SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 87. PERSETERUAN ANTARA IBU DAN ANAK


Shena sejak tadi sudah berada di kantor Royan, dia meminta para staf untuk berkumpul mengadakan rapat karena ada yang ingin dia bicarakan tentang kepemimpinan perusahaan selama Royan pergi.


Namun para staf bingung, mereka saling pandang, mana perintah yang harus dipatuhi. Apakah perintah dari Frenky selaku salah satu penanggung jawab atau perintah Ibu dari Bos mereka.


Saat mereka masih bingung muncullah Frenky di sana dan mengatakan, "Maaf Nyonya! Mereka hanya akan mengadakan di bawah perintah kami bertiga," bantah Frenky.


"Apa maksudmu hah! Memangnya kamu siapa berani mengaturku?"


"Ini perintah Bos langsung, Nyonya! Bahkan ada tandatangan beliau di surat mandatnya. Di sana tertulis, kendali perusahaan selama beliau pergi ada di tangan Non Zeya, Zero dan aku sebagai pendamping mereka."


"Siapa itu Zero? Aku tidak mengenal nya? Kenapa orang asing bisa masuk ke perusahaan ini hah! Ini perusahaan keluargaku, tidak boleh sembarangan orang luar masuk ke sini, tanpa izin ku!" bentak Shena.


"Nyonya silahkan telephone Tuan saja, kami hanya menjalankan perintahnya atau Nyonya tunggu kedatangan Non Zeya, dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini."


"Baiklah, aku akan menunggu putriku."


"Kalian silahkan kembali ke pekerjaan masing-masing! Ngapain juga bengong di sini! Time is money," ucap Shena dengan angkuh.


Para karyawan pun bubar, mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk menunggu perintah dari pengganti Bos mereka untuk sementara.


Shena masih angkuh duduk di ruangan Royan, di bangku kerjanya sambil memandangi sekeliling ruangan tersebut.


Di sana Shena melihat foto Nayla terpampang di meja kerja Royan. Gadis yang selama ini tidak dia sukai.


Shena tidak ingin Royan menikah dan mendapatkan keturunan yang hanya akan memperkuat posisinya sebagai pewaris.


Dia ingin Zeya yang menguasai semua, tapi putrinya itu tidak bisa diajak kompromi dan malah berpihak pada Royan.


Kali ini dia harus bertindak, mumpung Royan sedang tidak ada, Shena akan merayu putrinya kembali untuk menyingkirkan Royan.


Zero dan Zeya sudah sampai di perusahaan, lalu Zero mencari keberadaan Bang Togar dan Bang Beni, sementara Zeya langsung menuju ke ruangan Royan karena tadi Frenky memberitahu lewat telepon jika Mamanya ada di sana.


Zeya masuk dan melihat Shena sedang memeriksa ruangan kerja Royan, "Mama sedang apa di sini?" tanya Zeya yang merasa tidak suka atas perbuatan sang Mama.


"Eh...ternyata kamu sudah datang! Mama hanya periksa-periksa saja, siapa tahu ada yang perlu dibenahi," kilah Mama Shena.


"Mama nggak usah bohong, sebenarnya apa yang sedang Mama cari? Jujur Ma! ini bukan kantor Mama, jadi Mama nggak berhak memeriksa semua yang ada di sini!"


"Kenapa sih kamu! Sebenarnya kamu ini anak siapa? Kenapa bersikap seperti itu kepada Mama mu sendiri, seperti Mama seorang pencuri saja!"


"Memang kenyataan 'kan! Ada yang ingin Mama curi dari Kak Royan!"


"Ayolah Zey, bantu Mama, toh nantinya buat kamu juga."


"Apa segitu banyaknya peninggalan Papa yang sudah Kak Royan ikhlaskan buat Mama, sudah habis! Hingga Mama ingin merampas lagi jerih payah Kak Royan?"


"Tapi 'kan masih ada jerih payah Papa kamu di dalam asset Royan!" ucap Shena.


"Diam kamu!" bentak Shena sambil melayangkan tamparan ke wajah Zeya. Tapi belum sempat tangan Shena mendarat di wajah Zeya, Zero datang pada saat yang tepat. Dia menghalangi dengan berdiri di antara keduanya, dengan begitu tamparan itu mengenai wajahnya.


