
Setelah motor yang di kendarai Togar dan Beni hilang dari pandangan mata, Zero berbalik arah, dia ingin menyusuri lampu merah di sisi jalan lain, sekedar ingin memastikan tidak ada lagi pemalakan kepada para pedagang asongan serta para pengemis.
Di wilayah yang biasanya Beni beroperasi terlihat aman. Aktivitas pedagang dan pengemis berjalan tanpa gangguan.
Zero tidak segan untuk bertanya kepada mereka sembari menjelaskan bahwa Bang Beni sekarang telah bertaubat dan menjadi orang baik.
Para pedagang dan para pengemis bersorak gembira, mereka bersyukur bisa bekerja dengan tenang, tanpa merasa was-was lagi.
Zero berpesan kepada mereka jika ada lagi pemalakan agar segera menghubunginya atau menghubungi Bang Togar serta Bang Beni. Zero berjanji akan siap membantu.
Setelah dirasa aman, Zero pamit lalu mengitari jalanan satu lagi yang biasanya sering terjadi perkelahian dan pemalakan. Ternyata benar, di sana masih terlihat, seorang pengemis dimintai setoran, padahal dia baru mendapatkan uang sedikit.
Zero langsung mengenakan rompinya di tempat yang tidak terlihat orang, lalu dia menyamperin si pemalak.
Tanpa buang waktu lagi, Zero segera mengambil semua uang yang ada di tangan mereka dan Zero memberi mereka pelajaran.
Dengan suara tanpa wujud, Zero mengancam mereka, jika masih melakukan hal itu, mereka tidak akan bisa melihat matahari esok.
Para preman lari kocar-kacir, hingga membuat para pedagang dan pengemis dari kejauhan tertawa. Zero pun mengembalikan uang-uang tersebut secara diam-diam menyelipkan ke kantong mereka masing-masing.
Setelah dari tempat ini, Zero akan mengunjungi Seto yang sekarang tinggal di paviliun rumah Pak Lurah. Dia ingin memberitahukan tentang proses pembukaan kasus ayahnya serta akan meminta Seto untuk segera masuk sekolah.
Dengan kekuatan berlari dan rompi yang Zero gunakan, akhirnya diapun sampai di rumah Pak Lurah. Di ujung jalan yang sepi, Zero membuka rompinya, lalu menyimpan kembali ke dalam tas.
Zero bertanya kepada seorang tukang kebun di sana, di mana letak paviliun rumah Pak Lurah. Si tukang kebun lalu memberitahu dan menunjukkan arahnya.
Saat Zero hendak mengetuk pintu, ternyata Seto pun muncul, dia hendak ke warung membeli sesuatu. Begitu melihat Zero, Seto langsung berlari menghambur ke pelukannya sambil berkata, "Terimakasih Kak, berkat usaha Kakak, kasus ayahku telah dibuka kembali, tadi ibu menerima surat dari pengadilan dan pengacara yang bekerjasama dengan Kakak tadi datang menemui ibu."
"Oh...syukurlah Dek. Sebenarnya Kakak datang kesini untuk memberi kabar itu, ternyata kerja pengacara lebih cepat dari yang Kakak duga. Sekarang ibu di mana Dek?"
"Sebentar Kak, biar Seto panggil dulu Ibu. Sejak pulang dari rumah sakit, ibu bekerja di rumah Pak Lurah Kak, bantu-bantu lah di sana."
Seto pun berlari masuk ke pekarangan rumah Pak Lurah untuk menyampaikan kepada ibunya, bahwa Zero datang.
Tidak lama menunggu, ibu dan anak itupun datang menghampiri Zero.
"Dek Zero, apa kabar. Terimakasih, telah memberikan harapan baru bagi kami. Pengacara sudah menghubungi Ibu, jika kasus Ayah Seto telah dibuka kembali."
"Alhamdulillah, jika begitu Bu. Sekarang kita bantu doa ya Bu, semoga perjuangan pengacara kita berhasil."
"Pasti Nak, kami akan selalu berdoa untuk perjuangan kalian."
"Hari ini pengacara akan berusaha mengeluarkan Pak Arya dari sel tikus Bu, mudah-mudahan saja beliau berhasil."
