
Zero menggunakan kekuatannya untuk membuka gembok kerangkeng tersebut. Dengan sekali tarik, gembok tersebut pun lepas hingga kerangkeng terbuka lebar.
Para wanita yang ada di dalam merasa heran, kenapa pintu kerangkeng bisa bergerak dan terbuka sendiri. Tapi mereka tidak peduli, yang penting saat ini bisa keluar dari tempat itu.
"Ayo kita lari mumpung tidak ada penjaga," ucap salah satu wanita yang ada di sana.
"Iya...ayo cepat kita keluar," jawab salah satunya lagi.
Kesembilan belas orang tersebut sudah keluar dari kerangkeng, hanya tinggal Nayla yang masih bingung bagaimana dia akan membawa abahnya lari sementara kondisi beliau tidak sehat.
Satu orang wanita yang melihat Nayla masih bengong di sana lalu bertanya, "Ayo cepat keluar...kamu tunggu apalagi Nay! kesempatan seperti ini tidak akan pernah datang lagi."
"Aku tidak mungkin meninggalkan abah," ucap Nayla.
Mendengar jawaban dari Nayla, wanita itu baru teringat bahwa Abah Nayla kondisinya sangat lemah. Beliau sempat disakiti para penjaga karena melawan mereka dan diikat di ujung ruangan kapal tersebut.
Kemudian wanita itu berteriak, "Hei kawan-kawan! ayo kita bantu Nayla membawa abahnya keluar dari tempat ini!"
Semua berbalik lalu menuju ke tempat abah diikat. Nayla membuka ikatan abah, lalu beramai-ramai mereka membantu memapah abah yang terkulai lemah.
Zero keluar duluan, lalu membuka rompinya dan berpura-pura baru tiba di sana untuk menolong, membawa mereka keluar dari kawasan itu.
Para wanita itu bingung kemana mereka harus pergi, apalagi dengan memapah abah, sementara yang terlihat di sana hanya hamparan laut dan juga pohon-pohon bakau.
Zero berlari sambil berteriak, "Kak Nayla!"
Nayla yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh, "Zero! bagaimana kamu bisa kesini?" tanya Nayla.
"Aku minta tolong temanku Kak yang pandai dalam hal jaringan, kami lacak asal telepon kakak tadi malam hingga aku bisa sampai kesini. Bagaimana keadaan abah kak?" tanya balik Zero.
"Beginilah Dek, mereka menyiksa abah, jadi keadaan abah saat ini sangat lemah."
"Sini Kak, biar aku saja yang memapah abah. Sekarang...kakak semua ikut aku ya, kita akan keluar dari tempat ini. Tapi kita harus tetap hati-hati, siapa tahu penjahat-penjahat itu masih berkeliaran di sini," ucap Zero.
"Baiklah Dek. Ayo teman-teman kita keluar dari tempat ini," ajak Nayla.
Zero menggunakan kekuatannya untuk memapah abah agar tidak terlalu kepayahan dalam berjalan memasuki terowongan yang dia lewati tadi.
Saat di pertengahan terowongan, Zero memberitahu bahwa mereka jangan berisik karena bisa saja diujung terowongan ada penjahat yang sedang berjaga.
Mereka pun mengikuti perintah Zero, berjalan tanpa menimbulkan suara gaduh dan berisik. Akhirnya mereka sampai di ruangan tempat peti-peti barang selundupan berada.
Zero dan yang lain dikejutkan dengan suara orang membuka kunci pintu dari luar. Sebelum orang tersebut melihat mereka, Zero meminta mereka untuk bersembunyi dan meletakkan abah di lantai, diantara tumpukan peti.
Satu orang pengawal masuk, dia melihat ke sekeliling seperti mencari sesuatu. Ternyata dia mengambil sebotol minuman.
Saat dia berbalik hendak keluar, Zero langsung bergerak cepat, memukul punggung penjaga tersebut sekuatnya hingga diapun jatuh terkulai dan pingsan.
