Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Bangunlah, Dear


Cinta... butuh pengorbanan.


Pengorbanan adalah bukti terkuat dari cinta.


Namun, Tuan J tidak pernah mengharapkan jika Renata berkorban untuk menyelamatkan dirinya. Sebagai laki-laki, seharusnya dia yang melindungi wanitanya. Tapi kenapa justru membiarkan sang istri terluka karena menolongnya?


Jefra Tjong merasa gagal.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Dokter mengobati luka-luka Tuan J. Setelahnya, pria itu langsung pergi ke tempat di mana Renata berada.


"Renata banyak menghirup asap saat kebakaran, tidak ada luka bakar. Namun, ada pendarahan di otaknya. Dokter sedang melakukan tindakan operasi, karena jika tidak segera ditangani akan sangat berbahaya."


Kabar dari Zayn yang membuat hati tersayat-sayat.


"A-apa?" Tuan J lemas.


Pendarahan di otak? Apalagi ini. Ya, Tuhan?


"Tapi, sejauh ini kandungannya baik-baik saja, itu karena dia sangat melindungi bagian perut daripada bagian tubuh lainnya. Hanya saja Renata mengalami benturan keras di kepala. Pendarahan itu menumpukan tekanan yang begitu besar di dalam otak," jelas Zayn mengenai keadaan Renata yang sedang berada di ruang operasi.


Tubuh Tuan J yang lemas seketika menegang, "Kandungan?"


"Apa kamu lupa jika istrimu sedang mengandung?" Zayn heran dengan reaksi Tuan J, terlihat seperti baru mengetahui sang istri sedang mengandung, "Renata sekarang sedang hamil. Tapi untunglah kejadian ini tidak berdampak buruk pada kandungannya."


Renata sekarang sedang hamil... Renata sekarang sedang hamil... Renata sekarang sedang hamil...


Tuan J mengulang perkataan Zayn di dalam hati berkali-kali. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kini, perasaannya semakin kacau karena mendapati berita yang tidak mengenakkan sekaligus membahagiakan. Benar-benar menusuk jantung dan hatinya.


Dia tidak tahu, entah sejak kapan ada bayi kecil berkembang di kandungan istrinya.


"Apa operasi ini tidak berpengaruh pada kandungannya?" tanya Tuan J takut-takut.


"Entahlah," tarikan napas Zayn begitu berat, "Kita hanya bisa berdoa untuk kelancaran operasi. Dokter pasti sedang melakukan segala upaya semaksimal mungkin."


Kini, Tuan J hanya bisa menatap nanar pintu berwarna putih.


Namun.


Sudah hampir empat jam Renata ada di dalam sana, tanpa adanya kabar sedikitpun.


"Apakah istriku selamat?" lirih Tuan J dengan napas tersengal.


"Dia pasti akan kembali membuka mata," ucap Kakek Ashton yang sudah terlihat baik-baik saja.


"Putriku adalah gadis yang kuat, dia pasti bisa bertahan," sahut Rendra sangat yakin.


"Bagaimana kebakaran itu bisa terjadi? Kenapa bisa terjadi kelalaian?" tanya Zayn heran.


"Ada kesengajaan yang memicu terjadinya kebakaran. Pelakunya adalah Sanaya. Dia menyusup ke kediaman keluarga Tjong. Sepertinya, dia ingin balas dendam," jawab Arvin yang sudah mencari tahu penyebab kebakaran, Asisten dari Jefra Tjong itu memang selalu sigap.


"Anak sialan itu..."


Mendengar nama sang putri tiri disebut, wajah Rendra mengeras. Lagi-lagi Sanaya mencoba mencelakai Renata. Banyak penyesalan memenuhi dirinya, karena dulu begitu membela si wanita rubah.


Raut wajah Zayn juga tidak jauh berbeda dari Ayahnya, "Lalu di mana dia sekarang?"


"Dia sudah mati terbakar," jawab Arvin. Lalu dia menatap Tuan J, "Dan ada satu orang lagi yang terlibat."


"Katakan," perintah Tuan J.


"Sienna."


Kedua tangan Tuan J terkepal. Rasa marah membara dan benci luar biasa mengoyak batin. Berjanji dalam hati, akan menghapus Sienna dari muka bumi. Hati Tuan J benar-benar mendendam pada Ibu tirinya itu.


