang paham segera melangkah sedikit ke depan untuk meletakan sebuah amplop cokelat di meja depan Aslan.


"Apa ini?" Aslan bertanya dengan sinis.


"Lihatlah dulu sebelum bertanya," tukas Tuan J datar.


Alasan mengambil amplop cokelat itu dan membukanya. Seketika bola mata abu-abu miliknya terbelalak lebar tatkala melihat apa yang berada di dalam amplop cokelat itu.


"Dari mana kau dapatkan foto-foto ini, hah!" sentak Aslan terlihat begitu marah, sampai-sampai diremasnya kuat sesuatu yang dipegangnya itu.


Tuan J memicingkan mata, "Bukankah kau yang mengirimnya? Kau berniat mengancam dia dengan foto-foto itu."


'Dia', tanpa menyebutkan nama pun Aslan tahu siapa dia yang Jefra Tjong maksud.


Brak


Aslan memukul meja hingga membuat dua cangkir kopi tumpah. Arvin dengan sigap membenarkan dua cangkir itu, kemudian memanggil seorang pelayan untuk membersihkan kekacauan yang Aslan timbulkan.


"Bukan aku!"


Aslan membantah dengan nada kencang. Bahkan membuat pelayan yang sedang membersihkan meja tersentak.


"Kalau bukan kau, lantas siapa lagi?"


Namun, Tuan J tidak mempercayai bantahan Aslan.


Aslan menggertakkan gigi, "Sudah kubilang bukan aku! Aku juga tidak tahu kalau ada seseorang yang memfoto kejadian itu, lagi pula aku tidak melakukan apapun padanya."


"Kau memaksanya," Tuan J menekan apa yang diucapkannya.


"Tidak. Hanya... Hampir. Aku tidak melakukan lebih jauh lagi," lirih Aslan, tapi masih bisa didengar Tuan J.


Arvin mendekat pada Tuan J untuk berbisik, "Itu benar, Tuan. Aku telah meretas CCTV hotel tempat Nona Angel di bawa olehnya. Dia memang tidak sampai sejauh itu."


Tuan J menghela napas panjang, hampir saja dia ingin melenyapkan Aslan karena telah menodai calon istrinya. Itu sangat mudah baginya. Bahkan menghancurkan keluarga Allansky pun bisa dia lakukan.


Itulah mengapa Aslan lebih memilih jujur.


"Lantas siapa pelakunya?" Tuan J bertanya dengan nada yang berat.


Aslan terdiam.


Tuan J mengetuk jari telunjuknya di meja dengan pelan, menunggu apakah Aslan ingin membuka mulut atau tidak.


"Jika kau hanya diam, aku akan menganggap kau pelakunya. Kau tahu, bukan? Kalau kau tidak bisa melawanku."


Kedua tangan Aslan terkepal kuat.


"Jadi?" tanya Tuan J sekali lagi.


"Hanya dua nama yang kemungkinan besar melakukannya," jawab Aslan pada akhirnya.


"Siapa?"


"Anya dan Sanaya."


**


Hari sudah berganti malam.


Di kediaman keluarga Tan, tepatnya di meja makan di mana anggota keluarga Tan sedang menikmati makan malam.


"Alvaro sedang lembur, Ayah," jawab Sanaya sembari tersenyum.


Padahal kenyataannya, hubungan Sanaya dan Alvaro memang sedang tidak baik-baik saja.


"Apa kamu sudah izin pada suamimu untuk berkunjung ke sini?" tanya Rendra.


"Belum, Ayah."


"Tidak seharusnya kamu pergi tanpa izin suamimu," ucap Zayn dengan tatapan tajam.


Terlihat sekali jika Zayn masih sangat tidak menyukai Sanaya.


"Ah, ya. Lain kali aku akan izin pada Alvaro."


"Hmm. Dan jangan sering-sering berkunjung ke sini."


"Zayn, jangan seperti itu!" Rendra tidak terima atas apa yang dikatakan Zayn pada Sanaya, "Memang apa salahnya jika Sanaya berkunjung ke rumah keluarganya sendirian?"


