
"Itu benar 'kan? mereka sudah sampai duluan," ucap Zero sembari menunjuk ke arah motor KLX yang terparkir di halaman rumah Ahmad.
"Iya, Kak Zero benar, mereka benar tepat waktu."
Saat mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah, Ahmad pun keluar, dia tahu yang datang pastilah Zero dan Zeya.
Dia bersemangat sekaligus takut. Bersemangat akan mendapatkan tangan baru walau hanya tangan palsu dan takut apakah operasinya akan berhasil atau malah gagal.
"Bagaimana kabar kalian Mad? maaf beberapa hari Kakak tidak sempat menjenguk kalian karena sedang sibuk ujian."
"Nggak apa-apa kok Kak, kami sehat semua. Ayo masuk dulu Kak! Ibu sedang bersiap, beliau ingin ikut ke rumah sakit Kak!"
"Iya Mad, kita tunggu saja Ibu. Jadi si adek bagaimana? ikut juga 'kan?"
"Nggak Kak, tetangga bilang adek tinggal saja, nanti adek mau di ajak oleh mereka jalan-jalan bersama putranya yang baru datang dari Malang."
"Oh...bagus juga begitu Mad, kasihan 'kan adek masih kecil, sementara di sana sumbernya penyakit."
"Iya Kak, itu ibu sudah siap Kak!"
"Bu..." sapa Zero.
"Maaf Dek, kelamaan menunggu, tadi ibu berberes dulu di rumah tetangga, maklum melaksanakan tugas Dek, daripada kerja di tempat yang jauh, kasihan anak-anak."
"Nggak apa-apa Bu, kami juga baru sampai. Ayo Bu kita berangkat," ajak Zero.
"Iya Dek, ibu kunci pintu dulu ya!"
Mereka pun siap untuk berangkat, setelah ibu memastikan rumah sudah terkunci. Ibu pun menitipkan kunci di rumah Pak Lurah sembari pamit, lalu ikut naik ke mobil Zeya bersama Ahmad.
Zeya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Sedangkan Zero terlebih dahulu menghubungi dokter yang akan menangani Ahmad. Sesuai janji sebelumnya, dokter pun sudah menunggu kedatangan mereka di ruangan praktek.
Begitu mereka tiba, suster pun mempersilakan mereka masuk ke ruangan dokter. Yang mendampingi Ahmad di dalam adalah Zero beserta ibunya.
Dokter melakukan berbagai pemeriksaan kembali, berhubung tidak ada luka baru pada tangan Ahmad, maka dokter tidak perlu melakukan tindakan operasi, cukup melakukan pemasangan tangan palsu saja.
Sesuai permintaan Zero, Dokter akan memberikan kualitas yang terbaik walau harganya di atas standart alias lumayan mahal. Tipe tangan palsu yang diminta Zero adalah jenis robotik.
Untuk awal-awal menggunakan tangan palsu pastinya tidaklah nyaman, tapi lama kelamaan bakal terbiasa, setelah nantinya melakukan berbagai latihan bersama tim ahli yang menangani masalah tersebut.
Ilmu pengetahuan dan teknik tentang masalah Ahmad ini di sebut ilmu Ortotik prostetik, yaitu ilmu yang berfokus melakukan pelayanan, pengukuran dan pembuatan alat bantu ganti tubuh manusia.
Pembuatan alat ini diperuntukkan bagi yang mengalami kondisi disabilitas, baik kecacatan sejak lahir maupun kecelakaan yang memerlukan tindakan amputasi.
Ilmu pengetahuan ini berasal dari bahasa Yunani yaitu Orthos dan Pros. Orthos yang berarti lurus atau normal, sedangkan Pros berarti tambahan alat artifisial dan disatukan dengan alat anggota gerak. Dengan demikian anggota tubuh yang tidak sempurna dapat dibantu pergerakannya dengan alat ganti palsu.
Alat ganti gerak ini dapat berfungsi secara normal layaknya pergerakan anggota tubuh yang alami. Akan tetapi perlu melalui beberapa tes maupun latihan bersama para praktisi kesehatan maupun dokter ortopedi. Supaya terbiasa untuk menerima kondisi terbaru bersama alat gerak pengganti. Si pemakai akan merasakan perubahannya setelah melalui rangkaian latihan yang intensif.