Padahal Sienna sudah diberi peringatan sebuah kematian. Apa dia mengira jika aksinya tidak diketahui?


Mendidih sudah batin Tuan J. Dada kembang-kempis karena diterpa amarah.


Suara pintu terbuka, membuat Tuan J segera menghampiri Dokter yang baru keluar dari ruang operasi. Menodong dengan banyak pertanyaan. Hingga rasanya, ingin melihat sendiri bagaimana sang istri di dalam sana, sungguh.


"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Tuan J dengan sorot sendu, penuh luka dan takut.


Melihat sang Dokter menghela napas kecil, membuat pikiran negatif menghantam semua orang menunggu.


Tubuh Tuan J seketika lemas tidak berdaya. Pandangannya nanar, bahkan telinganya tidak bisa lagi mendengar. Mendengung seolah menolak penjelasan dari Dokter.


"Pasien atas nama Angelica Renata Tjong sedang mengalami kritis. Dia harus dipindahkan ke ruang ICU hingga kondisinya lebih stabil. Pasien sempat kehilangan banyak darah, hingga membuat tubuhnya kritis seperti ini."


Jantung Tuan J seolah berhenti.


Renata kritis.


"Lalu bagaimana tindakan selanjutnya?" tanya Kakek Ashton.


"Sekarang akan dilakukan observasi pasca penanganan pendarahan otak," jawab sang Dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk putriku dan janinnya, Dok," pinta Rendra.


**


Selesai operasi, Renata dipindahkan ke ruang ICU. Semua masih berada di rumah sakit.


Perawat memperbolehkan Tuan J untuk masuk ke ruang ICU, melihat Renata. Maka, walau hati berdebar dan napas berhenti, dia melangkah dengan kaki gemetar.


Di sana, Renata terbaring tidak sadarkan diri.


Menggunakan baju kunjungan yang steril, Jefra Tjong berdiri di sebelah brankar. Menatap nanar pada sang istri.


Ditatapnya wajah Renata yang pucat pasi. Berbagai kabel alat monitor terpasang. Napas pun harus mengunakan alat bantu, karena tidak mampu bernapas sendiri.


Sangat menyakitkan ketika melihat dia yang selalu ceria dan cerewet, dan selalu saja mempunyai cara untuk menarik perhatiannya. Kini, Renata terbaring lemah dan tidak berdaya. Yang Tuan J ketahui, kalau sang istri ada di ambang hidup dan mati.


Tuan J mengangkat tangannya yang dirasa begitu berat, membelai lembut pipi dingin milik Renata.


"Dear," bisik Tuan J pada telinga Renata, "Katanya... kamu hanya ingin tidur. Bangunlah, aku hanya mengizinkan kamu tidur sebentar."


Air matanya menetes mengiringi kehancuran hati pria itu. Remuk, dirinya remuk redam.


"Aku tidak bisa... tidak bisa sendirian seperti ini. Aku tidak bisa tanpamu."


Berkali-kali dia mengecup wajah Renata. Jemari solidnya menggenggam jemari lentik istrinya itu.


"Maafkan aku, Dear. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kamu. Tentang kamu yang sedang mengandung saja aku tidak tahu. Benar kata Zayn, aku adalah suami payah," ucap Tuan J dihantui rasa sesal.


Rasanya berat dada Tuan J untuk bernapas. Memandang wajah Renata dengan pedih. Jemari sang istri ia sentuhan ke wajahnya, "Cepatlah sadar dan kembali padaku. Aku mencintaimu."


Tuan J mengecup kening Renata yang dibalut perban, perlahan turun ke hidung, dan berlabuh di bibir sang istri.


Kemudian dia menyentuh permukaan perut Renata yang belum membuncit. Telah ada kehidupan lain di sana.


"Jaga Ibu, Ayah akan pergi sebentar."


Setelah mengatakan itu, Tuan J melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang ICU. Menatap diam Arvin yang sedang menunggunya.


"Ayo, kita balas Sienna Tjong. Aku tidak akan mengampuninya lagi."


Arvin menganggukkan kepala.


"Jangan buang waktu untuk memberi pelajaran untuk wanita busuk itu."


Tua J benar-benar murka pada Ibu tirinya itu.


_To Be Continued_