SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 63. ANCAMAN ZEYA


Zero yang hendak pergi meninggalkan Zeya, segera ditarik oleh gadis itu, "Hey tunggu! Keren banget ilmu mu Kak, berarti instingku saat di dalam tidak salah. Kamu tadi ikut berada di sana 'kan? Aku merasakan ada kehadiran orang lain di sana walau tanpa kulihat wujudnya dan aku yakin itu pasti Kakak.


"Hemm..." dehem Zero yang belum mau menanggapi pertanyaan Zeya.


"Kakak...ayo jawab! Atau aku berteriak lagi nih!" ancam Zeya yang sudah mengangakan mulutnya.


Zero berbalik lalu membekap mulut gadis itu lagi, dia tidak mau teriakan Zeya akan mendatangkan orang-orang ke sana, hingga membuat dirinya repot.


"Kalau iya, kenapa rupanya?" akhirnya Zero menjawab.


"Kenapa Kakak harus diam-diam menguping pembicaraan kami? Aku tahu, Kakak pasti bukan orang jahat, jika Kakak berniat jahat, pasti sangat mudah bagimu, yang tidak terlihat untuk mengerjain atau menghabisi kami sesukamu. Memangnya Kakak siapa? dan mengapa Kakak mengawasi kami?" tanya Zeya lagi.


Zero masih bingung harus menjawab apa, apalagi gadis ini tidak melepaskan pegangan pada bajunya.


"Lepaskan aku, kamu tidak perlu tahu urusanku!" ucap Zero asal.


Urusan Kakak sekarang jadi urusanku, karena ini rumah Kakakku, jadi aku ikut bertanggungjawab mengenai keamanan rumah ini. Jika Kakak tidak mau cerita ya sudah! Aku akan ikuti Kakak terus seperti ini, " ucap Zeya sambil menggandeng lengan Zero tanpa malu.


Zero yang memang belum pernah di gandeng oleh seorang gadis merasa aneh dan risih lalu dia berusaha menepis tangan gadis itu sambil berkata, "Lepaskan! Kamu bukan muhrim ku, jangan pegang-pegang sembarangan."


"Biarin! Makanya, ayo cerita atau aku gandeng terus Kakak dan aku bawa ke hadapan Kak Royan."


"Silahkan! Jika kamu mau kita dinikahkan," ucap Zero asal, agar gadis itu melepaskan tangannya.


"Siapa takut! toh kita sudah dewasa dan pasti keren bisa nikah dengan Kakak, nanti aku bisa ikutan menghilang seperti Kakak. Mau ya Kak? Ajari aku," ucap Zeya sambil mengeratkan pegangan tangannya.


'Heh...dasar gadis gila, diancam menikah malah nggak takut, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk pergi dari sini?'


"Kakak diam, berarti setuju? Aku pikir hanya di film atau dicerita novel saja orang bisa menghilang, eh... sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di dalam dunia nyata ternyata ada. Aku pingin Kak bisa seperti itu, biar aku balas, teman-teman yang sering mengusili dan menjahatiku," ucap Zeya.


"Kamu jangan sembarangan bicara, ayo lepaskan! Aku harus pergi sekarang, masih banyak yang musti aku urus."


"Nggak! Pokoknya, Kakak harus cerita dulu, kenapa Kakak menyelinap diam-diam!"


"Baiklah, tapi kamu harus janji ya, jangan cerita ke siapapun tentang semua yang kau lihat hari ini tentangku, termasuk kepada Royan, kakakmu."


"Maksudmu apa?"


"Jika Kakak bisa bekerjasama denganku, aku setuju, tapi jika tidak, aku nggak janji bisa menyimpan rahasia ini."


"Ya sudah, jika begitu aku pergi saja."


"Hei...hei...tunggu Kak! Gitu aja ngambek! iya deh, aku janji! Rahasia ini cukup kita berdua saja yang tahu. Tapi, kakak juga harus janji, ajari aku ya?"


"Maaf, aku nggak bisa. Inikan bukan sesuatu yang bisa dipelajari, ini seperti pulung keberuntungan, jadi bagaimana aku bisa mengajarimu, jika aku saja tidak tahu asal-usul, kenapa aku bisa seperti ini," terang Zero.


"Iya juga ya, kalau ilmu silat, ilmu sekolah bisa dengan mudah dipelajari dan diajarkan, jadi ilmu kakak termasuk ilmu apa ya Kak? bukan ilmu sihir 'kan?"


"Jika aku punya ilmu sihir, sudah aku sihir dirimu jadi batu, hingga aku bisa pergi tanpa mendengarkan ocehanmu lagi," jawab Zero sambil memutarkan bola matanya hingga membuat Zeya tertawa.


"Wah...kalau gitu makin keren, akan aku peluk Kakak biar kita sama-sama jadi batu disini, jadi dikenang sepanjang masa seperti legenda batu Malin Kundang, hahaha..." jawab Zeya yang selalu bercanda menghadapi ucapan Zero.


"Dasar...gadis sableng!" monolog Zero yang nyaris tak terdengar.


"Apa Kak? Kakak ngomong apa tadi?" tanya Zeya.


"Nggak ada apa-apa! Ayo lepaskan tanganku, katanya mau tahu alasanku, kenapa datang kesini diam-diam."


"Nanti, setelah Kakak mengatakannya barulah aku lepaskan," ucap Zeya lagi.


"Bagaimana mau cerita, jika perasaanku saja terganggu, aku pria lho...pria normal dan kamu gadis cantik, kamu nggak takut aku khilaf?"


"Hahaha...Kakak mendengarkan ucapan Kak Royan tadi ya? Memangnya apa yang mengganggu Kakak, aku toh cuma memegang tangan?"


"Dasar! kamu gadis aneh yang pernah aku kenal, jika jiwa kelelakianku muncul dan aku khilaf jangan salahkan aku ya?" ucap Zero yang memang merasakan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya karena di gelayutin manja oleh Zeya yang memang diakuinya sangat cantik dan menarik.


Zero tidak munafik, jika dirinya saat ini merasa tertarik, hatinya berdesir, jantungnya serasa hampir copot dari tempatnya, ketika memandang gadis imut, bermata dan berambut indah dengan bibir tipisnya yang ranum dan seksi itu, sedang tersenyum menatap dirinya.