Produk ortotik prostetik semakin dikembangkan dengan teknologi yang lebih modern, salah satunya teknologi robotik untuk tangan palsu. Sehingga harga tangan palsu robot mencapai nilai yang cukup tinggi di pasaran karena ramainya peminat. Produk ini bisa diaplikasikan hampir pada seluruh tubuh yakni bagian alat gerak manusia. Mulai dari bagian siku, tangan hingga ke telapak kaki.
Setelah melakukan pemeriksaan dan tim penyedia telah mengukur secara akurat kondisi tangan Ahmad, dokter pun meminta waktu beberapa hari hingga tangan palsu yang dibutuhkan Ahmad selesai dibuat sesuai ukurannya. Dokter akan menghubungi Zero kembali setelah tangan palsu itu selesai dan siap dipasangkan ke tangan Ahmad.
Ahmad merasa lega karena tidak perlu operasi, dia cukup melakukan banyak latihan nantinya bersama tim dokter dan penyedia alat.
Kini mereka diperbolehkan pulang dan dalam perjalanan pulang Zero pun bertanya kepada ibunya Ahmad, "Bu... walaupun nanti Ahmad sudah memakai tangan palsu, tapi tetap saja dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat, jadi kita harus memikirkan masa depannya mau seperti apa. Aku memiliki rencana untuk keluarga Ibu, itupun jika Ibu setuju. Ibu 'kan tidak mungkin sampai tua bekerja terus di rumah orang," ucap Zero.
"Iya Dek, kamu benar. Ibu sih inginnya berdagang, walau hanya punya warung kecil-kecilan saja."
"Nah itu yang aku maksud Bu, jika berdagang di rumah atau punya toko, Ahmad dan adik juga bisa membantu, daripada Ahmad harus berdagang kacang keliling."
"Tapi Dek..." ucapan ibu Ahmad terputus, Zero tahu apa yang beliau pusingkan.
"Ibu jangan khawatir, nanti aku akan bicarakan hal ini dengan sahabat yang biasa menjadi donatur, mudah-mudahan dia bisa bantu kesulitan keluarga ibu. Yang terpenting sekarang kita selesaikan dulu masalah Ahmad ya Bu, sambil kita mencari tempat yang strategis buat Ibu nanti berdagang."
"Terimakasih ya Dek, kami tidak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikanmu."
"Biar yang di atas yang membalas dengan keberkahan Bu, melihat Ahmad bisa tersenyum saja, itu sudah menjadi balasan kebahagiaan untukku Bu."
"Oh ya Kak, Bang Togar dan Bang Beni kok tidak kelihatan ya, jangan-jangan mereka nyasar!" tanya Ahmad.
"Mereka langsung ke perusahaan keluarga Kak Zeya, tadi Kakak minta mereka menunggu di sana, soalnya kami akan ada meeting sore ini bersama staf di sana tentang pembangunan di kampung Kakak."
"O..oh, aku pikir nyasar."
"Nggak mungkin nyasar Dek, mereka 'kan mantan preman jalanan," ucap Zeya sambil tertawa.
"Iya juga ya Kak, jalan mana yang mereka tidak kenal, lah mereka dulu kerjanya di jalanan. Tapi aku salut Kak, lihat mereka berdua, bisa berubah menjadi orang baik," ucap Ahmad.
"Iya Mad, syukur mereka bisa berubah," ucap Zero.
"Kita sudah sampai!" ucap Zeya.
"Eh...iya Kak, habisnya naik mobil mahal jadi tidak terasa di perjalanan, tahunya sudah sampai rumah saja," ucap Ahmad.
"Ah...kamu ada-ada saja Mad! itu karena kalian asyik ngobrol saja, jadi tidak menyadari jika kita sudah sampai," ucap Zeya.
"Kami tidak turun ya Bu, mau langsung ke perusahaan keluarganya Zeya," ucap Zero.
"Iya Bu, soalnya mereka sudah menunggu kedatangan kami," timpal Zeya.
"Baiklah Dek, terimakasih ya dan maaf telah merepotkan," ucap ibu Ahmad sembari mengatupkan kedua tangannya.
Ahmad juga mengucapkan terimakasih, lalu dia tersenyum melepas kepergian Zero dan Zeya.