SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 126. JUJUR TERHADAP ZEYA


"Sudah ya, sampai sini saja ceritanya, itu cuma masa lalu Zey," ucap Zero.


"Lanjut dong Kak! Aku 'kan ingin tahu kenapa Kakak sampai putus dengan Kak Alena, padahal kalian dulu saling mencintai," pinta Zeya yang penasaran.


"Serius nih! Kamu tidak bakal cemburu atau marah?" tanya Zero.


"Zeya pun mengangguk, lalu berkata, "Yang penting sekarang Kak Zero milikku, walaupun aku belum yakin kalau cinta Kak Zero tidak ada lagi untuknya. Seperti orang bilang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan dan kebanyakan menjadi cinta sejati," ucap Zeya.


"Cinta sejati itu nggak musti cinta pertama Zey! Cinta kita, juga bisa dipupuk agar menjadi cinta sejati sampai akhir hayat kita nanti," ucap Zero.


"Memangnya kamu tahu apa makna cinta sejati?" tanya Zero kepada Zeya.


Zeya hanya menggelengkan kepala, lalu Zero menjelaskan makna cinta sejati seperti yang dia ketahui.


"Cinta sejati atau cinta yang sebenarnya adalah cinta yang dianggap betul-betul tulus, tanpa pamrih, dan tidak hanya terjadi karena ketertarikan fisik atau euforia belaka. Cinta sejati juga bukanlah hal baru, melainkan cinta abadi. Namun harus diakui, setiap cinta yang datang dimulai dari cinta yang baru," ucap Zero.


"Eh...ternyata pengetahuan Kak Zero tentang cinta sudah mendalam ya? Ayo dong, lanjut kak! Bagaimana Kakak bisa tahu jika Kak Alena juga mencintai Kakak?" tanya Zeya.


Zero sejenak terdiam, ingatannya kembali ke masa lalu, saat itu jam istirahat, Zero akan ke kantin dan melewati kelas Alena, dia melihat teman pria sekelasnya yang bernama Bara, masuk ke dalam kelas Alena.


Sementara Zero tahu, Alena jarang keluar kelas saat jam istirahat karena dia selalu membawa bekal makanan dari rumah.


Akhirnya karena rasa penasaran dan takut jika Alena yang sendirian di dalam kelas di ganggu oleh Bara, Zero pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin.


Untungnya Alena duduk paling depan dan dekat dengan pintu kelas, maka dengan mudah Zero bisa mendengar apa yang sedang Bara bicarakan dengan Alena.


Ternyata Bara juga mencintai Alena dan dia marah karena Indri, teman sebangku Alena mengatakan kepadanya bahwa Alena tidak mungkin mencintai orang lain selain Zero, meski Zero sendiri belum mengetahui akan perasaan Alena.


Zero saat itu kaget, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, lalu dia berlari ke kantin untuk mencari Indri dan menanyakan tentang hal itu.


Awalnya Indri tidak mengakui, tapi karena Zero mengatakan bahwa Bara mengganggu Alena di kelas, Indri pun berkata jujur.


Tanpa membuang waktu, Zero kembali ke kelas Alena, di sana dia melihat Bara marah dan menanyakan apa sebenarnya kelebihan Zero di bandingkan dirinya.


Dia tidak peduli dengan semua kekurangan Zero karena baginya Zero lebih baik dari pria manapun yang pernah dia kenal.


Bara semakin emosi, dia tidak mau kalah dari Zero lalu dengan cara paksa, Bara berusaha untuk mencium gadis itu.


Tapi Alena berusaha menghindar dengan mendorong Bara sekuat tenaga sambil berteriak minta tolong dan menangis karena ketakutan.


Mendengar teriakan minta tolong dan isak tangis Alena, membuat darah Zero mendidih. Zero tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai dilecehkan dan disakiti oleh Bara.


Zero bergegas masuk ke dalam kelas Alena, menarik kerah baju Bara dan menghajarnya hingga Bara terguling ke lantai.


Perkelahian mereka di dengar oleh murid-murid yang baru saja kembali dari kantin. Suasana kelas jadi ramai, beberapa guru juga masuk untuk melerai perkelahian hingga akhirnya mereka bertiga di bawa ke ruang BP untuk di mintai keterangan kenapa sampai berkelahi.


Sejak kejadian itu, Zero tidak melepaskan kesempatan, dia mengajak Alena setelah pulang, pergi ke taman kota yang letaknya tidak jauh dari sekolah.


Di sanalah Zero mengatakan kejujuran tentang perasaan yang setahun lebih dia pendam dan dengan rona wajah memerah karena malu bercampur senang, Alena menerima pernyataan cinta dari Zero.


Zeya terharu, mendengar cerita Zero, dia tidak cemburu karena setiap orang, pasti punya kenangan masa lalu termasuk dirinya.


Namun Zero yang memperhatikan rona wajah Zeya merasa tidak enak, lalu dia berkata, "Kamu tidak apa-apa Zey?" tanya Zero.


Zeya pun menggeleng, lalu berkata, "Cerita awal mula kakak jadian sudah, sekarang...tolong ceritakan Kak, kenapa kalian bisa putus, padahal dari cerita kakak saja aku bisa tahu, jika Alena sungguh-sungguh mencintai Kak Zero," ucap Zeya.


Melihat Zero diam, lalu Zeya berkata, "please...cerita lagi ya Kak!"


"Nanti ya, itu kita sudah sampai, sekarang kita temui emak dulu, biar besok bisa langsung pesan barang-barang agar secepatnya kami bisa pindah," ucap Zero.


"Janji ya...Kak Zero bakal cerita lagi," ucap Zeya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Zero mengangguk sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari Zeya. Lalu mereka pun turun, masuk ke dalam rumah untuk menemui Mak Salmah dan yang lain.