Botol minuman yang ada di tangan penjaga itu jatuh ke lantai dan pecah hingga suaranya mengagetkan penjaga lain yang masih di luar.
Penjaga terkejut melihat temannya tergeletak di lantai dan botol minuman pecah berserakan. Mereka pun masuk, tapi tidak melihat ada yang mencurigakan.
Zero yang ada di belakang mereka pun beraksi, dengan tenaga super dia memukul lawannya, perkelahian pun terjadi.
Nayla yang melihat gerakan Zero begitu cepat dari tempat persembunyiannya merasa heran, tapi dia bersyukur penjaga-penjaga itupun bergelimpangan di lantai.
Lalu Zero menghampiri Nayla dan para wanita itu dan berkata, "Kakak semua tunggu di sini, aku akan melihat keadaan di luar dulu, jika sudah aman aku akan kembali memberitahu kalian," ucap Zero.
"Iya Dek, kamu hati-hati ya," ucap Nayla.
Zero pun pergi keluar untuk melihat situasi, ternyata ada beberapa orang lagi diluar sana yang masih berjaga-jaga dan dia melihat anak buah Royan ketiganya terikat.
Tanpa menunggu lama lagi, Zero memakai rompi lalu secepat kilat beraksi menghampiri para penjaga tersebut.
Dia mengambil senjata mereka semua lalu mematahkan dan membuangnya kearah para penjaga tersebut.
Mereka ternganga, bingung siapa yang melakukan semua itu. Mau dilawan tapi tidak tahu dimana dan siapa lawan mereka.
Zero dengan gerakan cepat, sekali hantam saja berhasil membuat orang-orang tersebut roboh, bergelimpangan di tanah.
Kemudian Zero membuka ikatan yang mengikat anak buah Royan dan kembali ke ruangan untuk membawa abah dan para wanita keluar dari tempat tersebut.
Sebelumnya Zero telah membuka rompinya baru masuk ke ruangan.
Mereka senang Zero telah kembali, lalu segera mengikuti Zero yang keluar dengan memapah abah.
Anak buah Royan merasa heran, siapa yang telah menolong mereka, tapi saat melihat Zero bersama para wanita keluar sambil memapah abah mereka pun segera membantu.
Sekarang Zero tinggal berpikir bagaimana mereka akan pergi dari tempat itu sementara naik motor tidaklah mungkin dengan membawa orang begitu banyak.
Lalu Zero berkata kepada anak buah Royan, "Bang...coba cari kendaraan yang bisa kita pakai untuk pergi dari sini!" ucap Zero.
"Sebentar Bos, tadi kami melihat di sisi timur tempat ini ada mobil truk, mungkin itu kenderaan yang dipakai untuk mengangkat barang-barang. Jika truk itu hidup, bisa kita pakai untuk membawa para wanita keluar dari tempat ini."
"Pergilah Bang, coba cek! Barangkali bisa kita gunakan," ucap Zero lagi.
"Baiklah Bos kami akan periksa dan usahakan, mudah-mudahan truk itu bisa kita pakai."
Sembari menunggu, Zero meminta yang lain untuk mencarikan minum buat abah. Nayla yang masih heran kenapa Royan tidak ikut menolongnya segera bertanya, "Dek, kenapa Kak Royan nggak ikut kesini membebaskan kami? kok malah para anak buahnya yang ikut bersamamu?"
"Maaf Kak, jika tadi aku tidak memberitahu, Kak Royan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Kondisinya parah, dia banyak kehilangan darah dan sekarang sedang dilakukan transfusi darah."
"Apa! Kak Royan di rumah sakit? memangnya kenapa Dek?" tanya Nayla.
Zero pun menceritakan kejadian yang menimpa Royan hingga dia berbagi tugas dengan Zeya. Zeya menjaga Royan dan dia kesini untuk menyelamatkan Nayla dan abah.
Mendengar penuturan Zero, Nayla pun berterima kasih, sekarang dia sudah tidak sabar, ingin cepat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Royan.