SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 97. ALENA MINTA PUTUS


Hubungan Zero dengan Alena semakin mesra setelah mereka jadian, hal ini membuat Vano bertambah iri, kesal dan marah. Berbagai upaya telah dia lakukan untuk memisahkan Zero dan Alena tapi selalu saja gagal.


Hingga 6 bulan lalu, saat ayah Alena terlilit hutang rentenir dan ibunya masuk rumah sakit, harus menjalani operasi. Ayah Alena terpaksa menggadaikan sertifikat rumah untuk menutupi biaya tersebut.


Ternyata hal itu bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah. Hutang pokok kepada rentenir belum lunas, timbul masalah baru, rumah Alena juga terancam diambil oleh orang yang menerima gadaian karena ayahnya tidak sanggup menebus pada saat waktu yang beliau janjikan.


Saat itu Alena berusaha membantu sang Ayah dengan mendatangi orang yang menerima gadaian sertifikat rumah agar memberikan perpanjangan waktu, karena mereka tidak mungkin keluar dari rumah itu dengan kondisi ibunya yang belum pulih.


Tapi usaha Alena sia-sia, dia memohon malah di usir dari sana karena menurut orang itu Alena hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak boleh ikut campur urusan orangtua.


Alena keluar dari rumah itu, dia berlari sambil menangis, tanpa di duga, dirinya dan Vano berpapasan di halaman, tapi Alena tidak memperdulikannya.


Vano yang saat itu melihat Alena menangis merasa heran dan khawatir, lalu dia memanggil Alena dan mengejarnya. Tapi Alena tidak mengindahkan panggilan dari Vano, dan dia terus saja berlari hingga hampir saja sebuah angkutan umum menyerempetnya kalau Vano tidak menarik Alena hingga keduanya terjatuh.


"Kamu kenapa Alena? Ayo katakan padaku, kenapa kamu menangis? Mana tahu aku bisa membantumu," ucap Vano.


"Terimakasih kamu sudah menyelamatkan ku, tapi maaf aku harus pulang sekarang!" ucap Alena sambil naik ke dalam angkutan umum yang saat itu tepat berhenti di depannya.


Alena tidak mau menceritakan masalahnya kepada orang yang selama ini dia benci, yang selalu ingin memisahkan dirinya dari Zero.


Vano hanya terpaku melihat kepergian Alena sampai terdengar suara orang tuanya memanggil.


"Vano! Ayo...ngapain kamu berdiri mematung di sana!" panggil sang Mami.


"Siapa memangnya gadis itu hah! Sampai kamu begitu mengkhawatirkannya, bagaimana coba kalau kamu tadi tertabrak dan cidera!" ucap sang papi.


"Apa demi seorang gadis kamu rela mengorbankan dirimu sendiri dan tidak memikirkan perasaan kami! Jika tadi sampai terjadi apa-apa denganmu, Mami lebih baik mati Vano," ucap Mami Vano sambil memeluk putranya yang datang mendekat.


"Papi dan Mami jangan terlalu mengkhawatirkan Vano, buktinya sekarang Vano baik-baik saja 'kan! Mungkin Vano yang akan merasa bersalah seumur hidup jika sampai tadi Alena celaka," ucap Vano.


"Memangnya siapa dia?" tanya sang Papi lagi.


"Dia gadis yang Vano cintai Pi, dan Vano akan melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya," ucap Vano sedih.


"Berarti dia tidak mencintai kamu Nak?" tanya Mami Vano.


"Saat ini belum Mi, tapi suatu hari nanti, dia pasti akan menjadi milikku. Aku mencintai dia Mi...sejak pertama melihatnya, mami tahu dia mirip siapa?"


"Iya...dia mirip Nina."


"Itu makanya Mi, aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya, cukup Tuhan mengambil Nina dariku, aku tidak ingin kehilangan Alena.


"Ya sudah, ayo...kita temui dulu Om Hendra, pasti dia sudah menunggu kita. Nanti kita tanya ke Om Hendra, ada apa dengan gadis itu, kenapa dia keluar dari rumah Om kamu itu sambil menangis," ucap Mami Vano.


"Ayo Pi, Mi...aku penasaran ingin cepat bertanya dengan Om Hendra," ajak Vano sambil menarik tangan sang Mami.


Hendra adalah orang yang telah menerima gadaian sertifikat rumah Alena dan merupakan adik kandung dari Maminya Vino.


Vano yang penasaran langsung memberondong Om Hendra nya dengan berbagai pertanyaan begitu dia masuk ke dalam rumah Om nya itu, hingga membuat Hendra merasa heran.


Kemudian Mami Vano menjelaskan siapa sebenarnya Alena, gadis yang baru saja keluar dari rumah Hendra sambil menangis.