"Syukurlah Dek, itu harapan Ibu, kasihan Bapak, di sana terlalu pengap dan jelas tidak baik untuk kesehatannya. Sekarang beliau sering sakit-sakitan hingga membuat Ibu khawatir."
"Oh ya Dek, kapan akan mulai masuk sekolah?" tanya Zero kepada Seto.
"Besok Kak, tadi alat tulis sudah ku raut dan baju juga sudah ku gosok Kak," jawab Seto.
"Dari sini ke sekolah agak jauh ya Dek?"
"Dek Zero jangan khawatir, tadi Bu Lurah akan memberikan sepeda bekas anaknya untuk Seto, jadi besok bisa Seto pakai untuk pergi ke sekolah. Ibu sudah cek sepedanya kok, masih bagus semua, hanya kurang angin saja. Nanti biar ibu pompa, pinjam pompa tetangga."
"Alhamdulillah, ternyata banyak jalan keluar ya Bu."
"Iya Dek, sejak Seto kenal Dek Zero, banyak kebaikan datang."
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya Bu, kita tunggu kabar selanjutnya dari pengacara. Kakak permisi ya Dek, kamu harus bersungguh-sungguh belajar. Jangan kecewakan orangtuamu dan juga harapan Kakak."
"Siap Kak! Aku tidak akan mengecewakan kalian."
Zero pun mengelus puncak kepala Seto, lalu diapun pamit pulang.
Selama dalam perjalanan, Zero masih berpikir apa yang akan dia lakukan untuk warga kampung pemulung tempat dia tinggal.
Kalau untuk membangun perkampungan itu pasti butuh dana yang sangat besar, sementara dana yang tersisa masih dicadangkan Zero untuk menyelesaikan kasus Pak Arya dan operasi tangan Ahmad.
"Oh, mungkin masalah pendidikan dulu yang harus ku selesaikan. Besok, sepulang membawa Ahmad ke rumah sakit, aku akan ajak Bang Togar dan Bang Beni keliling kampung, untuk melihat-lihat apa yang bisa dilakukan untuk mereka," monolog Zero.
Ketika melewati pasar sore, Zero teringat janjinya yang akan membawa pulang bahan-bahan masakan.
Kemudian Zero memutuskan untuk membeli berbagai sayur mayur, cabe, bawang-bawang, telur, ikan, ikan asin, teri, ayam, daging, tempe, tahu serta bumbu lainnya.
Zero ingat terakhir kali Emak memasak daging adalah saat lebaran, karena mereka memang harus menghemat uang.
Bagi emak dan Zero, ayam dan daging adalah kebutuhan yang mahal makanya mereka lebih memilih mengkonsumsi sayur mayur, tempe, tahu serta ikan.
Zero sangat bersyukur mulai sekarang makanan apapun yang dia dan emak inginkan, insyaallah bisa dibelinya.
Dan janjinya untuk emak pun, akan Zero tunaikan saat misi membebaskan Ayah Seto nanti berhasil.
Setelah membeli semua yang dibutuhkan, Zero memilih memanggil Betor yang lewat agar lebih memudahkan dirinya membawa begitu banyak barang bawaan.
Ternyata pengemudi becak bermotor yang di panggil Zero adalah Mang Adi. Zero tidak tanda karena Mang Adi menggunakan masker serta helm tertutup.
"Habis ngeborong Ro?" sapa Mang Adi.
Zero memicingkan mata, memperhatikan benar-benar siapa sebenarnya pengemudi becak tersebut, setelah mang Adi membuka maskernya sambil tersenyum, Zero pun berucap, "Astaghfirullah, ternyata Mamang toh, aku nggak tanda Mang, maklum mamang pake masker atau memang akunya yang sudah rada-rada."
"Rada apa Ro?"
"Rada pikun Mang," jawab Zero sambil nyengir kuda dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Memangnya mau ada acara Ro di rumah Emak? kok belanjanya banyak amat?"
"Enggak Mang, hanya saja di rumah sedang ramai, temanku untuk sementara menginap di rumah."
"Sudah semua dinaikkan barangnya dan kita siap melaju."
"Iya Mang. Ayo...emak pasti sudah menunggu bahan-bahan ini untuk dimasak buat acara makan malam."