
"Iya deh aku lepasin, tapi janji ya! Kakak jangan kabur," ucap Zeya saat dia juga merasakan perasaan aneh ketika manik mata mereka saling bertemu.
"Ayo... kita duduk di sana Kak!" ajak Zeya sambil menunjuk kursi yang ada di ruangan itu.
Zero menuruti permintaan Zeya, kini mereka duduk berhadapan, lalu Zero menceritakan maksud kedatangannya ketempat ini yang awalnya ingin membantu melepaskan keluarga Beni dari sekapan Royan, Kakak Zeya.
Tapi saat Zero melihat dan mendengarkan tentang percakapan dan janji Royan terhadap Zeya, membuat dirinya mengurungkan diri untuk menjadi penyelamat dan beralih menjadi pendengar dan penonton yang baik terhadap perubahan sifat Royan.
"Maafkan Kakak ku ya Kak, dia dari kecil hidup keras, Papa menempahnya menjadi manusia kejam dan dingin karena Papa ingin Kak Royan menjadi penerus bisnisnya, bisnis haram, bisnis ilegal, yang sebenarnya tidak aku sukai. Namun kami hanya seorang anak yang tidak berani menentang perintah Papa saat dulu, apalagi Papa selalu dibayangi oleh hasutan Mamaku, hingga saat Kak Royan dewasa, hal itu sudah menjadi kebiasaan dan pekerjaan mengasyikkan baginya."
"Yang penting, kakakmu sekarang sudah sadar, tapi masih ada beberapa kasus yang merugikan orang lain, yang masih harus diselesaikannya."
"Kalau boleh aku tahu, kasus apa ya Kak?"
"Membebaskan orang tua sahabatku, yang kini masih dipenjara, Kakakmu telah membuat keluarga sahabatku sengsara. Mereka kehilangan harta benda sekaligus kebahagiaan masa kecilnya. Yang seharusnya menikmati masa kecil dengan bermain serta mengecap pendidikan sekolah, karena perbuatan kakakmu membuat sahabatku itu harus berjuang mencari nafkah demi keluarganya."
Sejenak Zero terdiam lalu melanjutkan ucapannya, "Berapa banyak keluarga yang telah menjadi korban, anak gadisnya diperjualbelikan dan terakhir proyek kakakmu akan menggusur kampungku, jika tidak layak masalah ganti rugi maka kami warga perkampungan pemulung bakal hidup sengsara, nyaris tidak punya tempat tinggal."
"Papa dan kakakku memang bersalah Kak, tapi Mamaku dalang di balik semuanya."
"Maksudmu apa? Kenapa kamu malah menyalahkan Mamamu?"
"Mama otak dari semuanya Kak, awalnya usaha Papa lurus-lurus saja, tapi setelah masuknya Mama ke perusahaan menjadi asisten pribadi Papa, stiur perusahaan dikendalikan oleh Mama. Yang mengatur dan bekerjasama dengan pihak luar juga Mama. Saat ini Mamaku memilih tinggal di luar negeri untuk memantau semuanya, sambil menikmati harta-harta yang di tinggalkan oleh Papa. Jika beliau saat ini tahu, kami membangkang dan membanting stir usaha Papa, pasti tidak akan lama lagi Mama segera kembali kesini mengambil alih semuanya, aku bisa jamin itu Kak. Makanya aku akan meminta Kak Royan untuk membuka usaha baru atas namanya sendiri, sebelum Mama menyadari akan pengkhiatan kami."
"Kalau aku ceritakan semua, kakak nanti bisa menangis, aku nggak mungkin peluk kakak, ntar kalau kakak khilaf bagaimana?" canda Zeya untuk mengalihkan perhatian Zero agar tidak bertanya terlalu dalam tentang kehidupan masa lalunya yang nanti malah membuat dirinya sendiri menangis.
"Ya sudah deh, nggak jadi. Aku juga takut khilaf, aku belum siap jika harus di minta oleh Kakakmu untuk bertanggung jawab, menjadikanmu istriku," balas Zero dengan candaan hingga membuat keduanya sama tertawa.
Zero tahu Zeya belum siap untuk menceritakan kehidupan pahitnya kepada orang lain selain Royan.
"Begini saja Kak, kita temui Kak Royan dan bicarakan tentang yang kakak omongkan tadi supaya Kak Royan segera menyelesaikan semuanya sebelum Mamaku kembali ke sini."
"Oh ya Kak, dari tadi kita ngobrol, aku belum tahu namamu, kalau kamu pasti sudah tahu namaku karena kakak sudah mengintai kami sejak tadi. Ayo dong kita kenalan dulu, masa berteman tapi tidak kenal nama, nggak lucu 'kan?"
Merekapun berjabat tangan dan saling menyebutkan nama, sejak hari ini keduanya bersahabat dan berjanji akan membantu Royan menyelesaikan semua masalahnya.
"Ayo Kak! Kita temui Kak Royan," ajak Zeya.
Zero pun menuruti permintaan Zeya, tapi keduanya sangat terkejut saat membuka pintu, ternyata Royan sudah berdiri di depan mereka.
Royan menatap tajam ke arah Zero, lalu berkata, "Kamu apakan adikku hah! Siapa kamu! Berani-beraninya mengunci adikku di dalam kamar. Aku tadi mendengar teriakannya, ternyata kamu pelakunya," ucap Royan marah lalu mencengkram kerah baju Zero sambil mengayunkan tangannya hendak memberikan bogem mentah kearah Zero.
Zeya yang melihat hal itu buru-buru menghalangi sang Kakak, menggeser tubuhnya hingga berada di tengah antara Zero dan Royan.
Untung saja Royan bisa cepat mengalihkan bogemnya hingga tidak mengenai Zeya. Jika tadi, sampai mengenai adiknya sudah bisa di pastikan Zeya sekarang terkapar di lantai.