Akhirnya Hendra pun paham dan dia berjanji akan memberikan keringanan. Tapi Vano tidak puas sampai di situ, dia ingin Papi dan Maminya membantu keluarga Alena serta mengembalikan sertifikat rumahnya.


Senyum mengembang di wajah Vano, kali ini dia pasti berhasil mendapatkan Alena, walaupun dia tahu saat ini Alena masih membencinya.


Vano yakin dengan memberikan perhatian dan pertolongan, Alena akan terikat, hingga dengan sendirinya dia akan melepaskan Zero demi keluarganya, tanpa Vano harus bersusah payah untuk memisahkan mereka lagi.


Ternyata perkiraan Vano benar, setelah dia mengembalikan sertifikat rumah, melunasi hutang rentenir dan membawa ibu Alena ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan terbaik, hal itu membuat hati Alena dengan sendirinya melunak. Alena bisa bersikap lebih baik dan tidak membenci Vano lagi.


Alena gadis yang baik dan dia bukanlah gadis yang tidak tahu berterimakasih, Alena rela mengorbankan perasaan cintanya dengan memutuskan Zero dan menerima cinta Vano serta berjanji akan mengabdi seumur hidupnya kepada Vano demi kebaikan dan kebahagiaan orangtuanya.


Namun satu syarat dari Alena untuk Vano, jangan pernah pihak Vano menceritakan masalah ini kepada siapapun termasuk Zero dan juga ayah serta ibunya. Biarlah nanti Alena akan mencari alasan sendiri kenapa dia memutuskan Zero dan memilih berpaling kepada Vano.


Vano pun setuju dengan persyaratan dari Alena dengan membiarkannya menuntaskan hubungan dengan Zero sesuai keinginannya.


Alena masih bersikap biasa terhadap Zero, layaknya pasangan kekasih, dia menunggu sampai ibunya keluar dari rumah sakit.


Empat belas hari kemudian, setelah dokter mengatakan kondisi Ibu Alena sudah mulai membaik dan mengizinkan beliau pulang, Alena segera menelephone Zero, memintanya untuk bertemu kembali di taman, tempat mereka selalu menghabiskan waktu untuk makan es cream sambil ngobrol tentang masa depan yang akan mereka jalani.


Zero pun merasa heran, kenapa setiap hari Alena memintanya untuk datang ke taman itu, tapi Zero tidak ingin membuat kekasihnya kecewa, dia menyempatkan datang walau hanya sebentar guna menyenangkan hati Alena.


Dia tidak tahu jika pertemuan mereka hari ini adalah pertemuan terakhir sebagai pasangan kekasih. Alena bermaksud memutuskan Zero ditempat dimana mereka jadian.


Saat Zero datang, Alena sudah ada di sana, duduk di atas ayunan sambil memegang dua cup es cream. Seperti biasa, Alena memberikan satu cup es cream coklat untuk Zero, tapi kali ini dia tidak banyak bicara.


Setelah melihat Zero menghabiskan esnya, barulah Alena menyampaikan maksudnya bahwa dia minta putus.


Alena tidak mau lagi melanjutkan hubungan dengan alasan karena dia malu memiliki kekasih seorang pemulung yang tidak akan mungkin bisa memberinya masa depan yang lebih baik.


Selamat pagi sobat semua, hari ini aku bawa rekomendasi karya temanku Kak Weny Hida, mampir juga yuk di sana, terimakasih ya🙏♥️


Ini aku berikan secuil cuplikan ceritanya ya sobat,


"Cleo, cepat katakan pada mama siapa yang sudah menghamilimu? Kau sudah membuat dosa besar, Cleo! Apa kau tidak sadar itu namanya zina, Cleo. Itu dosa besar!"


Cleo pun hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Cleo, cepat katakan pada mama siapa laki-laki yang sudah berani menghamilimu? Jangan diam saja, Cleo! CLEEEEOOOOOO!"


"CEPAT KATAKAN CLEEEEOOOOO! KAU TELAH MELAKUKAN DOSA BESAR!!"


"Oh iya ma, emhhh Kenzo. Dia anak Kenzo, aku pergi meninggalkan kalian semua saat aku sedang hamil anak Kenzo, itulah sebabnya saat itu aku merasa sangat terluka karena mengira Kenzo hanya mempermainkanku, sedangkan aku sedang mengandung darah dagingnya."


"Jadi dia anak Kenzo? Kau tidak berbohong pada mama kan?"


"Y...Ya, dia benar-benar darah daging Kenzo."


"Syukurlah! Alhamdulillah, mama benar-benar sangat bahagia, mama mau mengakui dia sebagai cucu mama kalau dia anak Kenzo!" teriak Vallen kemudian mengangkat Shane lalu menggendongnya.


"Mama! Bukankah tadi mama mengatakan kalau aku berdosa karena sudah berzina! Lalu dengan mudahnya mama mengatakan Alhamdulillah setelah tahu dia anak Kenzo!"