Zayn tersenyum miring, "Apanya yang keluarga? Tidak ada keluarga yang mencoba membunuh keluarganya sendiri."


Sanaya menunduk karena ucapan Zayn yang seolah-oleh menyindirnya. Padahal Sanaya berkunjung adalah untuk melihat Renata yang dimarahi habis-habisan karena foto-foto yang sudah dihadiahkannya pada Zayn.


Kemudian Sanaya melirik Renata yang sedang makan dengan tenang. Merasa bingung karena Kakak tirinya itu masih baik-baik saja.


Apa Zayn belum melihat hadiah yang aku berikan?


Sakin bingungnya, Sanaya hanya bisa bertanya dalam hati.


"Zayn kamu sudah keterlaluan!"


Zayn hanya mendengus merespon kemarahan Rendra. Lalu tatapannya beralih pada Renata. Raut wajahnya sekejap berubah menjadi lembut.


"Renata, kamu harus makan yang banyak," Zayn mengambil sepotong ayam goreng untuk diletakan di piring milik Renata.


Renata merengut sembari menggembungkan kedua pipinya, "Nanti aku akan gendut. Bagaimana kalau gaun pengantinku tidak muat?"


"Sudah tidak apa, nanti kamu bisa membeli gaun pengantin yang baru. Mintalah satu lusin gaun pengantin dalam berbagai ukuran pada calon suamimu itu."


Renata tergelak dengan apa yang dikatakan Zayn. Yang benar saja, untuk apa dia meminta satu lusin baju? Dengan berbagai ukuran pula. Apalagi Zayn mengatakannya dengan begitu enteng.


"Daripada membeli satu lusin baju. Akan lebih baik jika uang itu diberikan pada orang tidak mampu, seperti anak yatim," ungkap Renata.


"Adikku sudah cukup dewasa untuk berpikir seperti itu, ya," tangan Zayn terulur untuk memulai aksinya mengacak rambut hitam Renata yang diikat setengah.


"Hais, kebiasaan," Renata mengerucutkan bibir lucu.


Di sisi lain, Rendra menatap interaksi keduanya dengan tatapan nanar. Dia merasa iri dengan Zayn yang begitu dekat dengan Renata, sedangkan dia yang sebagai Ayah tidak memiliki kedekatan sedikitpun dengan putri kandungnya itu, untuk sekedar nimbrung ke dalam obrolan keduanya saja terasa canggung.


Sedangkan Sanaya sudah kepanasan dibuatnya. Merasa benar-benar iri dengan Renata yang terlihat bahagia karena akan menikah dengan pria sehebat Jefra Tjong. Sedangkan dia sendiri memiliki hubungan yang tidak baik dengan Alvaro. Sanaya tidak ingin melihat Renata lebih bahagian daripada dirinya. Sebisa mungkin dia akan mencoba menghancurkan kebahagiaan Renata.


"Anu, Kak Zayn," Sanaya mencoba menarik perhatian Zayn, "Apa Kak Zayn sudah membuka hadiah yang aku berikan?"


Zayn beralih menatap Sanaya lagi, "Apa yang kamu maksud kotak hadiah kosong yang sudah aku buang?"


Sanaya terkesiap seketika, "Ko-kosong?"


"Bisa-bisanya kamu memberi hadiah kosong pada Zayn," Santy berisik sembari menyikut lengan Sanaya, dia memang tidak tahu dengan foto-foto itu. Karena Sanaya sengaja tidak memberi tahunya.


"Apa kamu sedang meledekku dengan memberi hadiah kosong?"


"Tidak, Kak!" bantah Sanaya cepat, "Aku mana berani meledek Kak Zayn. Hadiah itu ada isinya kok. Isinya itu..."


Perkataan Sanaya berhenti tatkala melihat Renata yang tersenyum miring padanya. Seketika dia geram karena tahu jika Renata lah yang pasti sudah mengambil foto-foto itu.


Rencananya telah gagal.


_To Be Continued_