"Kak Zero! Kenapa Kakak harus menghalangi tamparan Mama, sekarang coba lihat pipi kak Zero memerah, pasti sakit 'kan Kak. Seharusnya biarkan saja Mama menamparku," ucap Zeya sembari mengelus pipi Zero yang terkena cap jari tangan Shena.


"Oh...ternyata kamu orangnya yang bernama Zero. Apa hubunganmu dengan keluargaku, hingga Royan keparat itu malah mempercayakan perusahaan kepadamu!" bentak Shena.


"Kalau Mama mau tahu apa hubungannya Kak Zero dengan kami, dia adalah calon suamiku. Dan ini adalah hak Kak Zero untuk mempercayakan perusahaan kepada siapapun," bantah Zeya lagi.


"Maaf Nyonya, sebaiknya Nyonya keluar dari sini karena kami akan mengadakan rapat, sebelum security yang memaksa Nyonya untuk keluar," ucap Zero.


"Oh...sudah berani kamu mengusir saya ya! Zeya itu putriku, jadi aku bisa saja tidak merestui kalian!" ancam Shena.


"Kemana Mama selama ini, jika memang aku putrimu? Pernah Mama ada saat aku membutuhkan kasih sayang seorang ibu? Tidak 'kan! Mama asyik dengan kesenangan Mama sendiri!" ucap Zeya sambil menangis.


"Diam kamu! Dasar anak durhaka!" ucap Shena lagi.


Zero yang malas melihat perdebatan itupun segera memanggil Frenky dan security, lalu mereka membawa paksa Mama Shena meninggalkan ruangan tersebut.


Namun sebelum pergi, beliau mengancam akan membalas semua perlakuan hari ini dan akan menghancurkan Royan beserta bisnisnya.


Zeya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis, dia malu mempunyai mama serakah seperti itu.


Zero pun menenangkan Zeya dan meminta agar dia duduk serta menghapus air matanya. Setelah Zeya tenang barulah Zero mengizinkan Togar serta Beni untuk masuk karena mereka akan segera meeting membicarakan proyek di perkampungan nelayan di mana Zero tinggal.


Frenky juga mengundang beberapa orang staf untuk ikut meeting, lalu diapun mulai membahas proyek tersebut.


Langkah pertama yang akan mereka lakukan adalah membersihkan perkampungan tersebut dengan mempekerjakan beberapa orang serta mengirim truk untuk mengangkut sampah ke tempat lain.


Langkah kedua mencari tempat guna mengungsikan warga untuk sementara selama perbaikan rumah-rumah mereka di lakukan.


Langkah ketiga membuat parit sekeliling kampung guna mengalirkan limbah rumahtangga dan di buang ke parit besar.


Apabila pembangunan perkampungan sudah rampung barulah mereka melaksanakan rencana selanjutnya seperti harapan Royan.


Mengenai dana, masing-masing pihak yang nanti di bagi tugas sesuai bidang yang akan mereka pegang dan mereka harus mengajukan proposal tentang anggaran dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas mereka.


Rapat hari ini pun selesai, Frenky yang akan bertugas mendelegasikan bidang tugas masing-masing kepada para staf. Barulah setelah itu tugas para staf mencari orang-orang yang akan di pekerjakan.


Sementara tugas Zero dan Zeya ikut memantau keberhasilan pelaksanaan proyek tersebut dan juga menseleksi serta mengeluarkan anggaran yang dibutuhkan. Mereka akan saling bekerjasama demi mewujudkan impian Royan, Zero serta impian warga perkampungan yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak.


Sementara Bang Togar dan Bang Beni kebagian tugas sebagai kepala keamanan dalam mengawasi proses pengerjaan proyek.


Langkah pertama proyek akan mulai dilakukan minggu depan, sekarang tugas para staf adalah menyusun anggaran dan merekrut tenaga kerja pelaksana.


Zero, Franky dan Zeya menunggu penyerahan proposal dari para staf tiga hari kedepan agar mereka bisa mempelajari sebelum proyek tersebut di mulai.