Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Acara Reuni


Kamis pagi. Saat sarapan.


"Sayang," panggil Renata senyum-senyum ceria.


"Hmm," jawab Jefra melirik sekilas, "Kenapa senyum-senyum?"


"Mau minta izin," jawab Renata.


"Izin apa?"


"Ada acara reuni sekolah. Aku mau datang. Hari Sabtu. Kamu mau ikut?"


Bersama dengan itu, Kakek Ashton datang untuk bergabung di meja makan.


"Reuni sekolah? Jadi mengingat masa muda," seloroh Ashton yang mendengar perkataan sang Cucu Menantu.


"Ya! Semua teman-teman akan datang, pasti ramai!" seru Renata girang.


"Tidak bisa. Hari Sabtu aku ada pertemuan penting dengan klien yang datang dari luar negri. Kamu tidak usah datang! Acara reuni saja, kan? Tidak penting!" tolak Jefra.


Untuk apa Renata datang? Bukankah dia tidak mengenal teman-teman sekolahnya itu?


Padahal Renata bukanlah Angel yang asli.


"Sayang, aku mau datang, pasti akan seru di sana," rengek Renata.


Sebenarnya, tujuan awal Renata datang yakni untuk membersihkan nama Angel yang buruk.


Jangan lupakan, jika Anya yang telah membuat kehidupan sekolah Angel dijauhi teman-temannya. Anya selalu menyebar kebencian, dengan mengatakan jika Angel adalah gadis yang sombong, yang tidak ingin berbaur dengan teman-teman sekolahnya.


Jika Renata tidak datang di acara reuni, pasti mereka akan bertambah memberi kesan buruk terhadapnya.


Meski sejujurnya Renata tidak terlalu perduli dengan orang-orang itu. Namun, dia hanya ingin membuat Angel lebih tenang di sana.


Anggap saja, ini adalah balas budi Renata pada Angel yang telah memberikan kehidupan ini padanya.


"Tidak boleh," tolak Jefra, lelaki posesif ini mana mau mengizinkan istrinya datang ke suatu acara tanpa dirinya.


"Dasar Jahat!" dengkus Renata kesal, wajahnya cemberut.


Jefra diam saja, tidak menanggapi kekesalan Renata. Akan tetapi, lama kelamaan dia gemas dengan bibir cemberut istrinya itu. Ayolah, otak mesumnya sudah membayangkan sesuatu yang macam-macam.


Renata menatap Kakek Ashton, meminta bantuan.


"Biarkan saja Cucu Menantuku pergi, J. Tidak ada salahnya bertemu dengan teman lama," Kakek Ashton mencoba ikut membujuk Jefra.


"Teman lama? Memangnya siapa teman yang ingin kamu temui?" selidik Jefra pada Renata, "Apa dia seorang pria? Kok bernafsu sekali?"


"Jef! Jangan mulai!" seru Renata sewot, bisa-bisanya sang suami cemburu tidak jelas.


"Pokoknya kamu tidak boleh pergi, titik!" tegas Jefra kembali.


Renata melirik tajam, penuh kekesalan. Dia bangkit dari kursinya dan menghentakkan kaki, berjalan meninggalkan ruang makan.


Sedangkan Kakek Ashton jangan menggelengkan kepala.


**


Kini, pasangan itu terlihat saling diam. Lebih tepatnya, Renata yang masih dengan rasa kesalnya.


Renata melirik Jefra yang sedang kesulitan memasang dasi dengan ketus. Karena tidak tega, akhirnya dia bergerak membantu suaminya memasangkan dasi. Jefra segera menunduk untuk mempermudah Renata.


"Aku pergi dulu," ucap Jefra setelah Renata selesai membantunya memasangkan dasi.


"Ya," ucap Renata sambil menundukkan kepala.


Menunggu ciuman dan pelukan seperti pagi biasanya. Namun, Jefra tidak urung melakukannya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Jefra langsung pergi. Renata hanya mampu menatap punggung suaminya itu. Sebenarnya, dia masih kesal dengan Jefra yang tidak memperbolehkannya pergi ke acara reuni. Tapi, Ranata ingin peluk.


Dengan mengenyampingkan rasa kesalnya, Renata berlari pergi mengejar Jefra.


Renata memeluk Jefra dari belakang. Hal spontan itu, langsung membuang Jefra terkejut. Dia terdiam sebentar, lalu melirik sepasang tangan yang saling bertautan di perutnya.


Detik kemudian, bibir pria itu melengkung. Menunjukan senyum senang meski terkesan sangat tipis.


"Sudah tidak ngambek lagi?" tanya Jefra, berbalik merubah posisi berpelukan mereka. Dan sekarang menjadi berhadapan.


Renata menganggukkan kepala, sekarang dia benar-benar merasa jauh lebih baik.


"Masih ingin pergi ke acara reuni, hmm?" tanya Jefra mengungkit permintaan istrinya.


Meski Renata masih ingin sekali datang ke acara reuni. Namun, jika Jefra tidak mengizinkan apa boleh buat. Bagi seorang istri, memang harus selalu menuruti apa yang dikatakan suaminya.


"Yasudah pergi saja."


Pelukan mereka terlepas. Renata menatap tidak percaya Jefra.


"Bolehkah?" tanya Renata memastikan.


Jefra mengecup kening Renata dengan lembut, "Ya, Dear. Pergilah bersenang-senang."


Renata mengangguk senang.


"Asal kamu tahu, aku pergi ke sana bukan ingin bertemu pria lain. Ini demi Angel."


"Aku percaya padamu, Dear," ucap Jefra tersenyum kecil dan mengusap pipi Renata dengan ibu jarinya.


**


Maka, ketika hari Sabtu tiba dan sudah waktunya berangkat ke acara reuni. Pergilah Renata dengan dua orang Bodyguard suruhan Jefra yang menjaganya dari jarak jauh.


Menaiki mobil mewah, Renata berangkat ke sebuah hotel tempat acara berlangsung.


Suara musik berdentum keras, merek berteriak lantang saat seorang DJ memainkan lagi favorit anak muda.


Ketika Renata masuk seketika tatapan tertuju padanya. Mereka yang berjoget pun berhenti. Renata jadi kikuk sendiri. Terlebih, dia tidak kenal dengan teman-teman semasa sekolah Angel. Mereka semua juga seperti canggung untuk menyapanya.


Apa yang harus Renata lakukan sekarang?


Coba saja ada Jefra di sini, pasti dia tidak akan seperti anak hilang.


Tidak, Renata pasti bisa mengatasinya sendiri. Dia tidak boleh selalu tergantung pada suaminya.


"Halo, semuanya. Bolehkah aku ikut bergabung?"


Tunggu.


Kenapa juga Renata meminta izin bergabung? Dia kan juga mendapatkan surat undangan reuni ini. Kini, Renata merutuki kesalahan ucapnya.


Namun, suara tawa dari semuanya membuat Renata terheran-heran.


"Oh, tentu saja boleh."


"Aku tidak menyangka jika primadona sekolah kita akan datang."


"Angel masih secantik dulu."


"Sudah kubilang, kan. Angel pasti datang."


Kemudian tangan Renata ditarik oleh salah satu wanita untuk ikut bergabung, saling mengobrol dan tertawa bersama.


Ternyata, teman-teman sekolah Angel tidak membencinya. Mereka justru sangat senang dengan kedatangannya.


Namun.


Kesenangan Renata tidak bertahan lama. Karena tiba-tiba musik berhenti, panggung diisi oleh ketua ikatan alumni. Seorang wanita setengah tua mulai memberi sambutan. Apa yang dia ucapkan mengagetkan Renata.


"Kita akan menyambut kehadiran tamu sepesial. Perusahaannya kerap memberikan beasiswa, dan telah banyak merekrut karyawan dari sekolah kecintaan kita ini. Mari tepuk tangan yang meriah untuk... Alex Rudiart!"


Seketika ruangan menggema dengan tepuk tangan dan jeritan beberapa wanita.


Alex Rudiart? Pria yang mirip dengan orang yang telah membunuh Jefra di kehidupan sebelumnya? Kakak dari Daisy?


Bisa-bisanya Renata bertemu dengan pria itu lagi.


"Selamat malam, semuanya. Senang bisa turut hadir dalam acara reuni ini," sapa Alex tersenyum menawan, membuat kehebohan di antara wanita.


Tidak bisa dipungkiri, pria matang bermata biru itu memiliki pesona yang mampu membuat para wanita menjerit-jerit.


"OMG! Tuan Alex tampan sekali!"


"Mata birunya sangat indah!"


"Aku hanya bisa bermimpi menjadi wanita dari lelaki macam Tuan Alex!"


Hanya Renata saja, satu-satunya wanita yang terlihat biasa aja, tidak ikut berteriak memuji pria itu. Dan betapa sialnya ketika kedua mata Renata bertatapan dengan Alex.


Alex menyeringai samar.


_To Be Continued_